
Setelah aktivitas yang membuat siang itu semakin gerah, Yara berbaring dalam pelukan suaminya di atas ran jang.
Sky tampak sibuk memantau diri istrinya, beberapa kali tersenyum karena merasa jumawa saat melihat mahakarya lukisan yang dia buat secara sengaja di bagian tubuh istrinya.
"Sky?"
"Hmm ..."
"Aku mau nanya sama kamu, tapi kamu jawab yang jujur, ya."
Sky yang masih membelai rambut Yara sambil sesekali mengendus aroma rambut istrinya itu--langsung menurunkan pandangan kemudian menatap pada manik mata wanita yang ada dalam pelukannya itu. Sky merasa obrolan ini sudah mengarah ke perbincangan yang serius.
"Apa?" tanya pria itu akhirnya.
"Seharusnya aku lebih dulu lakuin ini sebelum kita menikah, sih, tapi aku gak nyangka kalau kejadian kemarin membuat kita harus nikah secara tiba-tiba. Jadinya aku emang belum sempat."
"Emang hal apa yang mau kamu lakuin sebelum kita menikah, sayang?"
"Sky, harusnya aku memeriksakan diri ke dokter, mengenai kesehatan aku."
"Kamu sakit?" tanya Sky dengan raut yang khawatir. "Kalau kamu sakit, kita--"
Yara menggeleng, menghentikan kalimat Sky dengan meletakkan jari telunjuk dibibir suaminya. "Bukan, aku gak sakit. Tapi, aku cuma mau periksa mengenai kesuburan aja," jelasnya.
Beberapa saat hening, Sky sedang mencoba untuk mencerna ucapan Yara, beberapa detik berlalu, agaknya dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Kamu---"
"Kalau ternyata aku gak subur dan gak bisa ngasi keturunan sama kamu, gimana, Sky?" tanya Yara dengan harap-harap cemas.
Masalahnya adalah Yara takut merasai nasib seperti Nadine. Adapun satu masalah lain yakni dia juga takut gagal berumah tangga lagi, dan ini dengan Sky. Yara takut hal ini menumbuhkan sebuah faktor kekurangan dalam dirinya--meski sampai saat ini ia belum punya kejelasan mengenai hal itu.
Sky tersenyum tipis. "Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu, sayang?" tanyanya tenang.
"Dua tahun menikah sama Mas Juna, aku belum kunjung hamil. Aku gak mau ngecewain kamu."
Sky menatap mata yang yang memancarkan raut sendu. Lelaki yang baru menikahi Yara selama dua hari itu akhirnya menjawab Yara dengan sebuah pertanyaan bukan jawaban.
"Kalau ternyata aku yang gak subur, gimana? Kamu mau nerima aku? Atau justru kamu bakal ninggalin aku?" ujarnya balik bertanya.
Yara menangkup rahang tegas milik suaminya.
"Apa aku harus membenci kekurangan kamu disaat kamu mencintai kekuranganku? Apa aku harus menuntut kamu sempurna sementara kamu udah menerima aku apa adanya? Aku gak mungkin meninggalkan kamu selayaknya kamu yang selalu menjadi orang terdepan yang menunggu aku."
Senyum Sky langsung terkembang. Lalu iapun menjawab dengan mantap.
"Kalau gitu, kita jalani semuanya sama-sama. Bukannya kamu udah tau bahwa aku adalah orang yang selalu menerima kekurangan kamu. Aku udah bilang kan, yang penting itu kamu, semuanya udah lebih dari cukup."
Yara mendekap Sky saat itu juga, bersandar didada bidang pria yang sudah menjadi suaminya, merasai detak jantung pria itu yang terdengar berdetak lebih keras saat bersamanya. Demi apapun, Yara tidak akan mau melepaskan pria ini karena Sky sudah mencuri seluruh hati dan hidupnya.
"Tapi kalau aku tetap mau periksa, gimana?" tanya Yara masih dalam posisi yang sama.
__ADS_1
"Kalau itu bisa buat kamu tenang dan gak kepikiran lagi, ya udah, nanti kita sama-sama periksa. Tapi, kamu harus janji dulu, kalau misalnya hasilnya gak sesuai dengan harapan kamu, jangan pernah berkecil hati."
Yara mengadahkan wajah, sampai pandangan mata lentiknya beradu tatap dengan netra pekat milik sang suami.
"Iya, aku janji. Apapun hasilnya aku bakal tetap optimis."
"Nah gitu dong, kalau misalnya memang ada masalah, yang bisa kita obati, nanti langsung di obati dari sekarang. Tapi aku gak yakin sih ..."
"Gak yakin? Maksudnya?"
"Aku gak yakin kamu ada masalah. Aku rasa kamu baik-baik aja."
"Kok bisa berpikiran gitu?"
"Ya gak ada, feeling aja sih."
"Tapi aku tetap mau periksa, mbak Nadine juga pernah saranin aku soal ini sih."
"Oke, itu gak masalah. Kapan kamu mau periksa?" Sekarang Sky bertanya sambil mengelus-elus punggung Yara yang hanya ditutupi selimut.
"Secepatnya."
"Oke, sehabis kita bulan madu aja, ya."
Yara sedikit tersentak saat tangan nakal Sky sudah menelusup masuk ke balik selimut yang ia kenakan.
"Lama. Kalau bisa besok, itu jauh lebih baik."
"Gak, sayang. Aku gak mau kalau hasil pemeriksaan itu bakal mempengaruhi mood kamu nanti."
...~~~...
Anton berlari tergopoh-gopoh saat menerima telepon dari Juna yang mengabarkan jika Shanum hendak melahirkan.
Ia melewati koridor rumah sakit dengan perasaan cemas yang luar biasa. Meski ia sudah berusaha untuk tidak mempedulikan Shanum lagi, nyatanya mendengar kabar ini ia tidak bisa mengontrol rasa khawatir yang ada didalam dirinya.
"Gimana? Udah selesai lahirannya?" tanya Anton pada Juna-- begitu ia tiba di depan ruang operasi dimana didalam sana Shanum sedang ditindak-lanjuti.
Disana bukan hanya ada Juna, tetapi ada Pak Bayu berikut Bu Laksmi juga. Orangtua Juna itu sepertinya juga khawatir mengingat yang dikandung Shanum bisa saja adalah keturunan mereka juga.
"Belum, Mas." Juna menjawab sambil memijat pelipisnya.
"Gimana bisa Shanum jadi dilarikan ke ruang operasi? Harusnya juga dia belum melahirkan, kan?"
Anton tahu hitungan kehamilan Shanum harusnya masih 8 bulan lebih saja, belum menginjak angka 9 bulan.
Juna menghela nafas panjang. "Kata Dokter Shanum begini karena banyak pikiran, Mas," akuinya.
Anton menggeleng-gelengkan kepalanya dengan samar. Tidak masuk akal menurutnya, apalagi yang menjadi pikiran Shanum? Bukankah seharusnya wanita itu sudah bahagia dengan Juna--pria yang dipilihnya sendiri? pikir Anton.
"Pas dokter bilang harus dioperasi, ya, udah aku iyain aja. Karena katanya air ketubannya juga hampir mengering."
__ADS_1
"Selama Shanum tinggal bareng kamu, apa kamu gak pernah ngajak dia kontrol kandungan ke dokter?" tanya Anton berusaha menahan sabar.
Juna menggeleng lemah dan Anton mengusap kasar wajahnya sendiri saat melihat respon mantan adik iparnya itu.
"Astaga...." Anton mendes@h pasrah.
Ada rasa menyesal yang terselip dalam hati Anton. Kenapa selama ini ia mementingkan ego? Terlepas dari anak siapapun yang ada dalam kandungan Shanum, bukankah bayi itu tidak berdosa? Harusnya Anton tetap ikut andil dalam memperhatikan kandungan Shanum.
Entahlah, jerat emosi dan kekecewaan terkadang mengalahkan logikanya mengenai hal itu dan sekarang Anton menyesal. Jika saja itu benar adalah darah dagingnya, bagaimana Anton mempertanggungjawabkannya di depan yang Maha Kuasa? Begitulah pemikirannya.
"Dengan keluarga Ibu Shanum?"
"Ya, dokter, Saya suaminya." Masih bisa Anton berkata demikian. Tentu karena rasa tanggung jawab yang belum sepenuhnya hilang.
Juna mendengar jawaban Anton, ia pun tersenyum kecut. Ada rasa ingin ikut menimpali, tapi dia siapa? Bahkan statusnya untuk Shanum memanglah tidak jelas, pikirnya.
"Selamat ya, Pak. Istri Anda sudah selesai melahirkan. Semuanya berjalan lancar, tapi mengingat riwayat darah tinggi yang di miliki ibu Shanum, beliau masih dalam pemantauan kami pasca operasi ini dilakukan."
"Alhamdulillah..." Terdengar helaan nafas lega dari semua yang ada disana, termasuk Anton.
"Bayinya?"
"Oh, bayinya perempuan. Sehat dan cantik. Selamat ya, Pak." Dokter itu pun menjabat tangan Anton. Kemudian memberikan senyuman kecil pada Juna dan kedua orangtuanya, sebelum akhirnya sang dokter beranjak dari sana.
Proses melahirkan secara caesar sudah dilewati oleh Shanum meski tidak tepat di bulan yang seharusnya. Anton ingin melihat bayi yang dilahirkan Shanum saat semuanya sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kebetulan saat ini bayi Shanum masih di bersihkan dan dibawa ke ruangan khusus bayi.
Karena Anton mengaku sebagai suami Shanum, jelas dia yang pertama kali diberi akses untuk melihat wanita itu dan putrinya.
Sementara Juna, dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatinya mendongkol, ia ingin segera memastikan bayi itu adalah benar anaknya atau bukan. Tadi ia menelpon Anton hanya untuk memberi kabar, nyatanya pria itu justru datang ke Rumah Sakit dengan raut panik dan khawatir. Sulit dipercaya memang, atau Anton sebenarnya masih mencintai Shanum? Entahlah, pikir Juna.
Anton pun memasuki ruang perawatan, disana ia melihat Shanum yang memasang wajah lelah dan lemah.
"Selamat untuk kelahiran bayinya, Num." Anton tidak tahu mau menyebut bayi itu sebagai 'bayi kamu' atau 'bayi kita' didepan Shanum.
Shanum tersenyum tipis, hatinya tertampar keras, mendapati Anton berada didepannya untuk melihat kondisinya sekarang.
"Mas, maafin aku ya." Ada raut penyesalan diwajah pucat wanita itu. "Aku banyak salah sama kamu," tandasnya.
Anton hanya mengangguk samar, tak lama ia mulai bersuara lagi.
"Boleh aku melihat bayinya, Num?"
Shanum mengangguk, bayi itu memang baru saja diserahkan perawat padanya untuk diberi ASI.
Anton mendekat ke sisi Shanum, ia ingin menggendong bayi itu, namun gerakannya terhenti kala seseorang ikut menerobos masuk kedalam ruang perawatan itu.
"Dia anak aku, Mas!"
Kedua orang itu lantas menoleh pada Juna yang memasang wajah penuh keyakinan disana.
Bersambung ...
__ADS_1
****
1 bab lagi untuk hari ini ya gaes. Tungguin ya🥰 Tinggalkan komentarnya hayuk❤️❤️❤️❤️