
Sky tiba di kediamannya saat hari sudah cukup larut. Ia langsung menghempaskan tubuh ke ran jang empuk miliknya.
"Ayara .... Ayara .... Ayara ...." gumam pemuda itu, seharian dalam perjalanan, seharian pula pikirannya hanya tentang wanita yang sama.
Sky kembali terduduk, menyangga kepala dengan kedua tangannya. Matanya melirik ke arah nakas, disana ada sebuah pigura yang berukuran sedang.
Jika dilihat sekilas, pigura itu hanya menampilkan sebuah foto bangunan dengan desain canggih yang estetik.
Tapi, hanya Sky yang tau rahasia dibalik foto tersebut.
Tangan Sky pun terulur demi meraih benda itu, ia membuka piguranya dan membalik foto bangunan tersebut. Disana terdapat sebuah foto yang sengaja ia sembunyikan. Fotonya bersama Yara. Masih mengenakan pakaian putih abu-abu, mereka terlihat berpose berdua dengan senyuman cerah dan terlihat bahagia.
"Kenapa pertemuan kembali diantara kita harus sedramatis ini, Ra? Kenapa?" Sky mengelus wajah Yara dalam foto tersebut, seakan benar-benar sedang bicara pada wanita itu.
Tok Tok Tok
Sky menoleh ke arah pintu yang terdengar di ketuk dari luar. Itu pasti sang Mama yang sudah menyadari kepulangannya.
Buru-buru Sky memasang piguranya kembali. Ia tidak mau sang Mama menjadi kepikiran dengan suatu hal yang juga menyita pikirannya.
"Ma?"
"Sky, udah pulang kok gak temuin Mama?" tanya Indri, Mama Sky.
"Aku pikir Mama udah tidur, gak enak kalau ganggu." Sky memasang senyum andalannya dihadapan sang Mama.
Indri menatap sang putra. "Kamu udah makan, Nak? Biar Mama masak buat kamu, ya?" tuturnya lembut dan penuh pengertian.
"Gak usah, Ma. Aku tadi udah makan kok," jawab Sky berbohong. Ia tidak berselera makan sejak siang karena memikirkan keberadaan Yara. Sejak dulu, tidak pernah ia berlaku seperti ini pada wanita manapun, selain pada seorang Yara saja.
"Ya udah, kalau gitu istirahat ya, Sayang. Mama balik ke kamar lagi, ya."
"Iya, Ma."
Indri berlalu dan menutup kembali pintu kamar puteranya. Kendati demikian, ia dapat melihat sorot wajah Sky yang terlihat banyak pikiran.
"Semoga apapun yang kamu lakukan selalu dijalan yang benar, Sky," batin Indri mendoakan sang putra.
...*****...
"Ra?"
"Iya, Mas?"
"Kamu bilang mau kasi set perhiasan kamu buat modal usaha aku. Mana?"
Yara mengembuskan nafas pelan, ia tidak menyangka Juna menagih janjinya soal perhiasan itu di malam buta seperti sekarang. Terkesan sangat tergesa-gesa, seolah Yara akan menipunya dan tak menepati janjinya saja.
"Emang butuh sekarang banget, Mas? Ini kan udah malam, waktunya tidur. Jangan bilang kamu mau keluar lagi malam-malam gini?" tukasnya.
"Ya enggak, besok pagi-pagi mau aku bawa. Jadi, kalau bisa malam ini kamu kasih ke aku, gitu."
Tanpa kata, Yara langsung menuju lemari dan membuka rak penyimpanannya. Ia mengeluarkan kotak yang berisikan set perhiasannya kepada Juna.
"Ini, Mas."
"Udah semuanya, kan?"
__ADS_1
Yara mengangguk. "Udah, kalung sama gelangnya udah didalam situ, karena aku emang jarang pake, sih."
"Ya udah, aku pinjam dulu, ya. Nanti kalau usaha ku udah meroket, aku bakalan ganti sama yang lebih bagus dan lebih modern."
"Iya, Mas." Yara malas untuk berdebat, sekarang ia berusaha pasrah dan percaya pada Juna, semoga usaha suaminya akan berjalan lancar.
Juna baru hendak memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam tas kerjanya, tetapi pria itu kembali berbalik menuju Yara.
"Eh, kamu bilang tadi di kotak ini udah ada kalung dan gelangnya, kan?"
Yara mengangguk mengiyakan.
"Cincinnya mana, Ra?"
"Loh, cincinnya juga, Mas?" Yara langsung melirik pada jari manisnya sendiri, dimana cincin itu masih tersemat disana.
"Iyalah, masih kamu pake aja, sih!" Juna langsung meraih tangan Yara, tanpa babibu, pria itu sendiri yang melepaskan cincin pernikahan tersebut dari jari istrinya.
"Mas, cincinnya gak usah, ya?" Yara mencoba membujuk Juna, bagaimanapun itu adalah tanda bahwa ia adalah wanita yang sudah menikah.
"Kenapa? Kan, aku bilang satu set perhiasan kamu. Cincin ini kan termasuk juga, Ra."
"Iya, tapi itu kan cincinnya masih aku pake, Mas. Lagipula itu lambang pernikahan. Kalau gak pake cincin kesannya ada yang janggal, Mas."
"Halah... janggal gimana? Yang penting semua orang tau kamu itu istri aku. Gak mesti pakai cincin, Ra. Yang penting itu buku nikah."
Benar saja, baru Yara ingin memprotes soal cincin, jawaban Juna selalu bisa mematahkan kalimatnya. Inilah yang membuat Yara malas berdebat dan lebih memilih banyak diam.
"Ya udah, terserah kamu aja."
"Jangan pelit sama suami sendiri, Ra. Ini juga dari aku, kan!"
Yara pun mencoba membesarkan hati, lagipula semua set perhiasan itu juga untuk usaha sang suami, ia tidak bisa mendukung dengan banyak materi, jadi, biarlah, mungkin hal itu bisa dijadikan sebagai bentuk dukungannya kepada suaminya.
...****...
Pagi-pagi sekali Yara sudah menyiapkan Juna bekal untuk pergi bekerja. Juna selalu menyukai masakan Yara, jadi apapun ceritanya ia tidak mau melewatkan hal itu, kecuali memang dalam keadaan yang terpaksa.
"Udah semua, Mas? Gak ada yang ketinggalan?" Yara memastikan semua perlengkapan suaminya yang akan segera berangkat kerja.
"Udah. Aku pergi, ya."
Yara mengangguk dan menyalami tangan sang suami dengan takzim.
"Hari ini kamu kemana, Ra?"
"Paling nanti mau ke pasar sebentar, Mas. Soalnya isi kulkas udah habis."
"Oh..." Juna langsung beranjak, ingin menuju mobilnya yang sudah terparkir dipekarangan rumah.
Yara mengikuti langkah sang suami, ia berdiri di teras rumah sambil menatap Juna dengan tatapan ragu-ragu, seperti ada hal yang ingin ia utarakan tapi masih merasa urung untuk bicara.
"Mas, boleh gak kalau tambahin uang belanja aku?" Akhirnya Yara memberanikan diri untuk mengungkapkan kalimatnya. Suaranya sangat pelan, terdengar lirih.
Mendengar ucapan Yara, seketika itu juga langkah Juna jadi terhenti. "Kan, aku udah kasi kamu uang bulanan, Ra."
"Banyak yang mau di beli, Mas. Untuk makan kita sehari-hari juga."
__ADS_1
Juna berdecak lidah dengan raut tak senang.
"Kalau Mas gak punya uang sekarang gak apa-apa, tapi nanti kalau perhiasannya udah jadi dijual aku minta uangnya sedikit ya Mas."
"Ra? Kamu kan tau uang aku juga udah terpakai untuk ongkos kita pulang naik pesawat kemarin."
"Tapi aku gak minta pulang naik pesawat, kan, kamu yang mau, Mas."
"Aku gak punya uang lagi, Ra. Udahlah, aku telat nanti." Juna memasuki mobilnya dan menutup pintu mobil dengan cukup keras sampai Yara tersentak kaget.
Wanita itu hanya mengelus dada, ia menatap kepergian suaminya dengan mata nanar menahan airmata.
"Yara?"
Yara melihat tetangganya memanggilnya dan sudah berdiri disamping rumah.
"Ada apa, Mbak Irna?" Buru-buru Yara membuat mimik wajahnya menjadi biasa saja, padahal tadi ia ingin sekali menangis karena kelakuan Juna.
"Kira-kira, kamu tau gak ya siapa disini yang mau kerja asuh anak balita?"
Yara menggeleng. "Enggak tau, Mbak," jawabnya.
Sedetik kemudian, Yara jadi berpikir kenapa tidak dia saja yang menjadi pengasuh balita itu.
"Kalau aku aja, boleh gak, Mbak?"
"Kamu? Emang mau? Ntar suamimu marah."
"Emang kerjanya nginep ya, Mbak?" Kalau pekerjaan itu bisa dilakukan Yara tanpa sepengatahuan Juna, ia bersedia melakukannya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.
"Iya, nginep..." Wanita bernama Irna itu tersenyum kecil. "Kamu, kenapa mau kerja? Kan, kebutuhanmu udah ada yang menuhin, Ra. Gak kayak aku ini."
Yara hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Irna, sebab tak mungkin ia mengatakan bahwa uang yang diberi Juna tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Cukup untuk makan sebulan saja sudah lebih dari bersyukur.
"Atau kamu mau jadi pengasuh anak karena mau buat pancingan, ya?"
"Hah?" Dahi Yara langsung mengkerut dalam.
"Iya, mitosnya... kalau kita jagain anak orang, bisa mancing buat diri sendiri."
Yara menggaruk pelipisnya sekilas, justru dia belum berpikir untuk memiliki keturunan dari Juna sampai saat ini.
Dulu masalahnya adalah karena Yara yang belum mencintai Juna, tapi sekarang masalah itu semakin bertambah sebab sikap Juna yang semakin berbeda. Hal ini turut membuat Yara berpikir seribu kali untuk memiliki momongan.
Bersambung ....
*****
Hai teman-teman Readers, cerita ini akan terus berlanjut. Mohon dukungannya dengan vote, like, hadiah dan tinggalkan komentar kalian.❤️
Terkhusus untuk Readers setiaku, Mbak Novie, izin nama belakangnya aku pinjem ya buat nama Mamanya Sky🙏🙏🙏🙏🙏 tapi gak ada royaltinya loh ini😂 pure minjem doang✌️😅
Satu pemberitahuan lagi nih, guys, bagi yang seneng baca romansa fantasi, kisah cinta beda dunia. Othor ada update novel baru. Tentunya beda genre dengan yang ini ya....
judulnya : Tunanganku .... HANTU?
Yang berkenan, boleh dong mampir kesana dan berikan komentarnya... makasihhhh❤️❤️❤️❤️
__ADS_1