EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
144. Belanja


__ADS_3

Seperti biasanya, jika weekend tiba Sky selalu mengusahakan untuk menemani Yara berbelanja. Baik itu belanja kebutuhan dapur, kebutuhan bayi-bayi mereka juga kebutuhan untuk diri Yara sendiri.


Baby twins dan Elara saat ini sedang aman bersama Oma dan Bi Sri di rumah. Disaat seperti ini Sky dan Yara baru bisa keluar berduaan seperti orang pacaran.


Ya, quality time berdua memang sangat penting meski mereka sudah memiliki dua orang anak.


"Abis belanja, kita nonton yuk, mengenang momen-momen dulu."


Yara tergelak dengan ajakan suaminya. Troli belanjaan yang tadinya ia dorong bahkan kini ia hentikan untuk mendengar lebih jelas ajakan suaminya itu.


"Jangan aneh-aneh deh, kalau nonton itu hampir dua jam. Kalau anak-anak nangis nyariin aku, gimana?"


"Kan ada mama dan Bi Sri."


"Iya, sih. Tapi kalau anak-anak rewel dan susah ditenangin gimana, Sky?"


"Kamu tenang aja, Sayang. Mama sama Bi Sri itu lebih pengalaman nenangin bayi. Kalau kamu, lebih pengalaman nenangin aku," sahut Sky dengan senyum tengil khasnya.


Yara geleng-geleng kepala. Pria ini, masih saja, pikirnya.


"Abis nonton kita langsung pulang ya. Gak enak kalau terlalu lama nitipin anak-anak sama Mama dan Bi Sri."


Sky menghela nafas berat. "Abis ini kayaknya kita perlu suster untuk asuh mereka deh. Biar kamu juga gak kewalahan dan ada waktu buat berduaan sama aku."


"Sky..." Yara tidak mau Sky mengeluh perkara hal ini.


"Hmm, iya deh. Tapi, serius, aku kepikiran mau sewa suster aja. Kasihan kamu."


"Selalu gitu kamu, padahal aku gak apa-apa."


"Ya, karena Cean dan Aura belum sampe tahap aktif aja. Kalau udah seumuran Elara, aku yakin deh kamu pasti makin kewalahan."


"Ya udah, ntar aku pikirin usul kamu, ya." Yara mengelus pelan punggung tangan suaminya dan melanjutkan mendorong troli belanjaan mereka.


Sky memilih beberapa sayuran yang mau dia makan, daging serta cemilan. Sementara Yara juga berbelanja untuk kebutuhan bayi-bayinya dan bahan-bahan untuk membuat bubur yang akan dikonsumsi oleh Elara.


"Udah semua?"


"Udah, yuk, ke kasir."


Sky membantu Yara mendorong troli belanjaan sampai ke kasir.


"Bawa debitnya, kan?" tanya Sky memastikan istrinya yang akan membayar.


"Ada kok, tenang aja." Yara melempar senyuman.


"Ya udah, aku tunggu disana, ya."


"Oke." Yara membentuk jari menjadi huruf O dengan telunjuk dan jempolnya.


Seperginya Sky, Yara mengantri di kasir untuk membayar belanjaannya.


Sementara Sky menunggu di area tunggu yang juga disertai kursi untuk diduduki. Baru saja Sky meletakkan bok0ngnya disana, seseorang menyapa kehadirannya.


"Sky, kan?"


"Eh?" Pria itu menoleh dan mendapati seorang wanita cantik yang duduk disebelahnya.


"Masih ingat aku, gak?"

__ADS_1


Sky mengernyit sesaat, kemudian dia mengangguk setelah mengingat siapa sosok wanita disampingnya.


"Michele sepupunya Jennifer, kan?" tanyanya merujuk pada wanita yang pernah dia kenal dulu dikediaman Beno.


"Nah, udah aku duga kamu itu masih ingat sama aku." Wanita itu tertawa senang. "Apa kabar, Sky?" tanyanya.


"Ya, gak ingat-ingat banget, tapi juga gak lupa. Aku sehat, seperti yang kamu lihat," jawab Sky seadanya.


"Gak lupa atau gak bisa ngelupain?" tanya Michele yang justru seperti tengah menggoda pria itu.


"Ehm, biasa aja." Sky menyahut acuh tak acuh.


"Kamu lagi ngapain disini?"


"Belanja, apa lagi."


"Mana belanjaannya?" tanya Michele melihat Sky tak membawa apapun.


"Oh, itu masih dibayar istri aku di kasir," kata Sky.


"Ups kamu sama istri kamu? Kamu udah menikah, Sky?"


Pria itu mengangguk mantap. "Udah, lebih dari setahun yang lalu," tukasnya.


Michele mengerjap-ngerjap lama, dia memperhatikan penampilan Sky yang memang jauh lebih tampan daripada dulu. Maksudnya, waktu dia mengenal Sky tempo lalu pria itu memang sudah tampan, hanya saja sekarang versinya berbeda. Sky tampak lebih matang dan ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Pesona pria yang sudah menjadi suami orang apa memang akan lebih memikat seperti ini ya? Batin wanita itu.


"Kamu sendiri, belum menikah?" tanya Sky berbasa-basi pada Michele.


"Belum. Aku masih ngejar karir."


"Oh," sahut pria itu tak begitu tertarik sebenarnya.


"Boleh minta nomor pribadi kamu, gak?"


"Buat apa?" tanggap Sky cuek.


"Ya, siapa tau aku ada keperluan. Kamu satu kerjaan sama Beno, kan? Arsitek juga? Mungkin nanti aku butuh bantuan seorang arsitek kayak kamu."


"Oh, kalau urusan kerjaan kamu bisa langsung hubungi Beno aja," usul Sky menolak secara halus. Dia tidak merasa Michele terlalu penting menyimpan nomor pribadinya.


"Ayolah! Kita bukan orang asing, kita sudah mengenal satu sama lain sejak lama, kan, Sky?" Rupanya wanita itu memaksa.


"Kalau suami aku gak mau memberikan, seharusnya kamu gak usah memaksa dia." Tiba-tiba Yara sudah tiba disana dan menginterupsi percakapan mereka.


"Sayang?" Sky bangkit dari duduknya dan mengambil alih troli berisi bungkusan belanjaan yang Yara bawa.


Tapi, Yara tidak menghilangkan fokus pada wanita yang tadi sempat ia dengar tengah meminta nomor ponsel suaminya. Yara masih ingat betul wajah wanita bule campuran ini. Dia yang dulu sempat nebeng mobil Sky. Ya, beberapa tahun lalu saat Yara masih bekerja di rumah Nadine.


Satu hal yang sering terlewatkan oleh pria, wanita adalah makhluk yang paling jago dalam hal mengingat, apalagi mengingat wanita yang hampir menjadi saingannya, mantan pacar suaminya, atau wanita lain yang sempat didekati oleh suaminya, dulu.


Dan menurut Yara, wanita didepannya sekarang masuk dalam kategori wanita yang sempat hampir menjadi saingannya waktu itu.


"Eh, maaf, aku minta nomor Sky karena aku merasa mengenalnya. Tidak lebih." Michele membela diri, dia melihat raut ketidaksukaan dalam pancaran wajah Yara.


Yara tersenyum mencibir. "Apa kamu sedekat itu sama dia, Sayang?" tanyanya mengarah pada Sky yang kini sibuk dengan belanjaan mereka. Lebih tepatnya, pura-pura sibuk karena tau Yara tengah marah sekarang.


"Dia sepupu istrinya Beno, sayang." Sky berujar.


"Aku gak nanya dia siapa, aku nanya apa kalian sedekat itu sampai harus tukeran nomor ponsel?"

__ADS_1


Kalau sudah begini, Sky bingung harus bagaimana, sebab apapun yang dia jawab pasti Yara akan tetap marah.


"Ehm, Michele, kita duluan ya." Sky pamit undur diri dan Michele hanya bisa mengangguk mengiyakan, dia tersenyum miring karena melihat Sky dan Yara yang pasti akan ribut setelah ini.


Sky memasukkan belanjaan mereka ke bagasi mobil ketika mereka sudah tiba di basement. Dia melihat Yara diam dan dia tau Yara masih marah.


Sky memasuki mobil dan duduk dibalik kemudi.


"Gak jadi nonton," cetus Yara tiba-tiba.


"Astaga, Sayang. Aku minta maaf," kata Sky mengalah. Apapun alasannya, istrinya akan tetap mengomel. Ini juga berlaku jika Yara bersikap sama dengan lawan jenis jadi Sky memakluminya.


"Aku udah badmood. Ngapain dia minta nomor ponsel kamu segala."


"Tapi kamu lihat, kan, aku gak ngasi nomornya."


"Kalau tadi aku telat datang pasti kalian udah tukaran nomor."


"Astaga..." Sky menghela nafas panjang. "Enggak Sayang. Gak mungkin."


"Gak ada yang bisa menjamin." Yara mengangkat bahunya cuek.


"Ya udah, maafin aku kalo gitu."


Saat mereka sedang berdebat mengenai Michele, hampir saja Sky menabrak seseorang yang melintas.


"Sayang?"


"Sayang?"


Mereka berdua serentak kaget. "Aku lihat dulu keluar," kata Sky.


Yara mengangguki dan melihat dari dalam mobil jika suaminya tengah menghampiri seorang wanita yang meringkuk disana.


"Mbak gak apa-apa?" Sky bertanya pada wanita itu dan membuat sang wanita mengadah padanya.


"Gak apa-apa, Mas. Maaf ya, tadi saya yang maksain nyebrang."


"Iya, saya juga minta maaf, Mbak."


Yara akhirnya memilih turun sebab dia juga khawatir pada wanita yang tadi hampir ditabrak Sky.


"Mbak, kalau ada luka atau kenapa-kenapa biar kita bawa ke Rumah Sakit terdekat," usul Yara menginterupsi.


Wanita dengan wajah lesu itu menatap Yara tidak berkedip, seperti terkejut tapi kemudian menggeleng sebagai respon dari saran yang Yara berikan.


"Saya gak apa-apa tapi, kalau boleh, saya menumpang saja sampai Rumah Sakit," katanya pelan.


Yara dan Sky saling bertatapan.


"Apa mbak memang mau ke Rumah Sakit sebelumnya, begitu?" tebak Sky dengan intuisinya.


"Iya, kebetulan suami saya sedang di rawat disana."


Sky dan Yara akhirnya setuju untuk mengantarkan wanita itu ke Rumah Sakit tujuannya.


Bersambung ...


Next? Komen ✅

__ADS_1


__ADS_2