
Yara POV.
Seperti yang sudah ku duga. Meski sekarang penuh dengan keramaian di sekolah baru Aura dan Cean, nyatanya aku merasa kosong karena beban pikiran yang belum terselesaikan.
Aku menunggu Aura dan Cean disudut taman karena putra dan putriku sudah masuk ke kelas mereka beberapa saat lalu. Disana ada juga beberapa orangtua atau wali murid yang terlihat menunggui anak-anak mereka.
Memilih untuk mengabaikan perasaan, aku mulai memainkan gadget dan berselancar di dunia Maya. Sudah lama rasanya tidak bermain sosmed, aku hanya melihat-lihat postingan terbaru dari teman-temanku. Ada Rina yang meng-upload foto kebersamaan kami saat acara tujuh bulanannya waktu itu. Aku men-tap love di fotonya.
"Permisi, boleh gabung disini?"
Aku mengadah pada seseorang yang berdiri di hadapanku. Seorang wanita cantik yang sangat elegan.
"Boleh, silahkan." Aku menyunggingkan senyum kepadanya.
Wanita dengan blus putih dan celana kain berwarna grey itu duduk tepat di depanku.
"Anaknya playgroup berapa? Kok saya gak pernah lihat kamu, ya?" Wanita itu mulai menanyaiku.
"Anak saya baru masuk hari ini, masih Playgroup 0, Mbak," kataku menjawab.
"Oh, pantesan." Wanita itu manggut-manggut. "Kenalkan, saya Levina," katanya kemudian.
"Eh, iya, Saya Yara."
Beberapa saat hening. Sejujurnya aku juga bukan orang yang gampang untuk mencari bahan perbincangan, boleh dibilang aku adalah orang yang introvert, meski itu bukan bawaan pabrik sebab jati diri yang seperti itu mulai terbentuk dalam diriku sejak aku menikah dengan Mas Juna, dulu.
"Anak saya udah playgroup 2. Namanya Ivana."
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku pertanda mengerti bahan pembicaraannya.
"Saya gak biasanya nungguin Ivana disini, jadi gak punya teman pas menunggunya." Wanita bernama Levina itu tersenyum kecil, tampaknya dia juga sama sepertiku.
"Ah, iya. Saya juga baru sekali ini nungguin disini, Mbak."
"Jangan panggil, Mbak. Panggil Levina saja."
"Ehm, iya, Levina."
Wanita itu tersenyum hangat. Tampaknya dia orang baik, mungkin dia juga sama sepertiku yang introvert.
Percakapan yang kaku itu berlanjut dengan membahas keseharian kami masing-masing serta menanyakan tempat tinggal. Hingga akhirnya kami terbawa suasana yang sudah mulai mencair dan cukup akrab.
"Saya sudah berpisah sama Papa nya Ivana. Biasanya mantan suami saya yang menunggu disini, cuma dia lagi ada urusan keluar kota jadi saya harus gantian jaga Ivana."
"Oh, begitu." Jujur saja, aku terkejut mendengar cerita Levina, dia terbuka mengenai hal ini pada orang yang baru dia kenal seperti aku. Tapi aku tau diri untuk tidak mengorek hal pribadinya lebih dalam sebab aku takut salah berbicara, kecuali memang dia yang terus bercerita maka aku akan tetap menjadi pendengar yang baik.
"Mas Ivan itu baik, dia rela nungguin Ivana sekolah sampai selesai baru dia pergi ke kantornya."
__ADS_1
Ingin aku bertanya kenapa dia bercerai kalau suaminya baik? Tapi segera ku enyahkan pemikiran itu sebab aku takut menyinggung perasaan Levina.
"Aku juga harus kerja, jadi mau gak mau Ivana harus tinggal sama Papanya. Aku sangat rindu Ivana, tapi dia seperti menjaga jarak denganku karena gak terbiasa sama aku."
Mungkin Levina tidak sadar bahwa percakapannya padaku sudah tidak seformal diawal dan dia justru menceritakan permasalahannya dengan gamblang.
"Kamu sendiri, gimana?" Levina bertanya balik.
Aku yang tidak biasa menceritakan problemku pada orang lain apalagi orang asing, hanya bisa mematut senyuman kecil.
"Aku dan keluarga baik-baik aja. Aura dan Cean mau masuk sekolah dengan antusias dan aku senang melihat mereka bersemangat." Aku mencoba mengatakan hal yang baik-baik saja.
"Oh, syukurlah. Aku harap keluarga kamu terus seperti itu, ya. Jika ada masalah lebih baik kamu selesaikan secara baik-baik dan pikirkan secara matang. Jangan sampai seperti aku...." Suara Levina terdengar lirih seolah menyimpan kesedihannya disana.
"... kadang, ada saja orang yang tidak senang melihat kebahagiaan kita. Aku menyesal setelah bercerai dari suamiku, tapi semuanya udah terlanjur terjadi dan Ivana yang menjadi korbannya. Aku juga jadi tidak dekat dengan putriku sendiri."
Entah kenapa ucapan Levina seperti peringatan yang harus ku cerna baik-baik. Ini terasa pas disaat aku memang membutuhkan suport atas kejadian yang menyebabkan terkikisnya rasa percayaku kepada suamiku sendiri. Jangan sampai aku menyesalinya, seperti pesan yang Levina ucapkan.
"Terima kasih, ya, Vin." Aku menepuk punggung tangannya dengan akrab. Aku menghargai setiap perkataannya yang cukup menyadarkanku. Mungkin Levina sengaja dikirim Tuhan hari ini untuk mengingatkanku.
Wanita itu tersenyum sendu. "Kapan-kapan kalau aku nungguin Ivana lagi, aku berharap bisa ketemu kamu ya, Ra."
"Iya, semoga aja kita masih bisa ketemu."
"Oh, iya, tadi kamu bilang nama anak kamu Aura dan Cean?"
"Mereka sebaya? Terus sekolah disini bersamaan?"
"Iya, Aura dan Cean kembar jadi masuk sekolahnya bersamaan."
"Wah, aku jadi penasaran pengen ngelihat anak kembar kamu."
Aku tertawa melihat Levina yang antusias.
"Lucu kali ya kalau punya anak kembar."
"Ya, lucu, tapi repotnya juga iya," kataku realistis.
"Apa mereka mirip meski beda gender?"
"Ehm, gak sih, mereka gak identik. Ya mungkin karena beda gender itu juga faktornya, cuma emang mereka gak mirip. Aura punya wajah yang feminim banget. Dari bayi, kalau lihat dia, udah langsung bisa nebak kalau dia itu cewek. Kalau Cean, sebaliknya."
Tanpa sadar kami berbincang lama, sampai aku melupakan problem yang sempat ku pikirkan semalaman.
Getaran ponsel membuatku harus menjeda percakapan dengan Levina.
Sebuah nomor tak dikenal menghubungiku kali ini. Aku penasaran, apa ini ada kaitannya dengan nomor kemarin yang mengirimi aku foto-foto Sky bersama wanita lain? Nomornya berbeda memang, tapi entah kenapa aku merasa ini memang keterkaitan.
__ADS_1
"Hallo?" Aku menyahut meski di depan masih ada Levina.
"Hai, Yara."
"Siapa kamu?" Aku bertanya ketus. Aku yakin ini ada kaitannya dengan foto kemarin.
"Santai dong! Aku cuma mau klarifikasi aja, soal foto yang kamu terima kemarin..."
Tepat seperti dugaanku, wanita ini ada kaitannya dengan kiriman foto itu.
"Sorry ya, sebenarnya aku gak niat mau ngirimin foto itu ke kamu. Tapi, kayaknya kamu emang perlu tau deh gimana kelakuan suami kamu itu kalau diluaran. Terlalu lama terpenjara sama kamu sih, jadi pas diluar dia ngerasa bebas banget."
Ingin rasanya aku mengumpat wanita yang ada diseberang telepon ini, tapi aku menghargai Levina yang juga ada dihadapanku. Mungkin sekarang Levina dapat melihat raut kesal dan pucat ya wajahku karena mendengar ucapan wanita dari seberang telepon ini.
"Dengar ya, aku gak tau siapa kamu. Jangan memprovokasi aku karena sedikitpun aku gak percaya sama kamu," jawabku berusaha setenang mungkin.
"Oh, ya? Kamu gak percaya? Ya udah, lihat aja abis ini aku bakal kasih kamu bukti yang lebih akurat dan buat kamu percaya."
Telepon itu diputuskan sebelah pihak sebelum aku sempat menyahut.
Aku menatap Levina yang mengernyitkan dahi padaku.
"Ada masalah?" tebak wanita itu.
"It's oke, semua baik-baik aja." Aku menahan gemuruh di dada. Setelah kemarin mengganggu lewat foto kiriman, sekarang ada seorang wanita yang menggangguku lewat sambungan telepon.
Aku memilih memblokir nomor itu sebelum mendapat kiriman lain yang dia katakan sebagai bukti akurat. Kenapa aku sepengecut ini? Bukannya aku juga penasaran dengan ucapan wanita itu? Apa yang dia katakan sebagai bukti?
Tidak, aku tidak mau terdoktrin oleh hal-hal semacam ini. Aku harus menunggu Sky tiba di sini besok dan menanyakannya secara langsung.
"Yara? Are you oke?"
Mungkin karena aku tetap diam, Levina menjadi khawatir padaku.
"Kamu kelihatan pucat setelah nerima telepon tadi."
"Ini cuma orang iseng, Vin. Seperti yang tadi kamu bilang, bahwa akan ada orang-orang yang gak senang ngelihat kita bahagia."
Levina menarik sudut bibirnya, dia tersenyum hangat. "Kamu pasti bisa melewatinya. Semua akan baik-baik aja. Jangan gegabah atau kamu akan menyesalinya," katanya memberiku semangat.
Aku mengangguk, aku paham sekarang kenapa setiap ucapan Levina terasa menenangkan, ini karena pekerjaannya yang seorang psikiater. Dia senang mendengar dan juga suka menceritakan. Aku beruntung bertemu dengannya disini.
"Sekali lagi, makasih ya, Vin."
Kami berpisah setelah jam pelajaran anak-anak selesai. Tapi Levina sempat memberikan kartu namanya kepadaku berharap pertemanan kami akan terjalin dengan baik.
Bersambung ....
__ADS_1