
Nadine mendapat kabar mengenai Anton yang kini disekap oleh Lucky. Kabar itu dia dapatkan dari sebuah nomor baru yang ia yakini sebagai orang suruhan Lucky sebab nomor Lucky memang sudah ia blokir sejak ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.
Sebenarnya, bisa saja Lucky melacak keberadaannya dengan nomor yang masih ia gunakan, tapi pria itu malah menyekap Anton sekarang. Nadine yakin upaya ini Lucky lakukan karena dia mau memancing Nadine untuk kembali.
"Jadi, keputusanmu untuk berpisah dengan suamimu sudah bulat to, nduk?" Bu Yayuk--Ibu Nadine sudah mendengar penjelasan dari putrinya, memang dua hari ini Nadine pulang ke kediamannya, yang berbeda kota dengan tempat tinggal Nadine di Indonesia. Nadine sengaja menggunakan jalur darat agar kepergiannya tidak dapat dilacak oleh Lucky.
"Iya, Bu. Aku udah gak bisa mempertahankan rumah tanggaku lagi, maafin aku, ya, Bu."
Nadine amat menyesal saat menceritakan aib rumah tangganya pada kedua orangtua, tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukan itu karena cepat atau lambat orangtuanya pasti akan mengetahui.
"Kalau memang ini keputusanmu, yang terbaik untuk kamu, Bapak sama Ibu ndak bisa ngelarang. Tapi, alangkah baiknya jika Bapak diberi izin untuk bicara dengan suamimu secara baik-baik. Ya, nduk?"
Nadine menggeleng, ia takut sang Ayah akan kembali berusaha menyatukan ia dengan Lucky.
"Jangan takut, Nak. Bapak ndak mungkin menjerumuskan kamu. Bapak cuma mau kamu dan Lucky berpisah secara baik-baik. Seperti awal mula kalian menikah. Wis, semua akan baik-baik saja." Pak Prapto menepuk-nepuk punggung putri bungsunya dengan sikap hangat.
Sebenarnya, kabar mengenai Lucky yang sudah menikah lagi sempat didengar oleh orangtua Nadine jauh sebelum wanita itu menceritakan permasalahan ini pada mereka. Semua itu berawal dari obrolan para tetangga yang juga mengenal Firda. Bagaimanapun, Firda dan Nadine dulu adalah sahabat dekat dan tinggal di desa yang sama. Bahkan Firda dan mendiang suaminya yang pertama--dapat bekerja di Singapore juga karena bantuan Nadine yang lebih dulu tinggal disana.
Sampai akhirnya, kabar mengenai pernikahan kedua Firda dengan seorang pria dari Singapore santer terdengar dikalangan mereka, membuat Bu Yayuk dan Pak Prapto merasakan rasa yang tidak enak sebab mereka tau jika Nadine mengalami masalah soal tak bisa memberikan Lucky keturunan.
Saat Nadine pulang ke rumah orangtuanya, kedua wajah yang sudah menua itu nampak tidak terkejut. Seolah memang tengah menunggu kepulangannya, Bu Yayuk dan Pak Prapto memaklumi bagaimana sakit dihati putri mereka.
Apalagi setelah Nadine menceritakan tentang perubahan sikap Firda padanya, juga mengenai kehamilan wanita itu. Bu Yayuk sampai menangisi nasib putri bungsunya. Dia tau Nadine amat tersiksa sebab Firda adalah salah satu orang yang dipercayai.
"Tapi, Pak, Bu ... Nadine permisi kembali ke Malang, ya."
"Kenapa to, Nduk?" Bu Yayuk dan Pak Prapto saling bertatapan satu sama lain kemudian menyorot Nadine dengan pandangan heran.
"Ada hal yang terjadi disana selama aku berada disini. Aku mau mengurusnya dulu, Pak, Bu."
"Lalu, Lucky? Apa bapak hubungi saja dia, biar dia datang kemari?"
Nadine menggeleng. "Gak usah, Pak. Mas Lucky pasti tau apa yang harus dia lakukan sekarang karena aku udah mengiriminya pesan kalau aku ada disini."
...~~~~...
Seharusnya, Lucky sudah bisa menebak kemana tujuan Nadine saat ini. Entahlah, otaknya seakan buntu saat tau wanita itu pergi dari rumah. Tapi, keputusannya melepaskan Anton tidak ia sesali, setidaknya, sudah ada perjanjian diantara mereka.
Mau bagaimana lagi, Lucky harus melepas Nadine dengan ikhlas. Benar, tak semua yang dia mau harus dia dapatkan. Toh, Nadine juga berhak bahagia dan dia mau melihat itu nanti--meski hal itu tak mampu dia berikan lagi.
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Lucky, itu adalah telepon dari istri mudanya. Firda terus saja mendesaknya untuk segera kembali ke Singapore, sementara ia juga punya problem sendiri yang belum terselesaikan.
"Aku harus menemui Bapak dan Ibu," batin Lucky.
Lucky ingin menyelesaikan ini secara jantan. Ia tak mau dianggap pengecut lagi karena sikapnya yang seolah menghindar dari masalah. Orangtua Nadine juga berhak tau mengenai kelakuannya. Untuk itu, ia sudah menerima konsekuensi terburuk yaitu kehilangan Nadine untuk selamanya. Lagipula, ia sudah membuat perjanjian dengan Anton.
Tapi, apabila Anton tak menepati janji itu dan membuat Nadine terluka, itu berarti mereka benar-benar breng sek yang sama. Tapi entah kenapa, Lucky merasa jika Anton tak akan berlaku demikian. Anton tidak breng sek dalam hal menyakiti wanita, sebab dari jejak dan latar belakang yang ia selidiki mengenai pria itu, justru Anton lah yang disakiti oleh wanita. CK!
__ADS_1
Paling tidak, Lucky memiliki rasa percaya meski hanya beberapa persen pada Anton. Ya, dia percaya pria itu dapat menggantikan dia dengan lebih baik. Apalagi ada baby Elara ditengah-tengah Anton dan Nadine.
Lucky tersenyum kecut. Ya, pada akhirnya, jika Nadine berakhir dalam pelukan Anton itu artinya wanita itu yang lebih dulu memiliki momongan ketimbang dia. Sayang, itu bukanlah bayi mereka berdua. Ada penyesalan yang mendalam dalam diri Lucky. Mau bagaimana lagi, rasa cinta terhadap Nadine masih begitu besar, tapi kini hanya cinta, bukan lagi rasa kuat untuk memiliki seperti dulu dan kemarin. Sebab, Lucky sadar jika ini semua murni terjadi akibat kesalahannya sendiri.
...~~~...
Nadine tiba di kota dimana dulu dia merancang dan menjalankan usaha Butik dan Bridal dari pemberian Lucky. Dia sudah kembali, tentu untuk melihat kondisi Anton. Ia tak yakin Lucky akan melepaskan Anton--begitu ia mengatakan keberadaannya, tapi Nadine yakin pria itu akan langsung menyambangi kediaman orangtuanya setelah kabar itu bersambut.
Jadi, disaat Nadine kembali ke kota ini, Lucky juga sudah terbang ke kampung halaman orangtua Nadine. Hal ini membuat keduanya tidak perlu bertemu, ya memang begitulah yang Nadine inginkan.
Nadine akan bertemu Lucky lagi di hari persidangan cerai mereka, pikir Nadine.
Dua hari menenangkan diri di rumah orangtuanya, memang membuat Nadine cukup lega, tapi dia juga sadar bahwa tindakannya itu memberi dampak berbahaya bagi orang lain. Terutama bagi Anton yang menjadi sasaran kemarahan Lucky atas menghilangnya dia secara diam-diam.
Nadine ingin mengunjungi pria itu di kediamannya, sebab Lucky sudah memberi kabar bahwa Anton telah ia pulangkan. Lucky juga mengatakan bahwa dia dan Anton sempat membuat sebuah perjanjian.
Entah apa isi perjanjian itu, tapi Nadine masih takjub karena nyatanya Lucky benar-benar melepaskan Anton begitu saja. Apa kiranya yang membuat hati nurani Lucky terketuk?
Tok Tok Tok
Dengan perasaan cemas, khawatir serta takut-takut, Nadine memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Anton. Sebelumnya dia melihat ada bengkel yang tampak tutup.
Nadine juga tak mendengar suara tangisan bayi, padahal ia amat merindukan baby Elara.
Sejujurnya, Nadine ragu melakukan tindakan ini, tapi dia harus-- sebab merasa amat bersalah pada Anton. Karena dirinya, Anton jadi terlibat masalah dengan Lucky.
"M--mas?" Lidah Nadine rasanya kelu. Ia syok mendapati Anton dengan wajah lebam dan perban dimana-mana.
"Kamu udah pulang?" tanya Anton dengan susah payah, pria itu juga tampak meringis sambil memegangi rahangnya yang memar.
Nadine ingin sekali menangis sekarang, penampakan Anton seperti ini membuatnya tidak kuat.
"Lho, kenapa?" Anton hampir saja tertawa melihat mata Nadine yang berkaca-kaca serta bibirnya yang merengut, kentara sekali wanita itu sedang menahan tangis sekarang.
"Maafin aku, Mas." Dan Nadine benar-benar menangis.
"Jangan gini, ntar dikira tetangga aku ngapa-ngapain kamu."
Anton menghampiri posisi Nadine yang diam ditempat, pria itu terpincang-pincang membuat hati Nadine makin terenyuh.
"Ayo, sekarang kamu duduk dulu, ya. Jangan nangis didepan pintu." Anton seakan mengarahkan tubuh Nadine untuk duduk di kursi teras.
"Maaf, Mas ... maaf," lirih Nadine masih dengan sesenggukan.
"Kenapa mesti minta maaf, ini kan yang kamu mau."
Nadine menggeleng kuat-kuat. "Gak, Mas. Aku gak bermaksud mau buat kamu jadi kayak begini," paparnya.
__ADS_1
Anton mengulas senyum tipis. "Gak apa-apa, aku ikhlas begini asal kamu kembali lagi kesini."
Mata Nadine mengerjap-ngerjap sekarang, apa ia tak salah dengar perkataan Anton tadi?
"A-apa, Mas?"
"Gak, gak ada. Yang jelas, aku lega kamu udah kembali sekarang."
Tangan Nadine terulur, ingin menyentuh sisi wajah Anton tapi belum sepenuhnya tersentuh pria itu sudah lebih dulu meringis merasakan sakit.
"Arkh ..."
"Mas, udah dibawa ke dokter belum? Atau minimal di kompres, hmm?" Wajah Nadine tampak panik dan khawatir.
"Ini gak sesakit yang kamu pikirkan, kok, Nad."
Sekali lagi Nadine menggeleng, mana percaya ia dengan ucapan Anton yang terdengar menipu itu.
"Udah jelas itu sakit banget, Mas. Aku yang lihat aja udah ngerasain sakit. Sekali lagi aku minta maaf ya, Mas."
"Aku maafin tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Nadine.
"Jangan kabur-kaburan lagi, hmm?" Anton memegang jemari Nadine yang sejak tadi ingin menyentuh wajahnya. Dia menggenggam itu dengan lembut.
"A-aku gak kabur, Mas." Nadine mendadak gugup karena perlakuan Anton.
"Terus, dua hari ini kamu kemana?"
"Aku cuma pulang ke rumah orangtuaku, Mas. Bukan kabur."
Anton mengelus jemari Nadine yang masih berada dalam pegangannya. "Kalau pergi tanpa mengabari itu namanya kabur, kamu harus janji gak akan melakukan hal seperti itu lagi. Oke?" ujarnya dengan tatapan yang menyorot ke iris mata sang wanita.
Nadine menganggu, bagai terhipnotis dia pun menjawab ujaran sang pria.
"O-oke, aku janji."
Bersambung ...
Jangan lupa dukung karya ini terus.. Duh, view aku anjlok gara-gara rehat sehari doang. Padahal bulan lalu gak pernah absen update😅😅😅 Ampun🤣
Jangan lupa berikan dukungan kalau mau melihat pasangan ini bersatu.
Ah iya, mampir ke novel terbaruku tentang Anak Sky dan Yara yaaa
__ADS_1