
"Aku cuma gak enak badan, makanya aku istirahat di kamar dan gak keluar sejak pagi."
Tangan Sky langsung terulur dan berhenti di dahi Yara, ia ingin mengecek suhu tubuh wanita itu. "Kamu demam. Aku panggilin dokter biar datang ke Villa," ujarnya tampak cukup panik.
Yara langsung menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Tadi aku udah minum obat, kok."
"Aku mau kamu cepat sembuh, Ayara."
Yara menundukkan wajah, tidak mau bersitatap dengan pria dihadapannya.
"Berhenti perhatian sama aku. Kita udah gak ada hubungan, Sky," lirih wanita itu.
"Setelah kejadian semalam?"
"Lupain itu, anggap gak pernah terjadi."
Sky mengerutkan kening. "Gak! Kamu harus tanggung jawab, Ra!" tukasnya.
Seketika itu juga Yara mengadahkan wajah demi menatap sang pria. "Tanggung jawab apa maksud kamu?"
"Ya tanggung jawab lah, aku jadi makin gak mau ngelepasin kamu dan juga...." Sky tersenyum tengil, membuat Yara membuang pandangan. "Jadi, mau lagi," bisiknya tepat ditelinga Yara.
"Astaga... aku bisa gi la beneran ngadepin kamu," jawab Yara sambil mendengkus.
Yara mau keluar dari area itu, tapi Sky mencegahnya, tangan pria itu menggenggam erat pergelangannya. Sorot mata Sky juga menunjukkan jika ia tidak mengizinkan Yara pergi.
Tapi, Yara tetaplah Yara, ia tidak mau terjebak bersama Sky terus disini, kendati hatinya mengkhianati pemikirannya sebab yang ada dalam relung terdalam wanita itu adalah sangat ingin berlama-lama bersama Sky.
Sekali lagi, logika Yara dipermainkan disini. Ia harus berpikir logis dan tidak boleh mengikuti kata hatinya yang terkadang egois dan justru sama gilanya dengan keinginan Sky.
"Lepasin aku, Sky!"
Pria itu menggeleng kuat-kuat.
"Atau aku teriak dulu biar kamu lepasin."
"Ayara...."
"Lupain aku! Jangan tatap aku seperti itu. Kamu bisa dapatin perempuan yang lebih baik dan yang jelas itu bukan aku," kata Yara tegas. Namun, kentara sekali jikapp ia menghindari kontak mata dengan Sky.
Sky menghela nafasnya. Ia juga tak mungkin memaksa Yara terus menerus. Jika memang ini pilihan Yara, ia harus apa?
"Oke, aku bakal biarin kamu keluar dari sini dan berusaha lebih keras lagi buat lupain kamu." Sky menjeda ucapannya seperti tengah menimbang-nimbang hal apa yang ingin dia katakan selanjutnya. "Tapi, aku mau kamu jawab pertanyaan aku yang ini," sambungnya kemudian.
"Apa?"
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu, Ayara?" Sky menatap ke dalam manik mata wanita itu.
"Itu bukan urusan kamu, tapi kalau kamu emang mau tau, oke, aku bakal jawab. Aku .... aku bahagia dengan pernikahan aku. Sangat!" tukas Yara terdengar sangat ingin meyakinkan pria dihadapannya.
"....maka dari itu, jangan rusak hubungan aku dengan Mas Juna. Aku..."
Yara tidak bisa melanjutkan segala kalimatnya yang tentu saja penuh dusta dan kebohongan itu. Tidak, ia tidak sanggup.
"Kamu cinta dia, Ra?"
"Hmm..." Yara mengangguk dengan sangat terpaksa. "Aku cinta dia," tuturnya susah payah sambil berusaha menatap mata Sky yang sudah nampak berkaca-kaca.
Saat itu juga Sky meraih tubuh Yara, lalu memeluknya. Ia menyandarkan kepala Yara di dada bidangnya. Cukup, ia tidak mau mendengar apapun lagi dari wanita itu mengenai hubungan pernikahannya dengan pria lain. Demi apapun, ia tahu jika Yara telah membohonginya. Tidak perlu ia tanyakan, karena ia sudah dapat menyaksikan bagaimana wanita itu berusaha meyakinkannya, tapi tetap saja ia tidak akan mempercayai semua ucapan Yara yang ia yakini hanyalah sebuah omong kosong saja.
"Kenapa kamu harus bohong, hmm?"
"Aku gak bohong, Sky. Aku udah bahagia sekarang."
Sky menggeleng dalam posisinya, ia semakin tidak mau melepaskan Yara dari pelukannya.
__ADS_1
"Kamu gak nolak ciuman aku. Kamu juga gak nolak pelukan aku sekarang." Suara Sky terdengar bergetar.
"Anggap ini yang terakhir."
Lalu mereka hanya diam dengan saling memeluk satu sama lain. Keduanya larut dalam pemikiran dalam benak masing-masing.
"Udah ya, kita udah terlalu lama disini. Ntar ada yang nyari. Lagian ini toilet umum, Sky."
Sky akhirnya melepas pelukannya pada Yara. Sekali lagi ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat.
"Jadi hubungan kita gimana, Ra?"
"Udah aku bilang ini yang terakhir. Berusaha lebih keras untuk lupain semua ini. Oke?"
Sky tampak tidak rela saat Yara sudah menekan handle pintu, tapi mau bagaimana lagi, benar kata Yara, tidak mungkin mereka terus menetap di toilet seperti ini.
Disaat pintu terbuka, Yara terkesiap-- sebab dihadapannya sudah ada seseorang.
"Ra? Rupanya kamu yang di dalem? Lama banget? Hampir aja aku gedor pintunya." Rina memberi komentar, sementara Yara jadi kikuk dan serba salah, masalahnya Sky berada tepat di belakang tubuhnya. Tapi sepertinya Rina belum menyadari hal itu.
"Ka--kamu ma--mau masuk?" tanya Yara gugup.
"Iya, kamu udah selesai, kan?"
Sky juga sudah mendengar suara Rina. Bagaimanapun, ia tidak akan bisa menghindar, apalagi wanita itu akan segera menggantikan Yara untuk masuk ke dalam toilet. Jadi, mau tak mau Sky memang harus keluar dan menunjukkan diri.
"Sky?" Rina memekik tertahan. Kini tatapannya menatapi wajah Yara dan Sky secara bergantian. "Kalian?" tanyanya sambil menunjuk keduanya.
Sky menghela nafas pelan. Sementara Yara menunduk sambil menggigit bibirnya.
"Kenapa?" tanya Sky. Gelagat pria itu bahkan terlihat sangat santai. Padahal Yara sudah spot jantung karena dipergoki Rina seperti ini. Mau mengelak? Mana bisa, sebab ini sudah jelas-jelas didepan mata kepala wanita itu, kan?
Rina menggeleng samar. "Kalian ngapain di dalem tadi?" tanyanya dengan terheran-heran.
"Rin, semuanya gak seperti yang kamu pikirin kok." Yara berusaha menjelaskan meski ia yakin Rina pasti sudah mempunyai pemikiran sendiri.
Yara menatap Sky. Pria itu mengendikkan bahu acuh tak acuh.
"Gimana kalau Rina berpikiran yang enggak-enggak?"
"Enggak-enggak gimana maksud kamu?"
"Sky, kamu pasti paham yang aku maksud."
"Ya biarin aja dia mau berpikiran dan membuat asumsi sendiri."
"Kamu tenang banget, kalau sampai Mas Juna denger soal ini, gimana? Atau, kalau Rina nyeritain hal ini ke temen-teman yang lain gimana, Sky?"
"Ya, biarin aja."
"Kamu tuh ya!" Yara kesal sediri melihat tingkah Sky.
"Kita gak bisa ngelarang dia mau berpikiran seperti apa, Ra. Itu hak pribadinya."
"Ya pokoknya aku gak mau tahu, aku gak mau ada gosip tentang kita, setelah ini."
"Hmmm...."
"Hmm... hmm... terus kamu!"
"Aku seneng ngeliat kamu ngomel gini."
Bisa-bisanya Sky masih melempar candaan disaat Yara sudah ketar-ketir akibat dipergoki Rina.
"Sky, aku serius. Bisa gak kamu tanggepinnya dengan serius juga!"
__ADS_1
"Iya, iya, aku bakal urus soal Rina. Kamu tenang aja, dia gak bakal buka mulut kemana-mana."
"Gimana caranya?"
"Itu urusan aku." Sky berlalu setelah sebelumnya menyempatkan untuk mengacak rambut Yara sekilas.
*****
Setelah makan siang, Yara memutuskan kembali ke Villa. Ia ingin segera beristirahat. Selain keadaan tubuhnya yang masih belum membaik, sekarang pikiran dan hatinya juga ikut tak tenang.
Pernyataan Sky terus membuatnya kepikiran. Apalagi pria itu tidak mudah ia kelabui. Sky bahkan bisa membaca kebohongannya. Belum lagi masalah Rina yang mendapati ia dan Sky berada bersama dalam bilik toilet. Ah, rasanya kepala Yara mau pecah.
Saat Yara memasuki villa, rupanya disana sudah ada seseorang yang menunggunya. Pengurus Villa mengatakan jika wanita itu adalah Dokter yang akan memeriksanya.
"Saya dokter Ratih, tadi Pak Sky meminta saya datang kesini untuk memeriksa keadaan Ibu Ayara."
Yara sampai menghela nafas saat mendengar pernyataan dokter tersebut. Ulah Sky selalu diluar prediksinya. Padahal Yara sudah menolak untuk bertemu dokter tapi Sky tetap kekeuh pada keputusannya.
Akhirnya Yara pasrah dan diperiksa oleh sang dokter.
"Sepertinya Ibu terlalu kelelahan. Mungkin perjalanan panjang mempengaruhi kesehatan ibu. Saya akan memberikan resep obatnya, nanti silahkan ditebus di apotek terdekat ya, Bu."
Yara mengangguk pelan. Benar kan jika Sky terlalu berlebihan, ia hanya lelah saja. Apalagi menghadapi tingkah pria itu semakin membuat lelahnya menjadi-jadi.
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama. Semoga cepat sehat, ya, Bu."
Yara memutuskan untuk tidur, setelah sebelumnya meminta tolong pada pengurus Villa untuk menebus obatnya di apotek.
Yara sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri ketika sakit. Jadi, ia memang tidak mengharapkan bantuan Juna sama sekali. Entah dimana juga pria itu sekarang? Sampai pukul setengah tiga sore Juna tidak juga kembali.
Kesal, akhirnya Yara mencoba menghubungi suaminya.
"Kamu dimana, Mas?"
"Aku... aku lagi di Ubud."
"Di Ubud? Katanya mau di Villa aja nemenin aku."
"Engh--iya, ini aku gak sengaja ketemu sama temen sekantor. Si Rudi sama Bagus. Kebetulan banget, Ra. Jadi kita sama-sama kesini."
"Oh, ya udah." Yara menghela nafas kecewa. Benar, tidak seharusnya ia berharap ada Juna disisinya sekarang.
"Kamu masih di villa?"
"Iya, tadi keluar sebentar makan siang di resto pinggir pantai."
"Terus, kok balik?"
"Kan kamu tau aku gak enak badan, Mas."
"Oh iya, sekarang gimana keadaan kamu?"
"Udah gak apa-apa. Ya udah, kamu nikmatin aja dulu liburan bareng temen-temen kantor kamu."
"Ra?"
Yara langsung mematikan sambungan selulernya. Apa salah jika ia marah pada pria itu sekarang?
Sementara dilain sisi, Sky mendengar percakapan Yara dengan Juna. Meski ia tidak bisa mendengar jawaban Juna disana, tetapi ia bisa menyimpulkan jika saat ini Yara tengah kesal pada suaminya itu. Awalnya Sky ingin mengantarkan obat untuk Yara yang ia tebus di Apotek, tetapi karena hal itu-- ia malah tak sengaja mendengar obrolan Yara dan Juna.
Bersambung ....
*****
__ADS_1