EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
59. Cemburu?


__ADS_3

Karena suara klakson mobil, membuat Yara sadar bahwa Nadine telah kembali. Gegas ia membuka pintu untuk membukakan gerbang bagi sang majikan.


Sesaat setelah mobil Nadine benar-benar masuk ke dalam pekarangan. Tanpa Yara sadari ia malah menatap ke arah rumah yang masih tampak ramai diseberang sana. Pasti tadi Sky tengah menghadiri acara pesta yang diadakan dirumah tersebut.


"Yara? Ayo masuk!"


Suara Nadine kembali menyadarkan Yara. "E-eh? Ya, Mbak..." katanya seraya ingin kembali menutup gerbang yang sebelumnya telah ia buka demi membiarkan mobil Nadine masuk.


Akan tetapi, Yara tertegun lagi saat matanya masih curi-curi pandang ke arah rumah di seberang. Disana ia dapat melihat sosok pria yang ia kenali tengah duduk bersisian dengan seorang wanita berambut cokelat.


"Sky..." gumam Yara. Tidak dipungkiri, hal yang ia lihat didepan sana cukup membuat jantungnya mencelos.


Sebenarnya Sky sedang mengobrol bersama dengan Jennifer dan Beno juga, namun disebelahnya memang ada Michelle yang juga menyimak pembahasan mereka. Tapi dipenglihatan Yara, pria itu seperti tengah berdua saja bersama Michelle sebab posisi Beno dan Jennifer tertutup oleh sebuah pohon.


"Yara? Kamu mau langsung pulang?" tanya Nadine yang melihat Yara tidak kunjung masuk rumah meski tadi ia sudah menanyakannya.


"Ehm, iya, mbak... saya izin pulang ya, mbak..."


Yara pun bergerak menghampiri posisi Nadine, meski pikirannya masih tertuju pada sosok Sky yang tengah bersama gadis lain.


"Oke, maaf ya buat kamu pulang malam gini..."


"Gak apa-apa, Mbak. Masih jam setengah 8 ini."


"Kamu udah makan malam?"


"Belum, Mbak. Tapi saya udah masakin buat Mbak tadi."


"Kenapa kamu gak sekalian makan aja?"


Yara menggeleng pelan, mana mungkin ia makan duluan sementara sang pemilik rumah saja belum makan. Yara merasa itu tindakan yang tidak pantas karena dengan sengaja mendahului Nadine.


"Lain kali, kamu makan duluan juga gak apa-apa. Kalau saya pulang larut, gimana? Gak mungkin kamu terus nunggu sampe aku makan dulu baru kamu mau makan." Nadine seakan tahu isi pikiran Yara yang sekarang tertunduk didepannya.


Beruntungnya Yara dapat majikan yang baik dan pengertian.


"Yaudah, ini kamu ambil ya, buat makan malam."


Yara tertegun saat Nadine menyelipkan selembar uang merah ke tangannya.


"Loh, mbak? Gak usah...." tolak Yara, tentu saja dia sungkan.


"Gak apa-apa, anggap aja itu bayaran karena kamu bener-bener nungguin saya pulang sampai jam segini."


"Tapi ini kebanyakan, mbak..."


Nadine tersenyum tipis. "Gak apa-apa, sekalian ongkos kamu."


"Saya jalan kaki, mbak. Deket aja," kata Yara kekeuh.


Nadine tertawa. "Kalau gitu sekalian buat beli cemilan kamu. Udah, jangan nolak," katanya sembari berbalik masuk.


"Terima kasih ya, mbak!" seru Yara saat Nadine ingin menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati kamu. Besok jangan telat datang. Jam 7. Oke?"


"Oke, mbak."


Tentu Yara merasa senang, akan tetapi senyumannya seketika menyurut saat ia berbalik dan kembali menatap ke arah rumah di seberang sana.


Sekarang ia tidak lagi dapat melihat Sky bersama gadis bule itu, entahlah kemana mereka.


Yara pun memutuskan keluar dari pekarangan rumah Nadine, dengan berjalan pelan ia menyusuri paving blok perumahan tersebut.


Sampai sebuah mobil yang tak asing melewati keberadaannya dan tak lama mobil itu benar-benar berhenti tak jauh dari Yara disusul sang pemilik yang keluar dari kabin pengemudi.


"Mau kemana?" Sky menghadang langkah Yara.


Yara tidak bisa menjawab, ia sudah terlanjur berbohong pada Sky dengan mengatakan bahwa ia tinggal di rumah majikannya tadi. Tak mungkin sekarang ia menjawab ingin pulang, kan?


Yara memang tidak berniat menjawab sebab ia tak memiliki jawaban untuk pria itu, tetapi Sky jelas menunjukkan sikap bahwa tengah menunggu jawaban dari bibirnya.


"Aku anter," putus Sky tanpa meminta pendapat Yara. Pria itu menarik tangan Yara begitu saja.


Saat Yara tiba di dekat mobil Sky, ia tertegun sebab disana ada gadis bule yang tadi juga bersama Sky di pesta itu.


"Dia Michelle, kebetulan apartemennya aku lewati jadi dia meminta tumpangan sama aku," bisik Sky disamping Yara.


Sky membuka pintu bagian belakang. Yara pikir ia yang akan menempati tempat itu sebab Michelle sudah lebih dulu duduk didepan--tepatnya disebelah Sky.


Sayangnya, perkiraan Yara salah ketika Sky mulai bersuara.


"Michelle, sorry, she's my girlfriend. Bisakah kamu pindah ke belakang?"


Wanita yang dipanggil Sky dengan nama Michelle itu tak kalah terkejut dengan pernyataan sang pria. Matanya tampak langsung memindai penampilan Yara dari ujung rambut sampai ujung kaki, seakan membandingkan dengan dirinya sendiri.


Ini pacar Sky? Begitulah pertanyaan dalam batin Michelle.


Tak mau dipinta sampai dua kali, akhirnya Michelle mengangguki permintaan Sky. Ia berpindah ke jok belakang meski dengan berat hati, tentu saja.


"Ayo masuk," kata Sky memegang pundak Yara agar bisa sedikit mendorong wanita itu untuk mengikuti kemauannya, yaitu masuk ke dalam mobil.


"Padahal aku duduk di belakang juga gak apa-apa," gumam Yara yang bisa didengar oleh Sky.


Pria itu tidak menyahut, sibuk memasang kembali sabuk pengamannya. Lantas, menyalakan mesin mobilnya dan mulai berkendara lagi.


"Kamu mau kemana?"


Yara menggeleng pelan. Bukankah tadi ia sudah meminta Sky untuk berhenti berusaha? Kenapa lagi-lagi pria ini terus mendekatinya. Ah, ya, Yara hampi saja lupa jika seorang pria bernama Sky yang ia kenal adalah pria yang bebal alias keras kepala.


Karena tak juga mendapat jawaban dari Yara. Sky akhirnya memutuskan untuk menuju Apartmen Michelle dengan niat mengantarkan wanita itu lebih dulu.


"Thanks, Sky. Apa kau tak mau mampir?" tanya Michelle. Entah berbasa-basi atau memang berniat untuk menawarinya.


"Lain kali, maybe..." kata Sky sambil tersenyum pada Michelle yang sekarang berbicara dari luar jendela mobil sebab telah tiba di depan gedung Apartmennya


Melihat itu, entah kenapa membuat Yara memanas. Ia memutar bola mata jengah dan Sky sempat melihat itu.

__ADS_1


"Michelle..." panggil Sky lagi. Kali ini, ia sengaja melakukan itu, ia mau melihat reaksi Yara sebab jika ia tidak salah menafsirkan, sepertinya Yara tengah cemburu sekarang.


"Ya?" Michelle yang hampir beranjak, kembali menghampiri kaca jendela mobil Sky.


"You're bag..." kata Sky sembari menyerahkan tas wanita itu yang rupanya tertinggal diatas dashboard mobil Sky, sebab sebelumnya Michelle memang duduk di jok depan, kan?


"Oh, thanks..." Michelle menyunggingkan senyum lebarnya sebelum benar-benar berbalik pergi.


Sky melirik Yara, wanita itu melipat tangan di dada sembari menatap ke arah lainnya. Sky pun menipiskan bibir lalu kembali membawa Yara berkeliling.


"Kalau kamu gak mau bilang tujuan kamu, terus milih diem kayak gini, ya udah, kita muter-muterin jalanan aja semalaman ini," kata Sky dengan tenangnya.


Bukannya menjawab. Yara malah mengoceh sendiri.


"Sky... apa kau tak mau mampir?"


"Lain kali, maybe...."


"Michelle, you're bag?"


"Oh, thanks...."


Mendengar itu Sky malah terbahak, pasalnya Yara mengulangi lagi kalimatnya dengan Michelle tadi. Sumpah demi apapun Yara lucu sekali jika sedang cemburu seperti ini.


"Kayaknya kita harus nikah secepatnya, Ra. Kalau enggak aku bisa jadi bujangan tua karena gak bakal nemuin yang kayak kamu lagi."


Yara mencebik. "Bisa-bisanya kamu ngajakin aku nikah padahal tadi kamu gombalin cewek bule itu!" sarkasnya.


Sekali lagi Sky terkekeh. "Gombalin gimana, sih? Kayaknya kata-kataku tadi gak ada yang masuk dalam list gombal, Ra...."


"Tauk!" kata Yara sebal.


"Kalau ngambek aku cium nih!" ancam Sky.


Yara malah melengos acuh tak acuh.


"Dih, beneran ngambek. Sekali ngambek hukumannya lima ciuman, ya?" kata Sky lagi sambil mengulumm senyum.


Seketika itu juga Yara melotot. Tapi ia sadar jika Sky tidak pernah main-main dalam setiap ucapannya.


"Ngambek, gak?" kata Sky.


"Gak kok," kata Yara yang takut dijatuhi hukuman. Apalagi hukumannya tidak masuk akal.


Sky menipiskan bibir. "Tapi cemburu, kan?" tanyanya kemudian.


"Gak juga, buat apa cemburu!" sanggah Yara.


"Masih juga ngeles... kalau gak cemburu kena hukuman juga lho," cibir Sky.


"Hah? Iya iya, aku cemburu...." kata Yara yang pasrah pada akhirnya.


Bersambung ....

__ADS_1


****


Tap love, ketik komentar, tinggalkan like, vote, kopi dan bertangkai-tangkai bunga...🤭


__ADS_2