
Setelah kepergian Anton, Yara kembali memasuki rumah yang menjadi tempat kerjanya itu. Kendati berita yang disampaikan Anton sangat menyesakkan jiwanya tetapi Yara lebih mengkhawatirkan sang kakak.
Entahlah sesakit apa yang Anton rasakan, Yara tidak bisa mengukur perasaan itu meski sepertinya Anton tampak baik-baik saja.
"Tega kamu, Mas. Kamu bukan cuma mengkhianati aku, tapi kamu juga menyakiti Mas Anton yang udah anggap kamu seperti adik kandungnya sendiri," gumam Yara--yang segala kalimatnya itu tertuju untuk Juna.
Belum lagi Yara memikirkan ucapan Shanum saat terakhir mereka bertemu. Ya, wajar saja saat itu Shanum tampak sangat mendukungnya untuk segera berpisah dari Juna. Rupanya wanita itu ingin sekali menggantikan posisinya sebagai istri dari Arjuna Bachtiar.
Yara menyeka airmatanya, tidak dipungkiri hal ini cukup membuatnya sakit hati. Tidak tahu bagaimana jadinya jika Yara memiliki rasa cinta yang dalam untuk sang suami. Mungkin selain syok, dia juga akan merasa tertekan akibat pengkhianatan ini.
Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya Yara memutuskan memberanikan diri untuk menghubungi Juna. Ia ingin menuntaskan semua ini. Ia ingin segera terlepas dari kekacauan yang sudah terjadi. Ia tidak mau terlalu lama lagi menyandang status sebagai istri Juna. Ia akan menuntut perpisahan dan ia harus berani menghadapi segalanya atas pilihan yang sudah ia buat.
"Hallo ...."
"Mas, aku mau ketemu."
"Yara ... kamu dimana, sayang?"
Apa katanya? Sayang? Rasanya Yara ingin sekali menyumpal mulut Juna saat ini juga-- sangking jengah nya dengan perilaku pria itu. Masalahnya sekarang, Yara pun sudah tahu jika wanita lain diantara mereka adalah kakak iparnya sendiri, jadi dipikiran Yara sudah merasa sangat jijik dengan pria itu.
Kenapa bisa-bisanya Juna menerima teleponnya dengan nada riang dan lega---seolah tak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka?
"Sayang, kok diam? Aku cari kamu kemana-mana, kamu dimana biar aku jemput. Aku kangen banget sama kamu. Aku khawatir sama kamu ...."
Sedikitpun kalimat Juna tidak dipotong oleh Yara. Ia membiarkan saja pria itu mengoceh sampai kehabisan kalimat untuk membujuknya.
"Maafin aku, Ra. Aku tau aku salah. Aku juga udah maafin kamu, kok. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku bakal berubah jadi lebih baik lagi. Please, aku mohon, Sayang ...."
Yara berdehem-dehem sekilas, meski Juna membujuknya hingga berniat membuatkan kapal pesiar dalam waktu satu malam pun-- Yara tak akan merubah keputusannya.
"Kamu bilang apa, mas? Berubah?" Yara terkekeh mencibir. "Mau kamu berubah jadi jin yang bisa ngabulin semua permintaan aku pun--- aku gak bakal kembali sama kamu, mas!" imbuhnya masih tertawa geli.
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana, mungkin Juna sedang menahan kesabaran karena Yara terang-terangan meledeknya.
"Berubah katanya, kok lucu ...." gumam Yara yang pasti juga didengar Juna dari seberang panggilan seluler itu.
"Ya udah, kalau kamu mau ketemu aku, kita ketemu secepatnya." Suara Juna berubah kaku.
"Ya, Mas. Aku mau semua ini cepat selesai. Aku udah capek."
"Hmm, Papa sama Mama juga mau ketemu kamu, Ra."
"Ya boleh, sekalian aku pamit sama papa dan mama karena udah gak bisa lagi jadi menantu mereka," ucap Yara tegas.
Setelah menyepakati tempat pertemuan mereka yaitu di rumah Anton. Yara langsung memutus panggilannya begitu saja.
Yara menahan sesak didada. Mendengar suara Juna yang sangat lembut bukannya merubah keputusannya, tapi ia semakin sakit hati atas kelakuan tega pria itu.
Jika bukan karena membutuhkan surat-surat untuk gugatan cerai, Yara tidak mau bertemu Juna lagi sampai kapanpun. Berhubung semua itu tertinggal di rumah kontrakan yang dulu Yara tempati bersama Juna dan Yara tak memiliki akses untuk masuk kesana sebab kunci rumah itu dipegang oleh Juna, mau tak mau ia pun harus bertemu dengan pria itu.
Lagipula, Anton juga sudah memberitahu Yara. Sang kakak ingin semua berakhir baik-baik, kalau perlu didepan orangtua Juna juga, jadi tidak ada yang saling menyalahkan di kedepan hari. Anton juga khawatir, jika Yara nekat mengajukan perceraian lebih dulu di pengadilan, sementara Juna belum menyetujui perpisahan itu, maka bukan tak mungkin hidup Yara tidak akan tenang nantinya.
"Pernikahan kalian diawali dengan baik, maka berpisah secara baik-baik meskipun yang dilakukan Juna adalah melempar kotoran ke wajah kita berdua, dek. Yang kita hargai disini adalah kedua orangtuanya."
__ADS_1
Itulah kalimat Anton yang masih terngiang di kepala Yara sekarang.
"Ibu, Bapak .... maafkan anak-anak kalian yang kedua-duanya harus berpisah dengan pasangan masing-masing. Maafkan kami yang gak bisa menjaga hubungan rumah tangga kami seperti ibu dan bapak."
Yara mengingat wajah mendiang ayah dan ibunya. Ia yakin kedua orangtuanya kecewa atas rumah tangga kedua anaknya yang berantakan dan hancur. Tapi, Yara tau pasti jika sang Ayah orang yang tegas dan jika beliau masih hidup pun, pasti akan mendukung keputusan anak-anaknya ini.
Dan ibunya, Yara tau ibunya mementingkan kebahagiaannya. Ibunya sangat lembut tapi juga menentang apabila Yara masih memilih untuk bersama Juna yang sudah mengkhianati dua orang saudara sekaligus.
Yara juga memikirkan kandungan Shanum. Apa benar itu dari benih Juna? Jika iya, kenapa selama ini Yara tidak kunjung hamil? Tampaknya saran Nadine pagi tadi memang harus Yara pertimbangkan, untuk mengecek kesehatannya sendiri.
Menjelang sore, Yara memutuskan untuk pulang. Ia keluar dari rumah besar Nadine dengan pikiran yang semrawut.
"Ayara!"
Secara refleks, Yara menoleh dan terkejut mendapati Sky tengah berada di seberang sana. Tampaknya pemilik rumah sebrang memang memiliki hubungan dekat dengan pria itu.
Tapi, yang membuat Yara mengernyit heran adalah seorang anak perempuan yang tengah berada dalam gendongan Sky saat ini.
Sepersekian detik berikutnya, pria itu sudah berpindah posisi sebab langkahnya yang jenjang-- kini membuatnya sudah berada dihadapan Yara dengan jarak kurang dari 1 meter.
"O-om Cekai. Ante ni capa?"
"Ini namanya Tante Yara. Coba Abel sapa Tante Yara nya ..." kata Sky lembut pada bocah kecil yang masih digendongnya itu. Sesekali pria itu melirik pada Yara dan sekali berikutnya menelisik mimik wajah anak perempuan itu.
Bocah perempuan itu sangat gembul, pipinya bulat dan berponi. Yara sangat gemas melihatnya. Tapi Yara masih ingin mendengar anak itu memanggilnya seperti permintaan yang Sky ajukan padanya tadi.
"Hai .... Ante Ala ...." sapa Abel riang kepada Yara, membuat wanita itu tersenyum lebar karena Abel memanggilnya dengan suara cadel.
"Abel."
"Wah cantiknya namanya, kayak orangnya juga cantik," tanggap Yara dengan raut wajah yang gemas melihat Abel.
Abel pun tersenyum malu-malu mendengar pujian Yara. Dia menyurukkan wajah di perpotongan leher Sky yang menggendongnya.
"Siapanya kamu?" tanya Yara pelan pada Sky.
"Anaknya Beno, temenku... yang punya rumah di seberang."
"Oh..." Yara manggut-manggut. Kemudian kembali mendekati Abel. "Abel, umurnya berapa, ya?" tanyanya ingin tahu apa jawaban sang anak kecil.
"Du-a." Abel menekan kata itu, sangat menggemaskan.
"Wah, kemarin Abel yang ulang tahun ya?"
Sky memperhatikan saja interaksi Yara dengan Abel, ia tak mau mengganggu mereka.
"Iya, ante Ala dak ada."
"Iya, maaf ya, ante Ala lagi kerja." Yara menyebut namanya sesuai dengan bagaimana Abel memanggilnya.
"Huuu .... Abel da diah... banyak..." kata Abel membuat Yara mengernyit tak paham.
Sky mengulumm senyum, menyadari Yara kebingungan.
__ADS_1
"Abel bilang, dia punya banyak hadiah pas pesta ulang tahun kemarin." Sky menjelaskan.
"Ohh..." Yara pun menyengir.
"Kamu udah mau pulang? Aku anterin ya?"
Yara menggeleng pelan. "Aku gak langsung pulang, ada urusan, Sky."
"Urusan? Apa?"
"Kepo..." kata Yara terkekeh.
Sky ikut tertawa. "Aku anter aja biar cepat sampai," ajaknya.
"Aku mau ke rumah Mas Anton. Ketemu sama Mas Juna dan kedua orangtuanya juga."
Saat mendengar itu, Sky langsung terdiam membeku.
"Ng-ngapain?" Akhirnya dia bertanya.
"Mau bicarain soal masalah diantara kami." Yara menipiskan bibir, membuat Sky memicing kepadanya.
"Jangan bilang kalau kamu---"
"Gak, Sky. Kamu jangan berpikiran yang enggak-enggak. Aku gak mungkin kembali sama dia."
Barulah Sky mengembuskan nafas lega. "Jam berapa janjinya? Ngobrol sebentar, yuk!" katanya mengerlingkan mata pada sang wanita.
"Abel?" Yara malah menanyakan bagaimana dengan Abel yang sekarang juga ada diantara mereka.
"Kita ke taman kompleks aja. Biar Abel main disana. Gak jauh juga dari blok ini, kan?"
Akhirnya Yara mengangguki permintaan Sky. Mereka berjalan beriringan menuju posisi taman. Pemandangan itu seperti sepasang suami istri yang sedang membawa anaknya untuk bermain di taman dan Yara cukup risih dengan hal itu, berbeda dengan Sky yang justru senang dengan keadaan ini.
"Kita... udah kayak keluarga lengkap ya," kelakar pria itu membuat wajah Yara merona, entah kenapa.
"Tapi ada yang kurang, Ra." Sky kembali bersuara.
"Kurang apa?" tanya Yara polos.
"Kurang rame. Maunya anaknya tiga," kata Sky membuat Yara terkekeh.
"Kok ketawa? Aku serius..."
Yara menggeleng samar, tak mau menanggapi perkataan Sky.
"Abel, Abel mau gak kalau punya adik dari Om sama Tante Yara?" Rupanya, karena Yara diam-- Sky malah mengajak Abel mengobrol dalam perjalanan mereka menuju taman itu.
Abel langsung mengacungkan kedua jempol. "Yeh, au... Abel au... adek ayi Om Cekai ma Ante Ala," tanggap bocah dua tahun itu.
Bersambung ...
****
__ADS_1