EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
164. Berhalusinasi


__ADS_3

Yara memang sudah sadar dari pingsannya. Dalam ruangannya saat ini hanya ada Indri.


Dia berusaha tegar terkait kenyataan yang baru saja membuatnya lemah tak berdaya. Sky telah meninggal, begitulah yang Yara ketahui saat ini.


Yara melirik Indri yang terduduk lesu diujung ruangan.


Hhh ... seharusnya Yara yang memberi penghiburan untuk ibu mertuanya. Nyatanya dia lebih lemah dari Indri meski umur mereka terpaut jauh. Mertuanya itu lebih nampak tegar meski beberapa kali terdengar meratap.


"Ma ..."


"Ya?" Wanita baya itu mendekati ranjang dimana menantunya tergeletak lesu.


"Maafin aku ya, ngerepotin Mama terus."


Indri memasang senyum sendu yang amat dipaksakan. "Kamu harus kuat ya, Ra," katanya, kemudian menggeleng samar. "Kita. Kita harus kuat," ralatnya lagi.


Yara kembali terisak, dia memeluk Indri dan menangis dalam pelukan ibu yang telah melahirkan suaminya itu.


"Iya, Ma. Kita harus kuat atas kepergian Sky."


Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu yang membuat keduanya melerai pelukan.


"Mama lihat dulu, ya."


Rupanya mereka mendapat kunjungan dari pihak kepolisian. Disana ada Arman dan rekannya sebagai aparat penyelidik kasus ini dan mereka ingin memberitahukan pada pihak keluarga perihal isi blackbox mobil yang sudah diselidiki.


Mereka mulai mendengar rekaman suara yang diputar oleh Arman. Meski itu hanya rekaman singkat, tapi itu adalah bukti akurat terkait percakapan Sky dan Diandra sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Di, gak usah ngebut, gak ada yang dikejar juga."


Suara Sky yang terdengar lebih dulu. Yara dan Indri dapat mendengar itu dan mereka menyimaknya dengan baik seolah takut melewatkan satu kata saja dari rekaman yang tengah di putar.


"Gak apa-apa lah, di Tol emang biasa aku pake kecepatan segini."


Kini terdengar suara Diandra yang menyahut dengan nada percaya diri atas kemampuan menyetirnya.


Beberapa detik kemudian tak ada percakapan lagi, hanya ada suara mesin yang terdengar menderu.


"Dian? Kamu gila? Ini terlalu kencang!"


"Biasa aja, Sky! Jangan pucat gitu!"


"Astaga, Dian! Kurangi kecepatan!"


Kemudian terdengar suara Diandra yang mengumpat keras. Dia terdengar memaki Sky terkait problem di masa lalu.


"Sky! Apa sih yang kamu lihat dari Yara? Sejak SMA kamu pacarin dia, udah putus lama malah balik lagi. Eh, udah gitu dinikahin pula meski dia udah janda!"


Mendengar itu, Yara dan Indri saling menoleh. Mereka seolah dapat menyimpulkan sendiri dari percakapan Sky dan Diandra ini, bahwa keduanya tidak memiliki hubungan seperti yang digosipkan awak media.


Mereka kembali fokus mendengarkan rekaman suara itu, sebab tak sekalipun Sky menyahuti umpatan Diandra.

__ADS_1


"Sky bangs*t! Puas banget gue bisa maki-maki lo secara langsung kayak gini!"


Ternyata Diandra masih menyimpan sakit hatinya karena penolakan Sky terhadap perasaannya beberapa tahun silam. Terdengar ada geraman dan tekanan dari nada suara wanita itu.


Kemudian, perdebatan mereka semakin ricuh karena keadaan yang sepertinya semakin genting dan berbahaya-- akibat Diandra yang terus mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sky dan Diandra berseteru, seolah tengah memperebutkan posisi demi mengendalikan mobil dari keadaan jalanan yang sedang mereka lalui.


Beberapa kali kembali terdengar suara Diandra yang memaki-maki Sky dengan tidak jelas. Dia terus membahas mengenai Sky yang sejak dulu tidak pernah melihatnya bahkan tidak meliriknya sedikitpun. Helaan nafas Diandra menjelaskan betapa marah dan putus asanya dia.


"Kamu gila!"


"Kamu yang jahat, Sky!"


Dan disaat yang sama, suara benturan keras pun terdengar, disusul suara decitan ban yang beradu dengan aspal. Lalu tabrakan keras pada pembatas jalanan sepertinya tidak dapat dihindari. Kecelakaan itu pun tak terelakkan.


Brak!!!


Brakkk!!!


Disanalah, rekaman itu terhenti seketika. Arman, Yara dan Indri spontan saling menatap satu sama lain.


"Apa rekaman ini perlu disebar ke media, Bu? Jika pihak keluarga berkenan, maka beritanya akan segera diserahkan pada wartawan yang ingin mengetahui lebih lanjut terkait kasus ini."


"..."


"Jadi, pihak kami hanya tinggal menunggu persetujuan dari keluarga Bapak Sky untuk menyebarkan berita ini," sambung Arman kemudian.


"Jika rekaman itu akan menuntaskan kasus ini dan dapat mengembalikan nama baik suami saya yang sudah tercemar karena fitnah, maka pihak kami berkenan untuk mengikuti prosedur penyerahan rekaman itu kepada media massa, Pak."


Indri menggenggam erat jari-jemari Yara untuk menguatkannya.


"Setelah kasus ini tuntas. Kami meminta untuk menutup semua berita terkait hal ini, Pak," timpal Indri menambahkan.


"Terima kasih, atas kerjasamanya, Bu. Semoga nama baik Bapak Sky akan segera kembali dan saya turut berduka cita terkait kabar yang baru saya dengar beberapa saat yang lalu."


Yara hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa berkomentar lagi. Rupanya ucapan terakhir Arman sedikit menyadarkannya tentang kematian sang suami yang sempat dia lupakan sejenak karena kedatangan aparat itu beberapa saat lalu.


Indri mengantarkan kepergian Arman dan seorang rekannya sampai ke ambang pintu.


Saat Indri menoleh pada Yara, rupanya sang menantu sedang menerima panggilan telepon.


"Siapa, Ra?" tanya Indri.


"Mas Anton, Ma. Dia katanya ada diruang VVIP sama Beno."


"Oh, Beno datang kesini ya? Syukurlah, jadi ada yang bantuin Anton. Mama rasanya udah gak punya semangat lagi, Ra." Indri menghela nafas gusar.


Yara menyeka sisa-sisa airmatanya. "Mama bilang kita harus kuat, kan?" ujarnya.


"Iya, tapi tetep aja Mama masih ngerasa ini mimpi." Indri kembali terisak.

__ADS_1


"Kita harus saling menguatkan, Ma," lirih Yara. "Gimanapun juga, abis ini kita benar-benar harus menghadapinya dan ngejelasin ke anak-anak," paparnya berusaha kuat diri.


"Hmm, Mama gak tau harus gimana setelah ini. Apalagi ngebayangin Aura dan Cean."


"Udah, Ma. Udah ..." Padahal Yara sendiri pun amat lemah dengan kenyataan ini, tapi mau bagaimanapun dia harus berusaha lebih tabah.


"Ngomong-ngomong, ngapain Anton dan Beno di VVIP? Bukannya tadi Anton mau ngurusin ke kamar jenazah?" Alis Indri tertaut, ada keheranan yang tampak jelas diwajah baya itu.


"Gak tau, tadi Mas Anton gak ngejelasin apa-apa. Dia cuma nyuruh aku kesana."


...****...


Yara mengikuti keinginan kakaknya yang memintanya datang ke sebuah ruangan VVIP dengan nomor 258. Ini memang ruangan Sky saat hari pertama di rawat dan masuk ke Rumah Sakit setelah menjalani operasi pasca kecelakaan tempo hari. Sky tidak lama berada disana, karena hanya dalam hitungan jam setelah itu dia dinyatakan koma dan kembali dipindahkan ke ruang ICU.


Lalu, untuk apa sang Kakak memintanya datang ke ruangan pertama Sky dirawat?


Dalam pemikiran Yara, mungkin masih ada barang-barang suaminya yang tertinggal disana dan Anton ingin mereka membereskannya sebelum semua kembali ke rumah dengan jenazah sang suami yang turut serta untuk segera di urus pemakamannya.


Yara menekan knop pintu dari luar. Sayup-sayup dia dapat mendengar suara Beno yang tengah menanyai seseorang. Terdengar akrab, selayaknya biasa Beno berbicara dengan Sky. Yara bertanya-tanya siapa lawan bicara Beno disana. Apakah Anton? Tidak mungkin mereka berbicara seakrab dan dengan nada sesenang ini setelah kabar kematian suaminya?!


"Iya, gimana rasanya? Apa yang kau lihat pas ngalamin hal ini?"


Itulah perkataan Beno yang sempat terdengar oleh Yara.


Yara kembali menutup pintu setelah dia dan Indri sama-sama telah masuk ke dalam ruangan itu.


Indri mendadak membeku ditempat dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara Yara, belum menyadari keadaan. Dia masih tampak melamun, dia merasa bersalah pada mendiang suaminya. Nyatanya kenyataan benar-benar terungkap setelah suaminya dinyatakan meninggal.


Sky tidak pernah berselingkuh. Baik dengan wanita dalam foto yang dikirimkan kepadanya, maupun dengan Diandra yang belakangan selalu digembar-gemborkan di media massa.


Semua fakta ini seakan tidak berguna, karena nyatanya suami yang kemarin dia tuduh berselingkuh, sudah tidak bernyawa lagi.


Untuk apa Yara tau semua ini dikala suaminya telah tiada? Jelas ini karena Tuhan mau menegurnya atau justru memberinya peringatan keras tentang sikapnya yang tidak mempercayai suaminya sendiri.


Dan disaat Yara telah menyesali segalanya, semuanya telah terlambat karena Sky sudah pergi untuk selamanya.


"Sky ... Sky anak Mama." Terdengar suara Indri yang menangis memanggil nama sang putra.


Yara mengira mertuanya masih terbawa suasana duka. Dia memakluminya. Tanpa melihat ke arah dimana Anton dan Beno berada, Yara mendudukkan diri di sofa dengan posisi paling ujung, dia pun mengusap wajahnya sendiri.


"Sayang? Kamu gak mau ngelihat aku?"


Yara mematung. Suara ini seperti suara suaminya tapi ... mungkinkah? Yara langsung melihat pada bed yang ada dalam ruangan itu. Sekarang, dia dapat melihat Anton, Beno dan Indri yang sudah mengelilingi posisi Sky disana. Ya, itu Sky yang masih hidup bukan jenazahnya. Yara dapat melihat pria itu tengah tersenyum sendu ke arahnya.


Yara membalas itu dengan seulas senyuman kecut, karena dia merasa jika kini dia tengah berhalusinasi.


Apa aku sudah mulai gila? Begitulah isi kepala wanita itu. Apa dia sefrustrasi ini ketika ditinggalkan Sky untuk selamanya?


Sepertinya, setelah pemakaman suaminya nanti, Yara harus menghubungi Levina yang seorang psikater. Dia harus berkonsultasi pada wanita itu terkait kesehatan psikis dan mentalnya.


Bersambung ....

__ADS_1


Next lagi? Komen ✓


__ADS_2