
Dalam kehidupan yang Sky yakini adalah dunia kematian, dia merasa sangat kelelahan. Menyusuri lapangan berpasir demi menemukan jalan keluar dan cara untuk pulang.
Sky merasa sudah terlalu lama terjebak disini. Entah dalam kurun waktu berapa lama tapi yang jelas dia masih bertahan sampai dititik ini.
Kerongkongannya yang sudah kering terasa seperti terbakar. Dia amat sangat haus, namun tak sekalipun menemukan genangan air demi memuaskan rasa dahaga.
Jika ini adalah alam kematian, kenapa Sky terus berjalan tak tentu arah seperti ini?
Apa dia akan terus begini sampai hari dimana perhitungan dosanya tiba?
Rasanya Sky sudah tidak kuat lagi. Lelah. Secara perlahan-lahan, pria itu terduduk di sisi yang masih juga sama. Tandus, kering dan berpasir.
Rasanya Sky sudah mengelilingi tempat ini dan berjalan sangat jauh sampai menguras seluruh energinya. Tapi, kenapa rasanya dia tidak beranjak sedikitpun? Dia merasa masih berada diposisi yang sama.
Sampai disaat dia terduduk, sayup-sayup dia mendengar seseorang tengah memanggilnya.
"Sky ..."
Sky tau suara ini. Suara lirih yang selalu memanggil namanya ini adalah suara istrinya. Wanita yang selalu ingin dia lindungi dan dia cintai. Yara.
Sky menjeriti nama Yara berkali-kali, namun seperti sebelum-sebelumnya, setiap dia bersuara, tidak ada yang terdengar keluar dari bibirnya. Dia seperti bergumam, padahal sejatinya dia sudah berteriak memanggil nama sang istri dengan sisa-sisa tenaganya.
Diambang kelelahannya, Sky berpasrah. Dia tidak lagi mencari jalan keluar, tapi disisi lain, dia justru mendengar suara lain yang sangat asing baginya.
"Kau tidak seharusnya ada disini. Ini bukan tempatmu!"
Suara itu menggema. Membuat Sky merinding dalam posisinya. Bahkan angin pun tak berani berhembus kencang seakan segan dan takhluk pada pemilik suara itu.
Dengan sedikit keberanian yang masih Sky miliki, akhirnya dia bersuara. "S-siapa?" tanya laki-laki itu. Suara Sky yang tadi tak terdengar, kini justru ikut menggema disana. Namun, terdengar getaran yang kentara dari sahutan pria itu.
Tidak ada jawaban, seakan pertanyaan Sky hilang begitu saja karena diterpa angin.
Lalu, entah di detik keberapa, Sky merasa melihat sebuah poros bercahaya. Dia mendekati itu karena tergelitik rasa penasaran.
Sky terbelalak menyaksikan sesuatu yang kini dia lihat dari titik cahaya itu. Disana, Sky seperti tengah menonton film dokumenter dari sebuah layar lebar yang terasa sangat nyata seolah benar-benar terjadi didepan matanya. Tapi Sky tau ini bukan kejadian yang sedang berlangsung secara live, melainkan memang disajikan seperti sengaja untuk dia saksikan.
__ADS_1
Dalam pandangan Sky saat ini adalah dua tempat yang terdiri dari posisi tinggi dan rendah. Dimana orang-orang yang ada dibawah, sedang menjalani penyiksaan. Ada yang di cam-buk, diikat dan diberi minum air mendidih. Sky meringis dan ingin menjerit saat melihat itu. Pemandangan itu sulit untuk diutarakan lewat kata-kata. Sangat menyesakkan.
Sedangkan orang-orang yang berada diposisi atas adalah mereka yang sedang menikmati suasana damai. Bersantai. Seperti sangat mudah mendapatkan segala sesuatunya. Bahkan disana terlihat wajah-wajah teduh yang bahagia. Tidak ada kekerasan. Terasa berbanding terbalik dengan pemandangan yang terjadi pada orang-orang yang berada di bawah. Sangat kontras jika disandingkan seperti ini.
"Ini adalah perbandingan surga dan neraka. Yang kau lihat saat ini hanyalah sebagian darinya. Jika kau mendalami lebih dalam maka kau akan tau nikmatnya surga. Dan jika kau menyaksikan lebih jauh maka kau akan mengerti sakitnya siksaan neraka."
Sky mencari-cari sumber suara itu. Suara asing yang sama seperti yang tadi mengatakan bahwa ini bukan tempatnya dan tidak seharusnya dia berada disini.
Dimasa-masa yang sangat menyakitkan itu, ada rasa penasaran yang bergelung dengan rasa menyesakkan akibat tontonan yang baru saja dia saksikan. Sky yang juga sudah merasa dahaga sejak awal berada ditempat asing ini, tiba-tiba dia merasa dihantam rasa pening yang luar biasa.
Jiwanya seakan terdorong oleh sesuatu yang amat sangat kuat. Sadar tak bisa melawan, Sky akhirnya diam dan mengikuti arus. Dia pasrah kemanapun gelombang dahsyat ini akan membawanya.
...*...
Beno baru saja mengikuti perawat untuk masuk ke dalam ruang jenazah. Beno pun berinisiatif untuk membuka kain penutup yang sudah menutupi tubuh sahabatnya yang sudah tidak bernyawa.
Dalam kegiatan itu, Beno memperhatikan wajah pucat Sky yang sudah dinyatakan meninggal satu jam yang lalu sebelum kedatangannya.
Sekali lagi Beno menyesali kenapa sahabatnya pergi secepat ini. Dia tidak bisa menahan isak tangisnya, teringat semua kebaikan Sky dan betapa dekat hubungan mereka.
Secara tiba-tiba mata Beno membola, dia mengucek mata berulang kali. Terkejut. Siapa yang baru saja terbatuk?, pikirnya.
Beno bahkan nyaris kabur dari sana saat ternyata dia justru melihat jasad Sky mulai bergerak secara perlahan-lahan.
"Astagfirullah ..." Beno sampai beristigfar, sangking kagetnya dia.
Yang tadinya Beno menangisi kepergian Sky, kini justru tangisannya berubah meraung karena ketakutan.
"Se-Sekai ... aku tau aku banyak salah sama kau. Sering ngata-ngatain kau dibelakangmu karena kau suka sekali mendebat aku. Tapi, jangan gentayangan kayak gini, Sekai. Jangan jadi hantu meskipun kau dendam sama aku!" ratap Beno sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Beno hampir ngacir, saat tiba-tiba tangan Sky menarik pergelangan tangannya demi mencegah pria itu pergi.
"Ben ... aku haus," lirih Sky saat itu juga.
Beno semakin terbelalak. Dia mau berkata-kata tapi logikanya menyadarkannya bahwa ini benar-benar Sky sang sahabat dan bukan hantu seperti dugaannya.
__ADS_1
"P-please, kau jawab dulu, kau hantu atau Sekai?"
"Apa hantu tau kalau kau pernah pingsan di lorong kampus gara-gara nahan mules?"
"Sekai?"
"Hmm, hantu juga gak bakalan tau kalau kau sering gak bayar makanan pas makan di kantin kantor!"
"Hah? Sekai? Kau hidup lagi, Sekai?' Beno yang tadinya takut, langsung meringsek dan mendekati Sky disana.
Mendengar ujaran Beno, Sky berdecak lidah, "Emang aku tadi mati?" tanyanya. Dia justru merasa jika tadinya dia sedang tertidur pulas dan bermimpi yang sangat aneh. Tentang surga, neraka dan suara yang asing.
"Iya, kau udah meninggal satu jam yang lalu, Sekai."
Seketika itu juga Sky bangkit dari posisinya yang berbaring. Melihat sekeliling dan benar saja dia dan Beno tengah berada didalam kamar mayat.
...***...
Anton sangat terkejut mendengar cerita Beno. Dia berlarian menuju ruang VVIP dimana Sky berada saat ini
Anton menatap takjub pada adik iparnya yang tampak sehat seperti sediakala. Tidak ada tanda-tanda cacat atau kesakitan yang berlebih dari seorang Sky Lazuardi. Pria itu terlihat biasa dan baik-baik saja, meski ada beberapa bagian tubuhnya yang luka dan kembali dibalut perban yang sebelumnya sudah dilepaskan.
Saat masuk kesana, Anton bertemu beberapa perawat dan Dokter yang sejak awal menangani adik iparnya itu. Dokter langsung menjelaskan pada mereka semua bahwa yang baru saja dialami oleh Sky adalah near-death experience; (NDE).
Jantung yang berhenti berdetak, sirkulasi darah dan oksigen yang juga terhenti sehingga organ tubuh mengalami kegagalan dan kematian memang sudah dipastikan. Sky telah dinyatakan meninggal secara klinis, sebelum akhirnya hidup kembali. Dalam bahasa yang sering kita kenal adalah istilah mati suri dan Sky mengalami hal itu.
Anton memperhatikan Sky, dari gerak-geriknya pria itu tidak mempermasalahkan beberapa bagian tubuhnya yang terluka, hanya saja Sky lebih sering kehausan dan meminta air minum secara berulang kali.
"Mas, Yara dimana?" Itu adalah pertanyaan pertama yang Sky tanyakan pada Anton sesaat para dokter dan perawat yang memeriksa keadaan vitalnya sudah keluar dari ruang perawatan tersebut.
Anton memijat dahi sekilas. "Yara tadi pingsan, pas kamu dinyatakan meninggal."
Bersambung ...
Next enggak??
__ADS_1