
Sky tidak mungkin tega melihat Yara yang terus memelas padanya didalam kegelapan. Bermodalkan penerangan dari ponselnya, akhirnya ia dapat melihat wajah wanita itu kembali walau tidak sejelas saat lampu ruangan dinyalakan.
"Pas terang benderang aja... kuncinya gak keliatan. Apalagi gelap begini." Yara memanyunkan bibir, sementara Sky menahan geli saat melihatnya. Wanita itu adalah wanita yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Kamu mau tau satu rahasia, gak?"
"Rahasia apalagi?" tanya Yara dengan nada jutek.
"Sebenernya yang aku buang kesana tadi itu... bukan kuncinya. Kuncinya ada di saku celana aku."
Seketika itu juga mata Yara membulat sempurna, pantas saja ia tidak bisa menemukan kuncinya, ternyata Sky benar-benar mengelabuinya. Jadi, yang tadi dilempar Sky ke arah sana itu, apa? Dasar lelaki ini ....
"Sini-in kuncinya! Aku mau buka pintunya sebelum Mas Juna curiga karena aku gak masuk-masuk ke kamar."
Sekarang malah Yara yang mendekat pada Sky, ia ingin meraih kunci itu di saku celana sang pria. Sky mundur perlahan sambil terkekeh melihat kelakuan Yara.
"Sky! Aku bilang minta kuncinya."
"Oke." Sky mengeluarkan kunci, tapi itu diangkatnya tinggi sampai Yara berjinjit ingin meraih benda tersebut namun tinggi Yara tetap tidak bisa mencapai kunci yang ingin dijangkaunya.
"Bisa gak sih, jangan main-main terus! Ini udah malam, Sky. Aku juga udah ngantuk," omel Yara.
Wanita itu kembali berjinjit dan mengadah ke arah kunci yang Sky pegang.
Tapi tatapan Sky sekarang malah berubah menjadi intens, tidak ada suara tawa yang tadi sempat ia keluarkan karena geli melihat tingkah Yara. Kini pria itu malah terdiam dan fokus menatapi aksi Yara yang membuat atensinya tidak lagi pada kunci.
"Kalau kamu terus maksa buat minta kuncinya, jangan salahin aku kalau kuncinya benar-benar aku buang dan kamu gak akan bisa nemuinnya lagi karena lampu flash nya bakal aku matiin juga."
Yara terdiam, tangannya tidak lagi berusaha menjangkau kunci itu, tetapi kini tatapan matanya harus berhenti di satu titik yaitu tepat di iris mata hitam pekat milik sang pria yang tampak tidak main-main dengan ucapannya.
Dalam cahaya temaram yang hanya dipijarkan oleh lampu flash handphone, Yara dapat melihat kesungguhan di mata Sky.
Yara sadar, ia sudah salah mengambil tindakan. Seharusnya ia tidak memaksa Sky. Karena ia sangat tahu perangai pria itu.
Sekarang Yara sudah terjebak disini bersama orang yang harusnya paling ia hindari.
Tolong, siapapun, selamatkan dia agar tidak terjatuh kedalam tatapan paling memikat itu.
Sepersekian detik berikutnya, Yara harus rela kala Sky sudah meraih pinggangnya dan memutar posisinya. Kini ia sudah terpojok di dinding dengan Sky yang mengungkung tubuhnya.
"Sky... engh--" Kalimatnya terhenti, pria itu langsung menyergap bibirnya, menguasai itu sampai ia terengah-engah dalam ciuman yang terasa frontal dan menyesatkan.
Harus Yara akui, ia dapat merasakan kerinduan yang amat dalam dari perlakuan Sky kepadanya saat ini.
__ADS_1
Entah karena Yara yang sudah larut dan terperosok karena hujaman tatap dari Sky, atau ciuman pria ini yang memang sangat menghanyutkan, tetapi tak dapat dipungkiri jika Yara juga menikmati hal tersebut.
Diantara kesadaran yang menipis, Yara merasa terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Jujur saja, hal ini membuatnya hilang kewarasan. Bukan hanya Sky yang gila, tetapi ia pun sama.
Sementara Sky sendiri, ia terlalu meresapi kegilaannya yang sudah jelas-jelas salah. Wanita yang saat ini dicumbunya adalah istri dari pria lain.
Sky pun menghentikan kegilaannya, bukan karena ia sudah sadar, bukan. Sebab sejak awal, ia memang sangat sadar saat melakukannya.
Sky menghentikannya karena ia ingin melihat bagaimana reaksi Yara mengenai hal ini. Barangkali Yara sudah berubah pikiran. Ia rela melarikan diri dengan Yara malam ini juga jika wanita itu telah setuju.
"Gak sepatutnya kita begini, Sky..." lirih wanita itu. Jelas-jelas terdengar menolak.
Ayara... lain dibibir lain dihati, pikir Sky. Bukankah jika Yara tak mau dengannya, Yara bisa menolak perlakuannya? Nyatanya Yara juga menikmatinya, kan?
Sky memilih diam dan malah fokus pada bibir Yara yang telah basah karena ulahnya. Ia pun mengelap itu dengan sangat perlahan, tangannya sengaja berlama-lama di bibir yang selalu memabukkannya dan membuatnya lupa diri.
"Kamu denger aku gak, Sky?"
"Denger," kata Sky tenang.
"Ya udah, jangan diulangi lagi."
Sky berdecak lidah. "Terus, kamu mau kemana?" tanyanya.
Sia lan, akibat ciuman tadi Sky sampai tidak sadar jika Yara berhasil mengambil kunci dari genggamannya.
Klek....
Pintu itu pun terbuka. Yara langsung pergi begitu saja tanpa pernah berbalik lagi untuk melihat wajah Sky.
Dengan perasaan tak rela, Sky harus melepas kepergian Yara, padahal ia sudah dibuat frustrasi karena ulah wanita itu yang tidak menolak ciumannya.
*****
Yara tiba di kamarnya sambil memegangi dada yang terasa berdebar tidak karuan.
Kenapa tadi ia tidak menolak Sky? Harusnya ia juga marah pada pria itu. Atau jika perlu, ia bisa menampar Sky karena kelakuan kurang ajar yang pria itu lakukan. Bagaimanapun, tindakan Sky tadi sangat gegabah dan tidak seharusnya terjadi.
Tapi kenyataannya, Yara justru langsung memilih pergi setelah kunci berada ditangannya. Ia menghindar dari Sky karena merasa sangat malu telah menikmati ciuman itu.
"Baru balik kamu?"
Suara Juna membuat Yara sadar jika sekarang ia sudah berada di kamar.
__ADS_1
"Hmm," sahut Yara.
"Yang lain udah pada masuk juga?"
"Iya." Padahal Yara tak tahu lagi keadaan diluar sejak ia dipaksa masuk ke gudang oleh Sky.
Yara pun menatap Juna yang kembali konsen pada ponselnya.
"Bukannya tadi kamu bilang udah ngantuk, ya, Mas? Katanya kamu mau tidur? Kok belum tidur juga?"
Juna terlihat gelagapan. Tak lama, pria itu menjawab singkat.
"Ya, sampe kamar kok ngantuknya hilang."
Yara memutar bola matanya. "Bisa gitu, ya?" sinisnya.
Juna tak menyahut, ia memutar posisi jadi membelakangi Yara. Yara pun tak mau ambil pusing, ia memasuki kamar mandi dan membersihkan diri sebelum beranjak untuk tidur.
Saat Yara kembali, rupanya Juna sudah terpejam. Yara pun naik ke atas tempat tidur, tapi saat ia terpejam justru wajah Sky yang terpampang dipikirannya.
Yara memijat pelipisnya. Setelah kejadian beberapa saat lalu, apakah mungkin Sky mau menjauhinya dan tidak mengulangi tindakan yang sama lagi?
Kendati Yara sudah mewanti-wanti pria itu, tapi Yara tahu jika Sky tidak mungkin menurutinya begitu saja. Justru tindakan Yara yang menerima perlakuan Sky tadi adalah sebuah kesalahan besar. Pria itu pasti semakin bersikukuh dengan tujuannya.
"Sky, kenapa kamu harus ngelakuin hal itu tadi? Kenapa juga aku harus ngikutin kegilaan kamu?" batin Yara merutuki kebodohannya sendiri. Tapi, mau bagaimana, tubuhnya benar-benar tidak bisa menolak.
Sepertinya setan memang sedang ada ditengah-tengah hubungan ambigu mereka. Seharusnya Yara juga tidak meladeni tingkah Sky. Kalau sudah begini, bukan cuma Sky yang tak waras tapi dirinya juga.
Dilain sisi, Sky yang juga sudah kembali ke kamarnya, terus saja tersenyum karena momen singkatnya bersama Yara. Akan tetapi, mengingat saat terakhir sebelum Yara meninggalkan gudang, membuat Sky kembali frustrasi.
Bukankah seharusnya wanita itu menoleh padanya? Setidaknya memberikannya ucapan selamat malam.
Ah, harapan itu sepertinya terlalu besar untuk didapatkan. Yara sulit sekali diluluhkan. Wanita itu sangat memegang teguh komitmen pernikahannya. Padahal, Sky sangat yakin jika Yara masih memiliki rasa untuk dia.
"Ayara, kita lihat saja, siapa yang akan menyerah. Aku yang nyerah dapetin kamu lagi, atau kamu yang bakal nyerah dipelukan aku."
Bersambung ....
****
...Tinggalkan jejak ya gaes. Jangan lupa komen, like, vote, hadiah dan tap Love❤️...
__ADS_1