
Dalam pemikirannya, Sky sebenarnya masih bingung untuk memberikan hukuman yang pantas terhadap perbuatan Michele. Apa kiranya yang dapat membuat wanita itu kapok dan tidak mengusik rumah tangganya lagi di kemudian hari?
Mungkin saat ini Michele diam karena mengira Sky telah tiada, tapi jika nanti dia mendengar kabar bahwa Sky tidak pernah meninggal, bagaimana? Sky ragu jika Michele akan tetap diam.
Melepaskan Michele begitu saja tanpa memberinya efek jera adalah sebuah keputusan bo doh. Kenapa? Karena berawal dari perbuatan Michele yang dengan sengaja mengedit foto itulah semua permasalahannya jadi runyam.
Yara mengira Sky berselingkuh, tidak mempercayainya, hingga akhirnya Sky terburu-buru untuk pulang dari Surabaya. Hingga mengantarkannya pada kecelakaan maut bersama Diandra. Tidak hanya sampai disana, pasti Michele juga yang memanasi pihak media untuk semakin membesarkan berita mengenai isu perselingkuhannya.
"Kamu tau gak, waktu kamu koma, Ibunya Diandra datang dan meminta pertanggungjawaban atas kematian Diandra."
Ucapan Yara, berhasil membuat Sky menghentikan pemikirannya tentang Michele. Dia menatap Yara yang tampak serius dalam pembicaraan kali ini.
"Tunggu, tunggu ... maksudnya pertanggungjawaban? Ini aku yang dituntut bersalah atas kecelakaan itu?" tanya Sky dengan raut tak percaya.
"Huum, gitulah kira-kira."
"Itu ibunya Diandra sadar gak sih pas ngomong gitu?"
Yara menahan tawa karena respon Sky yang memasang ekspresi dongkol, tapi entah kenapa itu justru terlihat lucu dalam pandangan mata Yara.
"Terus, ceritanya dia mau nuntut aku ya?"
"Iya, cuma karena waktu itu kamu koma, dia gak ngelaporin kamu," papar Yara masih dengan kulumaan senyum. "Dia minta uang pertanggungjawaban, 2 Milyar," sambungnya.
"Astaga." Sky mendesahh singkat. Masih tak habis pikir ada banyak orang yang justru ambil kesempatan disaat dia tidak berdaya.
Selain Michele, ternyata ada Ibu dari Diandra yang ingin memanfaatkan keadaan. Sky sendiri cukup salut pada istrinya, bagaimana cara Yara menghadapi segala problem itu bersamaan dimana Sky sedang terbaring koma, tuntutan uang 2 milyar dan juga desas-desus perselingkuhannya dengan Diandra yang terus disiarkan.
"Kamu ... pasti sangat tertekan waktu itu. Maafin aku ya, Sayang."
Yara hanya tersenyum simpul dalam posisinya. Kemudian dia menyendokkan lagi bubur lalu menyuapinya ke arah mulut sang suami.
Sky menerima setiap suapan yang Yara berikan, kendati dia sudah mulai bosan dengan makanan seperti ini nyaris setiap hari, karena kondisi tubuhnya yang belum bisa memakan panganan berat.
"Jadi, kamu gak kasih uang itu, kan?" tanya Sky yang mulai mencerna semuanya.
"Ya enggak, dia juga udah gak pernah datang lagi tuh."
"Kok bisa? Aku pikir dia bakal ngebet minta uang 2 M itu."
__ADS_1
Yara mengendikkan bahunya, dia memang tidak pernah tau jika Serena sempat berhadapan dengan Indri yang mengulitinya habis-habisan sehingga membuat wanita itu malu dan tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Yara.
"Pasti sekarang, ibunya Diandra itu juga mengira kalau aku udah meninggal, Sayang."
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya atas ujaran sang suami.
"Terus, rencana kamu ke Michele, apa?"
"Menurut kamu, apa kita laporkan aja dia ke polisi? Aku bisa melaporkan kasus ini sebagai perbuatan tidak menyenangkan dan mengusik kehidupanku."
"Aku gak mau berurusan dengan polisi lagi, Sky. Udah cukup. Tiap denger kedatangan mereka atau yang menyangkut dengan kepolisian aku jadi teringat waktu pertama ditelpon polisi yang mengatakan kamu mengalami kecelakaan. Aku gak bisa."
Sky memahami jika ingatan Yara masih membekas dengan hal itu, maka dari itu dia pun mengurungkan niatnya untuk melaporkan Michele ke polisi.
"Aku cuma gak mau kejadian ini terulang lagi. Apalagi kalau Michele tau aku masih hidup, dia pasti akan berpikir untuk mengambil kesempatan lain dan kita gak pernah tau rencana dia selanjutnya."
"Ya, aku tau. Aku juga mau dia dapat hukuman yang pantas." Yara pun mengelus punggung tangan suaminya.
...*...
Merasa tidak bersemangat setelah Sky dinyatakan meninggal, membuat Michele enggan meninggalkan meja kerjanya meski waktu makan siang sudah tiba. Bersamaan dengan itu, rupanya Daisy datang untuk mengajak wanita itu bicara terkait foto yang Michele edit.
"Ya?" Michele mengadah pada Daisy.
"Apa kau yang mengedit foto ku dan Radja?" tanya Daisy to the point.
Michele tampak gusar, dia langsung mengerti foto yang dimaksudkan oleh Daisy, tapi dia masih bingung kenapa temannya ini bisa mengetahui perkara foto itu.
"Jawab!"
Astaga, tidak pernah Daisy semarah ini padanya.
"Kau kan, yang mengedit foto itu? Wajah Radja kau ganti dengan wajah pria lain untuk kepentinganmu sendiri. Kenapa?" Wajah Daisy tampak memerah menahan emosi.
"Daisy, kau salah paham ... aku tidak--"
"Jangan beralasan, Michi! Aku tidak suka kau mengambil kesempatan seperti itu. Kau tau, Radja benar-benar marah, dia bahkan berniat melaporkanmu ke polisi."
Michele terperanjat kaget dengan ucapan Daisy, dia tidak menyangka masalahnya akan panjang seperti ini.
__ADS_1
"K-kau tidak serius, kan? Ehm, maksudku Radja tidak mungkin melakukan itu, kan?" Michele panik, dia gelagapan mendengar bahwa kekasih Daisy akan memperpanjang hal ini sampai ke pihak kepolisian.
"Aku serius. Radja marah karena wajahnya yang kau edit. Kenapa kau melakukan itu Michi?"
"Aku cuma iseng," jawab Michele yang tak yakin dengan alasannya sendiri.
Daisy berdecih mendengar jawaban sang teman. "Iseng katamu? Kau sudah memanfaatkan foto itu. Ayo! Sekarang jujur, untuk apa kau edit foto itu? Kalau kau tidak mengatakan yang sebenarnya, aku tidak bisa membantumu lepas dari kemarahan Radja."
Michele memijat pangkal hidungnya. Mendadak dia merasa pening.
"A-aku cuma berniat untuk mengejar pria yang aku sukai. Itu saja."
"Astaga, hanya demi pria kau melakukan ini? Aku sampai bertengkar dengan Radja karena membelamu. Kau sadar tidak apa yang kau lakukan!" marah Daisy.
"Ya-ya, aku minta maaf. Aku minta maaf padamu dan Radja. Nanti aku akan mengatakan langsung kepadanya. Tolong jangan perpanjang hal ini lagi, ya."
Daisy mendengkus. "Lain kali, jika kau mau berbuat sesuatu dengan melibatkan orang lain kau harus izin dan meminta persetujuan orang itu!" tukasnya lalu berbalik pergi.
Seperginya Daisy, Michel terduduk dengan menopang kepala. Sudah usahanya sia-sia. Sky meninggal. Sekarang dia harus diomeli oleh Daisy bahkan hampir dilaporkan ke kantor polisi.
Tapi, mendadak Michele berpikir, darimana Radja bisa tau mengenai foto editan itu? Sedangkan foto itu hanya dia kirim kepada Yara.
"Apa Yara menyelidiki foto itu?" gumam Michele bertanya pada dirinya sendiri.
"Pasti Yara menyelidiki keaslian foto itu, apa sekarang dia sudah tau bahwa aku yang pengirimnya?"
Mendadak Michele mencengkram kepalanya sendiri. "Shiiiit! Kalau begini, semuanya bisa gawat."
Mungkin Daisy bisa membujuk Radja untuk tidak melaporkan Michele ke polisi, tapi jika pihak Yara tau jika dia adalah biang keladinya, mungkin saja ini akan semakin runyam karena bisa saja Yara melaporkannya juga.
"Apa yang harus aku lakuin sekarang?"
Michele kebingungan mencari jalan keluar disaat dia sudah menebak jika Yara telah mengetahui ulahnya. Dia sudah ketahuan. Seharusnya dia tidak gegabah seperti ini. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Michele ragu Yara akan membiarkannya lolos begitu saja, apalagi berawal dari masalah ini Sky sampai kehilangan nyawa. Michele merasa panik dan gusar luar biasa.
"Kayaknya aku harus pergi untuk beberapa saat sampai masalah ini tidak terlalu panas seperti sekarang," gumamnya kemudian.
Bersambung ....
Hayo loh, Michele nya mau kabur. Gimana dong? Kita lolosin gak dia?
__ADS_1
Next? Komen✅