
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Firda harus membenci seorang bayi yang tidak berdosa. Parahnya, bayi itu adalah bayi yang ia lahirkan sendiri. Ya, Firda merasa bayi itu adalah pembawa sial baginya begitu bayi itu lahir ke dunia.
Bagaimana tidak, selain cacat, bayi itu juga penyebab utama Lucky menjatuhkan talak padanya hari ini, begitulah pemikiran dangkal wanita itu.
Padahal, Lucky menalak Firda bukan karena keadaan sang bayi melainkan kejujuran wanita itu sendiri. Pil pahit yang harus diterima Firda-- begitu ia mengatakan bahwa bayi itu bukanlah darah daging Lucky--yaitu ditinggalkan.
Namun sayang, bukannya sadar karena kesalahannya di masa lalu, Firda tetap tak mau disalahkan. Dia malah menganggap semua ini karena bayinya yang pembawa sial. Firda juga kekeuh untuk tidak mau merawat bayi itu.
Lucky sudah menalak Firda dihari yang sama. Lucky juga mengatakan akan mengurus surat perceraian mereka secepatnya.
Mereka berdebat hebat dengan saling melempar kata-kata sinis.
"Kamu gak sadar, ya, Mas. Kamu itu juga gak setia sama Nadine! Jadi, jangan sok suci dengan mengatakan aku bukan wanita baik-baik, karena kamu pun bukan pria yang baik," ketus Firda.
Firda meluapkan semua yang ada dihatinya. Cukup sudah dia menahannya. Toh, Lucky juga sudah menceraikannya beberapa waktu lalu.
"Diam, Firda!" sentak Lucky.
Firda mengeluarkan senyum paling menyebalkan sembari menatap mantan suami sahabatnya sekaligus mantan suaminya juga.
"Kamu tau, Mas, kenapa Tuhan gak mengizinkan kamu punya keturunan? Karena kamu itu serakah."
Lucky menatap nyalang pada Firda. Mulut pedas wanita itu membuatnya tertampar keras.
" ... oke, kita bercerai! Tapi aku mau ingatin sama kamu, kalau kamu mau periksa kesehatan setelah ini, silahkan aja! Jangan lupa, selain cek kesehatan mengenai ada atau tidaknya virus menular yang kamu yakini karena aku, sekalian juga kamu periksa kesuburan. Siapa tau emang kamu yang gak subur!" tukas Firda menohok.
Lucky mengepalkan tangannya erat. Sekali lagi ucapan Firda terasa menghinanya.
"Jaga ucapan kamu, Firda. Karena selain menceraikan kamu, aku juga gak akan memberi kamu harta gono-gini!"
Sebenarnya Firda menelan saliva dengan berat akibat pernyataan Lucky kali ini, tapi dia berusaha untuk tetap membalas ujaran pria sombong itu.
"Ya, ya, terserah kamu aja, Mas. Tapi, aku akan menuntut kamu di pengadilan."
Lucky tersenyum miring. "Silahkan," katanya tenang.
Lucky hendak berbalik pergi, tentu dia tak mau berlama-lama lagi dalam bangsal perawatan Firda.
"Sekali lagi aku ingatkan kamu, Mas. Periksa kesuburan kamu, jangan-jangan kamu yang mandul!" pekik Firda sebelum Lucky benar-benar pergi.
Lucky menutup pintu ruangan itu dengan keras. Setelahnya, ia mendengkus kesal disana.
__ADS_1
Kenapa dulu dia menuduh Nadine yang tak bisa memberinya keturunan, karena memang Nadine didiagnosa tak bisa hamil oleh dokter keluarga mereka. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Ya, memang Lucky tak pernah memeriksakan kesuburannya sendiri sebab dia memang melimpahkan semua kekurangan itu pada Nadine. Nadine lah yang menyebabkan ketidakberhasilan mereka untuk memiliki anak.
Lalu, bagaimana dengan Firda? Memang mereka belum genap setahun berumah tangga. Tapi yang Firda lahirkan juga bukanlah darah dagingnya. Ah, apa dia memang harus mewujudkan saran yang Firda katakan? Dan melempar bukti pada wanita itu bahwa dia pria sehat yang bisa membuat wanita mengandung?
"Sampai jumpa di sidang perceraian kita, Firda," batin Lucky. Pria itu pun bergegas pergi meninggalkan ruang ibu dan bayi.
Lucky ingin membuktikan pada Firda bahwa dia tidak mandul, maka dengan keyakinan dan kepercayaan dirinya dia langsung menuju ruang pemeriksaan di hari yang sama.
"Dokter, saya mau melakukan tes kesuburan."
...~~~...
Sementara itu, setelah Nadine mengutarakan hal yang mengganjal dihatinya pada Anton dan ingin mendengar pernyataan cinta dari sang pria, Anton berusaha untuk mengabulkannya.
"Nad, kalau menurut kamu pernyataan itu sangat dan amat penting, maka aku akan mengucapkannya. Aku ... mencintai kamu, aku jatuh cinta sama kamu meski itu terdengar mustahil bahkan bagi diriku sendiri yang sudah tidak percaya akan cinta."
Nadine tersenyum malu mendengar pengakuan Anton. Memang ini yang dia mau, yah meski Anton baru mengatakannya setelah ia singgung terlebih dahulu.
"Kamu ... gak bohong, kan, Mas? Bukan cuma mau melapangkan hati aku, kan? Memangnya sejak kapan kamu merasakan hal itu, Mas?"
Anton menggeleng yakin. "Tentu aja enggak, Nad. Aku memang jatuh cinta sama kamu. Memang, aku gak tau pasti sejak kapan perasaan itu, tapi kalau kamu bertanya sejak kapan, aku akan katakan mungkin sejak menyebut nama kamu dalam secarik kartu nama yang aku temukan."
"Sudah sejak itu?" Tentu Nadine kaget, ia pikir Anton merasa mencintainya karena keseharian mereka yang sering bersama-sama. Tapi, jika jawaban Anton demikian bukankah itu sebelum mereka sering bersama? Penemuan kartu nama itu adalah kali kedua--mereka saling bertemu.
"Mas ..."
"Bahkan aku sering berdoa semoga kamu beneran bisa jadi bunda yang sebenarnya buat Elara. Tapi, rasa itu sering aku usahakan untuk hilang karena waktu itu kamu masih istri orang lain, Nad."
Nadine tertunduk malu dengan wajah memerah. Ternyata Anton sudah lebih dulu menyukainya. Ia sempat insecure karana tadinya dia mengira bahwa dia yang sangat memalukan sebab mencintai pria ini lebih dulu.
"Jadi ... gimana, Nad?"
"Gimana apanya?" Nadine pura-pura bo doh. Dia menggig1t bibirnya sendiri sambil kembali menundukkan wajah.
"Lamaran aku? Kamu udah denger pernyataan cinta aku dan kejujuran aku. Sebenarnya aku gak biasa berlaku seperti ini. Kamu tau, kan?"
Tentu Nadine tau, Anton bukan pria yang banyak bicara, tapi hari ini lelaki itu banyak berkata-kata demi meyakinkan Nadine atas perasaannya yang tak main-main.
"Aku ... mau nerima kamu, Mas."
Jawaban dari Nadine membuat Anton tersenyum dengan semringah.
__ADS_1
"Kamu serius, Nad? Apa tadi kamu bilang?"
"Ya, aku nerima kamu, Mas."
"Nerima apa?" tanya Anton lagi.
"Nerima lamaran kamu, Mas."
"Lamaran aku, kamu terima? Serius?" Anton seperti orang ling-lung yang masih menyunggingkan senyum merekah.
"Iya, Mas. Iya, aku nerima lamaran kamu. Aku mau jadi istri kamu dan menjadi bunda yang sebenarnya untuk Elara."
"Nad, makasih, Nad. Makasih ya ... makasih banget!" Anton langsung sigap memasangkan cincin ke dalam jari manis Nadine.
Setelah itu, keduanya saling menatap lalu tertawa.
"Cincinnya kebesaran, Mas," kikik Nadine.
"Iya, maaf ya, harusnya langsung pas kayak di film-film." Anton memasang cengiran sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gak apa-apa, kok, Mas."
"Nanti aku ajak ke toko perhiasannya ya, biar dibenerin." Anton malu, momen romantis yang jarang terjadi dalam hidupnya harus digantikan dengan momen konyol akibat cincin kebesaran.
"Jadi repot, kan, Mas? Gak apa-apa, ini aja cincinnya, ntar aku akalin biar tetap bisa dipake."
"Gak apa-apa, Nad. Ini resiko aku--yang udah beli cincin tapi gak pake perhitungan. Harusnya aku terka-terka dulu, bakal pas atau enggak sama kamu."
Nadine kembali tertawa, bagaimana Anton mau menerka ukuran jarinya jika memegang jemari Nadine saja--pria itu sangat jarang bahkan bisa dihitung hanya beberapa kali saja.
"Ya udah, terserah kamu aja, Mas."
"Tapi, lamarannya tetap di terima, kan? Meskipun cincinnya kebesaran?"
Sekali lagi Nadine terkekeh, melihat ekspresi Anton saat ini sulit membuatnya untuk tidak tertawa.
"Iya, Mas. Sekalipun cincinnya imitasi aku tetap terima kamu."
Akhirnya Anton ikut terkekeh karena kelakar dari wanita itu.
Bersambung ...
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya, guys... tinggalkan komentar dan hadiah.🙏🥰🥰