EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
119. Berubah aneh


__ADS_3

Sejak tau Yara hamil, Sky semakin protektif pada sang istri. Belum lagi kebiasaan Yara yang mendadak berubah menjadi semakin aneh.


Meski wanita itu tidak mengalami mual yang parah ketika mengidam, tapi sepertinya kesabaran Sky memang harus sangat diuji sekarang.


Seperti saat ini, mereka berdua sudah bersiap untuk tidur, tinggal memejamkan mata saja, tapi kebiasaan aneh Yara tiba-tiba muncul bersamaan dengan suaminya yang hampir memasuki dunia mimpi.


"Sky, aku kepanasan. Pendingin ruangannya udah dinyalakan belum, sih?" Yara mengguncang tubuh sang suami--mengajaknya berkomunikasi disaat yang tidak tepat.


"Hmm, udah, sayang," sahut Sky dengan suara parau. Dia ngantuk berat.


"Tapi aku kepanasan, sayang. Mana remote AC nya?"


Sky tak menyahut malah memeluk tubuh Yara lagi dan kembali ingin mendatangi alam mimpi.


"Sky? Kamu kok gitu, sih? Kamu kok tega biarin aku kepanasan gini?"


Rengekan Yara akhirnya berhasil membuat Sky melebarkan mata kembali.


"Sayang, AC nya udah paling dingin ini. Masa masih kepanasan?" tutur Sky mencoba sabar.


Yara memasang wajah sendu, membuat Sky tak tega adalah keahliannya.


"Jadi gimana, dong? Ini AC nya udah suhu paling rendah, Sayang...." Sekali lagi Sky bicara dengan lembut, tapi tetap menekan setiap kata-katanya seolah tengah menahan kesabaran.


"Tega, kamu! Tega! Dulu aja sebelum kita nikah kamu lagak mau lakuin segalanya buat aku. Tapi aku ngeluh panas aja, kamu marah."


Sky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku gak marah, sayang. Tapi kalau mau resek itu kira-kira jam nya. Lihat, ini udah jam 1, Ra. Kamu bagusan tidur sekarang, kamu kan lagi hamil, jadi jangan begadang. Oke?"


Yara menatap tajam pada Sky, bahkan mata wanita itu tampak memicing ke arah suaminya.


Lagi-lagi Sky merasa serba salah. Padahal dia sudah mengatur intonasi suara agar tidak membuat istrinya tersinggung atau yang lebih parah adalah marah dan merajuk kepadanya.


"Kamu tidur ya, Sayang, ya?"


Yara malah melipat tangan di dadanya sendiri. Haisss .... tampak sangat menjengkelkan, tapi Sky yang melihat itu justru terkekeh pada akhirnya.


Pria itu lantas mengacak rambut Yara dengan gemas. "Tidur, ya? Jangan ngambek lagi. Manjanya udah ngalah-ngalahin aku, nih," godanya.


"Iya, gara-gara kamu aku jadi gini."


"Loh, kok aku?"


"Semua emang gara-gara kamu."


Hhh... Sky pun menghela nafas singkat. "Iya, iya, semua gara-gara aku. Aku yang salah. Udah ya, sekarang kamu tidur, aku kipas-kipas nih..." kata Sky yang langsung bertindak mengipasi Yara dengan jemarinya.

__ADS_1


Sky merasa ia tak bisa mendebat Yara lagi sekarang. Jika dulu ia selalu menang berdebat dan membuat Yara mengalah sebab malas beradu argumen dengannya, kini sepertinya hal itu tak berlaku lagi. Nyatanya, kini ia yang harus mengalah demi wanita yang ia cintai itu dan lagi tengah mengandung buah cinta mereka.


Melihat Sky yang mengipasinya, Yara tersenyum riang, meski itu tak berpengaruh apapun, bahkan tak menimbulkan angin yang dapat membuatnya merasa dingin, tapi dengan tindakan yang dilakukan sang suami saja--itu sudah membuat Yara bahagia. Artinya Sky punya niat untuk menurutinya dan tidak mengabaikannya.


"Sky?"


"Hmm?" sahut Sky yang sudah kembali datang rasa ngantuknya.


"Makasih ya, I love you..."


Sky tersenyum simpul. "Iya, sayang. Love you too, so much," balasnya.


Baru saja Sky ingin kembali memejamkan mata sebab melihat Yara yang sudah tampak tertidur, tapi suara Yara kembali membuatnya harus beranjak dari posisi ternyamannya itu.


"Sayang, dingin, tolong ambilkan kaos kaki aku, dong."


Yara memasang puppy eyes nya, membuat Sky kembali tak tega. Jika saja yang memintai pertolongannya malam ini bukan Yara, sudah pasti Sky akan tetap melanjutkan tidur dan tidak memedulikannya.


Tapi, berhubung ini permintaan khusus dari Kanjeng Nyai, maka Sky akan melakukannya sebab dia ingin menjadi suami siaga bagi sang istri.


Mau tak mau, Sky kembali beranjak dari tempat tidur. Kenapa sikap Yara harus absurd seperti ini sekarang? Begitulah pemikiran Sky namun buru-buru dia menepis hal itu.


Sky kembali ke ranjangg dengan membawa sepasang kaus kaki.


"Tadi kayaknya kamu kepanasan, kenapa sekarang berubah kedinginan?"


Sky pun menggeleng samar, namun kini malah fokus memakaikan Yara kaus kaki dengan motif bunga-bunga.


"Udah nyaman?"


"Udah," jawab Yara dengan wajah semringah.


"Aku udah boleh tidur, kan?"


Yara mengangguk dengan kulumman senyum, sampai ketika Sky sudah berbaring disisinya, Yara menghujani wajah tampan pria itu dengan beberapa kali ciuman sebagai ucapan terima kasihnya.


"Cintanya aku," bisik Yara ditelinga Sky.


Ah, akhirnya Sky bisa tidur dengan nyenyak malam ini, ternyata menuruti keinginan istri--meski merepotkan--tapi juga melegakan.


...~~~...


Sky sudah sibuk mengurusi undangan terkait acara resepsi pernikahannya dengan Yara yang akan dilangsungkan tak lama lagi. Dia sudah meminta seseorang untuk menyebarkan surat undangan kepada teman, relasi kerja, juga kerabat dekat.


Sebenarnya Sky ingin sekali menuruti keinginan Yara yang meminta untuk membuat resepsi secara sederhana. Tapi karena menghargai keinginan sang Mama, akhirnya mereka pasrah saat acara itu tetap harus dilakukan disebuah hotel berbintang.

__ADS_1


"Mama juga punya rekan bisnis yang mau diundang, Sky. Kerabat kita juga banyak, gak mungkin cuma buat acara kecil-kecilan dirumah," kata Indri saat Sky menyatakan keinginan itu.


Hingga akhirnya Sky dan Yara sepakat menuruti keinginan Indri saja, sebab yang dikatakan Indri memang benar adanya. Sky juga ingin semua orang mengetahui jika dia sudah menikahi Yara, agar tak ada kesalahpahaman dan kalimat menohok untuk mereka berdua-- seperti yang pernah terjadi saat mereka bertemu Diandra di Bali.


"Sayang, kamu mau undang pak Bayu dan Bu Laksmi, gak?" tanya Sky merujuk pada mantan mertua Yara.


Sky tau, orangtua Juna selama ini memang berlaku baik pada Yara. Entahlah setelah Yara dan Juna bercerai, tapi Sky berniat menawarkan untuk mengundang mereka--karena mungkin Yara memang mau mengundang mantan mertuanya itu.


"Aku gak tau, Sayang. Menurut kamu, gimana?"


"Kalau mau kamu undang sih gak apa-apa, namanya jalin silaturahmi. Tapi kalau yang kamu undang itu Juna, aku rasa gak usah, ya."


"Kenapa?" tanya Yara tak paham. Dia berpisah dengan Juna juga secara baik-baik. Setidaknya, begitulah yang ada dalam benak wanita itu.


"Aku gak bisa nahan cemburu nanti. Siapa tau dia tiba-tiba nyesel udah ninggalin kamu."


"Gak mungkin lah, Sky. Lagian kan, dia yang dulu berulah, itu artinya dia udah bosan dan muak sama aku. Jadi, kalau untuk nyesal karena masih ada rasa kayaknya gak mungkin lah."


"Ya, terserah kamu aja, Ra. Aku cuma nggak senang aja kalau ngundang mantan kamu itu."


Yara akhirnya tergelak. "Jadi intinya kamu cemburu, kan? Itu alasan utamanya?"


"Ya, iya, emang!" akui Sky pada akhirnya.


...~~~...


Kabar mengenai resepsi pernikahan Sky dan Yara akhirnya sampai kepada Juna yang memang menjadi stalker hubungan keduanya.


Hal ini lantas membuat pria itu merasa kosong secara tiba-tiba. Bukan hanya tertampar oleh kenyataan, tetapi Juna juga merasa sangat kalah langkah dari Yara.


Bukankah seharusnya Juna yang lebih dulu menikah? Kenapa Yara dan Sky mendadak nikah seperti ini?


"Yara, Yara, ternyata kalian itu emang munafik ya. Dulu aku emang selingkuh sama Shanum. Tapi pasti kamu juga udah selingkuh lama dibelakang aku, kan?" gumamnya. Lebih tepatnya, Juna berujar demikian sebab tak punya pelampiasan kekecewaan atas berita yang baru diterimanya ini.


Dulu Juna yang lebih dulu memilki pengganti Yara--bahkan sebelum mereka resmi bercerai. Tapi, kenapa sekarang malah Yara yang sudah memiliki pasangan sementara dia tak punya siapapun?


"Apa sebegitu cepat kamu melupakan aku, Ra? Apa gak pernah ada rasa kehilangan dihati kamu? Cepat sekali kamu menggantikan posisi aku dengan orang lain? Bahkan kita belum genap 1 tahun berpisah," tuturnya dengan nada frustrasi.


"Aku mau datang ke acara itu, bagaimanapun aku ingin melihat wajah-wajah pengkhianat itu. Jangan mengira aku saja yang jadi pengkhianat disini, tapi mereka juga sama."


Juna tertawa sumbang diakhir kalimatnya. Dia belum menerima jika Yara dan Sky akhirnya menikah dan mendahuluinya.


Bersambung ....


Jangan lupa dukung karya ini ya. Tap jempol, tinggalkan komentar, jangan lupa jadikan favorit❤️

__ADS_1


Meski viewers dan like di novel ini makin hari makin berkurang, othor bakal tetap semangat buat lanjutin kisah mereka. Setuju gak???


Makasih buat yang masih lanjut baca ya🙏


__ADS_2