EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
114. Teguran


__ADS_3

Anton sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Nadine dirumahnya. Hari ini, wanita itu malah meminta Anton bekerja dan membiarkannya bersama Baby Elara di rumah.


Harus Anton akui jika kehadiran Nadine di kediamannya cukup membuatnya serba salah. Kendati Nadine memang membantunya dalam mengurus sang bayi, namun tetap saja ia jadi terasa sulit bergerak dan ada kejanggalan dalam keadaan ini.


Bagaimana tidak, mereka sudah selayaknya ibu dan ayah bagi sang bayi, tapi nyatanya tidak seperti itu. Anton butuh ruang juga untuk privasi, sementara sabanhari Nadine berada di kamarnya demi menjaga putrinya.


Jangan tanyakan perasaan Anton yang setiap hari harus melihat wanita cantik berada di kamarnya dan memomong bayinya. Itu seperti dia sedang menatap seorang istri sendiri, tapi nyatanya? BUKAN. Bukankah ini salah satu cobaan dan ujian hidup juga buat Anton?


Mau melarang Nadine berkunjung pun rasanya tidak tega, apalagi semakin hari Baby Elara semakin mengerti tentang kehadiran Nadine, sampai-sampai jika sang wanita memutuskan untuk pulang di sore hari, Baby Elara selalu menangis seakan tak rela ditinggalkan.


Anton jadi semakin serba salah.


"Nton, itu beneran babysitter nya anakmu? Nemu dimana sih? Bisa dapat yang bening gitu?"


Anton mendengkus pelan karena pertanyaan Fandi. Ya, saat ini Anton lebih memilih duduk di bengkelnya sambil melihat-lihat Fandi yang tengah membongkar motor--ketimbang terus-menerus di rumah menghadapi Nadine yang semakin hari semakin... ah, sudahlah.


"Kalau aku jadi kau, ku ajak nikah dia, Nton. Lagian udah sayang banget sama anakmu gitu kok!"


Lagi-lagi Fandi berceletuk tanpa disaring dulu perkataannya.


Anton menggaruk kepalanya dengan gusar. Lama-lama dia bisa termakan omongan Fandi atau justru dia sendiri pun punya pemikiran yang sama dengan temannya ini?


"Mana bisa, dia itu istri orang, Fan." Lesu, Anton menyahut dengan lesunya.


"Hahaha, kasihannya kau!" olok Fandi kemudian.


Anton berdecak lidah, mau marah tapi yang dikatakan Fandi memang benar. Amat kasihan nasibnya ini.


"Tapi, Nton, kalau dia istri orang emang suaminya gak marah kalau dia tiap hari disini dan jaga anakmu?"


Anton mengendikkan bahu, diapun tidak tau menahu mengenai permasalahan rumah tangga Nadine.


"Ya, mudah-mudahan aja imanmu kuat ya, Nton. Awas Khilaf! Ingat, setan ada dimana-mana!" Sekali lagi Fandi mengejeknya, bahkan kali ini terang-terangan dengan disertai tawa yang cukup kencang.


Anton hanya bisa menyugar rambutnya dengan perasaan yang semrawut.


"Udahlah, biar ku kerjakan aja motor si Lukman." Anton memilih menyibukkan diri daripada galau memikirkan keberadaan Nadine yang terus dekat di kehidupannya.

__ADS_1


Saat menjelang sore, Nadine tampak sudah bersiap untuk pulang ke kediamannya. Anton juga baru saja kembali masuk ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan di Bengkel.


"Udah pulang, Mas?"


Nadine menyambut kepulangan Anton dan hal ini lagi-lagi membuat Anton jadi serba salah, gelagapan dan bingung. Apalagi wanita itu menyajikannya segelas kopi selayaknya istri sendiri.


Ah, apa tadi? Yang benar saja, Nton! Batin Anton mengingatkan.


"Elara mana?"


"Baru selesai mandi terus tidur. Bayi umur segitu emang hobinya tidur kan, Mas?"


Anton pun duduk dan kini melihat Nadine yang mulai beranjak untuk mengambil tas-nya sendiri.


"Kamu udah mau pulang?"


Nadine mengangguki pertanyaan Anton.


"Besok kesini lagi?"


"Aku boleh nanya gak sama kamu?"


Nadine memilih duduk di sofa yang letaknya berhadap-hadapan dengan Anton.


"Emang kamu mau nanya apa, Mas?"


"Suami kamu gak marah kamu kesini tiap hari? Apa dia tau kalau kamu jagain anak aku? Terus, dia juga tau gak-- kalau aku ini duda?"


Nadine menunduk, entah kenapa perasaannya tidak enak atas pertanyaan Anton kali ini. Tidak biasanya Anton menanyainya dengan banyak pertanyaan seperti ini, apalagi suara Anton terdengar sangat dingin. Belum lagi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Anton mengenai suaminya, Nadine malas membahas hal ini.


"Mas, sebenarnya aku---"


"Nad, maaf, aku bukan gak mau nerima segala bentuk kebaikan kamu. Makasih banyak, Nad. Tapi aku gak mau jika nantinya keberadaan kamu disini jadi boomerang untuk kita berdua."


Nadine meremass jemarinya dalam pangkuan. Ia memahami dan cukup mengerti apa maksud perkataan Anton kali ini.


"Elara makin hari makin gak bisa lepas dari kamu. Jalinan diantara kalian semakin kuat. Aku bukan gak senang dengan hal itu, tapi aku takut nantinya akan membuat Elara merasa kehilangan kamu. Semakin kalian dekat maka semakin erat hubungan itu, Nad. Kamu ngerti, kan?"

__ADS_1


"Jadi, maksudnya kamu mau aku berjarak dengan Elara, begitu, Mas?"


"Lebih baik begitu, Nad. Kamu masih bisa mengunjungi Elara sesekali, tapi gak setiap hari seperti biasanya."


Nadine mengangkat wajah, tak disangka rupanya mata wanita itu telah berair. Anton jadi merasa bersalah telah bicara cukup keras pada wanita ini. Padahal, tak sekalipun Nadine berlaku kurang menyenangkan didepannya. Justru sebaliknya, wanita itu pandai membawa diri, sehingga Anton terpaksa melakukan ini untuk membentengi dirinya sendiri, dia takut jatuh pada pesona istri orang lain.


"Nad, maaf, aku gak bermaksud buat pisahin kamu sama Elara, tapi---"


"Aku paham kok, Mas. Aku ngerti kamu mau yang terbaik untuk Elara. Aku bukan siapa-siapa buat dia dan juga bukan siapa-siapanya kamu, jadi wajar aja sih..."


Setelah mengucapkan itu, Nadine pun beranjak dari duduknya. Tidak dipungkiri hal ini membuatnya sakit, tapi dia harus sadar diri. Siapalah dia bagi Elara dan juga Anton. Dia memang orang asing dan selamanya akan begitu. Tidak ada hal bagi dia melarang keputusan Anton.


Tapi yang paling membuat Nadine sedih adalah karena Anton seakan tidak peka dengan perlakuannya selama ini. Sudahlah.


Anton ingin sekali mengejar kepergian Nadine, dia juga menyesal karena ternyata tindakannya menegur kehadiran Nadine yang datang setiap hari ke kediamannya harus berakhir dengan kesedihan wanita itu.


"Maafin aku, Nad." Anton berujar seolah tengah berbicara pada sang wanita, nyatanya dia hanya bisa melihat mobil Nadine yang perlahan keluar dan meninggalkan pekarangan rumahnya.


Selama di perjalanan, Nadine tidak kuasa membendung airmatanya. Dia menangis tersedu-sedu sambil menyetir mobil.


Kasih sayangnya untuk Baby Elara murni dan timbul begitu saja. Tapi dia juga paham kenapa Anton menegurnya seperti ini. Ya, Anton pasti merasa risih dengan keberadaannya yang setiap hari mendatangi kediaman pria itu.


Meski Nadine juga sungkan, tapi sudah dia katakan jika rasa ingin mengasuh Baby Elara teramat besar tumbuh dihatinya dan hal itu mengalahkan rasa sungkan yang sempat timbul. Sehingga seperti tak punya malu, dia selalu mendatangi kediaman Anton setiap harinya dalam kurun waktu seminggu ini.


"Maafin Tante ya, El. Mulai besok Tante gak bisa kunjungi Elara lagi setiap hari." Nadine bergumam seolah tengah bicara pada bayi yang sudah diasuhnya. Dia terlanjur terbiasa dengan bayi cantik itu, tapi mau bagaimana lagi, itu memang bukan putrinya.


Seperginya Nadine, Anton semakin merasa bersalah. Kemungkinan besok wanita itu tidak akan kembali kesini lagi. Entahlah jika lusa dan hari-hari berikutnya.


Jika memang Nadine menyayangi Elara dengan sungguh-sungguh, pasti nanti sang wanita akan tetap kembali menjenguk anaknya sesekali, begitulah pemikiran Anton.


Anton tidak tega, tapi dia juga bingung menerima segala kebaikan Nadine padanya. Dia takut terperosok dalam dosa jika dia mengagumi wanita itu lebih dalam lagi. Bagaimanapun, Nadine masihlah berstatus sebagai istri orang lain.


Bersambung ....


Next? Letakkan kopi dulu🤗


Hehe, bercanda. Ntar othor kirimin 1 bab lagi khusus utk Readers setia yang masih baca sampai part ini❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2