EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
51. Mencari dukungan


__ADS_3

Juna kesal setengah mati karena Yara tidak pulang ke rumah kontrakan mereka. Pikiran jeleknya langsung mendominasi diri. Menerka jika Yara tengah bersama pria lain-- yang juga telah sengaja meninggalkan bekas kecupan di dada istrinya itu.


Sampai pagi harinya, Yara yang tidak juga pulang-- membuat Juna malas melangkahkan kaki untuk datang ke kantornya. Ia pun membuat alasan sakit demi terhindar dari masalah pekerjaan.


Berulang kali ia menelepon nomor Yara semalam. Terakhir, Yara memang menjawab panggilannya namun wanita itu hanya diam tanpa menyahuti semua bujuk rayunya.


Sebenarnya apa yang tengah Yara lakukan? Kenapa panggilannya diterima tapi hanya menjawab 'iya' saja Yara tidak bisa melakukannya?


Juna teringat dengan nama Irna yang sempat menghubungi Yara sebelum Yara pergi semalam.


Dengan langkah sigap, Juna menyambangi kediaman janda beranak satu itu demi mendapatkan jawaban dimana Yara sebenarnya? Atau Yara memang menginap di rumah Irna semalaman?


"Yara gak disini, Jun. Kok nyari istrimu disini?"


"Semalam Mbak Irna kan nelepon Yara."


"Oh iya, tapi cuma nanyain soal kerjaan aja. Abis itu gak ada ngehubungi lagi," jawab Irna sejujur-jujurnya.


"Kerjaan?" Dahi Juna mengernyit dalam. "Kerjaan apa, Mbak?"


"Kan, Yara mau kerja katanya. Kamu udah ngizinin, kan? Gak nginep kok kerjaannya." Lagi-lagi Irna menjawab jujur dan terkesan polos sebab ia memang tidak mengetahui apapun perihal permasalahan rumah tangga Juna dan Yara.


"Oh gitu, ya udah, makasih mbak."


Juna kembali ke rumah dengan tangan yang mengepal erat. Jadi, Yara sudah mempersiapkan diri bahkan sampai meminta pekerjaan pada Irna? pikirnya.


Juna menyugar rambutnya dengan frustrasi. Bagaimana jika Yara sekarang benar-benar pergi dengan pria lain? Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Anton. Jawabannya hanya satu yaitu mencari dukungan dari Anton. Kakak Yara itu pasti akan meminta sang adik untuk kembali ke sisi Juna.


Akhirnya Juna pun menuju kediaman kakak iparnya.


Kedatangannya disambut Shanum dengan senyuman, tetapi juga dengan tatapan keheranan karena tak biasanya Juna tak berkerja? Apa ini masih ada kaitannya dengan pertengkaran Juna dan Yara semalam?


"Kamu gak kerja, Yang?" bisik Shanum pelan, saat Anton belum tahu kedatangan Juna ke rumah mereka.


"Gak. Aku lagi banyak masalah. Pusing," jawab Juna ketus.


"Kenapa sih? Biasa aja ngomongnya jangan kayak gitu, dong!" protes Shanum.


Tak lama, derap langkah seseorang datang dari arah berlawanan.


"Juna? Kenapa, Jun?" Anton menyapa kedatangan adik iparnya.


"Mas, Yara kesini semalam?" tanyanya.


Anton menggeleng. "Enggak, kan semalam dia pulang bareng kamu abis dari sini..." paparnya dengan tatapan heran.

__ADS_1


Shanum yang melihat raut wajah Juna yang meng-eras dan gigi bergemelatuk, langsung bergidik sekilas, lalu menyadari ada hal yang tidak beres dengan Yara karena tak biasanya Yara tak pulang begini.


"Aku bakal tanyain ini sama kamu nanti, Jun!" batin Shanum.


"Ayo, ayo, masuk dulu, gak enak kalau ngomonginnya berdiri di teras gini." Anton kembali bersuara.


Juna pun mengikuti langkah Anton yang sudah lebih dulu beranjak. Sementara Shanum menyikut lengan Juna sambil menyorotnya dengan tatapan ingin tau dan seakan bertanya 'ada apa?'.


"Nanti aku ceritain," bisik Juna, membuat Shanum merengut tapi kemudian mengikuti jejak pria itu untuk masuk kedalam rumah.


Sekarang Anton, Shanum dan Juna duduk berhadap-hadapan di sofa ruang tamu rumah sederhana tersebut.


"Coba kamu bilang ada masalah apa, Jun. Kenapa Yara bisa gak pulang dan kamu menebak dia lagi dirumah Mas sekarang?" tanya Anton memulai kalimatnya.


"Yara... Yara ada main dibelakang aku, Mas."


Seketika itu juga mata Anton membola. Bahkan bukan cuma Anton, tetapi Shanum pun sama.


"Apa maksud kamu, Juna?" Suara Anton meninggi.


"Yara selingkuh, Mas."


Anton menggeleng. "Gak mungkin. Kamu jangan asal nuduh kalau gak ada buktinya," hardik Anton.


Juna menghela nafas dalam. Ia memasang wajah kuyu dan lesu. "Kenyataannya emang gitu, Mas. Aku bahkan lihat sendiri ada kissmark di dadanya!"


Sekali lagi Anton terbelalak mendengarnya. Tidak mungkin adiknya melakukan tindakan seperti itu sementara masih ada Juna sebagai suaminya yang sah.


Kali ini mata Shanum yang membulat mendengar penjelasan Juna dihadapan suaminya. Apa-apaan ini? pikirnya.


Juna melirik Shanum takut-takut, tetapi ia harus menjelaskan hal ini pada Anton agar Anton tau bahwa dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Yara, sementara Yara malah membalasnya dengan tindakan pengkhianatan.


"Aku pikir Yara bakal senang dengan rumah yang aku tunjukin, nyatanya Yara malah minta pisah. Kita berantem, sampe aku gak sengaja lihat tanda merah di dadanya."


"... ini bukan pertama kalinya aku lihat tanda itu, Mas. Tempo hari aku juga pernah ngelihat didada Yara, tapi dia beralasan itu karena alergi salep."


Anton mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menyangka perbuatan adik perempuannya sampai sejauh ini. Mengkhianati suami yang sudah siang malam mencari nafkah untuk kehidupannya.


"Aku udah hubungi dia semalaman tapi gak diangkat, Mas. Dia cuma nerima satu kali dan semua ucapan aku cuma dianggap angin lalu."


Anton menghela nafas berat. "Jadi, apa keputusan kamu setelah melihat bukti bahwa Yara mengkhianati kamu?" tanyanya.


"Aku mau memaafkan Yara, Mas. Yang penting dia kembali ke rumah dan minta maaf sama aku secara baik-baik. Aku gak mau pisah, Mas. Aku mau tetap sama Yara."


Seketika itu juga, Shanum yang ikut mendengar perkataan Juna-- langsung berdiri dan angkat kaki dari sana, tidak peduli pada Anton yang menatap kepergiannya dengan tanda tanya besar.


"Shanum kenapa?" batin Anton. Tapi, pria itu kembali fokus pada Juna yang sedang menceritakan problem rumah tangganya dengan Yara.

__ADS_1


Anton juga sempat mendengar sendiri dari Yara bahwa Juna mulai perhitungan karena hendak membeli rumah untuk masa depan mereka. Sekarang, kenapa setelah rumahnya terbeli Yara malah berkhianat dari Juna? Apa selama ini Yara tidak bisa bersabar karena Juna perhitungan padanya-- hingga Yara malah mencari pria lain untuk memenuhi keinginannya?


Sepertinya adiknya tidak begitu, pikir Anton.


Yara terdidik sederhana dan tidak pernah mementingkan keinginan.


Suara hati Anton seperti berperang dengan kenyataan yang baru saja Juna utarakan dihadapannya.


"Mas akan hubungi Yara, biar Mas tanya dia secara baik-baik nanti. Kamu tenang aja, meski mas adalah kakak kandung Yara, tapi kalau Yara memang salah, mas gak akan mungkin membenarkan kesalahan itu."


"Baik, Mas. Aku percaya sama Mas. Sekali lagi makasih ya mas, udah mau dengerin masalah rumah tangga kami. Aku gak tau lagi mau gimana caranya biar Yara sadar, aku udah maafin dia, Mas. Yang penting kami gak pisah. Gimanapun mendiang Bapak udah amanahin Yara ke aku."


Anton menepuk pundak Juna, berusaha menguatkannya. "Sabar ya, makasih juga kamu udah mau maafin kesalahan Yara. Mungkin Yara khilaf. Nanti mas coba hubungin dia."


"Ya, Mas. Maaf udah ngerepotin."


"Gak apa-apa, kalian adik-adikku. Jadi udah sepantasnya aku mendamaikan kalian."


Juna berlalu dari rumah Anton dengan senyum terkembang. Ia senang karena akhirnya mendapat dukungan. Meski dengan hal ini ia pasti akan bertengkar dengan Shanum nantinya.


Dan dugaan Juna itu benar adanya. Tak lama berkendara menuju jalan pulang ke rumahnya, ponselnya berdering dan itu dari Shanum.


"Juna? Kamu gi la atau kenapa? Rumah itu rumah aku, Jun! Apa-apaan kamu!" sergah Shanum dari seberang sana, tidak ada kata mesra atau panggilan sayang seperti biasanya, yang ada hanya luapan kekesalan.


Juna sampai menjauhkan ponsel dari telinga sebab mendengar omelan Shanum yang terdengar tanpa jeda.


"Sabar, Yang. Aku cuma mau luluhin hati Yara aja. Biar semuanya jadi kembali kondusif," paparnya berusaha menjelaskan.


"Gak, gak! Kalau begini ceritanya kita gak bisa tinggal disana dong nanti? Kamu ingat gak, itu rumah udah di renov sesuai selera aku. Masa Yara yang bakal tinggal disana?"


Juna mendengkus pelan. "Kan aku udah bilang kamu sabar dulu. Kalo keadaannya udah kondusif, aku bakal ajak Yara pindah lagi nanti dan buat alasan lain...."


"Kalau emang Yara ngajak pisah, yaudah pisah aja, lah! Kenapa harus dibujuk, sih? Kalau Yara juga selingkuh, ya bagus dong, berarti kalian bisa bener-bener pisah. Kenapa kamu malah gak mau?"


Kali ini Juna tak dapat menjawab pertanyaan Shanum. Tidak mungkin ia mengatakan pada Shanum jawaban yang sebenarnya-- tentang ia yang sudah menyadari bahwa masih mencintai Yara--bisa makin mengamuk ibu hamil itu, pikirnya.


"Udah, kalau Yara emang gak mau balik ke rumah, nuntut pisah, kamu iya-in aja. Nanti kalau anak aku udah lahir, aku juga segera pisah dari Mas Anton!" ujar Shanum lagi dari seberang sana.


"Aku lagi nyetir, masih dijalan, nanti aku hubungi lagi," kata Juna menghindar untuk menjawab desakan Shanum yang terus menyuruhnya menceraikan Yara.


Sejujurnya, sekarang Juna semakin bingung untuk memilih.


Bersambung ...


*****


Hai temen-temen Readers, sambil nunggu novel EX untuk up, boleh mampir ke novel on going ku yang satunya lagi.

__ADS_1


Menceritakan tentang Bella bersama kedua pria kembar Felix dan Fredy. Ceritanya fantasi... tapi tetap asyik. Pasti diselipin momen manis disana. Ceritanya asli beda. Gak percaya? Mampir yuk dan jadikan favorit. 🙏



__ADS_2