EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
46. Melihat tanda itu


__ADS_3

Pada akhirnya, Yara harus pasrah saat tidak jadi mengadukan tingkah Juna kepada Anton, itu semua dikarenakan pria yang masih berstatus suaminya itu terus mendesaknya untuk pulang.


Sebenarnya Yara tidak mau pulang bersama dengan Juna, tapi karena tak mau membuat keributan dirumah sang kakak, mau tak mau Yara mengikutinya saja.


Di lain sisi, Shanum menatap kepulangan Yara dan Juna dengan perasaan dongkol. Kenapa Juna harus buru-buru mengajak Yara pulang, padahal pria itu pun baru saja tiba dikediamannya dan Anton?


Jauh didalam lubuk hati Shanum, sebenarnya ia merasa senang dengan Yara yang sudah mengetahui perselingkuhan Juna.


Shanum amat bahagia karena kini mereka bertengkar. Dengan begitu, Juna dan Yara bisa berpisah lebih cepat dari perkiraannya. Ia sudah tidak sabar menanti saat itu tiba, dimana ia bisa memiliki Juna sendirian, tanpa ada nama Yara lagi diantara mereka.


Setelah keduanya benar-benar berpisah, maka Shanum pun akan dengan mantap meminta perpisahan dari Anton, tentunya sampai menunggu hari kelahiran bayinya.


Sementara itu, sekarang, Yara sudah duduk bersisian didalam mobil yang sama dengan Juna. Tidak satupun kata yang keluar dari bibir wanita itu, pandangannya lurus ke depan tanpa minat untuk melirik Juna sedikitpun.


Lain halnya dengan Juna, ia mencuri-curi pandang pada wanita disebelahnya. Wanita itu masih sah menjadi istrinya. Tapi, ada satu hal yang masih membuat Juna penasaran sampai hari ini.


"Jam itu beneran punya kamu? Bagus, ya. Belinya dimana?" Juna memulai basa-basinya.


Yara yang mendengar itu pun berdecak lidah. "Pertanyaan kamu gak bermutu banget," katanya malas.


Juna menarik sudut bibirnya, setidaknya Yara masih mau menyahuti pertanyaannya meski jawaban wanita itu kerap mematahkan apapun kalimatnya.


"Oh iya, kita ke rumah yang baru aku beli ya, memang masih sedikit berdebu karena didalamnya aku renovasi ulang."


"Maaf, Mas. Aku gak minat."


"Ayolah, Ra. Aku cuma mau ngebuktiin sama kamu kalau gak semua kata-kata aku itu bohong, aku memang beli rumah untuk kita."


Yara memutar bola matanya, tapi jauh didalam pemikirannya ia juga penasaran dengan rumah yang telah Juna beli. Hanya penasaran saja, tidak lebih. Yara hanya ingin tahu apakah benar Juna sudah membeli rumah baru? Perlu digarisbawahi, bahwa ia hanya ingin membuktikan hal itu, bukan tergiur dengan adanya rumah tersebut.


Melihat Yara diam, Juna makin semangat untuk mengemudikan mobilnya menuju sebuah kawasan perumahan-- dimana rumah barunya berada.


"Rumahnya yang itu, sayang!"


Sebelum benar-benar sampai, Juna sudah lebih dulu menunjuk sebuah rumah yang dia maksud-- agar Yara dapat melihatnya.


Yara hanya menatap datar, tidak tertarik, ia belum percaya jika itu adalah rumah yang dibeli Juna, sebab sangat sulit bagi Yara untuk mempercayai Juna lagi. Bisa saja ini adalah tipu daya Juna untuk menggoyahkan niatnya.


"Ayo turun, Ra!"


Juna membukakan pintu untuk Yara. Hal yang sudah lama sekali tak dilakukannya, bahkan Yara lupa kapan terakhir kali ia mendapat perlakuan ini dari sang suami.


Mereka pun masuk dengan kunci yang dibawa Juna.

__ADS_1


Harus Yara akui, rumah itu memang cukup besar, barang-barang didalamnya terbilang elite dan unik. Yara sampai tak yakin jika ini benar rumah yang Juna beli dari hasil gaji pria itu.


"Gimana? Kamu suka gak sama rumahnya?"


Untuk kedua kalinya, Juna memberikan pertanyaan yang sama tetapi kepada wanita yang berbeda. Tempo hari dia juga menanyakan hal serupa pada Shanum dan hari ini pada Yara.


Yara mengangguk samar. "Bagus," katanya jujur.


"Kita tinggal disini kalau renovasinya benar-benar udah selesai. Gimana?"


Yara menatap Juna dengan senyuman sinis. "Kamu yakin rumah ini udah kamu beli? Jangan-jangan ini rumah selingkuhan kamu lagi," katanya mencibir.


"Sayang, aku serius, rumah ini udah aku beli. Sertifikatnya juga udah ada sama aku, kok."


"Berarti gaji kamu besar banget ya, Mas? Dalam tempo dua tahun, kamu bisa beli rumah besar gini..."


Juna menelan salivanya dengan berat. Sebenarnya, selain mengumpulkan uang dari gajinya, ia juga sering mendapat bonus apabila pekerjaannya bagus dan perusahaan tempat kerjanya sedang mele dak karena berhasil mencapai target. Belum lagi uang lembur yang ia hasilkan. Semua itu tidak pernah ia berikan pada Yara bahkan sejak awal pernikahan dan ketika hubungan mereka masih baik-baik saja.


"Ya, gak besar-besar banget lah, Ra. Udahlah, yang penting ini rumah baru yang udah aku beli untuk kita berdua dan aku udah buktiin bahwa aku gak bohong sama kamu."


Yara malah tertawa sumbang. "Yakin kamu untuk kita berdua?" sarkasnya.


Juna memilih diam, sebab ucapan Yara yang selalu mematahkan kalimatnya kali ini benar-benar membuatnya tersudut.


Glek...


Juna sampai kehabisan kata-kata. Ya, mau bagaimana. Kata-kata Yara itu memang ada benarnya. Sebab, jika nanti Yara mau memaafkannya dan ia tidak bisa meninggalkan Shanum apabila Shanum benar-benar melahirkan anaknya-- maka ia memang berniat menyatukan mereka dalam satu rumah yang telah ia miliki ini. Walaupun entah bagaimana caranya nanti.


"Jangan serakah, Mas!" kata Yara seolah bisa membaca pikiran Juna. "Aku juga gak minta biar kamu pilih, kok. Kalau kamu masih senang sama kebiasaan kamu yang gak cukup dengan satu orang wanita, maka sebaiknya kamu lepasin aku!" tandasnya.


"Gak gitu, Ra..."


Juna memegang kedua pundak Yara, mencoba menyelami kedalam mata kecokelatan milik sang wanita. Juna sadar Yara adalah wanita yang cantik, apabila ia melepaskannya, pasti ada banyak pria yang menunggu untuk menggantikan posisinya.


Tidak, ia tidak mau hal itu sampai terjadi.


Hanya membayangkan hal itu saja, kepala Juna rasanya kembali pening karena dipenuhi api kecemburuan.


Juna terlarut kedalam mata lentik dan bening milik istrinya, lambat laun, ia memangkas jarak, ingin melabuhkan kecup cinta miliknya di bibir ranum sang istri. Sayangnya, Yara langsung mendorong dada pria itu.


"Kenapa kamu nolak aku, Ra?" protesnya.


"Kamu masih tanya kenapa, Mas? Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu masih minta hal ini sama aku? Minta aja sama simpanan kamu!" ketus Yara tak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Yara!!!" Juna meninggikan suaranya, ia selalu kalap jika mendengar Yara yang sudah berani menantangnya.


"Gimanapun juga, kamu masih istriku, Ra!"


Yara pun mundur ke belakang saat melihat Juna yang ingin merengkuhnya.


"Aku gak mau disentuh sama kamu lagi, Mas!"


Juna tak mengindahkan kata-kata Yara. Baginya, wanita itu masih berstatus istrinya. Memang Yara meminta pisah tetapi ia tak pernah mengucapkan kata yang sama didepan sang istri.


Juna menangkap tubuh Yara, seperti anak ayam yang sudah berada dalam tangannya, ia tidak membiarkan wanita itu terlepas begitu saja.


Juna tahu saat ini Yara sangat keras kepala. Emosi dan kekecewaan lah yang membuat Yara sekeras ini.


Dengan menghabiskan malam bersama, mungkin akan membuat pikiran Yara terbuka mengenai status mereka, sebab cara baik-baik sudah Juna tempuh tetapi wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya.


Juna mendorong Yara sampai terjatuh tepat di sofa yang ada disana.


Srekkkk...


Karena kekasaran sikapnya, Juna sampai membuat baju Yara robek begitu saja.


"Kamu gi la, Mas? Ini namanya kamu mau per ko sa aku!" lirih Yara dengan wajah sendu dan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu refleks menutup diri dengan mendekap tubuhnya sendiri.


Juna tersenyum miring. "Gak ada yang namanya suami per ko sa istri, Yara!" katanya mantap.


Baru saja Juna ingin mengungkung tubuh Yara dengan tubuhnya sendiri, tapi disaat bersamaan matanya terbelalak karena mendapati tanda merah lagi di dada istrinya.


Juna menarik diri. Ia menatap Yara dengan nyalang.


"Apa ini, Ra?"


Yara terkesiap, ia sadar bahwa saat ini Juna kembali mendapati jejak kissmark yang ditinggalkan Sky dengan sengaja di dadanya.


"Jangan bilang ini karena digigit semut lagi, Ra!" sentak Juna dengan kilatan amarah yang sangat kentara.


Bersambung ....


****


____


Aku udah triple up lagi... mana nih vote Seninnya biar aku makin semangat up... hihihihi mau malak sesekali gak apa-apa ya✌️😅 peace

__ADS_1


__ADS_2