
Anton menatap Yara yang baru saja masuk dan duduk dihadapannya. Tatapan pria itu tampak tenang tapi Yara yakin jika sang kakak sudah mengatur kata-kata untuk menginterogasinya.
Shanum yang melihat itu juga ikut mendudukkan diri disisi Anton. Ia akan pasang badan jika memang pendapatnya nanti bisa menguntungkan. Tentu saja yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, pikir Shanum.
"Dek, ada yang mau mas tanyain tapi Mas harap kamu jujur."
Yara mengangguk, ia melirik Shanum sekilas dan kakak iparnya itu melempar senyum yang seolah menguatkannya. Apa Shanum mendukungnya sekarang? Sementara Anton? Apa sang kakak justru mendukung Juna? Tiba-tiba hal itu terpikir di benak Yara.
"Pagi tadi, Juna mampir kesini. Dia udah cerita problem rumah tangga kalian yang menyebabkan kamu gak mau pulang semalaman."
"Mas Juna cerita apa aja sama Mas?" tanggap Yara, tapi Anton mengadahkan tangan sebagai isyarat jika dia tidak mau sang adik memotong ucapannya.
Yara kembali diam. Sejujurnya ia takut dan merasa dihakimi oleh kakaknya sendiri, tapi ia harus menghadapi ini cepat atau lambat.
"Kamu gak perlu nanya dulu, dek... kamu akan mas kasi kesempatan untuk jawab, saat nanti perkataan Mas udah selesai."
Yara kembali mengangguk, sekali ini ia menelan saliva dengan berat demi membasahi kerongkongannya yang tercekat, ia berharap dapat menjawab pertanyaan Anton yang akan segera didengarnya sebentar lagi.
"Kata Juna, dia udah beli rumah baru untuk kalian. Itu artinya usaha nabung Juna berhasil, kan? Kenapa kamu malah minta pisah?"
Yara terkesiap, jadi Juna hanya menceritakan tentang itu? Ya, Yara pun sudah menebak jika Juna mana berani membuka belangnya dihadapan Anton.
"Apa kamu minta pisah karena ada pria lain, dek? Kamu mengkhianati Juna, iya?" papar Anton kemudian.
"... Mas gak tau kenapa kamu bisa jadi seperti ini. Awalnya mas gak mau percaya, tapi Juna mengatakan bahwa dia melihat bukti perselingkuhan kamu. Mas harus apa, dek? Apa mas harus bela perbuatan kamu yang salah?" lirih Anton menatap Yara dengan nanar. Ada kekecewaan yang mendalam disana.
Yara menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia tau kakaknya sudah termakan hasutan Juna. Andai kemarin ia punya kesempatan untuk berbicara lebih dulu pada sang kakak mengenai keburukan Juna, pasti Anton lebih dulu mempercayainya. Sekarang, Anton pasti bingung harus mendukung siapa sebab merasa Yara yang paling bersalah disini.
"Jujur aja dek, Mas malu kalau tingkah kamu seperti ini. Suami kamu bela-belain nabung buat beli rumah impian kalian, kamu malah berpaling. Kamu mikir dong, dek!" Kali ini perkataan Anton jelas-jelas menyalahkan Yara, membuat wajah Yara memerah menahan kekesalannya pada Juna.
"... sekarang, coba kamu jawab Dek. Pertama, kenapa kamu minta pisah? Kedua, apa gak ada jalan keluar lain selain berpisah? Dan ketiga, apa benar kamu udah selingkuh? Coba kamu jelaskan sama Mas, sekarang!"
Yara menarik nafas dalam. Kemudian menatap ke wajah sang kakak dengan tatapan yang dalam. Disaksikan oleh Shanum, Yara pun mulai berkata-kata.
"Ya, Mas. Yara bakal jawab semuanya. Semua yang Mas gak tau. Semua yang ditutupi sama Mas Juna. Termasuk semua yang gak Mas Juna ceritain ke Mas Anton."
__ADS_1
Anton membalas tatapan sang Adik, ia tahu dan dapat menilai kesungguhan Yara sekarang.
"Pertama, Yara memang minta pisah. Alasannya karena Mas Juna yang lebih dulu berselingkuh. Kalau Mas gak percaya, Yara punya buktinya dan bisa nunjukin sama Mas sekarang juga. Kedua, jalan keluar yang Yara pilih memang berpisah, karena gak ada tempat dalam hidup Yara buat seorang suami yang udah berselingkuh."
Mendengar itu rahang Anton langsung mengeras. Ia tidak menyangka hal inti ini lah yang justru ditutupi oleh Juna.
"Mana buktinya?"
Yara meletakkan ponselnya ke hadapan Juna. Ia menunjukkan foto-foto dimana Juna makan bersama seorang wanita, hingga berakhir dengan memasuki sebuah kamar hotel. Semua bukti itu memang sudah dikirim Sky ke ponselnya.
"Breng sek!" umpat Anton geram.
Bersamaan dengan itu, Shanum yang sedari tadi ada disana ikut menciut melihat kemarahan suaminya.
Bagaimana jika Anton tau bahwa perempuan selingkuhan Juna adalah istrinya sendiri? Shanum langsung merasa ketakutan.
Shanum sempat melirik ke arah ponsel Yara yang menampilkan foto-foto kebersamaan Juna dengan seorang wanita yang tentu saja sangat Shanum kenali-- sebab itu adalah dirinya sendiri.
"Itu kan waktu aku sama Juna di Argaduta Hotel. Astaga, jadi Yara melihat kami waktu itu? Untung aku pakai hoodie jadi sampai sekarang Yara gak sadar kalau itu aku." Kembali Shanum membatin dengan perasaan mendadak was-was.
Anton mendengkus keras, apalagi ia merasa wanita yang ada didalam foto itu terlihat tidak asing baginya.
Yara menggeleng lemah. "Yara gak tau, Mas. Penampilannya aja kayak gitu," kata Yara.
Untuk beberapa saat, Anton diam seakan tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu belum jawab pertanyaan yang ketiga, dek, apa benar kamu juga udah selingkuh?" Kembali Anton membahas hal utama dalam permasalahan ini.
Yara menggigit bibirnya. "Yara gak akan bilang kalau yang Yara lakuin itu untuk membalas perselingkuhan mas Juna," akuinya.
"Tapi, benar, Mas. Yara memang udah selingkuh juga. Jadi...."
Belum selesai Yara mengutarakan kalimatnya, Anton langsung berdiri dari duduknya.
"Jadi? Dek ... kamu sadar gak apa yang kamu ucapin barusan?" Intonasi suara Anton langsung meninggi. Padahal, tadi pria itu tampak menahan sabar, hal itu tidak berlaku lagi sebab telah mendengar Yara mengakui kesalahannya.
__ADS_1
Sekali lagi Yara mengangguk. "Yara emang salah, Mas. Yara ngaku salah ..."
Jika saja Anton tidak ingat bahwa Juna juga telah menyelingkuhi adiknya, atau jika hanya Yara yang melakukan hal seperti ini, sudah pasti tangannya akan melayang kemudian mendarat di pipi mulus adik perempuannya itu.
"Udah, Mas. Yara kan udah ngaku. Jadi, disini udah jelas kalau mereka sama-sama salah. Lebih baik mereka memang segera pisah, Mas." Shanum ikut menimpali dengan raut gugup, bagaimanapun ia takut pada kemarahan Anton.
Anton langsung mendelik mendengar ujaran istrinya. "Kenapa harus pisah? Justru karena sama-sama salah, mereka harus bisa saling memaafkan!" tukasnya tegas.
Mendengar itu Yara terperangah. "Gak, Mas. Yara gak mau," jawabnya lantang.
"Kenapa, Dek? Juna aja udah mau maafin kamu. Kalian sama sama salah, kan? Kamu juga harus belajar memaafkan dia."
Yara menggelengkan kepalanya secara berulang. "Sampai kapanpun Yara gak mau, Mas. Karena Mas Juna udah terlalu banyak membohongi Yara."
"Kalau emang keputusan kamu gitu, kamu harus tegas, Ra!" kata Shanum lagi.
Anton menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. "Kenapa kamu sangat mendukung Yara dan Juna berpisah?" tanyanya.
Seketika itu juga Shanum terdiam, ia kehabisan kalimat. Ingin berlagak membela Yara, tapi disini Yara juga salah, pikirnya. Sebenarnya keputusan Anton untuk mendamaikan Yara dan Juna adalah yang paling tepat mengingat keduanya sama sama salah, tapi karena Shanum pun menginginkan pernikahan mereka bubar, maka ia ikut ambil kesempatan dan angkat suara.
"Disini Yara dan Juna sama-sama salah. Rumah tangga itu harus saling mengalah. Jangan mementingkan ego. Jika masih bisa diperbaiki, maka harus diperbaiki. Mudah-mudahan di kedepan hari mereka jadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," papar Anton panjang lebar.
Yara paham, kakaknya hanya ingin yang terbaik untuknya. Tapi, saat ini bagi Yara yang terbaik adalah berpisah. Apa itu salah?
"Yara gak bisa, Mas. Maaf, ini rumah tangga Yara. Dan Yara udah memilih untuk berpisah."
"Apa ini karena kamu udah terpikat sama pria lain itu, dek? Jangan utamakan naf su. Ini hanya cobaan untuk rumah tangga kalian," ujar Anton mencoba menasehati sang adik.
"Yara gak bisa, Mas. Maaf, Yara pergi sekarang..."
Yara pun ingin beranjak dari kediaman Anton, membuat pria itu terkejut dengan ke-keras-kepala-an adiknya.
"Ini memang rumah tangga kamu, dek. Kalaupun kamu memilih berpisah, keputusan itu mutlak pilihan kamu!" seru Anton.
"... tapi, Mas gak akan pernah dukung hubungan kamu sama pria lain yang udah menjadi orang ketiga dalam rumah tanggamu dan Juna! Ingat itu, dek!" tukas Anton membuat Yara tertegun dalam posisinya.
__ADS_1
Bersambung ....
******