EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
6. Rindu kamu


__ADS_3

Siang menjelang sore, Yara mengucek mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia melirik jam diatas nakas, ternyata sudah pukul 3 waktu setempat. Saat itu juga Yara terlonjak seakan tersadar dengan keadaan. Ternyata ia sudah tertidur hampir 2 jam di kamar yang pintunya terkunci dari dalam.


"Ya ampun, Mas Juna pasti nyariin aku dan gak bisa masuk kamar," gumamnya. Yara mengikat rambutnya secara asal kemudian beranjak dari tempat tidur.


Ini semua terjadi karena sebelumnya ia sempat menghindari Sky. Kalau saja Sky tidak mendatangi pintu kamarnya, Yara tidak harus mengurung diri di dalam kamar seperti ini. Bukankah ia mau berlibur dengan teman-temannya? Ah, semua karena pria itu.


Yara pun beringsut mencari keberadaan ponselnya. Saat menemukannya, ia langsung mengecek benda pipih itu. Ia pikir akan ada belasan panggilan tak terjawab dari Juna yang tengah mencari keberadaannya atau meminta dibukakan pintu kamar. Nyatanya tidak. Tidak ada tanda-tanda bahwa Juna telah menghubunginya. Justru disana terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Diandra.


"Mas Juna kemana?" Yara berdialog seorang diri. Akhirnya ia memutuskan menghubungi pria berstatus suaminya tersebut.


Sayangnya ponsel Juna tidak dapat dihubungi.


"Ck! Tumben banget ponselnya gak aktif." Yara berdecak lidah sekilas.


Kemudian barulah Yara memutuskan untuk menelpon Diandra.


"Ra? Kamu kemana aja? Aku sama yang lain gak ngeliat kamu." Begitulah sambutan Diandra saat panggilan Yara tersambung kepadanya.


"Aku di kamar. Ketiduran. Ada apa, Di?"


"Gak balik ke Pantai? Kita masih disini. Tadi ngehubungin kamu juga, biar makan siang bareng di Resto sini."


"Kayaknya enggak balik deh, aku makan di Villa aja."


"Oh, ya udah kalau gitu."


Panggilan itu pun berakhir. Yara langsung beranjak untuk keluar kamar. Tidak mungkin Sky masih menungguinya didepan pintu, kan?


Lagipula, Yara memang harus turun ke bawah sebab lambungnya terasa keroncongan. Ia sudah melewatkan makan siangnya hari ini. Dan sekarang perutnya menuntut untuk segera diisi.


Saat Yara menuruni tangga, ia berpapasan dengan Rina dan pacarnya.


"Loh, kalian disini, gak di pantai?" tanya Yara.


Rina menatap Yara dengan tampang gugup seolah baru saja tertangkap basah oleh temannya itu.


"Ka--kamu di villa, Ra? Sejak kapan? Kok aku gak tau ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Yara, Rina malah balik bertanya sembari menggaruk pelipisnya.


"Dari siang, aku ketiduran di kamar. Aku juga gak tahu kalian disini, kirain ikut yang lain ke Pantai."


"Eh iya, itu, tadi aku sama Dion emang di Pantai, terus kita balik ke sini sekitar sejam yang lalu...." jawab Rina salah tingkah.


Yara mengendikkan bahu, ia tidak mau menanyai Rina lebih jauh lagi. Lagipula gadis itu sudah dewasa, pikirnya.


"Kamu udah makan siang, Rin? Aku mau cari makanan di dapur."


"Kayaknya gak ada makanan deh, pihak pengurus Villa gak sediain makanan buat kita, soalnya semuanya udah makan di Resto jadi udah di pesenin biar gak masak, gitu. Aku udah makan kok, tadi."

__ADS_1


Yara manggut-manggut. Ia pun meninggalkan Rina bersama pacarnya yang duduk berdua di ruang tv.


Yara berjalan ke dapur. Mungkin ia akan menemukan makanan siap saji di kulkas, pikirnya.


Dan syukurlah Yara menemukan mie instan disana. Ia memutuskan untuk memasak itu demi mengganjal perutnya yang sudah meronta karena kelaparan.


Tidak butuh waktu lama, mie instan buatan Yara sudah siap dimasak. Ia duduk di meja makan, mulai ingin menikmati makanan itu.


"Akhirnya laper juga?"


Yara tersedak karena mendengar suara pria yang dikenalinya. Siapa lagi jika bukan Sky. Tapi, sejak kapan Sky ada disana? Perasaan Yara, tadi tidak ada siapapun di ruang makan.


Yara ingin beranjak kendati mie instannya baru ia nikmati beberapa suap.


"Mau kemana?"


Belum lagi Yara melangkah, suara Sky kembali menginterupsinya.


"Habiskan dulu makannya!" ucap pria itu seolah memberi titah.


Yara menggeleng pelan, tanpa berani menatap Sky yang tak jauh dari posisinya.


Derap langkah pria itu terdengar semakin mendekat, sementara entah apa yang terjadi pada Yara, sehingga membuatnya membeku di tempat.


"Kalau kamu gak habiskan mie nya, nanti aku yang habiskan. Mau?"


Yara semakin menunduk lebih dalam. Jarak Sky sekarang hanyalah sejengkal dari tubuhnya. Tinggi tubuh pria itu juga mendominasi, membuat Yara tidak bisa berkutik.


Bagai terhipnotis, wanita itu mengikuti instruksi Sky dan kembali ke meja makan. Ia memakan mie tanpa mengadahkan wajah sekalipun.


Keduanya sama-sama diam tanpa ada yang bersuara, sampai akhirnya Yara benar-benar hampir menyelesaikan kegiatan makan siangnya yang terlambat.


"Kenapa?" Setelah cukup lama hening dalam keadaan Sky yang memperhatikan Yara makan, akhirnya pria itu kembali buka suara untuk bertanya.


"Kenapa tiba-tiba kamu menikah, Ayara?"


Glek ....


Yara menelan suapan terakhirnya begitu saja--tanpa sempat ia kunyah lagi, sebab pertanyaan Sky berhasil membuatnya serba salah dan gugup luar biasa.


"Aku minta kamu nunggu aku, kan? Kenapa, kamu gak bisa nunggu?" Kali ini suara Sky terdengar lebih tegas.


Sekali lagi Yara menelan saliva dengan sulit. Ia mengambil air minum disisinya dan meminum itu dalam sekali tegukan.


"Jawab aku, Ayara!"


Akhirnya Yara mengangkat wajah, mencoba menatap pada Sky dengan raut wajah gugupnya itu.

__ADS_1


"Aku.... aku ...." Yara tampak ragu mengutarakan kata, sesekali ia menunduk, sesekali berikutnya ia memandang ke arah lainnya karena nyatanya ia memang tak berani beradu tatap dengan pria dihadapannya.


"Gak bisa jawab?"


Yara pun menarik nafas dalam. "Mana ada gadis yang mau menunggu tanpa kepastian selama 11 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Kalau aku mutusin buat nunggu, tapi saat kita ketemu kamu malah udah berubah dan gak kayak dulu lagi, pasti aku yang kecewa, kan? Jadi, aku memutuskan untuk gak nunggu kamu."


Sky menatap Yara dengan tatapan terperangah, seakan tak percaya dengan jawaban yang baru saja Yara katakan.


"Ya, ya, dan kenyataannya sekarang justru aku yang kecewa karena keadaan kita." lirih pria itu sambil menyunggingkan senyum miris. Tampak sangat ironis.


"Udahlah, gak ada gunanya bahas hal ini. Lagipula kita udah berakhir sejak kamu pergi waktu itu." Akhirnya Yara memberanikan diri untuk melihat pada wajah Sky tapi tetap tidak berani menatap mata hitam pekat milik pria itu.


"Gak ada gunanya, huh? Apa kamu lupa janji kita?" Sky bangkit dari posisinya. Ia menghampiri Yara yang masih terduduk.


Sky menggeleng samar, kemudian menumpukan kedua tangannya di bibir meja makan--seakan sengaja mengurung Yara diantara kedua tangannya itu.


Yara terkesiap, apalagi sekarang Sky merunduk hingga membuatnya takut untuk bergerak. Sedikit saja Yara bergerak, dapat dipastikan jika bagian tubuhnya akan menyentuh salah satu tangan Sky yang berada di kiri-kanannya.


"S-Sky... jangan begini," tolak Yara sehalus mungkin. Bagaimanapun ia tahu sifat Sky. Lelaki ternekat sedunia yang pernah ia kenal.


"Kenapa? Kamu bilang gak ada gunanya, kan?"


"Aku mau balik ke kamar. Minggir, Sky! Didepan ada Rina sama pacarnya, nanti mereka bisa salah paham sama kita."


"Biar. Aku gak peduli."


"Sky, please...."


"Aku rindu kamu, Ayara."


Deg...


Yara hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Hal inilah yang tidak mau ia dengar dari Sky.


"Kita udah gak ada hubungan Sky. Jadi, jangan ucapin hal-hal konyol kayak gitu."


"Rasa rindu aku ini serius. Bukan main-main apalagi hal konyol seperti yang kamu bilang!" Mata pria itu menghujam ke arah Yara, lagi-lagi membuat wanita itu tidak bisa berkutik.


"Aku nunggu momen pertemuan kita. Aku mau nepatin janji kita. Tapi apa yang aku dapetin sekarang, hah?"


Yara menggeleng pelan. "Cukup, Sky! Nyatanya, sekarang aku udah menikah dan punya suami. Aku ini istri orang! Jadi please jangan bicarain masa lalu apalagi janji yang hanya diucapin oleh dua orang anak berumur 17 tahun!" kata Yara lantang, membuat Sky terpana karenanya.


Disaat itulah Yara mendorong pelan dada Sky yang berada tepat didepannya. Ia segera bergerak meloloskan diri dari pria tersebut.


"Sh-it!!!" Sky meninju udara. Perkataan Yara berhasil membuatnya kembali pada kenyataan. Gadis yang dulu ia kenal, telah menjadi wanita milik pria lain. Dan hal ini, justru membuat Sky semakin sakit kepala. Ia pun mendengkus keras sebab Yara sudah lari dari kungkungannya.


Bersambung ....

__ADS_1


*****


...Jangan lupa tap Love. Vote, like dan tinggalkan komentarmu🥰🥰🥰...


__ADS_2