
Keesokan harinya, Yara langsung menyatakan keinginannya pada Juna terkait rencananya untuk pindah rumah. Meskipun ia tidak yakin Juna akan menyetujuinya, tetapi Yara tetap ingin mencoba.
"Mas, gimana kalau kita pindah rumah kontrakan?"
Juna menatap Yara datar. "Apaan sih kamu. Tiba-tiba minta pindah rumah segala. Kita kan baru bayar uang perpanjang kontrakan, dua bulan yang lalu. Masa mau pindah?"
"Aku udah gak betah disini, Mas," alasan Yara. "Disini serem tau, Mas," lanjutnya mengarang bebas.
"Serem apaan?" Juna bertanya seraya menyeruput kopi di hadapannya.
"Ya, mistis mistis gitu lah."
Juna malah tergelak. "Emang kamu pernah lihat hantu disini?" tanyanya menanggapi dengan respon yang sangat tenang.
Yara mengangguk, membenarkan hal yang sudah terlanjur ia jadikan sebagai alasan.
"Yara, Yara, sejak kapan kamu percaya hal-hal kayak gituan? Udahlah, jangan nambahin pikiran aku aja."
"Tapi, Mas?"
"Jangan aneh-aneh, Ra. Kamu pikir pindahan itu gak butuh biaya besar? Rugi juga kita udah terlanjur bayar uang kontrakan untuk setahun kedepan."
Yara pun menyugar rambutnya setelah mendengar penolakan Juna. Ternyata rencananya gagal total. Padahal ia berniat pindah juga demi menghindari kedatangan Sky lagi dan lagi.
Sore itu, daun-daun dari pohon bougenville tampak berguguran. Angin sepoi-sepoi terasa berhembus pelan. Yara menikmati pemandangan sederhana itu lewat teras rumahnya. Merenungkan segala hal yang telah ia lalui sampai pada hari ini, termasuk soal penolakan Juna atas permintaannya pagi tadi.
Harusnya pria itu sudah kembali dari kantornya, tetapi Yara sudah terbiasa tanpa kepastian dan ia sudah tidak pernah lagi menunggu kepulangan Juna yang akhir-akhir ini sulit ditebak kapan kembalinya.
Keberadaan Yara di teras rumah pun hanya sebatas penghiburan dan penenangan diri, bukan untuk menyambut kepulangan suaminya.
Jika boleh mengeluh, rasanya Yara sudah terlalu lelah. Menikah hanyalah sebuah status tanpa makna baginya. Karena ia tetap merasa kosong dan seorang diri tanpa seseorang yang bisa ia jadikan sandaran dan penopang hidup.
Terkadang Yara juga merasa bahwa ia hanya bisa berharap pada dirinya sendiri. Tidak pada orang lain, bahkan pada suaminya sendiri. Karena Yara tau, berharap pada Juna akan selalu berakhir menyesakkan dada.
Yara menghembuskan nafas lirih. Wanita itu mempertahankan pernikahan bukan pula karena cinta, melainkan karena menghargai permintaan terakhir mendiang ayahnya.
Yara juga sering berpikir, apa ia tidak berhak untuk bahagia? Apa ini ending untuk cerita hidupnya?
Jika boleh egois, Yara ingin sekali pergi, menentukan pilihannya sendiri. Tapi, selagi ia merasa Juna masih bertanggung jawab dan tidak meninggalkannya, maka selama itu pula Yara harus tetap bertahan.
Setidaknya, Yara tidak mau sampai berpisah karena kesalahan yang ia perbuat sendiri.
Meskipun sekarang, Yara sadar jika ia sempat terjerumus kedalam hal yang mengarah pada perselingkuhan.
"Paket!"
Suara seruan seseorang didepan rumah-- mengantarkan Yara untuk kembali pada kenyataan. Ia mengadah pada seorang kurir yang tampak menunjukkan sebuah bingkisan paket ke arahnya.
"Dengan Mbak Ayara Yasmin?" tanya kurir berkacamata itu.
"Iya, Pak. Saya. Saya Ayara."
"Ini ada paket untuk Mbak. Mohon diterima paketnya, Mbak."
"Paket? Paket apa ya, Pak?" tanya Yara kebingungan.
"Kurang tau, Mbak. Ehm, sebentar..." Kurir itu tampak membaca keterangan yang tertulis. "Disini pengirimnya atas nama Bapak Sky Lazuardi."
Seketika itu juga Yara terkejut. Apa lagi sekarang? Batin wanita itu.
__ADS_1
"Tolong tanda terima nya, ya, Mbak."
"Oh, iya..." Yara pun membubuhkan tanda tangan di sebuah nota tanda terima yang disodorkan sang kurir.
"Permisi, Mbak."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Yara melihat pada bingkisan paket yang entah apa isinya itu. Gegas ia membukanya dan kembali terkejut mendapati sebuah jam tangan mewah disana.
"Astaga, Sky.... apa-apaan sih kirimin aku barang kayak gini."
Yara bukannya tak senang dengan hadiah yang Sky kirimkan, tapi ia juga was-was jika Sky nekat terus seperti ini, maka lama kelamaan bukan tidak mungkin Juna pun akan mengetahui hubungan antara ia dengan Sky.
Yara memutuskan menyimpan jam tangan itu di dalam lemari. Tentu ia berharap jangan sampai Juna menemukannya.
Hal ini sekaligus membuat Yara kembali takut dan benar-benar ingin segera pindah bahkan menghilangkan jejak dari Sky.
Menjelang senja, barulah Juna kembali ke rumahnya. Ia melihat sang istri yang banyak diam sejak tadi dan terlihat tidak bersemangat.
"Kamu sakit?"
Yara menggeleng lesu.
"Gak enak badan? Badmood?"
"Enggak, Mas. Gak apa-apa."
"Kamu masih kepingin pindah rumah?"
Seketika itu juga Yara langsung mengangguk cepat secara berulang.
"Makasih ya, Mas. Kalau bisa secepatnya kita pindah."
"Jadi semangat gitu kamu bahas hal ini. Beneran ngebet banget mau pindah, ya?"
"Iya, Mas. Mau banget..."
"Emang hantunya gangguin kamu?
"Iya, hantunya ganggu aku terus," jawab Yara asal.
Juna tertawa. "Tapi nyari rumah kontrakan gak mudah, Ra."
"Yang biasa aja juga gak apa-apa, Mas. Ya?"
"Ya udah, ntar aku cari info dari temen-temenku ya."
Jujur saja, Yara sudah lama tidak melihat Juna seperhatian ini padanya. Apa kali ini Juna begini karena ada maunya lagi seperti sebelum-sebelumnya?
"Tapi, Mas...."
"Kenapa lagi?"
"Kamu nurutin kemauan aku gak karena ada maunya, kan?" cetus Yara tanpa tedeng aling-aling.
Juna langsung berdecak lidah, kendati dalam dirinya pun mengakui jika ia sudah baik hati pada Yara, memang selalu berujung dengan dia yang memanfaatkan istrinya itu.
"Negatif thinking aja terus, Ra! Suami niat baik malah dicurigai."
__ADS_1
"Maaf, mas. Aku gak maksud gitu, habisnya kamu... emang sering gitu," kata Yara sambil menyengir kuda.
...~~~~...
Sky tidak habis pikir, Yara tidak mengatakan apapun mengenai jam tangan yang ia kirimkan untuk wanita itu.
"Paketnya udah diterima," kata Sky yang baru saja menerima pemberitahuan mengenai hal itu. "Tapi kenapa Yara gak bilang apa-apa, ya? Biasanya dia bakal ngomelin aku," lanjutnya bermonolog.
Tak ingin terus menunggu, Sky memutuskan untuk mengirimi Yara pesan tapi ternyata pesan itu terlihat tidak terkirim.
"Apa hp Yara lowbet?"
Sky menyadari ada sesuatu yang janggal. Tidak biasanya profil picture Yara kosong seperti yang saat ini dilihatnya.
Pikiran Sky sudah kemana-mana. Akhirnya ia memutuskan menghubungi nomor sang wanita.
"Ya Tuhan, apa Yara blokir nomor aku, ya?!" gerutu Sky dengan tampang kesal yang tak bisa ditutupi.
Bersamaan dengan itu, Beno mengetuk ruangannya.
"Masuk aja, Ben!"
"Kenapa kau?" tanya Beno melihat raut wajah Sky yang seperti kain belum disetrika. Kusut.
Sky tak menyahuti pertanyaan Beno, sehingga sang teman jadi menebak-nebak apa yang kiranya membuat Sky jadi seperti ini.
Belum lagi Beno sempat mengucapkan sepatah-- dua patah kata tentang keanehan sikap Sky, pria didepannya sudah langsung menghadangnya dengan gerakan kilat.
"Ben, pinjam hp."
"Apa?"
"Pinjam hp mu. Aku mau cek sesuatu!" desak Sky kepada Beno.
Mau tak mau Beno pun menyerahkan ponselnya kepada pria dengan tampang kusut itu.
Sky menggunakan ponsel Beno mulai mengirimkan pesan ke nomor Yara dan ternyata pesan itu tampak terkirim dengan tanda centang dua.
"**--* lah!" umpat Sky entah pada siapa.
"Woi... woi... kenapa pula kau ini? Kerasukan? Atau belum minum obat cacing?" tanya Beno.
Sky mendengkus, hal ini membuatnya benar-benar sadar bahwa Yara telah sengaja memblokir nomornya.
[Maaf, ini siapa?]
Sebuah pesan dari nomor Yara malah terlihat membalas pesan yang tadi Sky kirimkan menggunakan ponsel Beno. Memang pesan itu hanya berupa tanda baca saja, yang sengaja Sky kirimkan untuk membuktikan kekhawatirannya.
Sky menggeleng cepat, tanpa kata lagi, ia keluar dari ruangannya.
"Sekai! Hp ku mau kau bawa kemana, Sekai?" pekik Beno, namun Sky sudah berlalu dengan tergesa-gesa.
Sampai di depan taman yang masih dalam lingkup kantornya, Sky akhirnya menghubungi Yara menggunakan ponsel Beno sebab ia tak bisa menghubungi Yara dengan ponselnya sendiri.
"Ayara? Kenapa kamu blokir nomor aku?" tanya Sky begitu panggilannya diterima oleh Yara.
Bersambung ....
******
__ADS_1
Abis ini othor up lagi, tungguin yaaa❤️❤️❤️❤️