EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
96. Inspirasi


__ADS_3

Nadine pun menceritakan pada Yara awal mula pertemuannya dengan Anton saat mobilnya mogok waktu itu. Mereka tak langsung berkenalan, dan justru kenal setelah pertemuan kedua yang terjadi di sebuah bengkel mobil dan itu hanya beberapa hari lalu saja.


"Oh, jadi mbak Nadine sama Mas Anton kenalannya belum lama ini, ya?" tanya Yara


"iya, Ra," sahut Nadine. "Oh iya, mbak sampai lupa, ini mbak bawakan susu formula buat Elara," katanya lagi sembari mengambil kantong plastik bawaannya.


"Lho, gak usah repot-repot, Nad..." timpal Anton yang juga sudah keluar dari kamar dengan pakaian yang lebih rapi dari sebelumnya.


"Gak apa-apa, Mas. Lagian aku udah terlanjur nanya merk susunya sama Yara."


Nadine pun mengangsurkan bungkusan tadi. Tidak ada yang tahu bahwa hal semacam ini sangatlah dia rindukan dalam hidupnya. Meski itu hanya membeli dua kotak susu formula bayi.


"Itu juga ada kopi, roti sama buah. Siapa tau Mas Anton begadang malam karena jaga Elara, terus malah kelaparan." Nadine pun tertawa pelan diujung kalimatnya.


Mendengar itu, wajah Anton jadi memerah. Ia tak menyangka Nadine bisa berujar demikian seperti sedang men-canda-i-nya.


"Mbak kok tau sih kalau malam Mas Anton itu sukanya begadang sama kelaparan," kikik Yara diseberang Anton.


Anton menatap Yara seolah memberi peringatan akibat perkataan sang adik, tapi Yara cuek saja, ia suka menggoda Anton yang entah kenapa nampak kaku sekali.


Padahal saat Yara masih di mobil tadi, dari kejauhan dia sudah bisa melihat Anton dan Nadine yang tampak bercakap-cakap akrab sembari tertawa. Tapi setelah Yara benar-benar tiba dihadapan keduanya, Anton malah memasang wajah datar.


"Bukan gitu, Ra. Biasa kalau ada bayi kan jadi sering begadang, jadi mbak bawain aja kopi biar gak ngantuk."


Mereka semua akhirnya terkekeh, termasuk Anton yang jadi semakin tak enak hati dengan kebaikan Nadine.


"Emang kalo tengah malam, Mas Anton mendadak jadi kayak masa pertumbuhan gitu, mbak. Dia suka bongkar-bongkar isi kulkas."


"Dek...." tegur Anton dan Yara langsung mengulumm senyum.


Sky yang juga ada disana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yara yang senang sekali menggoda Anton.


"Kayaknya Elara udah nyenyak, sini saya pindahin ke kamar aja, Nad."


Anton ingin mengambil alih Baby Elara yang sejak tadi masih digendong Nadine. Bagaimanapun, Anton merasa segan karena membuat wanita itu terus memomong putrinya. Padahal, Nadine justru sangat senang melakukan itu, dia merasa beruntung bisa sukses menidurkan seorang bayi meski itu bukan anaknya sendiri.


"Ya ampun, sampai lupa aku. Mbak mau minum apa? Aku buatin dulu."


"Apa aja deh, Ra."


Yara pun bangkit dari duduknya, ia menuju pantry yang ada di dapur, namun tak sengaja menyenggol sebuah waistbag milik Anton hingga membuat benda itu jatuh ke lantai.


Yara ingin kembali membereskan waistbag itu, namun karena benda itu tak terkancing dengan sempurna, menyebabkan beberapa benda yang ada didalamnya ikut keluar, termasuk kunci motor Anton, dompet, serta lembaran nota pembelian sparepart yang terlipat.


Yara mengumpulkan itu satu persatu, lalu tak sengaja menemukan sesuatu yang membuat dirinya terkekeh.


"Oh, jadi Mas Anton itu... buat nama Elara beneran karena terinspirasi dari nama Mbak Nadine?" gumamnya sambil membaca sebuah namecard yang sekarang dipegangnya.


"Hahaha, kena kamu, Mas." Yara berniat menggoda Anton lagi, tentu setelah dia membuatkan minuman untuk tamunya.


...~~~...


"Silahkan di minum, Mbak."


Nadine mengangguki permintaan Yara, diseruputnya teh yang baru saja Yara sajikan di atas meja.


Bersamaan dengan itu, Anton yang tadi memindahkan Elara ke dalam kamar juga sudah kembali keluar setelah memastikan putrinya tidur dengan nyenyak dan aman.

__ADS_1


Yara kembali duduk di sofa, sembari melirik Sky yang sibuk menelepon di teras rumah--karena sedikit urusan pekerjaan.


"Mas, jadi waktu Mas kenal mbak Nadine waktu itu, kenalannya gimana?" tanya Yara.


"Ya gak gimana-gimana, kenalan ya kenalan aja dek." Anton menjawab acuh tak acuh.


"Mbak Nadine gak ngasih mas Anton apa-apa waktu itu?" tanya Yara seperti menginterogasi saja.


"Gak ada, Ra. Kita cuma jabatan tangan aja selayaknya orang kenalan. Kenapa, sih?" timpal Nadine pula.


Yara mengulumm senyum. "Gak ada ngasih kartu nama, gitu?" tanyanya menatap pada Nadine tapi sesekali melirik pada Anton.


Mendengar soal kartu nama, Anton langsung tercekat. Kenapa pula Yara menanyakan ini? Apa Yara tau? pikir Anton.


"Gak ada, Ra. Ngapain ngasih kartu nama. Emangnya mau ngapain?" kikik Nadine.


"Oh, tapi aku nemuin ini di tasnya Mas Anton, lho!" Yara mengeluarkan kartu nama milik Nadine yang tadi sempat ditemukannya.


Sekarang Yara menaik-naikkan alisnya ke arah Anton, membuat pria itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Lho, Mas dapat kartu nama aku darimana?" tanya Nadine.


"Ng---itu, waktu itu jatuh dari tas kamu." Akhirnya Anton mengakui hal itu.


Nadine baru ingat, sesaat setelah ia membayar biaya tagihan servis mobil di Bengkel-- waktu itu, ia sempat membuka tasnya untuk memasukkan nota pelunasan, mungkin disana kartu namanya terjatuh tapi dia tidak menyadari.


"Jadi,mas simpan, gitu?" Yara kembali bersuara dan kali ini terang-terangan dengan senyumnya yang usil menggoda Anton.


Sky kembali ke sofa ruang tamu setelah menyelesaikan sesi meneleponnya. Ia menatap Yara penuh tanya dan istrinya itu memberinya isyarat mata bahwa sesuatu telah terjadi.


"Kenapa, sih?" Sky penasaran.


Anton menatap Nadine dengan perasaan tak enak hati. Dia tidak bermaksud mengambil kartu nama itu tanpa permisi, tapi membuang sesuatu yang dia temukan pun tidak mungkin--terlebih merasa kartu nama itu mungkin akan dia perlukan suatu saat nanti.


"Gak apa-apa kok, Mas. Lagian namecard kan emang buat dibagiin sama rekan-rekan aku," kata Nadine seolah memahami rasa tak enak hati yang kini dirasakan Anton.


"Tapi, kan, mas Anton bukan rekannya mbak," timpal Yara.


"Tapi beliau kan kakak kamu, Ra," ujar Nadine bijak.


Anton menundukkan wajah, tak lama dia kembali menatap Nadine. "Maaf ya, saya udah lancang," katanya tulus.


"Ya ampun, namanya juga nemu, Mas. Serius gak apa-apa."


"Bukan masalah nemu nya, tapi nama Elara emang terpikir setelah sebelumnya saya sempat membaca kartu nama kamu itu."


Sekali lagi Yara menahan gelak karena kejujuran sang kakak. Sementara Sky sudah dapat menebak situasinya.


"Gak masalah, justru aku senang nama Elara itu bener-bener karena aku. Kalau bisa, aku juga pengen ngasi nama seorang bayi."


Tanpa disadari, sudut bibir Anton justru tertarik sebab mendengar jawaban dewasa dari seorang Nadine.


"Kalau memang gitu, kamu boleh kok ngasih nama belakang buat Elara. Ya, anggap aja ini setimpal," kata Anton akhirnya.


"Beneran, Mas?" Nadine menyahut tak percaya.


Anton mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin.

__ADS_1


"Kalau Elara Faradisa, gimana? Faradisa itu artinya surga."


"Tentu aja boleh, itu nama yang bagus."


"Yara juga setuju, Mas."


"Aku juga setuju, Mas," kata Sky yang ikut menimpali dengan seringaian tipis-- membuat Anton menatapnya tajam sekarang.


Karena Sky menghargai kakak iparnya, akhirnya ia pura-pura bersiul, padahal niatnya tadi adalah ikut menggoda Anton.


Yara jadi terkekeh. Ia menggenggam tangan Sky erat--untuk membuat suaminya tidak merasa terintimidasi akibat sorot mata sang kakak.


...~~~~...


"Menurut kamu, mbak Nadine sama Mas Anton itu cocok gak, sih?" Yara menanyai Sky. Saat ini mereka sudah berada di kamar mereka sendiri yang ada dikediaman Sky.


"Jangan bilang kalau kamu berniat untuk menjodohkan mereka."


"Lah, emang kenapa?" tanya Yara cuek.


Yara mendekati meja rias dan duduk disana, sekarang dia menyisir rambutnya sementara Sky duduk bersandar di ranjang mereka. Yara menatap Sky dari pantulan cermin, suaminya itu tampak sibuk melihat-lihat layar ponsel.


"Jangan aneh-aneh, Ra. Mbak Nadine itu punya suami, kan?"


Yara menahan gelak. "Terus?" tanyanya.


"Ya, gak boleh, dong. Gimanapun juga mbak Nadine itu istri orang, masa mau kamu jodohin sama mas Anton."


"Lah, waktu kamu ngejar-ngejar aku kemarin, aku juga masih istri orang. Kamu lupa?"


Sky meletakkan ponselnya dan beralih arah untuk menatap wajah istrinya yang nampak di cermin.


"Kalau itu beda ceritanya, Sayang."


"Bedanya dimana? Aku rasa itu sama aja," jawab Yara cuek.


"Itu cuma boleh dilakuin sama orang kayak aku. Yang nekat dan hampir gila karena cinta," akui Sky sambil tergelak mengingat kelakuannya sendiri.


Yara ikut tertawa karena akhirnya Sky menyadari sikapnya yang sangat mengherankan itu.


"Mbak Nadine itu juga gak bahagia sama pernikahannya, Sayang."


"Hmm, jadi kamu mau mas Anton seperti aku, gitu?"


"Ya enggak sih," kata Yara mengendikkan bahu. "Tapi entah kenapa aku merasa kalau Mbak Nadine gak bakal lama lagi sama suaminya," katanya menebak.


"Gak boleh gitu, sayang. Seharusnya kamu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga Mbak Nadine."


"Ya itu, yang terbaik adalah dia pisah sama suaminya," sahut Yara mantap, sementara Sky hanya bisa menipiskan bibir mendengar ucapan sang istri.


Bersambung ....


****


Dukung karya ini dengan vote, like, jadikan favorit, tinggalkan komentar dan kirimin bunga+kopi.


Oh iya, ini buat yang baru mampir ke novelku ... aplikasi Noveltoon yang baru diperbarui, sekarang udah gak ada tanda love lagi, loh! Jadi, buat kalian yang mau menjadikan novel ini sebagai favorit, ikuti langkah di gambar ini ya. Tujuannya adalah supaya kalau novel ini update, bisa masuk ke pemberitahuan di hp kalian masing-masing. Terima kasih, ya🙏🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2