
Yara baru saja ingin beranjak dari kamarnya namun ia terkejut mendapati Sky sudah berapa didepan pintu. Ia geleng-geleng kepala. Pria ini selalu saja mengagetkannya, pikirnya.
"Ini, aku mau anterin obat." Tanpa ditanya apa tujuannya, pria itu lebih dulu menjelaskan saat Yara menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukannya aku nyuruh Pak Kirman tadi?" tanya Yara--merujuk pada pengurus Villa yang tadi ia mintai tolong untuk menebus obat di Apotek.
"Iya, aku ambil alih resepnya terus aku tebusin di Apotek."
"Sky?"
"Kan aku udah bilang... gak mau kamu sakit. Cepat sembuh, ya."
Yara menghela nafas dalam-dalam. "Ya udah, makasih," katanya sembari ingin berbalik kembali masuk ke kamar, tapi suara Sky kembali memanggilnya.
"Ayara?"
"Hmm?"
"Obatnya diminum, ya."
"Iya."
"Jangan lupa."
"Iya, iya."
"Minum sampe bener-bener sembuh."
"Iya, Sky, bawel...."
Sky terkekeh. "Aku turun ya."
"Ya Tuhan, iya... mau turun ya turun aja."
Yara kembali ingin masuk kamar, tapi sekali lagi Sky kembali memanggil nama wanita itu.
"Ayara?"
"Apalagi?"
"Love you..."
"Dasar aneh!" Yara mendengkus kemudian benar-benar masuk dan menutup pintu kamarnya. Sky memang menjengkelkan tapi dibalik sikapnya itu, harus Yara akui-- jika pria itu sangat perhatian kepadanya.
"Tuhan, ujian apa ini? Kenapa setan penggoda di dalam rumah tanggaku harus bersosok seperti Sky?" gumam Yara. Tapi, setelah mengucapkan hal itu ia pun terkikik geli.
Yara meminum obatnya sesuai keinginan Sky. Oh tidak, bukan. Ia meminum obatnya karena ia memang tak ingin terus sakit, bukan karena permintaan lelaki itu.
"Sampai kapan aku bisa bertahan jika Sky terus bersikap gini ke aku? Sementara Mas Juna? Ah, udahlah... malesin."
Yara membaringkan tubuh di tempat tidur dan lambat laun ia tertidur karena efek obatnya mulai bekerja.
Suara deringan ponsel membangunkan Yara setelah sekitar 45 menit ia tertidur di siang itu.
"Ra?"
"Rina? Kenapa, Rin?" Yara terkejut mendapati Rina yang meneleponnya. Harusnya jika Rina ingin bicara, wanita itu bisa mendatangi kamar Yara seperti sebelumnya, kan? Apa telepon Rina ada hubungannya dengan kejadian di Resto pinggir pantai saat makan siang tadi? Apa Rina mau membahas soal itu?
"Ra, bisa bicara empat mata, gak?"
Perasaan Yara semakin tak enak. Pasti Rina ingin bicara soal hubungan Yara dengan Sky.
"Soal apa, Rin?"
"Nanti kita bahas. Aku tunggu di taman belakang villa ya, sekarang."
"Hmm, oke."
"Oh iya, jangan ajak suami kamu ya."
"Iya," jawab Yara langsung bangkit saat itu juga.
Kali ini Yara yakin 99% jika Rina ingin membicarakan mengenai Sky.
"Duh, kok jadi gini sih? Sky juga udah janji mau beresin masalah ini. Sky udah ngomong sama Rina belum, ya? Kalau udah, dia ngomong apa? Kenapa Rina jadi mau bicara empat mata sama aku?" Yara bermonolog sambil bersiap untuk menemui Rina.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Yara pun turun dari kamarnya. Suasana Villa masih senyap. Mungkin sebagian teman-teman masih jalan-jalan ke Ubud sesuai rencana mereka sebelumnya.
"Rin?" Yara menyapa Rina yang duduk sendirian di taman belakang.
Rina tersenyum tipis menanggapi sapaan Yara.
"Ng---kenapa ya?" Yara duduk dihadapan wanita itu.
"Ra, sejak kapan kamu jalin hubungan lagi sama Sky?"
Deg....
Yara mau jawab apa sekarang? Ia bingung. Ia merasa Rina pasti sudah salah paham akibat memergokinya dengan Sky beberapa waktu lalu.
"Rin, kamu salah paham... aku sama Sky itu---"
"Serius, Ra. Kalau pun iya, aku gak akan mencampuri hubungan kalian. Tapi ya dipikir lagi dong, kamu itu udah punya suami, kan?" Ucapan Rina terdengar sarkasme.
Yara tertunduk, ia memi lin ujung baju yang ia kenakan. Ucapan Rina memang benar adanya.
"Sky... ngajakin aku balikan, tapi aku gak mau. Aku juga sadar kalau aku udah menikah, Rin."
Terdengar helaan nafas dari Rina. "Yakin kamu gak balikan sama dia?" tanyanya.
"Ya emang gitu kenyataannya, Rin."
"Terus, ngapain kalian di dalam toilet berdua dan cukup lama disana?"
"Sky cuma mau ngomong... dia terus maksa aku. Gitu aja, gak ada apapun yang terjadi."
Rina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oke, aku bisa percaya sama kamu, tapi sama Sky... aku ragu dia bisa nahan perasaannya. Aku udah liat dengan jelas gimana tatapannya ke kamu. Itu beda, Ra!" jawab Rina kemudian.
Meski Rina menjawab begitu, tapi Yara tetap tak yakin jika temannya itu seratus persen menaruh kepercayaan padanya.
"Kamu gak bilang ke teman-teman lain kan, soal kejadian di toilet tadi?" tanya Yara dengan suara yang sangat pelan nyaris berbisik.
"Ya enggaklah!" jawab Rina spontan.
Rina mengangguk-anggukkan kepalanya. "Udah," kata wanita itu terdengar lesu.
"Dia bilang apa?"
Cukup lama Rina terdiam. Kemudian ia menatap serius pada Yara.
"Sky ngancem aku."
"Apa?"
"Iya, dia ngancem aku. Kalau aku buka mulut soal kalian, dia bakal sebarin video aku."
"Video apa?" Yara menutup mulutnya yang ternganga. Ia tak menyangka tindakan Sky sampai sejauh ini agar Rina tidak membuka mulutnya.
"Video aku sama Dion. Siang kemarin...." Rina tak melanjutkan kalimat, ia menatap Yara penuh arti dan wanita itupun sudah dapat memahami.
"Astaga... kok bisa?" Yara langsung mengingat saat ia pulang dari pantai sehabis naik banana boat kemarin. Di villa memang ada Rina dan Dion--pacarnya. Dan saat Yara makan mie instan, Sky juga sudah ada di villa.
"Kamu bisa gak, bujuk Sky biar hapus videonya, Ra?"
Sekarang Yara tahu, ternyata tujuan Rina untuk menemui dan bicara dengannya bukan hanya ingin membicarakan tentang ia dan Sky, melainkan tentang hal lain yang menyangkut hal pribadi Rina sendiri.
Yara menggigit bibirnya. "Ya, nanti deh aku coba bilang ke Sky. Tapi aku gak janji dia mau nurutin aku."
Rina memegang tangan Yara dengan tatapan penuh harap. "Makasih ya, Ra. Aku andelin kamu kali ini. Soal hubungan kamu sama Sky, aku bakal tutup mulut rapat-rapat sampai kapanpun."
Yara berdecak. "Aku dan dia gak ada hubungan, Rin. Kan, tadi aku udah bilang."
"Halah... apapun itu, aku udah lihat kalian di toilet berduaan." Rina pun berdiri dari duduknya. "Tolong ya, Ra. Bilang ke Sky buat hapus videonya. Please...."
"Iya, aku bakal bilangin."
Seperginya Rina, Yara langsung beranjak. Tujuannya kali ini tentu saja ingin menemui Sky. Mumpung semuanya masih belum kembali. Ada baiknya ia bicara dengan pria itu perihal video Rina.
Tapi, Yara lupa, ia tidak mengetahui dimana letak kamar Sky di villa yang sama.
__ADS_1
"Pak Kirman?" Yara memanggil pengurus Villa yang kebetulan melintas.
"Iya, Mbak?"
"Ngeliat Sky enggak?" Yara tahu pengurus Villa pasti tidak asing dengan Sky sebab pria itu yang menyewa villa-villa untuk ditempati teman-temannya.
"Oh, Pak Sky lagi berenang di kolam renang pribadi, Mbak."
"Oh, oke... makasih ya, Pak."
Yara langsung berjalan menaiki tangga sebab kolam renang pribadi berada diatas rooftop bangunan villa.
"Sky!"
Pria yang sedang bersandar di pinggiran kolam renang itu-- langsung menoleh kala mendengar suara wanita yang tak asing dipendengarannya. Bibirnya langsung melengkung mendapati Yara sudah ada dihadapannya.
"Tumben cariin aku..."
"Kamu tuh ya, kenapa pake acara ngancem Rina? Kamu juga ngerekam dia?" Yara langsung memberondong Sky dengan pertanyaannya.
Pria itu terkekeh pelan. Terkesan selalu santai dipandangan mata Yara.
Dasar Sky menyebalkan.
"Oh, jadi Rina udah bicara sama kamu?" ujar Sky sembari keluar dari dalam air.
Yara membuang pandangan. Melihat Sky ber- te-lan-jang dada dan berjarak cukup dekat dengannya membuat Yara gugup. Entah kenapa.
"Udah, dia bilang... kamu harus hapus videonya."
Seketika itu juga Sky terbahak. Senyum tengil terbit lagi diujung bibirnya.
Dasar pria ini!
"Kamu keterlaluan banget, Sky. Kenapa pake acara negerekam segala. Kamu paparazi? Atau suka nonton aktivitas begitu?" omel Yara.
Sky semakin terkekeh kencang.
"Salah mereka sendiri. Main di villa yang disewa untuk orang banyak. Kalau mau, ya modal dikit lah, ke hotel kek. Atau minimal di kamar gitu, bukan di ruang tv," ujar Sky acuh tak acuh.
"Jadi kamu beneran ngerekam mereka?"
Sky mengendikkan bahu. Rasanya Yara sangat ingin menarik hidung pria itu. Eh?
"Kamu emang suka berbuat hal kayak gitu?"
"Kayak gitu gimana, Ayara?"
"Ngerekam kegiatan pribadi orang lain? Terus ditontonin gitu?"
Sky terkikik. "Gak hobi lah, Ra. Itu buat jaga-jaga aja. Ternyata berguna juga, kan? Seenggaknya bisa nutup mulut Rina. Nonton juga gak hobi, tapi kalau praktekin langsung mau...." Kilatan mata Sky tampak sangat usil. "Tapi, sama kamu, ya?" sambungnya.
"Sky! Kamu...." Yara menggeram kesal. Entah harus bagaimana lagi ia menghadapi lelaki ini. Kadang Sky bisa me sum tanpa terduga dan Yara benar-benar ingin mence-kiknya jika bisa.
"Jangan keterlaluan, Sky! Omongan kamu tolong dijaga," jawab Yara gugup.
"Orang aku serius."
"Ah, udalah, gak guna ngomong sama kamu. Yang penting kamu hapus videonya!"
"Kalau aku hapus, aku dapat apa?"
"Isssh! Ngomong sama tembok kayaknya lebih baik, daripada ngomong sama kamu!" ujar Yara sambil ingin berlalu.
"Aku gak ngerekam Rina, Ra. Aku cuma lihat kejadian itu sekilas, beberapa detik doang. Pekerjaanku bukan ngerekamin kegiatan m e s u m orang lain. Aku bilang gitu ke Rina supaya dia gak buka mulut soal kita, gitu aja."
Bersambung ....
*****
...IKUT ABANG SKY BERENANG HAYUKKKK🤣🤣🤣🤣...
^^^Jangan lupa vote, hadiah, love, like dan tinggalkan komentar kalian ya, Bestie💚^^^
__ADS_1