
Sebuah surat, diterima Yara hari ini. Itu adalah undangan pernikahan Rina dan Dion. Yara tentu senang mendengar kabar bahagia ini, ia juga sudah lama tidak bertemu dengan Rina sejak beberapa bulan lalu--tepatnya ketika Yara menginap di rumah sang teman waktu itu.
Sebuah pesan pun turut di baca Yara dari orang yang sama. Rina, mengiriminya pesan melalui aplikasi hijau yang mengatakan bahwa Yara harus datang ke acara pernikahannya nanti. Ya, itu semacam peringatan keras supaya Yara tidak absen di pesta tersebut.
Yara yakin, Rina akan terkejut karena akhirnya Yara sudah berpisah dari Juna sekarang.
Yara memang tidak menggembar-gemborkan perihal perpisahannya kepada orang lain, termasuk Rina. Lagipula, kesibukannya membuatnya jarang berkirim kabar dengan beberapa temannya, termasuk Rina.
Yara juga tidak pernah meng-update tentang kehidupannya di media sosial. Hanya sesekali ia ikut membaca pesan-pesan di grup alumni yang sering membahas hal-hal konyol dan semacamnya.
Pesta pernikahan Rina dengan Dion, pasti menjadi ajang tempat berkumpulnya para alumni, lagi. Dan hal ini cukup membuat Yara gugup karena statusnya sekarang, terutama tentang hubungannya dengan Sky.
Apa tanggapan teman-temannya nanti? Apakah ia akan dinilai sebagai perempuan yang telah meninggalkan suaminya demi pria lain? Sebab, tak semua orang tau tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya. Terlebih, ia berpisah dengan Juna tak lama setelah perjalanan ke Bali. Ya, hanya beberapa bulan berselang mereka langsung berpisah, kan?
Yara tidak akan menampik bahwa ia kembali dekat dengan Sky setelah acara di Bali. Tapi, ia tidak siap untuk menjadi pihak yang dicemooh dan disalahkan. Dirinya tidak sekuat itu menepis semua tudingan dan gunjingan orang lain.
"Kamu gak usah mikirin apa tanggapan orang lain. Gak akan ada yang memahami kamu selain diri kamu sendiri. Orang lain tau apa? Mereka hanya tau berkomentar. Kalau kamu terus mendengarkan penilaian orang lain tentang kamu, itu sama saja dengan kamu sengaja melukai diri sendiri."
Itulah ucapan Sky saat Yara menyatakan keengganannya menghadiri pesta pernikahan Rina.
"Terus kamu mau gimana? Kamu gak akan bisa melarang mereka untuk mengomentari kamu. Mereka semua punya mulut untuk bicara dan kamu punya telinga untuk mendengar."
" .... kamu gak akan bisa nutupin mulut mereka satu persatu, tapi kamu bisa tutup telinga kamu sendiri, biar gak mendengar apa yang mereka omongin tentang kamu."
Saat Yara hanya diam mendengar semua ucapan Sky yang terkesan sedang menasehatinya itu, sang pria pun kembali bersuara.
"Mendengarkan penilaian orang lain itu gak akan ada habisnya. Ibarat makan, hari ini mereka makan, besok mereka akan lapar dan akan makan lagi. Jadi, itu gak akan berhenti sampai ada hal yang membuat mereka membungkam mulut mereka sendiri."
"Memangnya bisa?"
"Bisa, bungkam karena sadar dan malu hati. Kalau gak, ya karena mati." Sky mengendikkan bahu diujung kalimatnya, tapi Yara kembali menghela nafas berat untuk kesekian kalinya.
"Ya udah, aku bakal datang ke pesta Rina tapi gak bareng sama kamu."
"Hah?" Sky melongo.
"Biasa aja wajahnya jangan bengong gitu," kata Yara yang tertawa melihat kekagetan pria itu.
"Gak bisa gitu dong, sayang. Kita berangkat sama-sama."
Yara menggeleng. "Kita berangkat masing-masing, Sky."
Sky mendengkus pelan. Tapi akhirnya ia mengalah sebab ia tidak mau mendebat Yara.
"Ya udah, nanti ketemu disana aja. Pulangnya bareng," kata Sky akhirnya.
Yara kembali menggeleng. "Gak, Sky. Aku sendiri aja," tolaknya.
"Gak bisa gitu, dong, Ra."
"Bisa, kata siapa gak bisa."
...~~~~...
Hari pernikahan Rina akhirnya tiba. Rencananya Yara akan ke gedung tempat perhelatan itu sendirian-- seperti rencananya. Rupanya Nadine juga diundang di acara yang sama. Sebuah kebetulan memang, karena ternyata Nadine adalah seorang rekan sesama pengusaha yang mengenal Papa Rina.
"Bareng aja, Ra."
Yara menggeleng, ia tentu sungkan harus berangkat bersama dengan Nadine. Tapi, wanita itu terus mendesaknya sehingga mau tak mau Yara akhirnya menuruti keinginan Nadine.
Mereka sepakat untuk berangkat bersama-sama dari kediaman Nadine-- sebab Yara memang sudah membawa bajunya dari rumah.
Nadine sudah siap dengan penampilannya. Dia tampak anggun menggunakan kebaya dengan warna biru muda serta kain songket yang senada. Hanya saja, karena Nadine memang selalu cantik jadi Yara tidak terlalu terkejut.
Berbanding terbalik dengan Nadine yang sangat heboh mendapati Yara dengan pakaian yang kini dikenakannya. Mungkin karena selama ini dia tidak pernah melihat Yara berdandan berlebihan, sehingga ia memuji Yara juga dengan berlebihan.
__ADS_1
"Cantik banget sih kamu. Ini sih gak cocok jadi ART dirumah aku, cocoknya jadi nyonya juga..." kelakar Nadine membuat Yara terbahak.
Yara mengenakan kebaya berwarna nude dan rok lilit batik sebagai bawahannya. Ia berdandan simpel tapi berkat Nadine yang ikut campur tangan melukis wajahnya, membuat penampilan Yara semakin jauh lebih cantik dan berkelas.
"Kamu gak dijemput sama pacar basi kamu itu?" tanya Nadine.
Yara menahan tawa saat mendengar julukan yang diberikan Nadine untuk Sky.
"Namanya Sky, mbak ...."
"Gak apa-apa ya, aku mau bilang dia pacar basinya kamu." Nadine pun menyengir.
"Terserah mbak aja deh."
"Dia gak jemput?" tanya Nadine mengulangi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. "Gak takut apa kalau kamu digaet orang lain? Udah cantik banget gini," lanjutnya.
"Enggak, mbak."
"Kenapa? Berantem?"
"Enggak juga."
"Lah terus?"
"Biar aku berangkat sama Mbak aja, biar mbak ada yang nemenin, ya kan?" kata Yara mengalihkan alasan yang sebenarnya.
Yara mengedipkan mata pada Nadine membuat wanita itu akhirnya mengangkat bahu dan berjalan bersama Yara menuju letak mobilnya yang sudah terparkir di pelataran rumah.
"Let's go..."
Nadine sepertinya sangat bersemangat hari ini membuat Yara jadi ikut tersenyum.
Perlahan-lahan, mobil yang dikendarai oleh Nadine mulai meninggalkan kediamannya sendiri, membelah jalanan menuju gedung dimana pesta pernikahan Rina berlangsung.
"Jadi, kamu sama anaknya Pak Hendri itu teman SMA ya?"
"Oh, berarti kalian sebaya ya. Aku beberapa kali juga sih ketemu Rina. Dia kayaknya bakal nerusin usaha Pak Hendri deh."
"Papanya usaha apa sih mbak?" tanya Yara ingin tahu.
"Punya usaha pembuatan batik. Ini songket aku juga dikasi sama Pak Hendri. Beliau itu baik, kami tergabung dalam komunitas pengusaha kerajinan... aku kan punya usaha butik sama bridal, nah, Pak Hendri itu banyak kasih masukan juga buat aku yang baru merintis usaha ..."
"Emang usaha mbak masih baru?"
"Kalau bridal baru jalan setahun ini sih, Ra. Tapi kalau butik udah hampir 4 tahunan, itu dulunya hadiah dari Mas Lucky supaya aku bisa nyalurin hobi di bidang fashion."
Sekarang wajah Nadine berubah sendu, mungkin karena mengingat tentang suaminya.
"Mbak? Kayaknya lipstik aku ketebalan deh..." Yara mengalihkan pembicaraan, ia pura-pura berkaca di dalam mobil. Ia tidak mau mood Nadine jadi berubah buruk karena membicarakan suaminya.
"Enggak kok, Ra. Udah bagus kok itu."
"Ah, masak sih, mbak..."
"Iya, kamu udah cantik banget tau! Aku aja jadi minder dekat kamu."
"Hahaha...." Mereka akhirnya tertawa bersamaan.
Sampai akhirnya mobil yang dikendarai Nadine tiba di parkiran gedung tepat pukul 5 sore waktu setempat.
"Ayo, Ra! Untung ada kamu, kalau enggak aku beneran sendirian kesini, tadi."
"Tuh kan, apa aku bilang, mbak..."
Mereka berjalan beriringan dan masuk ke dalam gedung yang sudah ramai dipenuhi para tamu undangan yang lain.
__ADS_1
Dari kejauhan, Sky sudah menatap Yara yang tiba bersama Nadine. Ia mengulumm senyum, Yara tampak sangat cantik hari ini dan membuatnya tidak sabar untuk menghampiri.
"Ra?"
Yara menatap Sky dengan serba salah. Masalahnya, ia mau menjaga jarak dari Sky biar tidak digosipkan, nyatanya belum apa-apa pria ini sudah menghampirinya.
"Siapa, Ra?" Nadine menyikut lengan Yara, sebab ia memang tidak pernah mengetahui sosok 'pacar basi' yang sering dibahasnya bersama Yara.
"Mbak, kenalin, ini Sky..."
"Oh...." Nadine manggut-manggut sambil tersenyum kecil. Jadi ini pacarnya Yara? Pikirnya.
"Nadine."
"Sky."
Nadine dan Sky berkenalan singkat, Yara langsung memberi isyarat mata pada Sky untuk menjaga jarak darinya, tapi pria itu malah membalas tatapan Yara dengan seringaian kecil.
"Aku sama mbak Nadine duduk disana ya."
"Lho, Ra?" Nadine heran melihat Yara yang menghindar dari Sky. Ia tidak tau apa-apa mengenai mereka. Dimatanya mereka terlihat seperti pasangan yang aneh sebab menjaga jarak. Tepatnya, Yara yang terlihat menjauhi Sky.
"Ayo, Mbak." Yara menggandeng tangan Nadine yang masih terheran-heran dengan keadaan ini.
Sky menghela nafas pelan, membiarkan Yara dan Nadine berlalu seakan pasrah saja, padahal ia mengambil langkah dibelakang mereka dan mengikuti seperti anak ayam.
Saat Yara dan Nadine duduk di dekat sebuah meja bundar yang juga masih menyisakan beberapa kursi kosong, Sky juga ikut duduk disana bersama mereka.
Yara melotot seakan protes dengan ulah Sky, tapi pria itu cuek dan masa bodoh.
"Kalian kenapa sih, Ra?" bisik Nadine penasaran.
"Aku cuma gak mau digosipin sama teman-teman yang lain nantinya, mbak." Akhirnya Yara jujur membuat Nadine terkekeh.
"Ada aja sih kalian. Gemes aku liatnya!" kata Nadine masih merasa lucu.
Tak lama Yara dapat melihat beberapa teman-teman seangkatannya yang juga hadir dalam acara itu.
Ada Ilyas, Rico dan pacarnya, Nindia.
Ilyas langsung menyapa Sky yang sok sibuk memainkan ponsel di meja yang sama dengan Yara.
"Sky!"
"Yas!" Sky membalas sapaan Ilyas dengan lagaknya yang tidak tau apa-apa, padahal Yara yakin pria itu juga sudah melihat teman-temannya yang lain tadi.
Fera, Rozi dan Diandra juga datang tak lama dari kedatangan Ilyas.
Mereka semua duduk di meja yang terdekat dengan meja Yara dan Sky.
Saat Yara juga sibuk menyapa teman-temannya yang baru datang di meja sebelah, rupanya ia menerima sebuah pesan yang membuat ponsel di tasnya terasa bergetar.
[Kamu cantik banget, love you😘]
Astaga, Sky.... rupanya pria itu malah mengiriminya pesan, sebab merasa dicueki oleh Yara. Yara tak menggubris dan malah memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Sky menghela nafa panjang, sebab sekarang mereka malah seperti anak remaja yang sedang backstreet alias pacaran diam-diam dibelakang semua teman SMA mereka.
Bersambung ...
****
Kasihan banget sih bang jadi pacar rahasia 🤭🤭🤭🤭
__ADS_1