EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
71. Gugup


__ADS_3

Derap langkah Sky seakan sama dengan ritme detak jantungnya sendiri. Seperti yang ia perkirakan sebelumnya, menemui Anton sama seperti perjalanan menuju tahap ujian akhir dan itulah yang akan menentukan segalanya tentang masa depannya.


Beberapa titik keringat sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya saat memasuki kediaman kakak Yara tersebut.


Apa seperti ini juga yang tadi Yara rasakan saat ingin bertemu dengan Mamanya?


Hhhh .... saat seperti ini, seharusnya bisa dihadapi oleh seorang seperti dirinya yang selalu meng-enteng-kan sesuatu. Nyatanya tidak, tetap saja ia merasa deg-degan.


"Mas, Sky udah didepan nungguin Mas!"


Suara seruan Yara yang memanggil sang kakak--cukup terdengar nyaring di indera pendengaran Sky, sebab keadaan rumah itu memang tengah senyap. Hal ini semakin membuatnya grogi dan gugup luar biasa yang bercampur menjadi satu.


"Iya, dek. Bentar ya," sahut Anton.


Yara kembali ke ruang tamu dimana Sky sudah duduk disana. Wanita itu melemparkan senyum kecil seolah menguatkan Sky dan berbicara secara tak langsung bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Sekali lagi Sky menyeka dahi dengan punggung tangannya. Melihat itu, Yara malah mengulumm senyum, secarik tisu ia tarik dari kotaknya dan memberikannya pada sang pria.


"Grogi?"


Rupanya Yara dapat membaca kegugupan dan kegelisahannya yang menyatu padu. Sky pun hanya menanggapi Yara dengan anggukan.


Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu pasti Anton yang saat ini sedang mereka tunggu kehadirannya.


"Sky?"


Terlalu cepat dari perkiraan, Sky pikir Anton akan tiba beberapa detik lagi untuk memberinya uluran serta tenggang waktu untuk menaikkan nyali. Nyatanya tidak, pria itu langsung menyapa dan membuat Sky yang mau tak mau harus mengadahkan kepala.


Sebuah senyum tipis tersungging dari bibir Anton. Punya nyali juga bocah ini untuk menemuinya. Tidak, bukan. Sky bukan lagi bocah SMA yang dulu sering ia marahi jika ketahuan bolos sekolah bersama Yara. Sekarang bocah itu sudah menjadi pria dewasa yang tampak berkharisma.


"Udah cukup lama ya," kata Anton memulai kalimatnya. Dia mendudukkan diri disebuah single sofa yang ada dihadapan Sky, membuat posisinya bisa menatap jelas bagaimana gerak-gerik pemuda itu.


"Cukup lama?" Sky membeo.


"Iya, cukup lama kita gak pernah ketemu lagi," tandas Anton dengan senyum kecil sebab melihat kegugupan seorang Sky Lazuardi.


"Iya, Mas. Maaf, baru bisa berkunjung dan menemui Mas sekarang."

__ADS_1


Yara yang juga duduk di sofa panjang yang sama dengan tempat duduk Sky--ingin sekali meledakkan tawa. Tapi, biar bagaimanapun ia masih senang dan menikmati saat melihat Sky dalam posisi ini. Biar Sky juga tau bagaimana rasanya gugup, karena tadi Yara sudah lebih dulu merasakannya saat bertemu dengan Mama Sky.


"Jadi gimana, Sky?" tanya Anton memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat.


"Ya, Mas. Aku siap menikahi Yara," jawab Sky spontan namun terdengar mantap. Sebab jawaban itu yang sejak tadi terus berputar dibenaknya seperti sebuah iklan berbayar yang sering muncul dan berjalan perlahan di kolom bawah televisi.


"Hah?" Anton sempat ternganga akibat jawaban Sky, tapi kemudian ia terbahak sampai terpingkal-pingkal.


"Maksudku gimana kabarmu, Sky? Mas bukan nanya siap atau gak siapnya kamu untuk menikahi Yara!"


Anton masih saja tertawa, sementara Sky semakin gugup dan akhirnya memasang cengiran seperti orang bo doh.


Sama dengan sang kakak, Yara juga ikut menahan gelak. Mau ikut terbahak, tapi ia masih menjaga perasaan pria yang duduk berjarak disampingnya.


"Ma-maaf, Mas. Aku terlalu bersemangat. Kabarku baik. Sangat baik, Mas." Akhirnya Sky berhasil menguasai keadaan kembali.


Anton masih saja terkekeh meski sekarang tawanya sudah tidak meledak seperti diawal tadi--saat pertama Sky memberi jawaban yang diluar prediksinya.


"Oke, karena tadi kamu udah membahas soal pernikahan dengan Yara. Jadi, kita bahas saja sekalian."


"Sebelumnya Aku mau tanya, sejak kapan kalian kembali jalin hubungan? Apa kalian juga berselingkuh seperti yang dilakukan Juna dengan Shanum?"


Yara mengangkat wajah. Ia sudah beberapa kali mengatakan pada Anton bahwa hubungannya dengan Sky tidaklah sejauh yang Juna dan Shanum lakukan. Tapi agaknya sang kakak ingin mendengar kejujuran lain dari mulut Sky.


"Aku dan Yara tidak pernah menjalin hubungan lagi setelah Yara menikah. Kami bertemu di acara reuni beberapa bulan lalu. Saat itu, aku cukup terkejut karena ternyata Yara memang benar-benar sudah menikah, Mas."


".... Yara tidak pernah menggubris aku. Tapi disini aku mengakui bahwa aku yang terus mengejarnya. Aku pikir aku akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Yara, karena aku memang berniat merebutnya dari Juna, Mas."


Mendengar itu, bukan hanya Anton yang terkejut tetapi Yara pun demikian. Bagaimanapun disini Sky benar-benar jujur dan terbuka. Yara speechless karena ternyata pria itu berani mengakui kesalahannya.


"Untuk hal itu, aku minta maaf, Mas. Tapi, aku tidak akan melakukan hal gila jika memang melihat Yara sudah bahagia bersama suaminya. Aku menjadi nekat karena aku tau Yara tidak bahagia dan aku bertekad mau membahagiakan dia, Mas."


Anton menghela nafas panjang, harus ia akui keberanian Sky mengakui semua ini kepadanya. Ternyata Sky gentle juga, pikirnya.


"Jadi, sekarang Yara sudah resmi berpisah dari Juna. Jadi menurut kamu, ini semua terjadi karena kelakuan Juna sendiri atau juga karena usaha kamu?" tanyanya.


Sky menunduk. "Mungkin ini juga karena usaha aku, Mas," katanya mengakui.

__ADS_1


Anton pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu, bagaimana dengan keluarga kamu? Kalau Yara bisa diterima oleh keluargamu dengan statusnya yang sekarang adalah janda, maka mas tidak mungkin menghalang-halangi kalian jika niat kalian memanglah baik."


Sky menatap Anton dengan tatapan tak percaya. "Jadi, mas mau merestui kami?" tanyanya kemudian.


"Ya, kan kamu juga udah ngaku ini tidak luput dari usahamu juga. Kalau aku tidak memberi restu, usaha kamu sia-sia dong," kata Anton mengendikkan bahu tak acuh.


Sky langsung mengangguk cepat. "Terima kasih ya, Mas," katanya.


"Hmm, tapi seperti yang tadi Mas bilang, Sky. Apa Yara bisa diterima dengan baik oleh keluargamu? Jika iya, baru aku mau merestui. Tapi jika tidak, lebih baik Yara tetap disini sampai dia menemukan orang lain yang mau menerima masa lalunya."


Sky menggeleng tegas. Mana bisa dia membiarkan Yara bersama orang lain lagi. Sudah cukup dulu Yara bersama Juna.


"Aku yakin Mama bakal nerima Yara, hubungan mereka cukup baik. Mereka juga baru bertemu beberapa jam yang lalu," tukas Sky mantap.


"Oke. Yang penting ini harus jelas dulu. Jika kamu udah bisa memastikan restu itu dari mamamu, baru kamu datang kesini lagi. Dan soal menikah, Mas mau gak usah dalam waktu dekat ini lah ya."


"Kenapa, Mas?"


Yara yang juga menyimak pembicaraan dua pria dewasa itu-- pun ingin tau apa jawaban Anton sekarang.


"Ya karena Yara baru aja resmi bercerai. Mas gak mau seolah-olah Yara yang salah karena tiba-tiba dia menikah dengan kamu."


"Jadi menurut mas kapan kami menikah?" tanya Sky lagi.


"Tahun depan," kata Anton dengan entengnya.


Mendengar itu mata Sky langsung membola. Sementara Yara akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya yang sejak tadi sudah ia pendam. Yara terkekeh hingga membuat Sky menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas, kalau boleh jujur... itu kelamaan." Sky pun menyengir.


Anton mengendikkan bahu. "Berdoa aja biar ada keajaiban yang bisa membuat waktunya berjalan dengan cepat," ujarnya tenang.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2