EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
122. Meremehkan


__ADS_3

Lucky berjalan mendekat pada posisi Nadine yang tengah memomong seorang bayi perempuan. Sebuah senyuman terbit dari sudut bibirnya, namun sunggingan itu harus terhenti sampai disana bersamaan dengan langkahnya yang juga terasa melambat saat melihat jika sang istri bukan hanya bersama dengan bayi itu saja melainkan ada seorang pria yang juga berada ditengah-tengah mereka.


"Mas, kamu abis makan apa, sih? Kok belepotan gitu."


"Mana?" Pria itu mengelap sekilas sisi bibirnya tapi Nadine tampak terkekeh melihatnya.


"Bukan disitu, Mas. Agak ke kiri...."


"Mana sih?"


"Sini, sini, aku bantuin lap..." Nadine mengelap pipi kiri pria itu yang memang tampak belepotan oleh saos.


Interaksi itu--serta apa yang baru saja Lucky lihat sangat menyesakkan untuk dia saksikan. Kedua tangannya terkepal erat di kiri-kanan kanan tubuh, tapi bagai tersambar petir di tengah hari, mendadak kilasan tentang sikapnya pada Nadine selama ini---mulai bermunculan dalam benak seorang Lucky Johansen.


Ya, pada akhirnya Lucky tidak bisa marah atas semua yang baru saja ia lihat. Nyatanya, ia yang memberi Nadine kebebasan itu. Ia yang membuat Nadine-nya menjadi mandiri dan terbiasa tanpa dirinya. Bahkan ia juga yang secara tak langsung membuat hubungan mereka bak dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Benarkan? Lucky pun membenarkan hal itu dalam hatinya.


Jiwa Nadine terbentuk tegar dan kokoh karena rasa sakit yang Lucky berikan secara bertubi-tubi, hingga menyebabkan wanita itu kebal dan tidak lagi merasa tersakiti seolah sudah biasa, Nadine justru tampak bahagia sekarang.


Yang paling menyakitkan bagi Lucky adalah Nadine sudah terbiasa tanpa dia. Nadine juga bisa hidup bahagia kendati dirinya tak ikut andil dalam membahagiakan wanita itu.


Sekarang kedua orang yang berdiri tak jauh dari Lucky itu malah terkikik dengan akrab. Agaknya Nadine dan pria--yang tidak Lucky kenali itu--belum menyadari keberadaannya.


"Nad?"


Keduanya sontak menoleh serentak. Lucky melemparkan senyum sendu ke arah wanita yang masih berstatus istrinya itu, tapi Nadine memasang senyum sinis meski ada guratan terkejut saat mendapati Lucky ada di Indonesia sekarang--tepatnya ada di hadapannya.


"Kamu ngapain disini, Mas?" tanya Nadine dengan intonasi malas. Lucky menebak, jika Nadine tak senang dengan kehadirannya disini.


"Ini anak yang mau kamu adopsi, Nad?" Buru-buru Lucky mengalihkan pertanyaan, mungkin dengan membahas sang bayi mood Nadine akan membaik.


"Aku gak mengadopsi Elara, Mas."


"Kenapa?"


"Karena aku udah menjadi bunda untuk dia tanpa perlu proses adopsi."


Lucky tak lagi menanggapi perkataan Nadine yang ambigu. Ia beralih menatap pada pria yang berdiri tepat disamping Nadine-nya.


"Dia ... siapa, Nad?" Rupanya Anton yang lebih dulu menanyai Nadine-- membuat Lucky ingin memamerkan siapa dirinya sekarang.


"Saya Lucky, suami Nadine."


Lucky dapat melihat raut wajah pria itu yang berubah pias. Jangan lupakan tentang ekspresi kagetnya yang juga muncul sesaat Lucky menyatakan status dirinya. Sekarang Lucky dapat berbangga diri sebab posisinya adalah pemilik Nadine yang sesungguhnya. Dia menatap pria asing itu dengan tatapan pongah dan meremehkan.

__ADS_1


"Pria berandal dan pasaran seperti ini mana mungkin bisa menggantikan posisiku dalam kehidupan Nadine. Jangankan menyamakanku, setengah dariku saja tidak akan terlampaui oleh pria seperti dia." Lucky meremehkan Anton dalam hatinya.


"Sekarang, aku yang tanya sama kamu, Nad. Dia siapa?" Lucky menunjuk Anton dengan dagunya.


"Saya ayahnya Elara." Anton yang menyahut pertanyaan Lucky.


Mendengar itu, sudut bibir Lucky tertarik smirk. Jadi pria ini adalah ayah dari sang bayi yang kini di gendong oleh istrinya?


"Bisakah anda ambil bayi itu sebentar, saya mau bicara penting dengan ISTRI SAYA." Lucky menekankan kata terakhirnya.


"Mas!!" Nadine mencoba protes, namun Anton mengangguki permintaan Lucky dan langsung mengambil alih Elara dari gendongannya.


"Biarin Elara sama aku, Mas." Kali ini Nadine bicara pada Anton, dia tak mau dijauhkan dari Elara hanya karena kehadiran Lucky.


"Kamu bicara dulu sama suami kamu, Nad..." ujar Anton.


...~~~...


"Kamu bicara dulu sama suami kamu, Nad..." ujar Anton.


Nadine dapat melihat wajah Anton yang berubah pias sejak Lucky menyatakan mengenai siapa dirinya. Nadine tak tau apa pemikiran Anton mengenai hal ini tapi dari caranya yang langsung mengambil alih Baby Elara--dapat dipastikan jika Anton ingin memberinya ruang dan waktu agar bisa bicara empat mata dengan Lucky.


"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kalau kamu mau bicara, silahkan hubungi pengacaraku. Seharusnya kamu udah menerima kabar dari beliau, kan?" sarkas Nadine pada Lucky.


Nadine membuang pandangan dari tatapan Lucky yang memandanginya. Kemudian dia melirik Anton yang sudah sibuk bermain dan mengoceh pada Baby Elara. Melihat itu, hati Nadine kembali merasa damai.


"Aku mau bicara sama kamu, Nad. Aku mohon."


"Gak, Mas...."


Anton sendiri masih bisa mendengar perdebatan antara Nadine dan Lucky, hanya saja dia tak mau mencampuri urusan keduanya. Anton merasa dia hanyalah orang asing disini.


"Kita harus bicara, Nad! HARUS!" Lucky menyentak tangan Nadine dan berniat menariknya untuk membawa sang wanita keluar dari area ballroom.


Melihat hal itu, emosi Anton justru tersulut, ia yang awalnya tak mau ikut campur justru tak kuasa menahan diri saat merasa Nadine mendapatkan pemaksaan seperti ini.


"Kalau Nadine gak mau bicara, sebaiknya anda tidak perlu memaksa dia!" tukas Anton tajam.


Lucky terkekeh meremehkan. "Anda siapa? Jangan campuri urusan saya dengan istri saya. Mengerti!"


Setelah mengucapkan itu, Lucky benar-benar membawa Nadine dengan pemaksaan. Nadine pun akhirnya memilih pasrah, dia tak mau membuat keributan di resepsi pernikahan Yara.


Saat hampir meninggalkan Ballroom, masih sempat Nadine melihat pada Anton yang juga tengah menatapnya-- tanpa bisa berbuat lebih--sebab Lucky memanglah masih berstatus suami dari wanita itu.

__ADS_1


"Kamu mau apa, Mas?"


"Jadi dia kandidat untuk menggantikan aku, Nad?"


Nadine mendengkus dengan pertanyaan Lucky yang terkesan mengejek itu.


"Nad, kalau kamu mau bercerai dari aku, kamu pikir-pikir lagi sebelum kamu menyesalinya nanti."


"Aku gak akan nyesal, Mas."


"Kamu lupa, siapa yang masih menanggung biaya hidup kamu sampai hari ini kalau bukan aku?"


Nadine menggeleng. "Aku udah lama gak pakai uang kamu lagi, Mas," ujarnya tenang.


Lucky tertawa sumbang. "Jangan sombong, Nad! Meskipun kamu gak pernah menarik lagi uang yang aku kirimkan setiap bulan, tapi coba kamu pikir lagi, darimana uang tabungan yang saat ini kamu gunakan sebagai biaya hidup? Itu juga dari hasil Butik sama Bridal yang aku kasih ke kamu!"


Nadine diam membeku, memang ucapan Lucky ada benarnya juga, tapi di Butik dan Bridal yang pria itu beri untuknya--tetap saja jika disana Nadine telah bekerja keras dan bukan hanya ongkang-ongkang kaki.


"Kamu tau gak, Mas... meskipun semua fasilitas yang kamu kasi ke aku bakal kamu tarik suatu saat nanti, aku gak peduli. Aku udah bilang kan, kalau Butik dan Bridal juga bakal aku kembalikan ke kamu."


Lucky tak habis pikir dengan perkataan Nadine sekarang. Tampaknya wanita ini benar-benar kokoh dan tetap pada pendiriannya untuk bercerai dari Lucky.


"Uang tabungan aku emang berasal dari keuntungan Butik dan Bridal yang kamu kasih, Mas. Tapi aku rasa itu impas, karena itu adalah murni dari hasil kerja keras aku yang mengembangkan usaha itu. Jadi, anggap aja itu adalah gaji aku yang udah kerja keras ditempat usaha milik kamu."


"Nad, jadi kamu tetap gak mau berubah pikiran?"


"Enggak," jawab Nadine lugas.


"Kamu bakal nyesal, Nad. Apalagi pilihan pria kamu yang seperti itu," kata Lucky merujuk pada Anton yang ia yakin sebagai pria yang akan menjadi penggantinya dalam kehidupan sang wanita.


"Jangan lagi kamu meremehkan Mas Anton, Mas. Dia seribu kali bahkan sejuta kali lebih baik dari kamu."


"Hahaha... benarkah? Kok aku ragu ya jika dia juga baik dalam hal keuangan. Lihat, penampilannya aja gak cocok banget sama kamu, Nad!"


"Don't judge him! Aku gak suka. Kamu tunggu aja surat perceraian kita, Mas. Sepertinya itu akan selesai sebentar lagi."


Lucky kembali mengepalkan tangannya dengan erat. Dia juga mengumpat dalam hati.


"Ah, ya, satu lagi.... sertifikat butik dan bridal juga bakal kamu terima kok, mas. Tenang aja. Aku gak bakal nuntut harta gono-gini.... kamu nikmati aja harta kamu itu bareng istri muda kamu. Kebahagiaan aku bukan hanya sebatas harta dan uang, Mas. Aku butuh lebih dari itu, karena yang aku nikahi bukan harta kamu!" tukas Nadine sangat menohok.


Lucky langsung tertunduk, dia malu untuk menatap pada wajah Nadine sekarang. Dia pun merasa aneh pada dirinya sendiri sebab dia memang tak biasa menjengkali hidup orang lain, hanya saja melihat Nadine bersama pria lain membuat hatinya mendongkol--- sampai bertindak dengan meremehkan seseorang.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2