
Sementara di tempat lain, Juna baru saja menutup pintu mobilnya setelah seseorang memasuki kabin penumpang.
Juna mengitari mobil lalu ikut masuk dan duduk dibalik kemudi.
"Yara tadi lihat kamu di Bandara Ngurah Rai," ujarnya sesaat kemudian.
"Ck, kok bisa sih?" Shanum berdecak lidah. Tidak menyangka jika adik iparnya bisa melihat keberadaannya, padahal ia sudah mengenakan kaca mata hitam untuk menyamarkan penampilan.
"Udah aku bilang kan, lebih bagus aku sama Yara pulang naik bus jadi kecil kemungkinan bisa ketemu atau ngelihat kamu kayak gitu."
"Ya biarin aja Yara naik bus, kamu naik pesawat sama aku!"
"Mana bisa gitu, aku perginya bareng sama dia, pulangnya juga harus bareng lah."
"Ya buat alasan, dong. Atau kita pulang besok juga gak apa-apa, kan? Biar aja Yara pulang duluan bareng teman-temannya." Shanum mengerucutkan bibirnya membuat Juna menghela nafas panjang.
"Gak bisa gitu, Shanum, Sayang.... aku mau kasi alasan apa lagi ke Yara? Aku udah kehabisan alasan, Num."
Shanum mendengkus, kemudian melipat tangannya didada.
Juna menoleh, kemudian menerbitkan seulas senyum tipis saat menyadari wanita itu tengah merajuk.
"Ya udah, lain kali kita liburan lagi. Berdua aja, jadi gak bakal kucing-kucingan sama Yara kayak kemarin. Terus, bisa tenang kemana-mana tanpa takut ketahuan." Juna mengelus surai hitam milik Shanum, berniat membujuknya.
Sekali lagi Shanum mendecakkan lidah.
"Udah, jangan ngambek lagi, dong."
"Aku tuh udah banyak ngalah sama Yara, kapan sih giliran kamu sama aku sepenuhnya."
"Kamu beneran mau kayak gitu?"
"Ya iya lah."
"Ya kamu minta cerai dari Mas Anton, Num. Terus kita bisa sama-sama terus."
"Kamu dulu lah yang ceraikan Yara. Kalo udah, baru aku mau minta cerai dari Mas Anton."
"Tuh kan, kamu. Selalu gitu!" Juna mencubit gemas pipi Shanum yang chubby, kemudian barulah ia menyalakan mesin mobilnya.
Sebenarnya Juna mengajak Yara pulang naik pesawat juga karena terpaksa. Ia ingin tiba disaat yang sama dengan Shanum. Jika ia mengikuti Yara naik bus, mana mungkin ia bisa pulang dengan cepat dan menjemput Shanum di Bandara. Kalaupun ia membiarkan Yara seorang diri naik Bus, itu juga tak mungkin ia lakukan, mengingat sejak awal ia sudah berangkat bersama-sama dengan istrinya itu.
"Kamu mau diantar kemana sekarang? Apa aku antar ke rumah aja langsung?"
"Ih, apaan sih? Kalau Mas Anton nanya, aku mau jawab apa?"
"Ya, tinggal jawab kita abis babymoon di Bali."
"Enak aja kamu. Coba kamu duluan yang bilang gitu ke Yara. Berani enggak?" tantang Shanum.
"Berani, tapi nanti dong kalau udah saatnya."
Shanum geleng-geleng kepala. Sudah hampir setahun ia dan Juna menjalin hubungan dibelakang pasangan masing-masing. Tapi, nampaknya hubungan mereka tidak akan ada ujung yang jelas.
Mereka merasa saling mencintai, tapi belum bisa melepaskan pasangan sah masing-masing.
Belum lagi sekarang Shanum hamil dan ia tidak tahu siapa ayah dari bayinya itu. Apakah itu anak Anton, suami sahnya atau justru anak Juna, kekasih gelapnya yang juga adik ipar dari suaminya tersebut.
"Lagipula, babymoon apa coba? Malamnya juga kamu balik ke Villa terus buat nemenin Yara, bukannya nemenin aku!" protes Shanum lagi.
"Udah deh, jangan mulai. Ini resiko hubungan kita, Sayang. Lagian, kamu sendiri yang mau ikut kita ke Bali, kan?" papar Juna.
"Ya aku ikut lah! Enak aja Yara liburan sama kamu tapi aku gak liburan."
"Itukan fasilitas dari temennya, bukan dari aku, sayang."
__ADS_1
"Tetep aja. Aku juga mau ngerasain ke Bali sama kamu."
Juna menggeleng samar dan tidak menyahuti lagi ucapan Shanum, sekarang ia memilih fokus mengemudikan mobilnya.
"Kamu anterin aku ke terminal aja. Nanti aku minta Mas Anton jemput disana."
"Yakin kamu?"
"Yakin, lah. Kan, Mas Anton taunya aku di kampung."
"Ya udah, aku anter kamu ke terminal sekarang."
*****
Yara sudah siap dengan masakannya, ia menyiapkan itu kedalam kotak-kotak rantang dan berniat mengirimkan makanannya ke rumah sang Kakak.
Yara juga memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kediaman Anton.
Tak sampai satu jam, ia telah tiba di depan rumah sederhana milik kakaknya.
"Mas?"
Anton melihat ke arah depan dan mendapati adik satu-satunya berada disana. Ia mengajak Yara masuk, tak lupa sebelumnya ia juga membayarkan ongkos ojek yang sudah mengantarkan Yara ke kediamannya.
"Gak sama Juna, Dek?"
"Mas Juna ada kerjaan, Mas."
"Loh, kalian bukannya baru pulang dari Bali? Kok udah kerja?"
Yara tersenyum tipis menanggapi pertanyaan kakaknya itu.
"Juna emang pekerja keras. Pantes almarhum bapak milih dia buat jadi suamimu, dek."
"Iya, Mas." Yara hanya menjawab sekenanya.
Yara membuka rantangnya dan menyajikan itu dihadapan Anton. Tak lupa ia mengambilkan piring dan sendok untuk sang kakak.
"Jadi repot, dek? Mas kan jadi enak..." canda Anton membuat Yara akhirnya ikut terkekeh.
Sebenarnya, selain ingin bertemu sang kakak dan memasakkan pria itu, Yara juga berniat untuk menenangkan pikiran dari hal-hal yang sempat terjadi antara dia dengan Sky selama di Bali. Kakaknya adalah pria humoris yang selalu bisa membuat Yara tertawa, makanya Yara memilih mendatanginya.
"Ayo dimakan, Mas."
"Pas bener ini mas lagi laper, kamu tau aja dek."
"Hehehe...." Yara menyengir kuda.
Anton makan dengan lahap, sudah lama ia tidak makan masakan sang adik. Masakan Yara membuatnya mengingat mendiang ibu mereka. Sekarang tinggal Yara saja saudaranya, mereka berdua sudah hidup yatim piatu sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya sejak sang Ayah meninggal dunia-- menyusul ibu yang telah berpulang saat mereka masih bersekolah.
"Kamu gak makan, dek?"
"Udah tadi, sebelum kesini Yara udah makan kok, Mas.'
"Oh, ya udah, Mas habisin ya. Enak banget."
"Seneng lihat Mas makan lahap begini."
"Maklum lah dek, jarang dapat makanan enak," kelakar Anton.
Yara tersenyum tipis, ia tahu Shanum kurang pandai di dapur, kendati demikian ia juga tahu jika kakak iparnya itu selalu berusaha memasakkan Anton sebisa mungkin.
Anton membuka usaha bengkel motor di depan rumahnya. Dulunya Anton memiliki bengkel besar tetapi itu hanya bertahan selama dua tahun saja, hingga sekarang dia terpaksa membuka usaha kecil didepan rumah. Pekerjaan itu membuatnya tidak bisa meninggalkan rumah begitu saja.
"Kenapa gak ikut Mbak Shanum ke kampung, Mas?"
__ADS_1
"Shanum di kampung udah mau tiga hari, dek. Kalau Mas ikut, bengkel pasti tutup, gak ada pemasukan dong. Sementara Mas harus nabung buat biaya persalinan Shanum nanti."
"Iya juga, sih."
"Belum lagi ada beberapa motor yang tinggal di bengkel dan harus dikerjain, jadi Mas gak bisa ninggalin."
Lagi asyik mengobrol, rupanya terdengar deringan ponsel milik Anton.
"Ini Mbak-mu, dek." Anton menunjukkan layar ponselnya pada Yara, bahwa disana Shanum tengah meneleponnya.
"Ya udah, terima teleponnya dulu, Mas."
Anton mengangguk. Ia pun segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Num?"
"...."
"Oh, iya. Kenapa naik Bis? Kalau mau pulang harusnya bilang sama Mas, jadi bisa Mas jemput di kampung."
"...."
"Oke, Mas ke Terminal sekarang, ya."
Panggilan berakhir. Anton menatap sang adik. "Dek, Mbak-mu minta dijemput, udah di terminal katanya."
"Oh gitu ya, Mas? Ya udah deh, Yara pulang ya, Mas."
"Kalau kamu masih mau disini gak apa-apa dek."
"Gak, Mas. Yara pulang aja. Lagian Mbak Shanum pasti capek abis dari kampung, ntar pulang dia pasti mau langsung istirahat."
"Ya udah, ayo Mas anter kamu dulu kalau gitu."
Yara mengibaskan tangannya. "Gak usah, Mas. Yara naik angkot atau ojek aja. Lagian Terminal sama kontrakan Yara kan gak searah," tolaknya.
"Maaf ya, dek."
"Wis, gak apa-apa, Mas. Udah gede loh adikmu ini."
Mereka berdua pun terkekeh, kemudian keluar dari rumah bersama-sama.
Yara meminta Anton segera pergi untuk menjemput istrinya dan tidak usah menungguinya.
Tak lama setelah kepergian Anton, Yara mencoba menghubungi Juna.
"Mas, kamu dimana?"
"Ini udah dijalan pulang."
"Oh, bisa jemput aku gak, Mas? Aku dirumah Mas Anton?"
"Apa? Kamu ngapain di rumah Mas Anton?"
"Iya, Mas. Nganterin makanan doang. Kenapa, sih? Kok kaget gitu?"
"Bu--bukan, kamu kok gak bilang aku kalau mau kesana?"
"Aku udah kirim WA tadi. Kamu belum baca, Mas."
"Oh, iya, belum buka hp, Ra."
"Ya udah, bisa jemput aku, kan, mas?"
"Oke, aku kesana sekarang."
__ADS_1
Bersambung....
******