
Sementara itu, disana Lucky amat meradang karena mendapatkan notifikasi kepulangan Nadine ke Indonesia, dia merasa permasalahan mereka belumlah selesai. Ditambah lagi sekarang Firda harus Bedrest di rumah, membuatnya tidak bisa menyusul kepergian Nadine.
Tidak mungkin Lucky meninggalkan istri mudanya yang dalam keadaan kurang sehat.
"Kenapa sih kamu harus mikirin Nadine, Mas? Dia juga bukan anak-anak, dia bisa jaga diri, pasti dia udah tiba di Indo dengan selamat dan mungkin juga udah bersenang-senang disana," kata Firda yang dapat membaca kegelisahan suaminya.
"Gimanapun Nadine itu masih istriku," lirih Lucky yang merasa semakin serba salah.
"Ya udah, sih, selama ini juga kamu gak pernah khawatir, gak pernah berniat mau nyusulin dia. Kenapa sekarang kamu kelihatan heboh banget," sarkas Firda kemudian.
Ucapan Firda kali ini cukup membuat hati Lucky tersentil. Bagaimana tidak, ia baru merasa jika ternyata selama ini dia terlalu lama membiarkan Nadine hidup sendiri tanpa dirinya.
Firda benar, selama ini Lucky tidak pernah mengkhawatirkan Nadine, mau pulang ke kediamannya atau tetap di Indonesia.
Semua itu sebab Lucky merasa tinggi diri, dia yakin Nadine akan tetap pulang jika sudah waktunya, sebab wanita itu sangat tau kewajibannya yang masihlah seorang istri.
Lalu, kenapa baru sekarang Lucky merasa khawatir pada Nadine? Tentu jawabannya karena kemarin Nadine menyatakan keinginan untuk berpisah.
Hal ini seakan menunjukkan bahwa Nadine sudah terlalu lelah dengan Lucky. Juga, keputusan ini akan membuat Nadine tak akan pernah pulang lagi seperti yang biasanya. Ini yang paling membuat Lucky takut.
Sikap Lucky selama ini--yang terkesan membiarkan Nadine, lambat laun menjadikan wanita itu terbiasa tanpa dirinya.
Lantas, Nadine bisa melakukan apapun tanpa dia. Mandiri dan dewasa tanpa pengawasannya. Sosok sang istri berubah menjadi wanita yang tidak memerlukan dia lagi, dsn sekarang malah menuntut sebuah perpisahan.
Ya, meski Lucky juga bersalah dalam hal ini dan tentu dalam hal menyakiti hati Nadine, tapi karena perubahan sikap Nadine yang menjadi mandiri itu pula-- yang pasti mendorong keberanian sang istri untuk mengajak Lucky berpisah.
Nadine merasa sudah bisa hidup tanpa dirinya, pikir Lucky.
"Aku harus ke Indonesia, Fir."
"Tapi, Mas? Gimana dengan aku? Kamu jangan mengabaikan aku, Mas. Aku sedang hamil anak kita."
Lucky menggeram dalam hati. Meski dia juga menginginkan bayi itu sebagai keturunan, tapi dia juga tak suka Firda menghalangi niatnya dengan mengatasnamakan kandungannya.
Tidak ada yang bisa mencegahnya kecuali itu dirinya sendiri, tekad Lucky.
...~~~~...
Yara dan Sky tiba di kediaman mereka setelah menjalani bulan madu singkat yang tak sampai satu Minggu.
Kepulangan mereka disambut oleh Indri dengan senyum semringah.
"Ya ampun, anak-anak mama udah di rumah aja. Kenapa gak bilang mau pulang biar Mama jemput di bandara? Mama pikir kalian pulangnya besok, lho."
"Iya, Ma. Kita gak mau ngerepotin Mama. Yang penting kita udah tiba di rumah dengan selamat." Sky yang menjawab sembari mengeluarkan barang-barangnya dari dalam taksi yang mengantarkan kepulangan mereka dari Bandara.
Indri menggandeng Yara untuk masuk, mereka layaknya ibu dan anak yang sebenarnya. Entah itu hanya perasaan Sky saja tapi dia sangat senang melihat kekompakan keduanya.
"Yara beliin sesuatu buat Mama."
Masih bisa Sky mendengar istrinya berbicara akrab pada sang Mama.
__ADS_1
"Makasih ya, sayang. Harusnya gak usah repot-repot."
Indri dan Yara masuk ke dalam rumah, sementara Sky membayar argo taksi sesudah sopir itu membantunya membawa barang sampai ke ambang teras.
"Terima kasih ya, pak," ujarnya pada sang sopir.
Saat Sky masuk ke dalam rumah, Indri dan Yara bercakap-cakap di ruang tamu. Sky mencuri-curi dengar kiranya apa yang tengah mereka obrolkan dengan tampang yang tampak bahagia.
"Gimana bulan madunya? Sukses enggak?"
"Ya gitu lah, Ma," sahut Yara dengan wajah memerah.
Oh Mama, dalam hati Sky gemas sendiri dengan pertanyaan mamanya, pasti Yara merasa malu dengan pertanyaan itu.
"Mama udah gak sabar mau nimang cucu. Sky pernah janji mau buatin mama cucu sekaligus tiga, buat ngalahin si Beno."
Astaga, lagi-lagi Sky tidak percaya dengan kalimat sang Mama. Ingin rasanya dia menimpali, ternyata mamanya masih saja mengingat ucapannya waktu itu, padahal saat mengucapkan kalimat itu mulut Sky hanya asal menjawab-- secara random. Memberi cucu langsung tiga itu tidak semudah ujarannya.
"Sky ada bilang gitu ke mama?" respon Yara masih dengan wajah meronanya.
"Iya, makanya kalian harus rajin olahraga, makan makanan yang sehat, biar cepat launching cucu mama."
"Astaga mama." Akhirnya Sky buka suara. "Waktu itu aku kan jawabnya asal doang, Ma," imbuhnya.
"Eh, bukannya janji ya?"
Sky menghela nafas sebelum menanggapi ucapan sang Mama. "Kalaupun aku janji, emang siapa yang bisa ngatur? Kan aku cuma bisa berusaha, bukan mengabulkan dengan mudahnya."
Indri terkekeh mendengar jawaban dewasa dari putranya. "Iya, juga sih. Ya udah, sana kalian, berusaha lagi," paparnya, membuat Yara dan Sky saling menatap satu sama lain sebab tak percaya dengan kalimat Indri barusan. Enteng sekali.
"Mama udah aminkan waktu itu, Sky. Siapa tau beneran dikabulkan."
"Amin." Akhirnya Sky mengaminkan juga kalimat sang Mama.
Selepas pembahasan itu, Sky mengajak Yara untuk naik ke kamar mereka. Ia tau Yara pasti masih lelah karena perjalanan keduanya.
"Omongan Mama gak usah kamu pikirin ya."
Yara masih diam sembari menatap ke arah taman dari balkon kamar mereka.
"Sky, aku baru sadar kalau mama kamu ngarep banget buat dapat cucu."
"Ya, begitulah Mamaku, sayang." Sky menyahut sembari memeluk tubuh ramping istrinya--dari belakang.
"Tapi, kita belum periksa, Sky. Gimana kalau ternyata aku---"
Sky langsung menggeleng sembari menatap Yara lekat-lekat. "Ada baiknya kita bicara yang baik-baik, prasangka yang baik biar semuanya berjalan baik. Bukankah ucapan itu doa? Jadi, ucapin aja yang membuat kita senang. Soal ucapan mama jangan terlalu kamu pikirkan, mama begitu karena mama kesepian. Kamu tenang aja, ya. Semua pasti berjalan lancar."
"Tapi, Sky.... aku takut ngecewain mama, Sayang." Suara Yara melirih. Sky pun menciumi puncak kepala istrinya secara berulang-ulang.
"Udah, kamu optimis aja. Besok kita periksa ke dokter sesuai dengan keinginan kamu waktu itu. Kalau perlu kita cari pengobatannya kalau emang kamu sulit hamil."
__ADS_1
Yara menangkup kedua sisi wajah suaminya. Menatap Sky dengan tatapan sendu. Ada keraguan didalam mata lentik itu. Tapi Sky membalas sorot mata Yara dengan binar meyakinkan.
"Trust me, semuanya bakal baik-baik aja. Percaya sama aku."
...~~~...
Seperti kemarin, Nadine kembali datang ke kediaman Anton. Dia sebenarnya sungkan, tapi berawal dari niatnya yang memang iba pada Baby Elara, membuatnya terlanjur menyayangi bayi cantik itu--hingga akhirnya keinginan kuat untuk mengasuh sang bayi--mengalahkan rasa sungkan dihatinya.
Lagipula, Nadine sudah terlanjur mengatakan bahwa dia adalah pengasuh Baby Elara, kan? Ada baiknya sebagai pengasuh memang dia terus menjaga bayi itu.
Saat Nadine datang, rupanya baby Elara sudah dalam keadaan bersih dan wangi, bahkan dia mengenakan baju bermotif kelinci yang kemarin Nadine belikan.
Tidak dipungkiri jika pemandangan ini sangat membuat hati Nadine bahagia, ia melupakan sejenak permasalahannya dengan mengasuh Baby Elara. Ya, kesibukan barunya ini membuatnya lupa tentang sakit hati.
"Mas, Elara udah minum susu, belum?"
Anton mengangguk. "Udah, tapi dia kayaknya kebiasaan nih..."
"Kebiasaan apa?" tanya Nadine heran.
"Siap mandi maunya jalan keluar rumah."
Nadine tersenyum kecil. "Sini, Mas. Biar aku gendong Elara. aku udah kangen sama dia, biar aku aja yang bawa dia jalan-jalan di halaman."
Anton pun menyerahkan Baby Elara kepada Nadine. "Aku titip Elara sama kamu ya, aku mau mandi juga soalnya."
Nadine mengangguk, tapi tunggu... sepertinya ada yang berbeda. Kenapa sekarang Anton bicara aku-kamu? Biasanya dia lebih cenderung formal pada Nadine. Apa pria ini sudah tidak menganggapnya orang asing lagi? Apa mereka sudah dekat sekarang? Ya, sepertinya begitu. Kenapa juga Nadine jadi senang dengan hal ini? Harusnya biasa saja kan? Hanya ada perubahan kecil dari perkataan Anton kepadanya.
"Ya udah, Mas. Kamu mandi dulu deh. Pantesan ada bau gak enak," kelakar Nadine dengan akrab.
Mendengar ucapan Nadine membuat Anton refleks mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Perasaan gak bau," gumam Anton kemudian, membuat Nadine akhirnya terkekeh.
Nadine memang cuma bercanda, justru Anton tercium aroma bedak bayi sekarang.
"Ayah mandi dulu ya, El. Jangan nangis ya, kan udah digendong sama Tante Nadine."
Setelah berujar demikian, Anton langsung ngacir sebab entah kenapa dia tensin dikatain Nadine bau.
Sehabis ini, dia harus mandi dengan bersih, kalau perlu pakai parfum yang bisa membuatnya harum dan percaya diri.
Tapi? Kenapa juga dia harus melakukan itu? Kenapa dia harus mendengarkan ucapan Nadine yang hanya berniat bercanda saja? Kenapa dia harus membawa ini ke dalam perasaannya?
Bersambung ....
****
Next? Kirim dulu bunganya🤭
Jangan lupa dukung karya aku dengan cara vote, komen, like dan berikan gift berupa bunga dan kopi. 💚💚💚💚
__ADS_1
love sekebon sama Readers setia yang masih baca sampai di bab ini. Moga kita sehat selalu.
Oh, iya btw cover barunya bagus gak? Digantiin sama NT. Coba tulis gimana pendapat kalian?