EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
158. Kompensasi


__ADS_3

Hari ketiga Sky terbujur koma di Rumah Sakit, Yara kedatangan tamu yang tidak terduga. Seorang wanita paruh baya yang cukup familiar baginya tapi Yara lupa pernah bertemu kapan dan dimana.


"Saya Serena." Wanita itu mengulurkan tangannya dengan gaya elegan ke arah Yara.


Yara mengernyit namun menyambut sekilas uluran tangan wanita paruh baya tersebut.


"Saya ibunya Diandra."


Ya, sekarang Yara tau siapa wanita yang tampak tak asing ini. Mungkin dulu dia pernah bertemu dengannya, meski tak begitu akrab dengan Diandra saat SMA, setidaknya Yara pernah terlibat kerja sama dan mengerjakan tugas kelompok di rumah keluarga Diandra.


Yara menyadari, sejak berita tewasnya Diandra dalam kecelakaan mobil bersama suaminya. Dia tidak menginjakkan kaki atau menampakkan diri di pemakaman wanita cantik itu. Ini semua karena Yara juga sibuk mengurusi suaminya, juga tengah menata hatinya yang tidak baik-baik saja pasca kecelakaan tersebut.


"Sebelumnya, saya mengucapkan rasa bela sungkawa dan turut berduka cita atas kepergian Diandra, Tante. Maaf, saya tidak datang di acara pemakaman Dian."


Serena menyunggingkan senyum tipis, tapi entah kenapa Yara melihat itu seperti raut kesinisan. Entahlah.


"Ya, gak apa-apa. Saya paham kondisi kamu saat ini. Jadi, gimana keadaan Sky sekarang?" tanyanya.


Yara menggeleng lesu. "Sky dinyatakan koma-- beberapa saat setelah kecelakaan itu, Tant."


Serena mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, tanpa pernah Yara duga, ucapan wanita itu selanjutnya justru membuat Yara terperangah.


"Sebagai orangtua Dian, saya kesini mau menuntut pertanggungjawaban Sky atas kecelakaan yang menyebabkan nyawa Dian melayang."


"A-apa?" Yara tidak mengerti arah pembicaraan ini. Maksudnya, Serena tidak berniat mau menuntut Sky, kan?


"Begini, kita sama-sama tau jika Dian kecelakaan bersama Sky. Tapi, kita gak pernah tau apa yang terjadi diantara mereka sebelum kecelakaan itu terjadi. Bisa saja saat itu mereka sedang bertengkar di jalan atau justru Sky yang memang menginginkan kecelakaan ini terjadi untuk membungkam Diandra selamanya."


Yara masih tak percaya dengan ujaran Serena yang diluar pemikirannya. Matanya membulat sempurna atas praduga yang Serena utarakan.


"Yara, kamu pasti memahami maksud saya, kan? Tidak ada yang tau apa hubungan mereka berdua, bisa saja gosip yang beredar itu benar, jika Sky dan Diandra ada hubungan. Menurut saya, suami kamu mulai takut hubungan gelap itu terbongkar, sehingga dia--" Serena tak melanjutkan lagi kalimatnya, kini dia tergugu dan menangis dihadapan Yara.


Yara menggeleng-gelengkan kepalanya, ucapan Serena terdengar keterlaluan menuduh Sky. "Jadi, maksud Tante kecelakaan ini disengaja oleh suami saya. Begitu?" tukas Yara.


"Y-ya, seperti ... yang tadi saya katakan, ki-kita tidak pernah tau ... apa yang terjadi sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi. Bisa saja mereka bertengkar. Bisa saja Diandra mau membongkar hubungan mereka didepan kamu dan Sky malah nekat untuk merencanakan kecelakaan ini." Wanita itu berujar dengan terisak-isak, sehingga suaranya pun tersendat, tapi Yara dapat mengerti apa yang Serena ucapkan.


"Gak mungkin, Tant! Saya sangat mengenal suami saya. Dia gak mungkin melakukan perencanaan kecelakaan seperti itu. Lagipula ini juga membahayakan dirinya sendiri!"


"Kamu tau apa, Yara? Buktinya suami kamu berada di dalam mobil yang sama dengan anak saya!" kata Serena menekankan.


Yara tidak dapat membendung airmatanya yang sudah menganak sungai. Dalam keyakinannya, Sky tidak mungkin berlaku demikian meski Yara ragu akan hubungan yang Sky jalin dengan Diandra-- karena dia sudah lebih dulu terpengaruh akibat pesan-pesan dari nomor asing yang dikirimkan kepadanya sebelum kecelakaan ini terjadi.

__ADS_1


"Jadi, maksud Tante dengan pertanggungjawaban itu apa? Apa Tante mau menuntut Sky, sementara kondisinya juga sedang koma?" tanya Yara dengan mata yang basah.


Serena menggeleng. "Tentu aja enggak, lagipula jika memang Sky dan Dian menjalin hubungan dibelakang semua orang, itu adalah pilihan mereka sendiri."


Sekali lagi hati Yara teramat sakit mendengar penuturan wanita ini yang seolah-olah memang mengiyakan perselingkuhan Sky dengan almarhum Diandra.


"Jadi, apa yang Tante mau?"


"Saya mau pertanggungjawaban itu ... berupa kompensasi, karena Diandra sampai meninggal dunia."


Yara menekan rasa sesaknya dalam-dalam. Kini dia tau kemana arah pembicaraan dan apa yang diinginkan wanita paruh baya ini.


"Berapa?" Itu adalah satu kata yang akhirnya terlontar dari bibir pucat Yara.


"Akibat kematian Diandra, dia tidak jadi membintangi beberapa iklan. Dia juga batal menjadi salah satu judges di sebuah acara pencarian model. Konsekuensi atas hal ini harus saya tanggung sendiri karena Diandra adalah anak kandung saya."


"Apa orang yang sudah meninggal juga harus dilimpahkan biaya finalty? Oh, saya baru mendengarnya ..." kata Yara realistis.


"Begitulah kenyataannya dan ini semua tidak luput karena kecelakaan yang dialami Dian bersama suami kamu, Yara." Serena kembali menekankan kalimatnya, ingin membuat Yara merasa bertanggung jawab atas semuanya.


Yara menyeka airmatanya, ternyata masalahnya tidak cukup sampai dengan suaminya yang koma, serta berbagai tuduhan-tuduhan jelek terhadap nama baik sang suami. Kini ada pula orang yang datang meminta kompensasi. Yara tidak tau apa jadinya dia sekarang. Masalahnya semakin pelik dan rumit.


"Jadi ..." Yara menjeda kalimatnya,


"Dua." Serena berucap sambil membuang pandangan, tidak mau menatap ke manik mata Yara yang sembab.


"Dua apa, Tant? Dua puluh juta atau dua ratus juta?" tebak Yara.


"Dua Milyar."


Demi apapun, sekarang Yara ingin sekali mengumpat wanita yang ada dihadapannya ini. Dia menggeram dalam hati terutama karena perasaannya yang terasa direm@s-rem@s.


Sekali lagi Yara menghela nafas panjang, berusaha menghadapi ini dengan tenang dan pikiran terbuka.


"Kalau saya tidak mau memberikannya, bagaimana, Tant?" tanya Yara dengan susah payah.


"Maka bersiaplah, saya akan menuntut Sky saat dia sudah sadar nanti, media akan mencemarkan nama baiknya, apa kamu siap anak-anak kamu mendengar berita itu? Kamu siap menerima konsekuensi itu? Jika ya, pasti anak-anak kamu akan terkena imbas dari nama jelek ayahnya," kata Serena berlagak tidak main-main dengan ucapannya.


Yara menggeleng tak percaya. "Bahkan suami saya masih koma, Tant!" tegasnya. Sekarang intonasi suaranya mulai naik karena emosi dengan wanita paruh baya ini. Serena juga membawa-bawa anak-anaknya, bagaimana Yara tak semakin kesal.


"Justru karena itu. Biarkan dia tenang setelah nanti dia siuman. Bayar dua milyar dan saya tidak akan memperbesar kasus ini. Jika tidak, maka jangan salahkan saya akan menuntut Sky sampai kapanpun juga. Kamu pikir nyawa anak saya itu mainan? Asal kamu tau, Diandra sudah meninggal! Diandra benar-benar sudah meninggal!" tukasnya menohok perasaan Yara.

__ADS_1


Serena pun meninggalkan Yara setelah mengatakan segala yang ingin dia utarakan.


Yara terduduk lemas di kursi tunggu depan ruang ICU dimana suaminya masih dirawat.


"Ya Tuhan, apakah ujianku belum selesai? Permasalahan mengenai hubungan Sky dengan Dian saja belum tuntas dan belum mendapat titik terang, sekarang Tante Serena malah meminta uang sebanyak itu," kata Yara bermonolog pada dirinya sendiri.


Yara mengesah lagi, dia tidak tau apakah dia akan bertahan atau pergi jauh demi menghindari segala problem yang melilit dan menjeratnya.


Yara memang memiliki uang itu, tapi itu adalah tabungan Sky untuk masa depan anak-anak mereka. Selain itu, dia memang bisa menjual rumah dan harta yang lain, tapi tidak mungkin diberikan begitu saja kepada Serena. Itu adalah rumah hasil kerja keras suaminya. Lagipula, Yara belum mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan itu karena masih diselidiki aparat kepolisian.


Yara mau menghubungi Anton. Dia mau mendiskusikan masalah ini dengan sang kakak. Yara merasa Anton akan lebih berpikir jernih ketimbang dia yang sudah dalam keadaan kalut dan hancur lebur.


"Mas?" Yara menelepon Anton.


"Ya, Dek?"


"Mas lagi dimana? ada yang mau Yara bicarain, Mas." Sekuat tenaga Yara berusaha berujar sebiasa mungkin, dia tak mau suaranya terdengar gemetar.


"Mas lagi di ..." Anton terdengar ragu menyahut. Seperti ada yang dia pertimbangkan.


"Dimana, Mas?"


"Begini, Dek. Sejak kamu kasi lihat sama Mas foto-foto kebersamaan Sky dengan wanita asing itu, Mas jadi penasaran untuk mengecek keasliannya. Mas lagi dirumah salah seorang teman, dia seorang IT yang pandai melihat keaslian foto dan video. Mas mau membuktikan foto itu asli atau hanya editan karena Mas yakin, Sky tidak mungkin seperti yang kamu tuduhkan."


Yara menghela nafas sepenuh dada. Mungkin tindakan Anton ada benarnya, setidaknya jika dia tau keaslian foto itu, kepercayaannya pada Sky akan berangsur-angsur kembali seperti semula.


"Maaf ya dek, kalau mas lancang ngelakuin ini. Mas cuma penasaran dan ngikutin kata hati Mas aja."


"Ya, gak apa-apa, Mas. Yara juga penasaran apa hasilnya."


"Kalau udah kelar, Mas pasti bakal langsung kasih tau kamu mengenai keaslian foto ini. Dan apapun hasilnya, kita sama-sama gak boleh kecewa. Oke?"


"Mudah-mudahan aku bisa ya, Mas."


"Ehm, tadi kamu mau ngomongin apa? Biar mas nanti nyusul ke Rumah Sakit."


Bersambung ...


Hai, Readers. Apa kabar? Moga kalian semua yg masih stay baca novel ini sehat selalu ya.


Othor mau ngabarin nih, othor udah buat Grup chat. Nah, yang mau gabung bisa klik profil othor dan masuk ke GC nya ya. 🙏

__ADS_1


Nanti di GC kalian bisa dapat poin. Dan kita bisa sama-sama diskusi tentang novel, keseharian dan hal-hal lain yg bisa buat kita jadi makin akrab. Yuk cus gabung di GC aku yuk.🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2