
"Suami saya sedang sakit leukimia, Mbak. Dia butuh cangkok sumsum tulang belakang secepatnya, tapi sampai hari ini kami dan keluarga belum menemukan pendonor."
Wanita yang tadi hampir tertabrak oleh Sky mulai bercerita sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit.
"Udah separah itu, ya, Mbak?" sahut Yara menanggapi.
Wanita itu mengangguk, wajahnya tampak layu dan lesu.
"Semuanya terjadi dengan sangat cepat, padahal baru tiga bulan yang lalu di periksa dan sudah sampai stadium yang parah," jelasnya lagi.
Wanita bernama Kirani itu mengaku baru menikah dengan suaminya selama enam bulan karena dijodohkan oleh orangtuanya. Dulunya dia seorang janda dengan satu orang anak dan suami pertamanya meninggal karena kecelakaan.
"Anak saya kelas dua SD, dan karena suami saya sakit jadi saya menitipkan dia sementara di rumah neneknya. Maaf tadi saya menyebrang begitu saja, karena pikiran saya sudah terlalu bercabang-cabang," sesal Kirani dengan wajah sungkannya.
Yara menatap prihatin pada wanita itu. Dari posisinya yang duduk di kabin depan dan Kirani yang duduk di jok belakang, Yara mengulurkan tangan dan menepuk punggung tangan Kirani sebagai bentuk dukungannya.
"Mbak yang sabar ya, Tuhan gak akan kasih cobaan kalau itu gak sanggup untuk mbak lalui. Semoga masalah mbak cepat selesai dan suami mbak diberi kesembuhan," kata Yara mendoakan tulus.
Ucapan Yara disambut oleh Kirani dan Sky yang juga mendengarnya.
"Aamiin ..."
Perjalanan yang memang tak terlalu jauh lagi dari Rumah Sakit itu akhirnya tiba.
"Terima kasih ya, Mbak, Mas. Sudah mengantarkan saya sampai disini. Semoga urusan Mbak sama Mas diperlancar." Kirani pun turun dari mobil Sky setelah Yara dan suaminya mengangguki.
"Kasihan ya, Mbak Kirani. Masalah hidupnya cukup banyak," kata Yara mengembuskan nafas berat sembari menatapi punggung kurus Kirani yang berjalan memasuki area Rumah Sakit.
Sky mengangguk, "Iya, makanya kita harus bersyukur karena sampai hari ini kita masih diberi nikmat hidup dan nikmat kesehatan," tuturnya bijak.
"Ah, iya, kamu bukannya mau cek kesehatan juga, Sayang?" tanya Yara pada suaminya yang mulai menyalakan mesin mobil kembali.
"Iya, besok-besok deh. Hari ini kita mau nonton, kan?" tanya Sky menatap Yara dengan seringaian tipis.
Sky berharap Yara sudah hilang amarahnya perihal Michele akibat kejadian bertemu Kirani barusan.
"Ehm, kan udah aku bilang gak jadi," kata Yara tapi tidak sekeras tadi.
"Ayolah, Sayang. Jarang-jarang kita bisa keluar berdua gini. Ntar kalau mama ke Singapore dan gak ada yang jagain Cean dan Aura, kita gak bisa keluar gini lagi, lho."
"Hmm, ya udah deh. Apa yang enggak buat kamu," gombal Yara. Dia teringat kisah Kirani dan menjadi terenyuh sendiri. Yara tak mau menyia-nyiakan waktu yang dia punya bersama suaminya.
"Nah, gitu, dong." Sky tersenyum puas dan mengarahkan mobilnya menuju bioskop yang ingin dia tuju.
...~~~...
__ADS_1
Keesokan harinya, Sky akhirnya melakukan check-up kesehatan bersama Yara. Kebetulan pria itu memang sedang tidak enak badan dan mengalami radang tenggorokan.
"Kenapa ya, kalau suami yang sakit tuh manjanya gak ketolongan..." kata Yara pada Sky yang hanya bisa mengulumm senyum.
"Iya, kenapa ya?" Sky malah balik bertanya. "Padahal cuma radang tenggorokan aja, rasanya mau manja terus," kekehnya dengan suara yang serak.
"Udah, jangan banyak ngomong, ntar suaranya makin hilang, lho."
"Iya, Sayang." Sky menyandarkan kepalanya di bahu Yara saat mereka menunggu untuk mengambil obat yang sudah di resepkan dokter.
"Oh iya, Mbak Nadine sama Mas Anton besok pulang jam berapa?" tanya Sky kemudian.
"Katanya sih sore. Kalau kamu masih sakit gini, kita gak usah jemput ke Bandara ya. Biar nanti minta bantuan Mas Fandi aja."
"Iya, aku nurut aja sama kamu." Sky merapatkan dekapannya pada Yara, tak peduli jika sekarang mereka tengah mengantri obat. Dia merasa sedang sakit dan cuek dengan semua pandangan orang layaknya anak kecil yang bersandar di tubuh ibunya sendiri.
Yara baru bangkit setelah nama Sky dipanggil untuk mengambil obat di tempat pengambilannya, tentu langkahnya itu diikuti oleh sang suami.
"Mbak Kirani?" Tiba-tiba Yara menemukan wanita yang kemarin sempat nyaris tertabrak mobil Sky.
Wanita itu menoleh. "Lho, kok disini, Mbak, Mas?" responnya sekaligus bertanya.
"Iya, ini suami saya lagi kurang enak badan."
Kirani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Semoga Mas cepat sehat, ya," tuturnya.
"Aamiin ..."
"Belum ada perubahan." Wanita itu tertunduk lesu kemudian mengadah dengan senyuman getir.
"Yang sabar ya, Mbak."
"Terima kasih."
"Kalau boleh, kita mau sekalian menjenguk suami Mbak, apa boleh?" tanya Sky yang prihatin.
Yara pun turut setuju dengan usul suaminya. Sky biasanya cuek pada orang lain apalagi yang tidak dikenal. Tapi keadaan Kirani cukup membuat nuraninya tersentuh.
"Boleh, tentu saja boleh," tanggap Kirani masih dengan senyum getirnya.
Mereka mengikuti langkah wanita itu untuk menuju bangsal perawatan yang ada di Rumah Sakit. Namun, alangkah terkejut Yara melihat siapa yang berbaring di ranjang pesakitan itu.
Yara dan Sky saling bertatapan satu sama lain. Dan Sky hanya mengangguk samar sebagai isyarat untuk Yara.
Suami Kirani yang mengenakan baju pasien berwarna abu-abu muda itu tampak tertidur dengan bantuan alat-alat kedokteran yang terpasang di tubuh kurusnya.
__ADS_1
"Beginilah keadaan suami saya, Mbak. Mas Juna udah begini sejak tiga bulan terakhir."
Yara sedikit mengadahkan wajah ke langit-langit. Dia tidak menyangka suami Kirani adalah mantan suaminya sendiri. Ternyata pria itu yang dijodohkan dengan Kirani karena keluarga Juna masih mengharapkan keturunan dari satu-satunya anak lelaki mereka.
Sky merasa genggaman tangan Yara semakin kuat di jari-jemarinya. Dia tau saat ini istrinya tengah syok melihat pasien pesakitan itu.
"Sebelumnya, saya minta maaf, mbak Yara... kalau saya tidak salah mengenali, sepertinya Mbak sudah lebih dulu kenal bahkan sangat mengenali suami saya, kan?" Kirani kembali angkat suara membuat Yara tergugu.
"Awalnya saya terkejut ketika kita tidak sengaja bertemu kemarin. Saya merasa ini sangat kebetulan sekali. Tapi, tidak ada yang mustahil sama Tuhan, kan, Mbak. Dia Maha tau dan dapat mengatur segalanya." Kirani berucap sembari menatap Yara dengan binar sendu.
Yara sendiri tidak tau harus menjawab apa. Ini benar-benar mengejutkannya. Terutama keadaan Juna yang terlihat disana. Tubuhnya kurus, bukan, sangat kurus.
" ... sebenarnya kemarin saya ingin mengajak mbak Yara untuk sekalian menjenguk suami saya, dengan maksud agar mbak bisa memaafkan apapun kesalahan dia dimasa lalu. Tapi, saya---" Kirani tidak melanjutkan kata-katanya, dia terisak lirih.
Pasien yang tidak lain adalah Juna itu perlahan-lahan mulai membuka matanya, dalam keadaannya yang antara tidur dengan tidak dia cukup mendengar suara-suara yang tidak asing.
Salah satunya suara Kirani--istri yang dia nikahi 6 bulan lalu--karena desakan keluarganya disaat Juna sudah tidak mau berumah tangga lagi.
"Kiran?" sapa Juna dengan suara yang lemah nyaris tak terdengar.
"Ya, Mas?" Kirani mendekati suaminya. Kemudian tersenyum sendu. "Kita kedatangan tamu, Mas. Apa mas mau bicara sama mereka?" tanyanya yang sontak membuat Juna memutar arah pandangan ke arah dimana Yara dan Sky berdiri tak jauh dari ranjangnya.
"Ya--ra, S--Sky?"
Sky menghela nafas dalam. Sekelebat ingatan tentang masa lalu antara dia dengan Juna pun terlintas. Dimana dulu dia membohongi Juna saat mendekati Yara-- yang ketika itu masih berstatus istri dari pria ini. Ingatan tentang tindakan Juna yang mengkhianati Yara juga terulang didalam benak Sky yang entah kenapa berputar begitu saja tanpa diinstruksi.
Sky juga mengingat momen dimana dia menyelidiki rumah yang baru dibeli Juna dan nyatanya itu bukan untuk Yara.
Ah, kenapa semua itu teringat disaat kondisi Juna seperti saat ini. Apa kabarnya dengan Yara? Pasti istrinya juga mengingat momen-momen menyakitkan itu? Atau justru juga mengingat kenangan indahnya bersama Juna? Entahlah.
"Mas?" Akhirnya Yara bersuara, menyapa Juna. "Lama gak ketemu, Mas." Yara tersenyum. Tapi, Sky dan Juna dapat melihat jika senyuman itu amat dipaksakan. Tak dipungkiri, Yara turut sedih melihat kondisi Juna sekarang.
"Apa kabar, Ra?" Suara Juna yang menyapa Yara sangat kontras dengan kondisinya. Dia seperti memaksakan untuk terlihat baik-baik saja.
"Aku sehat, Mas. Aku harap kamu juga segera pulih ya, Mas." Sekali lagi Yara mengadahkan wajah ke arah langit-langit kamar.
Sky memegang punggung istrinya. Dia mengelus itu secara perlahan.
"Pak Juna, maaf jika dulu saya membuat banyak kesalahan." Sky yang lebih dulu meminta maaf, kiranya Juna masih dendam padanya meski Sky menikahi Yara setelah mereka benar-benar bercerai.
Juna memaksakan senyum. Dia menyambut tangan Sky dengan haru. "Saya tau, saya yang bersalah sejak awal. Bahkan dulu, sudah terlintas balasan apa yang setimpal untuk kesalahan saya. Dan sekarang, saya sedang menuai apa yang dulu saya tanam dalam tanah kehidupan."
Bersambung ....
Komen✅
__ADS_1
Like✅
Berikan dukungan dengan vote dan kirim gift🙏🙏🙏🙏