EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
7. Pesta Barbeque


__ADS_3

Menjelang senja, Yara terkesiap saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia takut itu adalah Sky yang kembali mendatanginya.


Tetapi, ia segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Sudah cukup tentang Sky hari ini. Yara tidak mau memikirkan perkataan pria itu lagi sebab hal itu hanya membuat perasaannya menjadi gusar.


Untunglah saat membuka pintu kamar, sosok Juna yang terlihat disana.


"Darimana aja kamu, Mas?" tanya Yara kepada sang suami.


"Dari pantai."


"Kenapa nomor kamu gak bisa dihubungin?"


"Ponsel aku lowbet, Yara. Udahlah, aku mau mandi dulu." Juna langsung beranjak menuju letak kamar mandi yang ada di kamar tersebut.


"Mas? Aku belum selesai bicara."


Pria itu menoleh dengan tampang yang terlihat lelah. "Udahlah, ntar aku kesorean mandi."


Yara menghela nafas sepenuh dada. Padahal ia masih ingin bertanya pada Juna. Apa yang dilakukan Juna seharian di pantai? Kenapa tidak mengabari sama sekali dan tidak ada perasaan khawatir sedikitpun pada Yara.


Tapi, sikap Juna memang seperti itu. Dia bukan lagi dingin, melainkan membeku. Bukan tidak pernah mencoba, tetapi bahkan Yara sudah lelah untuk bisa mencairkan pria itu.


Dulunya Juna tidak seperti ini, di awal pernikahan--Juna adalah pria yang hangat dan sangat menunjukkan kasih sayangnya pada Yara, meski waktu itu Yara belum bisa menerima pernikahan mereka yang dijodohkan.


Sekarang, setelah Yara mulai mau berdamai dengan keadaan-- justru sikap Juna lah yang mulai berubah kepadanya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Juna? Yara merasa tidak mengenali suaminya sama sekali. Selain perhitungan, Juna juga pribadi yang tertutup. Yara tidak mau memaksa pria itu untuk bercerita, akan tetapi Juna malah merajalela dengan prilakunya dan selalu merasa benar sendiri.


***


Malam ini mereka semua akan mengadakan pesta barbeque di halaman villa. View nya memang langsung menghadap ke arah pantai.


Cuaca sangat cerah, bintang-bintang berkilauan serta hembusan angin semilir terasa segar saat menerpa kulit.


Semuanya seakan sibuk dengan acara tersebut. Masing-masing dari mereka langsung ambil andil dalam pesta barbeque.


Ada yang berdiri untuk membantu memanggang daging. Ada pula yang andal dalam mengatur dan menata meja makan mereka.


Yara sendiri ambil peran untuk menyiapkan sambal dan minuman. Dibantu oleh Fera dan Nindia--pacar dari Rico.


"Siang tadi kamu gak balik ke pantai ya, Ra?" tanya Fera.


"Enggak."


"Kenapa? Kan kita baru naik banana boat sekali. Aku pikir kamu marah loh ke aku sama Nisa."


"Marah? Kenapa harus marah?" Yara menatap heran pada Fera.


"Iya, aku pikir karena kamu jatuh ke tengah terus gak bisa berenang jadi kamu nyalahin kita yang udah ajak kamu naik banana boat." Fera memanyunkan bibirnya.


Yara terkekeh. "Ya ampun, aku gak marah. Lagipula kita bukan anak kecil yang ngambek-ngambekan karena hal kayak gitu, Fer."


"Oh... jadi beneran gak marah, nih?"


"Ya, enggaklah."


"Terus kenapa gak balik lagi?"


"Iya, aku ketiduran. Abis mandi kok ngantuk gitu...."


"Oh gitu, ya." Fera bicara sambil memblender jus buah naga. "Eh, tapi... Sky juga gak balik ke pantai tadi. Dia jadi kan, nyusulin kamu?"


"S-Sky?" Yara mengalihkan pandangan, menyibukkan diri dengan cara menumpuk piring makan menjadi satu agar mudah dibawa ke halaman depan. Ia terlihat salah tingkah sekarang.


"Iya, pas kamu bilang mau balik ke villa, Sky pikir kamu marah, dia mau nyusulin kamu. Kalian ketemu, kan?"


"A-apa? Dia bilang gitu?"

__ADS_1


Fera mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, ketemu... tapi sorenya, pas aku makan di dapur." Akhirnya Yara menjawab apa adanya.


"Oh... iya, dia kayaknya khawatir sama kamu. Masih aja ya, dia." Fera terkikik di ujung kalimatnya.


"Masih aja apanya?" Nindia ikut menimbrung.


"Masih perhatian ke Yara. Sky... Sky.... udah jelas-jelas lihat Yara disini sama suaminya, masih juga khawatir kalau Yara marah."


Yara melotot mendengar ucapan Fera yang tidak di filter.


"Loh, memangnya Sky sama Yara dulunya ada hubungan, ya?" tanya Nindia malah ingin membahas lebih jauh.


"Ya, iya. Pacaran. Mereka itu dulunya pasangan paling fenomenal di SMA Harapan Taruna," tutur Fera dan lagi-lagi tanpa menyaring kalimat. Nindia sampai cekikikan mendengar penuturan Fera.


"Udah deh, Fer... jangan mulai." Yara mewanti-wanti Fera.


"Lah, kan emang iya, sih!"


"Ya, tapi gak usah dibahas juga. Itu kan masa lalu."


"Bener, gak usah dibahas. Ntar kalau suaminya Yara denger, kan jadi gak enak." Nindia mulai menengahi, padahal tadi dia yang ingin tahu.


"Iya, iya, sorry. Habisnya kalau lihat sikap Sky itu buat aku mikir keras.... duh, takut kalian CLBK gitu deh..."


Yara menghela nafas. "Udah ya, jangan nyerempet kemana-mana. Bahas yang lain aja, okey."


Fera mengendikkan bahu, tapi kemudian mereka benar-benar berhenti membahas mengenai Sky.


Acara barbeque-an berjalan dengan lancar. Semuanya kebagian makanan tanpa terkecuali. Liburan mereka memang benar-benar difasilitasi sampai tidak kekurangan suatu apapun.


Sebagian dari mereka ada yang sudah kembali ke kamar karena telah lelah seharian di pantai. Ada pula yang kembali keluar dari villa untuk menikmati jalan-jalan malam.


"Sky mana? Kok gak kelihatan dari tadi?" Rozi menyampaikan kejanggalannya. Memang sejak tadi Sky tidak nampak batang hidungnya.


"Biarin aja sih, Di. Lagian, kan itu urusan Sky."


"Ya, tapi jadi gak ikut bareng sama kita-kita. Aku heran sama Sky. Pas berangkat dia gak ada, tau-tau udah nongol disini tadi pagi. Terus siang ada di pantai sebentar, abis itu ngilang lagi. Malam ini bahkan sama sekali gak nunjukin wajahnya." Diandra ngedumel.


Sebagian dari mereka terkekeh mendengar omelan Diandra, tapi ucapannya memang ada benarnya juga.


"Kenapa, sih? Jutek amat? Pengen dekat Sky terus, ya? Jadi kalau dia gak ada bawaannya sumpek mulu." Ilyas berkelakar.


"Yee, gak gitu juga kali...."


"Kalau iya juga gak apa-apa," timpal yang lainnya.


Entah kenapa pembahasan mengenai Sky membuat pikiran Yara kembali mengingat ucapan pria itu siang tadi. Apalagi Sky sempat mengatakan merindukannya.


Apa sebenarnya Sky sibuk dengan pekerjaannya, tapi karena ingin bertemu Yara membuat pria itu menyempatkan diri untuk ikut acara liburan ini?


"Aku masuk kamar duluan, ya?" Juna berbisik pada Yara membuat wanita itu menoleh kepada sang pria.


"Eh, kenapa?"


"Ngantuk."


"Tapi acaranya belum selesai, Mas?"


"Alahh... yang lain juga pada banyak yang masuk, ada juga yang jalan-jalan malam. Aku udah lelah, capek. Ini jamnya tidur, Ra."


Yara tak mau berdebat dengan Juna didepan teman-temannya. Ia melirik jam tangan yang melingkari pergelangannya. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi Yara tahu betul ini bukan jam tidur Juna. Ingin sekali Yara mengomentari sikap Juna tetapi ia menahan diri agar tidak melakukan hal itu. Biasanya juga Juna tidur diatas jam 11 malam, pikir Yara.


"Kalau kamu masih mau disini, ngumpul sama temen-temen kamu, ya gak apa-apa. Aku masuk duluan."


Sebenarnya Yara bingung dengan tindakan Juna. Pria itu sengaja ikut berlibur bersamanya, Yara pikir Juna melakukan itu agar bisa semakin dekat dengannya, tetapi justru sebaliknya. Juna seperti punya kesibukan sendiri dan membiarkan Yara begitu saja.

__ADS_1


Yara pun mengangguk singkat, Juna langsung angkat kaki dari tempatnya, dia masuk dengan langkah jenjang yang terkesan tergesa-gesa.


"Suami kamu kok masuk, Ra?" Kali ini Ilyas yang bertanya pada Yara.


"Iya, dia udah ngantuk. Kecapekan mungkin."


"Oh..." Pria itu pun mengangguk.


"Minumannya habis ya? Sini aku ambilin lagi di dapur." Yara mengalihkan pembicaraan. Ia pun mengambil tempat minuman di meja dan segera pergi menuju dapur untuk mengisi minuman itu lagi.


Di dapur, Yara menuang air sambil melamun, airnya sampai meluber keluar tanpa ia sadari.


Disaat itulah Yara tersadar bahwa kegiatannya telah dihentikan oleh seseorang. Seseorang itu mengambil teko air yang sudah dipenuhi Yara.


"Eh?" Yara tertegun. Itu Sky. Kenapa Sky sudah ada disini sekarang? Dan lagi-lagi ini di dapur. Apa pria ini bisa menjelma jadi penghuni dapur? Siang tadi Sky juga berada disini saat Yara membuat mie instan.


Belum lagi Yara sempat berkomentar, hujaman mata Sky kearahnya membuat mulut Yara terbungkam. Didetik yang sama, pria itu menarik tangan Yara ke arah yang berlawanan.


"Sky? Mau kemana?"


Sky tidak menggubris pertanyaan Yara. Ia menggenggam tangan Yara dan membawanya ke arah belakang Villa.


"Sky! Jangan begini, entar ada yang lihat!" protes Yara.


Disaat yang sama mereka hampir saja berpapasan dengan Rico dan Nindia yang baru pulang dari jalan-jalan malam. Tak mau dipergoki, saat itu juga Sky langsung mendorong Yara agar masuk ke sebuah ruangan yang ada didalam salah satu villa tersebut.


"Kamu mau apa, Sky? Kamu udah gi-la, hah?" Yara memberondong Sky dengan pernyataannya yang tak habis pikir dengan tindakan Sky.


Sky tetap diam, pria itu hanya memandangi Yara tanpa berkedip. Yara jadi merinding melihatnya. Apa Sky sedang kerasukan jin? Pikir Yara.


"Sky, aku mau keluar dari sini. Lihat kamu bawa aku kemana? Ini gudang Sky!"


Pria itu tetap diam. Yara mendengkus melihatnya.


"Bodo amat! Aku keluar sekarang," kata Yara langsung beranjak, tapi Sky mencekal lengannya dan menghadang jalan wanita itu saat ingin menuju pintu. Sky langsung mengambil kunci yang tertancap disana, kemudian membuang benda itu ke sembarang arah.


"Sky!" pekik Yara. "Dasar udah gi-la kamu!" umpat Yara.


Yara kembali berjalan ke arah dimana Sky melempar kunci, wanita itu ingin menemukan kuncinya tapi benda itu belum juga nampak dimatanya.


"Gak usah dicari!" Akhirnya Sky bersuara.


Yara menatap Sky dengan tatapan tajam.


"Aku bilang gak usah dicari. Biar aja kita disini sampe besok atau besoknya lagi," lanjut pria itu.


"Dasar gak waras!" Yara mencaci sambil mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia tahu, jika ia meladeni sikap Sky yang seperti ini, maka ia tidak akan pernah menang sampai kapanpun.


Sementara Sky sendiri, ia tersenyum penuh kemenangan melihat Yara yang kesal padanya. Satu sudut bibirnya tertarik keatas, apapun yang Yara katakan padanya, ia benar-benar tidak peduli.


Bersambung ....


******


...Jangan lupa like, komen, vote dan berikan hadiah💚...


Aku bonusin Visual ya. Kalo lama review, mohon di maafkeun🙏


Sky Lazuardi.




Ayara Yasmin.


__ADS_1



__ADS_2