EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
25. Dia adalah Ayara


__ADS_3

"Kamu udah sempat makan tadi?"


Yara menggeleng, tapi kemudian mengangguki pertanyaan Sky.


"Udah atau belum?" tanya pria itu mengulangi pertanyaan yang sama, ia takut Yara belum sempat makan di pesta Rina beberapa saat lalu.


"Memangnya kenapa?" tanya Yara dengan nada acuh.


"Kalau belum makan, kita makan dulu sebentar."


"Aku mau pulang, Sky."


"Kayaknya lebih baik gak minta jawaban kamu. Karena sepertinya kamu lebih suka dipaksa, Ayara."


Yara berdecak dan mengambil ponsel dari dalam tasnya, Sky hanya melirik aksi wanita itu dalam diamnya.


"Turunin aku disitu, aku mau pesan taksi online."


Sky mengendikkan bahu acuh tak acuh, tapi kemudian ia benar-benar menghentikan mobil di tepi jalan. Tapi, ia bukan berniat membiarkan Yara memesan Taksi. Ia punya niat yang lain.


Saat Yara baru saja berhasil menekan password ponselnya, disitulah tiba-tiba Sky langsung merampas benda pipih tersebut dari tangan sang wanita.


"Sky!" pekik Yara.


Pria itu tak menggubris, ia langsung menonaktifkan ponsel Yara dengan gayanya yang sangat tenang, kemudian meletakkan ponsel tersebut didalam dashboard.


"Harus berapa kali aku bilang sama kamu, supaya sadar Sky? Sadar!" sungut Yara pada kelakuan Sky.


"Kalau sekarang aku gak sadar, aku gak bisa bawa mobil, dong." Pria itu malah menjawab dengan candaan.


Yara menyerah. Ia terlalu lelah berdebat dengan Sky.


"Kita makan dulu," putus Sky tanpa mau meminta pendapat Yara lagi.


Sky melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan yang cukup tinggi. Memasuki ruas jalan tol beberapa saat, kemudian keluar dari area itu, lalu beberapa kali berbelok hingga mobilnya memasuki sebuah kediaman yang sangat asri.


Meski hari sudah gelap, Yara tahu pasti kemana Sky membawanya saat ini.


"Turun!" titah Sky datar. Yara tak menurut, ia memegang sabuk pengaman erat-erat.


"Turun atau aku paksa? Aku gendong lagi, mau?"


Yara menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sky tersenyum miring saat akhirnya wanita itu menuruti keinginannya.


Sky berderap lebih dulu didepan Yara. Tetapi tetap dengan ritme seolah menunggui Yara yang terdiam dibelakangnya.


"Ayo!"


Sekali lagi Yara menggeleng, ia ragu memasuki rumah yang ada didepan matanya.


"Kamu emang seneng dipaksa, ya!" Sky kembali berbalik dan menghampiri Yara, ia ingin memaksa wanita itu agar masuk ke kediaman pribadinya.


"Tapi... tapi Sky?" Yara ragu-ragu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Mama kamu, di rumah?"


"Oh, kamu khawatir ketemu Mama?


Yara mengangguk samar. "Iya," katanya.


"Mama udah berangkat ke Singapore dua hari yang lalu. Ayo!"


Yara akhirnya bernafas lega. Ia pun mengikuti langkah Sky dengan polosnya. Tapi, kenapa ia jadi menurut? Apa Sky sudah mengeluarkan ilmu hipnotis untuknya?


Apalagi, disaat yang sama Yara baru teringat--jika memang Mama Sky sedang berada di Singapore, itu artinya ia akan berdua saja dengan Sky didalam rumah itu?


Yara kembali menghentikan langkah karena bimbang dan meragu.


"Ck! Kenapa lagi?" tanya Sky melihat Yara kembali berhenti ditengah-tengah pekarangan rumahnya.


"Buat apa kita kesini, Sky? Mama kamu gak ada, aku mau pulang aja."


Sky tertawa pelan. Ia tahu pikiran Yara pasti sudah melanglang kemana-mana.


"Astaga, Ayara. Kamu seneng banget ya kalau aku paksa!" gerutu pria itu masih dengan suara tawanya yang khas.


Sky mendekat, dalam sepersekian detik berikutnya, tubuh Yara sudah kembali ia gendong, bedanya kali ini, ia bukan membawa Yara diatas kedua tangannya, melainkan membopong tubuh wanita itu di pundak layaknya sekarung beras.


"Sky!!!" Yara meronta, ia memukuli punggung Sky namun usahanya itu tidak berarti apapun bagi Sky. Pria itu bahkan tidak bergeming dengan tinjuan yang beberapa kali Yara tujukan ke punggungnya.


Sky membawa Yara masuk, menutup pintu dengan sebelah kakinya.


Yara kehabisan energi menghadapi Sky, ia berlagak pura-pura pingsan saat itu juga.


Sky menurunkan tubuh Yara di sofa ruang tamu. Tetapi, melihat Yara yang terpejam membuatnya mendadak panik.


"Ayara!" Sky mencoba membangunkan wanita yang telah dalam posisi terbaring itu.


Melihat tidak ada respon dari Yara, membuat Sky kehilangan kesabaran. Awalnya ia memang kalut, tapi mendadak ia mengingat sesuatu.


"Kalau kamu gak jawab aku dan mau terus kayak gini, oke, tapi, jangan salahin aku kalau nanti kamu bakal aku cium."


Seketika itu juga Yara langsung terduduk, membuat Sky tersenyum penuh kemenangan.


Yara menundukkan wajah, susah memang bermain-main dengan Sky. Pria itu sudah tahu semua trik dalam hidupnya.


"Haha, kamu tuh!" Sky mengacak rambut Yara sekilas, kemudian menggulung lengan kemeja yang ia kenakan.


"Kamu mau makan apa? ART di rumah selalu pulang kalau udah lewat jam makan malam."


Sky berderap menuju ruang makan yang letaknya ada di sisi kiri rumah.


Bak kerbau yang di cocok hidungnya, Yara malah berjalan pelan dibelakang tubuh Sky dan mengikuti jejak pria itu.


Sky menarik apron yang tergantung lalu mengenakan ditubuhnya sendiri.


"Kamu... mau masak?" tanya Yara sedikit terkejut.


Sky mengangguk. "Mau masakin kamu," katanya.

__ADS_1


"Bisa?"


"Bisa, dong!"


Tanpa Yara sadari, respon dirinya malah mengulumm senyum saat mendengar jawaban dari pria disampingnya. Sebab yang Yara ketahui Sky tidak pernah bersahabat dengan dapur ataupun penggorengan.


"Senyum gitu kan cantik, Ra!" ujar Sky menyadari sikap Yara. Yara langsung gelagapan dan membuang pandangan. Malu.


"Karena kamu gak jawab mau makan apa. Aku masakin yang gampang aja, ya."


"Terserah kamu aja."


"Oke, yang gampang .... mie rebus," katanya, membuat Yara akhirnya terkekeh.


Bagaimana Yara bisa menahan tawanya, gaya Sky sudah berlagak seperti chef handal saja. Bicaranya juga sudah jumawa tingkat tinggi tapi ujung-ujungnya mau merebus mie.


"Kalau cuma rebus mie gak perlu pake apron segala," kata Yara masih tertawa.


Sky ikut tertawa. Ia senang akhirnya Yara mau bersikap biasa dan tidak kaku dihadapannya. Ini baru Yara yang ia kenal. Bukan Yara yang menutup diri dan bersikap acuh seolah tidak pernah mengenal dirinya.


Sky menatapi Yara lama, begitupun Yara membalas tatap sang pria dengan kerinduan yang sama. Mereka seolah bicara lewat sorot mata dan menyelam di kedalaman mata masing-masing.


Sampai akhirnya, wanita itu yang lebih dulu tersadar saat melihat tatapan Sky yang berubah tak biasa. Yara tahu Sky masih sangat mengharapkannya dan ia tidak boleh ikut tenggelam dalam harapan yang sama, sebab statusnya sudah menjadi penghalang bagi mereka berdua.


"Aku aja yang masak," putus Yara, hal itu sekaligus memutus kontak mata diantara mereka berdua.


Sky terdiam, ia beringsut menjauh dari tubuh Yara.


"Ada bahan apa aja?" Yara mencoba menetralkan suasana yang mendadak canggung sesaat setelah tatapan intens keduanya.


"Bahan masakan banyak sih, tapi aku rindu telur goreng buatan kamu." Sky berusaha menguasai keadaan kembali. Kendati pikirannya sudah serba salah sekarang.


Yara menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Sky. Dari sekian banyaknya pilihan menu makanan, kenapa Sky harus merindukan telur goreng buatannya? Bukankah semua rasa telur sama saja? Bahkan jika Sky memasaknya sendiri juga akan menghasilkan rasa yang sama.


"Telur mata sapi yang kuningnya tepat ditengah-tengah," lanjut Sky dengan seringaian tipis.


"Sky---" Yara ingin memprotes, ia tidak mau Sky terus mengingat momen-momen kebersamaan mereka yang dahulu.


"Buatin, please! Aku mau makan itu malam ini."


Yara tersenyum simpul melihat tingkah memelas Sky dihadapannya. "Ya udah, aku masakin. Abis makan, aku pulang, ya?" ujarnya.


Sky mengangguk, walau jauh dalam lubuk hatinya tidak bisa merelakan kepulangan Yara nantinya.


"Aku mau kamu terus disini, Ayara. Sama aku, gak kemana-mana lagi." Pria itu membatin, menggumamkan keinginan didalam dirinya.


Sky memperhatikan gaya Yara yang cekatan saat memasak. Sudut bibirnya tertarik ke atas dan melengkung sempurna. Ia sadar bahwa ia telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona wanita yang sama. Dulu maupun sekarang.


Sky tidak peduli apa tanggapan orang lain tentang perasaannya.


Sky juga tak peduli meskipun keadaan Yara sudah tidak sama seperti dulu lagi.


Yang terpenting bagi Sky, wanita itu tetaplah dia. Apapun kondisinya. Dia masih tetap sama dimata Sky. Dia tak pernah berubah, dia tak kurang satu apapun, dia tetap begitu sempurna dimatanya. Dia adalah Ayara-nya.


Bersambung ....

__ADS_1


******


Jangan lupa tinggalin vote Senin kalian di novel ini yah, Readers🌹 Makasih yang udah luangin waktu buat baca scene ini❤️


__ADS_2