EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
83. Milikku


__ADS_3

Sky memasuki kamar Yara yang ada di rumah Anton. Ya, sekarang tidak mungkin ada satu orangpun lagi--yang bisa mencegahnya menemui Yara sesuka hati.


Yes yes yes! Begitulah sorak sorai hati Sky saat ini. Ia menutup pintu lalu menguncinya setelah benar-benar memasuki area kamar dengan luas 3x3 meter tersebut.


Fasilitas kamar yang Yara tempati di rumah Anton terbilang lumayan, ada satu tempat tidur berukuran sedang, satu lemari pakaian di sudut ruangan, juga sebuah kamar mandi pribadi yang terletak di sisi kiri. Tidak ada televisi seperti dikamar yang Sky tempati di kediamannya, apalagi AC, disini hanya menggunakan kipas angin yang tampak bertengger di dinding kamar. Tapi, semua ini sudah terbilang layak untuk di tempati dan yang membuat Sky nyaman adalah kebersihannya. Yara memang selalu peduli dengan kebersihan, itulah yang Sky ketahui.


Sekarang, tatapan Sky hanya terfokus pada satu sosok wanita yang tertidur di ranjang dengan posisi meringkuk memeluk guling. Sudut bibir pria itu tertarik, menjadi lengkung senyum yang sempurna. Ah, mimpi apa dia semalam? Bahkan semalam ia tak tidur, tapi hari ini Yara sudah sah menjadi istrinya.


Boleh dikatakan jika kini Sky juga merasa gugup. Anggaplah ia bo doh jika tidak langsung memakan Yara saat ini juga, tapi ia tidak selugu itu untuk tetap membiarkan keadaan seperti ini terus. Tidak sekarang, pikirnya, masih ada banyak waktu untuk membersamai Yara sebab Yara sudah utuh menjadi miliknya.


Sekarang, Sky lebih memilih untuk tertidur, memejamkan mata sejenak untuk memulihkan energinya.


Sky bergerak pelan, takut-takut pergerakannya akan mengganggu posisi istrinya yang sedang pulas sekarang. Iya, kan? Dia memang tidak salah sebut, Yara memang istrinya!? Hehehe ...


Berbaring disamping Yara ternyata senyaman ini, semua beban pikiran yang selama ini menyertai seakan luruh begitu saja. Sky pun mulai memperhatikan wajah lelap wanitanya karena kebetulan Yara tertidur dengan posisi yang menghadap kepadanya.


"Hai, aku suamimu..." bisik Sky pelan disamping Yara, lalu ia malah terkekeh sendiri akibat kelakuan absurdnya itu.


Sky ingin sekali mencium Yara saat ini juga, apalagi wajah tidur Yara tampak sangat menggemaskan dimatanya. Tapi, buru-buru ia membuang pemikiran itu, ia tau Yara butuh istirahat yang cukup dan ia tak mau mengganggunya.


"Istirahat yang banyak, sebelum nanti kamu harus menghadapi suamimu ini," batin Sky. Ia pun tersenyum miring dan memutuskan untuk memejamkan mata tanpa mengganggu tidur Yara.


...~~~...


Yara langsung terlonjak kaget saat mendapati seorang pria yang tengah terlelap disampingnya. Hampir saja ia refleks dan memukul pria itu, tapi syukurnya tindakan itu tidak jadi ia lakukan-- karena mendadak kejadian tadi pagi langsung terlintas begitu saja di ingatannya.


"Ya ampun, hampir aja." Yara membekap mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau membangunkan Sky sekarang, ia tau Sky pasti sangat lelah karena kejadian semalam.


Yara melirik jam di dinding dan menyadari hari sudah beranjak siang. Sebenarnya Yara tau bahwa tidur pagi itu tidak baik untuk kesehatan, tapi mau bagaimana lagi, kejadian semalam membuatnya nyaris tak tidur dan itu membuatnya sangat mengantuk tadi.


"Mas Anton udah makan belum, ya? Aku jadi gak enak karena bangun siang begini," gumam Yara bermonolog.


Yara ingin beranjak, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk melihat wajah tampan pria yang sudah berstatus suaminya itu.


"Pas bangun nanti, pasti kamu juga udah laper," kata Yara pelan. Ia mengelus sisi wajah Sky sekilas, tapi kemudian sadar jika tindakannya itu bisa saja membangunkan pemilik wajah teduh itu.


"Kita beneran udah menikah, ya?" gumamnya.


Yara pun menggeleng samar, kemudian memutuskan bangkit menuju dapur.


Disana ia melihat Anton sedang sibuk membuka kresek yang berisikan bungkusan yang sepertinya itu adalah makanan.


"Udah bangun, dek?"


"Maaf ya, Mas. Aku jadi gak masak."


"Ya udah, jangan kamu pikirin. Ini Mas udah beli nasi Padang. Mana Sky? Ayo ajak makan bareng."


Yara semakin sungkan dengan ajakan kakaknya. "Mas makan aja dulu, Yara nanti aja makannya bareng Sky. Dia masih tidur soalnya."


"Oh, ya udah, biarin dulu lah. Pasti ngantuk anak itu," kata Anton pengertian.

__ADS_1


Yara mendekat ke arah pantry, ia mengambilkan air minum untuk sang kakak.


Kemudian, Yara meletakkan minuman itu sembari ikut duduk di meja makan-- meskipun ia belum mau menyentuh makanannya.


"Mas, sekali lagi Yara minta maaf, ya. Mas pasti kecewa dan malu gara-gara Yara."


Anton melanjutkan sesi makannya sambil mendengarkan penuturan sang adik.


"Yara nyesel, Mas. Seharusnya Yara gak bukain pintu untuk Sky semalam. Cuma karena dia basah kuyup, Yara jadi gak tega dan biarin dia ganti pakaian didalam rumah."


"Udahlah, dek. Semuanya udah terjadi. Asal kamu jangan bilang menyesal karena udah dinikahi sama Sky."


"Kalau soal itu, Mas pasti tau kalau Yara gak akan pernah menyesalinya, Mas."


Anton menarik sudut bibirnya, tersenyum menyadari ketetapan hati sang adik.


"Yang Yara sesali adalah kenapa jalannya harus seperti ini. Yara juga malu, Mas. Apalagi tuduhan itu membuat nama Mas ikutan jadi jelek."


"Seiring waktu gosip-gosip seperti itu juga bakal hilang, dek. Udahlah, jangan kamu pikirin lagi, yang penting ... kamu sekarang udah jadi istri Sky, jadilah istri yang baik untuk dia. Turuti keinginannya, patuhi dia sebagai suamimu. Itu aja pesan Mas. Mas berharap yang terbaik untuk pernikahan kamu dengan Sky, semoga kalian bahagia. Cuma itu harapan Mas."


Yara sangat terharu mendengar pesan dari kakaknya. Kata-kata itu terdengar sederhana dan tidak menuntut apapun padanya. Bahkan Anton tidak lupa menyelipkan doa untuk rumah tangganya yang baru. Yara sangat tersentuh dan berharap Anton juga dapat merasakan kebahagiaan yang sama suatu saat nanti.


"Makasih banyak, ya, Mas. Yara berharap Mas selalu bahagia. Terutama, Yara berharap Mas bisa melupakan masa lalu yang kurang baik. Kalau perlu, mas juga menemukan istri pengganti yang jauh lebih baik nantinya."


Mendengar itu, Anton terkekeh pelan. Ia mengambil air minum lalu meneguknya. Setelahnya, ia menatap Yara dengan ekspresi yang jenaka.


"Memangnya, kamu berharap mas akan seperti kamu juga, gitu?"


"Lah? Ya iya, Mas. Aku berharap Mas akan menikah lagi nanti, seperti aku dan Sky."


"Ya, sekarang belum. Tapi nanti-nanti kita kan gak tau."


"Gak tau lah dek, Mas masih mau ngurusin perceraian dengan Shanum dulu. Lagipula, kalau anak yang di kandung Shanum itu beneran anak Mas, Mas mau berusaha dulu supaya anak itu bisa mengenal Mas sebagai ayahnya."


"Maksudnya, Mas mau menuntut hak asuh anak, gitu?"


Anton tersenyum kecil. "Ya enggak dek. Mas sadar kalau anak itu lahir, Shanum yang pasti lebih berhak daripada Mas. Mengingat itu adalah seorang bayi yang akan lebih membutuhkan sosok seorang ibu ketimbang ayahnya. Bukan berarti Mas gak mau mempertahankan darah daging sendiri, tapi ada hal-hal yang harus dan tidak harus dituntut. Mas gak mau memaksakan, tapi setidaknya, anak itu harus tau siapa ayah kandungnya nanti," tandasnya.


"Kalau ternyata itu anaknya Mas Juna, gimana?"


"Ya berarti Mas belum ditakdirkan menjadi seorang ayah, dek."


"Makanya mas nikah lagi, dong!" kikik Yara.


"Kamu kira itu gampang. Mas gak punya kandidat kayak kamu," cibir Anton, membuat Yara memejamkan matanya rapat-rapat.


Saat mereka masih membahas permasalahan ini, derap langkah seseorang terdengar mendekat kearah mereka. Yara refleks menoleh dan mendapati Sky ada disana.


"Makan, Sky!" Anton mempersilahkan pria yang sudah berstatus sebagai adik iparnya itu.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Yara pun mengadah demi menatap Sky yang berdiri disisinya. "Yuk, makan!" katanya mengajak. Rasa canggung masih sangat terasa karena sekarang ia dan Sky sudah memiliki status yang berbeda.


Anton yang sudah selesai dengan sesi makannya, berlalu dan membiarkan pasangan itu untuk menikmati makan siang berdua.


"Aku beneran jadi gak enak sama Mas Anton," celetuk Sky.


"Ya, mau gimana lagi."


Sky mengangguk, ia menatap Yara yang sekarang sibuk dengan menu makan siang mereka.


"Cuma ada ini, tadi mas Anton beli. Gak apa-apa? Atau mau aku masakin yang lain?"


"Gak usah, ini aja."


"Ya udah."


Sky memperhatikan tingkah Yara yang agak aneh, ia menyimpulkan jika wanita itu tengah canggung padanya sekarang. Hanya saja, Sky tidak mau membahas itu, ia memilih bersikap sewajarnya.


"Ra?"


"Hmm?"


"Abis ini aku temenin ke rumah Mbak Nadine, ya."


"Iya."


"Tadi alasan kamu apa-- waktu bilang gak masuk kerja? Kamu bilang kita menikah hari ini?"


"Belum, Sky. Kemarin kita masih ke pesta nikahan Rina bareng-bareng mbak Nadine, kan? Terus, kalau tiba-tiba aku bilang kita udah nikah, pasti Mbak Nadine bakal syok, deh!"


Sky terkekeh ditengah-tengah kegiatan makan siangnya itu. "Jadi, kamu gak mau bilang sama dia? Atau sama orang lain juga gak mau bilang? Mau pernikahan kita dirahasiakan, gitu? Kayak hubungan kita yang diumpetin dari anak-anak yang lain?" tanyanya tidak sepenuhnya serius.


"Ya itu, aku juga bakal bingung nanti kalau mereka semua tau kita tiba-tiba udah menikah."


Sekali lagi Sky tersenyum tipis. "Ra, gak ada rahasia-rahasiaan. Lagipula, setelah ini aku bakal pikirin soal pesta pernikahan kita. Biar semua orang tau, kalau kamu udah jadi istri aku."


"Tapi, Sky?"


"Aku gak mau semua orang mengira-- kalau kamu itu masih istrinya Juna. Aku gak mau, Ra, karena kamu milik aku sekarang."


Bersambung ....


*****


Readers, mulai hari ini sampai seminggu ke depan, insha Allah othor bakal up 3 bab sehari. Tungguin terus kelanjutannya yuk🥰 Jadi, mohon dukungannya ya🙏 tinggalkan like di setiap bab-nya, jadi jangan langsung lompat ke bab selanjutnya sebelum klik gambar jempolnya di tiap akhir bab. Oke✌️ Makasih banyak ya yang masih tetap stay baca novel Skyara❤️


Abis ini, bakal up 2 bab lagi berarti dihari yang sama 🙏


Berhubung ini Senin dan dapat jatah vote. Boleh dong tinggalin vote Senin ke novel ini.


Caranya kayak di gambar ini ya.... trims💚

__ADS_1




__ADS_2