
Prosesi pemakaman Shanum hari itu berjalan lancar meski cuaca terasa sangat terik.
Berbagai ucapan belasungkawa diterima Anton hari ini atas meninggalnya Shanum yang dianggap masih lah sebagai istrinya.
Sky banyak membantu kakak iparnya dalam segala hal mengenai pengurusan jenazah Shanum. Sementara Yara, ia tidak bisa ikut mengantarkan Shanum sampai ke liang lahat karena dia disibukkan dengan aktivitas baru yaitu mengurus Baby Elara dikediaman Anton. Bayi itu terus saja menangis seakan tau kepergian ibunya.
"Yara..."
Wanita itu menoleh dan mendapati Sharla ada disana.
"Maafin mbak ya, mbak udah salah sangka."
"Mbak gak perlu minta maaf sama aku, tapi sama Mas Anton, karena mbak udah salah dan menuduh dia kemarin."
Sharla mengangguk kecil. "Mbak tau Anton pasti kecewa sama Shanum. Apa Anton udah memaafkan Shanum?"
"Aku enggak tau, Mbak." Yara kembali menggendong Baby Elara yang terus saja menangis.
"Sini, mbak bantu gendong Elara."
Yara menurut dan menyerahkan bayi itu pada Sharla dengan harapan sang bayi bisa sedikit tenang karena dia sangat kasihan pada Elara yang menangis kencang.
"Sayang, ini bukde. Jangan nangis ya, nak... cep cep cep," momong Sharla pada bayi cantik itu.
Yara sedikit lega karena akhirnya Baby Elara mulai tenang perlahan-lahan. Mungkin Sharla memang lebih berpengalaman menenangkan bayi, ketimbang dirinya. Begitulah pemikiran wanita itu.
"Apa Anton bisa jaga Elara? Mbak gak yakin dia bisa ngejaga Elara," kata Sharla sembari mengayun-ngayunkan tubuh mungil sang bayi agar semakin mengantuk.
Yara menarik nafas panjang. "Aku yakin mas Anton pasti bertanggung jawab soal Elara, dia juga menyayangi Elara."
"Tapi, apa gak lebih baik Elara sama Mbak aja? Anton pasti kerepotan jaga dia."
"Kalau soal itu, mbak tanyakan aja sama mas Anton. Aku gak berhak kasi keputusan, mbak."
Sementara itu, beberapa orang dari pemakaman juga sudah kembali ke kediaman masing-masing setelah prosesi itu selesai.
"Dek, Elara gimana?" Anton sedikit menyibak gorden kamar untuk menanyakan keadaan putrinya, rupanya dia mendapati ada Sharla juga disana. Tampaknya, Yara dan Sharla tengah berbincang cukup serius.
"Udah anteng kok, Mas."
Anton mengangguk sekilas kemudian berlalu ke arah belakang rumah.
"Mbak akan bahas ini sama Anton, menurut kamu gimana, Ra?"
"Ya, mbak coba aja. Mas Anton pasti tau kalau niat mbak itu baik dan mau menolong dia untuk menjaga Elara."
...~~~...
Sementara disana, Juna terisak diatas tanah pemakaman Shanum. Ia sempat datang ke rumah Anton yang menjadi rumah duka. Tetapi, sampai di pekarangan, Juna memutuskan untuk kembali sebab ia sangat malu untuk menunjukkan wajah ketika sempat melihat ada Yara dan Sky juga di tempat itu.
Juna belum mengetahui jika Yara dan Sky telah menikah, yang ia tau adalah Yara memang menjalin hubungan kembali dengan Sky sekarang.
Tadinya, Juna hanya bisa melihat proses pemakaman dari jarak jauh dan itu membuatnya merasa menjadi lelaki paling pecundang di dunia ini.
Sampai akhirnya, rombongan pelayat serta para penggali kubur sudah meninggalkan area makam, barulah Juna beringsut untuk menziarahi tempat pembaringan terakhir dimana pusara Shanum berada.
__ADS_1
"Shanum .... maafin aku, Num!" tangis pria itu pecah dan cukup histeris. Melihat tanah basah dihadapannya, perasaan menyesal itu kembali hadir. Ia tidak kuasa membendung kesedihannya. Kenyataan ini begitu menohok sampai ke relung hatinya yang paling dalam.
Juna terduduk disana, memeluk batu nisan bertuliskan nama Shanum. Tersengguk-sengguk pilu, meratapi, juga tak luput menyalahkan diri. Bagaimanapun, Shanum pasti banyak pikiran dan stress karena dia. Dia juga tidak berusaha melakukan yang terbaik bagi Shanum diakhir hidup wanita itu.
"Num, aku harap ini cuma mimpi, Num."
Bahkan Juna amat menyesal, ia tak bisa melihat wajah Shanum untuk yang terakhir kalinya. Juna merasa rapuh dan tidak memiliki semangat lagi. Apakah ia layak diberi kehidupan kedua tanpa Shanum? Atau justru lebih layak menyusul Shanum?
...~~~...
"Sayang, bulan madu kita, boleh ditunda dulu?" Yara meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku sembari berbicara pada suaminya.
"Kalau menurut kamu gitu, ya udah, kita tunda aja dulu," jawab Sky.
Yara berderap dan duduk disebelah Sky yang lebih dulu bersandar di headboard tempat tidur. Ia meraih sisi wajah Sky untuk dapat melihat dengan jelas-- bagaimana tanggapan sang suami mengenai keinginannya ini.
"Aku kasihan sama Mas Anton, kalau kita pergi, siapa yang bantuin dia jaga Elara."
Sky berusaha menyunggingkan senyum tipis, meski itu terasa sulit.
"Ya, gak apa-apa, Ra. Aku ngerti, kok," ujar Sky mencoba memahami kondisi Yara sekarang.
Yara tau, meski Sky berkata demikian tapi jauh didalam lubuk hati pria itu pasti menaruh kecewa atas keputusannya. Tapi, ia pun tidak bisa meninggalkan Anton begitu saja lagipula ini masih dalam suasana berduka. Mungkin Yara tidak terlalu kehilangan Shanum, tapi Anton? Yara tidak bisa mendalami sedalam apa perasaan milik kakaknya itu.
"Tapi, gimana sama cuti kamu?" tanya Yara pada Sky.
"Cuti gak bisa dibatalin, Sayang. Suratnya udh keluar dan di ACC. Jadi, ya aku tetap harus cuti meski kita gak jadi berangkat bulan madu."
Yara menghela nafas berat. Disini ia seakan diharuskan untuk memilih dan semua terasa serba salah. Disatu sisi Yara tak bisa meninggalkan Anton, tapi disisi lain ia juga tak mungkin mengabaikan Sky--suaminya.
"Aku janji, setelah Mas Anton terbiasa sama Elara dan bisa mengurusnya, kita bakal langsung pergi bulan madu," kata Yara sembari bersandar di dada bidang suaminya dengan manja.
"Hmm, tapi nanti bulan madunya gak bisa jauh-jauh, karena dalam tahun ini aku udah ambil keseluruhan masa cuti, Sayang."
"Mau gimana lagi," kata Yara.
"Iya, mau gimana ya. Yah... yang penting sama kamu, meski gak bulan madu ke tempat yang jauh, dimana aja okelah," kata Sky pasrah.
"Makasih ya, kamu udah ngerti keadaan aku."
"Aku gak mau maksain kamu."
"Kalau gitu, sekarang mandi, yuk."
Sky memicing dengan ajakan istrinya kali ini, ia curiga Yara mau mengerjainya. Tak biasanya Yara agresif dan mengambil sikap lebih dulu, pikirnya. Sementara, Yara tertawa kecil, dia tau sekarang Sky sedang berpikir yang macam-macam atas ajakannya kali ini.
"Ayok!" desak Yara yang sudah menarik tangan suaminya.
Pria itu sudah sangat girang saat Yara menuntunnya untuk ke kamar mandi secara bersama-sama. Tapi, seperti yang Sky curigai, ternyata Yara hanya mengantarkannya sampai ambang pintu dan tak ikut masuk.
"Kamu nyuruh aku mandi?" tanya Sky sebelum Yara benar-benar berbalik pergi dari area itu.
"Iya, kan tadi aku bilang gitu."
Sky menggeleng. "Terus aku mandi sendiri? Gitu?" tanyanya seakan tak percaya dengan respon sang istri yang rupanya benar-benar mengerjainya.
__ADS_1
"Lah, ya, iya." Yara mengulumm senyum, bersikap polos tanpa merasa telah berbuat salah.
Sky langsung bergerak sigap dan menangkap tubuh Yara yang selalu punya kebiasaan 'ngacir ' setelah mengerjainya. Sky dapat menebak jika setelah ini Yara akan pergi dan menghindar darinya, makanya dia gegas meraup pinggang sang istri.
"Hah... mau kemana kamu?"
"Hahaha, aku mau kesana dulu, Sayang." kata Yara yang jelas menghindar. Ia tertawa-tawa geli.
"Gak, gak! Banyak alasan kamu. Tadi ngajakin aku mandi, pake bilang ayok ayok segala," protes pria itu.
Yara masih juga mau mengelak, tapi Sky langsung menggotong tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sky pun mengunci pintu setelahnya, membuat Yara harus menelan saliva dengan berat.
Sky menyerahkan spons mandi pada Yara. "Nih, tanggung jawab, mandiin suaminya ya," katanya sambil tergelak.
Yara mendengkus, tapi kemudian turut mengikuti langkah Sky yang berjalan menuju bathub.
Tanpa babibu, Sky membuka pakaiannya begitu saja, melemparnya asal dan sudah berdiri polos dihadapan Yara dengan sikap tanpa dosanya itu.
Sementara Yara refleks menutup matanya rapat, membuat Sky terkekeh geli karena sikap istrinya.
"Ya udah, merem terus, jangan berani ngintipin aku," bisik Sky tepat ditelinga Yara, membuat wanita itu merinding karenanya.
Sky masih mengulumm senyum saat memasuki bathub, disanalah Yara baru berani membuka matanya kembali.
"Lho, kok buka mata? Gak boleh ngintipin aku mandi, Ra."
Yara tak menggubris, berlagak acuh dan duduk dipinggiran bathub sambil memegang spons mandi yang tadi Sky berikan kepadanya.
Sky lucu sendiri. Apalagi setelahnya, Yara angkat suara yang akhirnya membuat Sky tergelak takjub.
"Mana yang mau saya gosok, Tuan?" kata Yara dengan raut juteknya itu.
Sky sampai kehilangan kata, gemas melihat istrinya ini. Akhirnya, ia kembali menangkap pinggang Yara yang terduduk di pinggiran bathub-- lalu membawa paksa agar ikut masuk ke dalam tempat yang sama.
"Sky!" pekik Yara terkejut, ia bahkan masih berpakaian lengkap dan Sky menariknya untuk ikut masuk ke bathub, ia jadi basah kuyup berikut semua yang ada dalam dirinya.
Yara ingin memukul dada Sky karena protes atas keisengan suaminya itu, tapi tangannya justru ditangkap Sky saat itu juga.
"Pukul yang ini kalau berani," kata Sky sambil menuntun tangan Yara ke arah bawah.
Mata Yara langsung membulat sempurna. Suaminya ini benar-benar me sum.
"Ayo, jangan dipegang terus. Coba pukul." Sky malah menantang dengan senyum yang dikulumm.
Geram, akhirnya Yara malah mere masnya keras, membuat Sky terlonjak tak percaya dengan ke brutalan sang istri yang diluar prediksi.
"Akh, Sayang... awas kamu!" kata Sky, dia langsung membalas Yara dengan serangannya.
Bersambung ....
****
Gagal bulan madu tapi jadi main air. Hadehhhh 🙄 iya deh yang pengantin baru dimana aja okey, gitu kata Sky gaes. 🤪🤭🤭🤭🤭
Noh aku bonusin Visual lagi tapi jangan lupa tinggalkan jejak ya.🙏 Karena abis ini bakal up 1 bab lagi 💚
__ADS_1