
Yara POV.
Aku tidak pernah menduga, jika garis takdir dalam kehidupanku akan berubah 180 derajat seperti sekarang. Aku bersyukur, tentu sangat mensyukuri segalanya.
Diumurku yang sekarang, aku merasa sudah sangat lengkap. Aku sangat beruntung saat Tuhan kembali mempertemukanku dengan cinta pertamaku. Sky Lazuardi.
Padahal, sebelum kami menikah, aku sudah lebih dulu berstatus sebagai istri dari Mas Juna.
Berawal dari pertemuan singkat di sebuah acara reuni yang pada saat itu tidak membuatku antusias karena berujung pada digelarnya acara family gathering ke Bali.
Aku bahkan tidak pernah menduga jika Sky akan aktif mengejar ku meski tau bahwa aku sudah bersuami.
Hanya saja, pada pertemuan kembali itu, aku merasa tatapan pria itu sangat tidak ramah. Sky terlalu dingin saat aku memaksakan diri untuk menyapanya ketika kami tak sengaja berpapasan di depan lorong Toilet.
Aku justru memprediksikan jika pria itu menaruh sebuah kebencian padaku. Yah, mungkin karena statusku yang harus berakhir menjadi istri oranglain.
Tapi, apa dia masih ingat janji terakhir kami sebelum berpisah? Ah, sudahlah, lagipula itu sudah berlalu begitu lama, pikirku kala itu.
Namun, siapa sangka. Kebersamaan di Bali justru membuat pria itu nekat. Beberapa kali pula kami terjebak dalam situasi absurd yang sepertinya sengaja Sky ciptakan.
Bayangkan saja, entah bagaimana kejadiannya aku dan Sky harus terjebak dalam gudang di Villa. Keadaan lampu yang padam justru semakin membuat aku terpojokkan.
Keadaan serupa terulang lagi saat Sky merangsek masuk ke dalam toilet wanita hanya untuk memintaku kembali kepadanya.
Kadang aku berpikir segila apa pria ini? Apa dia tidak ingat statusku? Kenapa dia terlalu memaksakan keadaan? Bukankah dia sudah sangat sempurna untuk mendapatkan pasangan yang sempurna pula dan tentu lebih baik 1000 persen dari diriku yang bukanlah siapa-siapa.
Ah, mas Juna saja tidak pernah menginginkanku seperti Sky yang tampak sangat menggebu.
Aku mengabaikan. Aku tau pernikahanku dengan Mas Juna lebih layak untuk ku pertahankan ketimbang perasaan Sky yang ku anggap hanya obsesi gila.
Aku berpendapat jika Sky hanya penasaran padaku. Ah, lagi-lagi pikiran dan logikaku merasa tak habis pikir dengan tindakannya. Aku malah merasa seharusnya dia memiliki banyak kekasih sekarang ketimbang harus mengejar-ngejar aku. Siapalah aku ini?
Yang paling membuatku bimbang, pria itu juga seakan memaksakan keadaan. Dia bahkan meminta bantuan Rina agar aku mau mengenakan dress dan kalung pemberiannya. Entah aku harus senang atau tidak kala itu.
Sebelumnya, aku tidak tau harus menyebut hubungan kami apa. Dia selalu memaksa bertemu dan mengancam akan mendatangi rumahku seperti yang sudah-sudah.
Ya, lelaki itu memang sempat nekat mengunjungi rumahku dan bertemu muka dengan Mas Juna sepulang acara ulang tahun Rina yang dilaksanakan tak lama setelah kepulangan kami dari Bali waktu itu. Ah, jika mengingat malam itu aku merasa berdosa saat hampir saja lepas kontrol dan terbawa perasaan ketika Sky mengajakku ke kediamannya.
Sampai pada saat aku tidak sengaja melihat Mas Juna dengan wanita lain di hotel, mereka sangat mesra dan Sky dengan tenangnya malah merekam kejadian itu.
Masih ku ingat ucapan Sky yang mengatakan bahwa video dan foto-foto yang diambilnya itu akan menjadi bukti untukku melawan Mas Juna di pengadilan. Bukankah dia sangat percaya diri padahal aku belum mengatakan apapun terkait mau menuntut perceraian pada Mas Juna di meja hijau.
Ah, ngomong-ngomong soal Mas Juna, dia memang selalu memberiku nafkah tak kurang dan tak lebih dari 1 juta perbulan. Mustahil untuk cukup, tapi begitulah kenyataannya. Berbanding terbalik dengan kehidupan Mas Juna yang ku pikir sangat royal diluaran sana. Entahlah, ternyata dia royal kepada wanita lain daripada aku-- istrinya sendiri.
Dari sini, mataku sedikit terbuka, setiap kali Sky mendatangiku, ada terbersit pemikiran untuk membalas kelakuan Mas Juna juga. Hingga aku seakan pasrah jikapun harus terperosok ke lembah nista saat bersama cinta pertamaku itu.
Syukurnya, logika dan instingku masih bisa bekerja dengan baik. Tidak, aku tidak mau melakukan hal yang serupa dengan perbuatan Mas Juna.
Apa bedanya aku dengannya nanti? Jika dia menjijikkan, maka akupun sama dengannya jika aku ikut berselingkuh. Kendati Sky masih bertahta dihatiku, tapi aku tidak mau melakukan hal serupa.
Maka, sejak saat itu ku putuskan untuk menjaga jarak dari Sky meski itu terasa sangat berat. Bukan berarti aku mau memaafkan perilaku Mas Juna. Tentu tidak, aku melakukan ini demi menjaga harga diriku sendiri.
Sayangnya, Mas Juna akhirnya melihat itu, tanda yang diberikan Sky dengan sengaja. Tanda yang tentu sebenarnya hampir mendorongku ke lembah dosa. Dia mengadukan itu kepada Mas Anton dan aku seperti dikuliti hidup-hidup atas perbuatan yang tidak aku lakukan. Hah! Apa kabar dengannya? Aku tak mau mengalah dan turut membuka aibnya.
Sampai rasanya aku tersambar petir disiang bolong, tidak, bahkan rasanya lebih mengejutkan kala Mas Anton menyelidiki lebih dulu siapa selingkuhan Mas Juna yang tidak lain adalah Mbak Shanum.
__ADS_1
Miris? Ya, dulu hidupku semiris itu dan aku lelah menangisinya.
Bicara soal Sky, dia tetap bersikukuh untuk mendekatiku, dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan saat tau rumah tanggaku dengan Mas Juna sudah berantakan bahkan sebelum dia memulai untuk merusaknya. Kesalahan itu bukan dari kami, melainkan Mas Juna sendiri yang lebih dulu memantik dan bermain api.
Apalagi Mbak Shanum hamil dan diklaim sebagai anaknya. Itu artinya mereka sudah berselingkuh cukup lama. Ah, entahlah, rasanya waktu itu aku mau muntah dan jijik secara bersamaan akibat perbuatan mereka.
Aku semakin tidak tau alur hidupku akan dibawa kemana. Sesaat setelah aku resmi bercerai dari Mas Juna. Justru aku harus dipergoki warga bersama Sky dikediaman Mas Anton. Berawal dari sana rumah tangga kami yang akhirnya terbangun sampai saat ini.
"Sayang?" Sepasang tangan melingkari perutku dari belakang, aku terkesiap kaget dan hal ini sekaligus membuyarkan lamunanku tentang masa lalu.
Aku menoleh sekilas, pemilik wajah yang selalu ku rindukan meski selalu bertatapan itu kini meletakkan dagunya di pundakku.
"Aku kangen," ucapnya parau dan terdengar berbisik di telingaku.
"Kita tiap hari ketemu. Apa lagi sih yang kamu kangenin?" balasku sambil menyapu ringan rahangnya dengan tangan kananku yang bebas, sementara tangan kiriku ikut bertumpu pada kedua tangannya yang terkait dipinggangku.
"Kangen, pokoknya kangen," rengeknya manja.
"Kamu kalau udah gini ngalah-ngalahin Cean sama Aura, tau, gak!"
"Biarin, biasanya kan mereka aja yang kamu manjain." Dia mencebik dalam posisinya.
"Dih, sama anak sendiri cemburu, nih?" Aku memencet hidung bangirnya dengan gemas.
Lelaki yang kini sudah berstatus sebagai suamiku itu segera membalik posisi, kini dia berada dihadapanku dengan sorot mata yang intens dan lekat seolah mengabsen setiap lekuk wajahku, seakan takut ada yang terlewat sesentipun.
"Listen to me, i'll miss you, everyday. Yesterday, today, always, forever, ever and ever!" Dia berbisik seduktif ditelingaku, menyebabkan seluruh darah yang ada dalam nadiku berdesir hebat.
"Uh ..." tanpa bisa ku tahan, aku mel enguh merasakan pergerakannya yang sudah mulai aktif di bagian depan tubuhku.
"Emhh ..."
Ku akui aku begitu sen-si-tif meski itu hanya pergerakan kecil darinya. Pria yang kini membungkam bibirku dengan bibirnya selalu berhasil memporak-porandakan has-ratku dan membuatnya bergelora membara.
Tubuhku melenting saat Sky mempermainkan inti tubuhku dengan jari jemarinya yang sudah sangat lincah dan cekatan seolah itu memang keahliannya.
"You're so damn good, Babe!"
Entah kenapa kata-kata nakal darinya selalu berhasil membuatku luluh lantak dan sangat menyukainya.
"Kamu milikku, selamanya milikku."
Saat ingin melakukan tahap inti, suara deringan ponsel milik Sky terdengar memekakkan telinga.
Alis pria itu tertaut, dia menggeram rendah disusul dengan dengkusan sesaat.
"Biarin!" katanya cuek.
Sejujurnya aku juga mau mengabaikan panggilan itu, tapi deringan itu tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali.
"Sayang, angkat dulu teleponnya, siapa tau penting."
"Gak, nanggung!" Sky tidak mau dibantah. Sorot matanya meyakinkan aku untuk tidak protes lagi dan dia memulai peny@tuan kami.
"Err ..." Suamiku menger@ng pelan. Bisa ku rasakan jika dia mulai mau memacu sekarang, tapi kembali suara deringan ponsel menjadi penambah kericuhan kamar kami.
__ADS_1
"Kalau gak penting, gak mungkin nelepon malam-malam, Sayang..." Aku mengelus wajah tampan Sky yang nampak memerah.
"Hmm..." Akhirnya pria itu menyahutku dengan malas. Dia bahkan berdecak sekilas.
"Berhenti dulu, angkat teleponnya. Oke?" Aku berusaha meyakinkannya meski akupun sudah dalam pengaruh rasa yang ingin segera dituntaskan.
"Nanti, Ayara. Habis ini," katanya. Meski itu lembut tapi sarat akan penegasan.
Jika sudah mengucapkan namaku seperti ini, itu berarti Sky benar-benar tak mau dialihkan. Aku tau dia pasti merutuk keras pada sesiapapun yang meneleponnya di jam yang sudah cukup larut ini.
Pada akhirnya, Sky benar-benar memegang ponselnya setelah kegiatan kami berakhir dengan cukup berpeluh.
"Beno?" Sky berucap dengan alis yang tertaut satu sama lain. Dia tampak keheranan.
"Ngapain Beno nelpon jam segini?" Pria itu bermonolog sendiri.
"Mungkin ada yang penting, makanya dia telepon berulang-ulang."
Sky mengangguki ucapanku, nampak dia langsung menghubungi Beno saat itu juga.
"Kenapa, Ben?" Suara Sky terdengar, kemudian dia tampak diam untuk mendengar ucapan Beno dari seberang panggilan.
Aku mencuri-curi dengar apa yang kini mereka bicarakan. Ini pasti menyangkut pekerjaan.
"Oke, oke."
"Iya, aku langsung cari tiketnya."
Sky memutus sambungan teleponnya, lalu menatapku dengan tatapan yang aneh menurutku.
"Kenapa?" tanyaku padanya.
Sky mengembuskan nafas berat, tak lama suamiku itu mulai berkata-kata.
"Besok aku harus ke Surabaya, gantiin Beno buat tinjau lokasi disana," jelasnya dengan raut sendu.
Aku sedikit terkejut, tidak pernah Sky meninggalkanku sampai harus ke luar kota. Selama pernikahan kami, dia selalu bekerja di kantornya.
"Harusnya Beno sama Putra yang kesana, tapi mendadak Abel demam, panas tinggi dan Beno gak bisa ninggalin anaknya. Ya aku ngerti, sih."
"Jadi, kamu setuju buat pergi?"
"Mau gimana lagi, Sayang."
"Berapa hari disana?"
"Dua hari." Sky mengelus wajahku lembut.
Aku memasang senyum tipis. "Yaudah, namanya juga tuntutan kerjaan, Sayang." Aku balas sentuhan tangannya dengan meletakkan jemariku pada punggung tangan itu.
"Kamu sama anak-anak bakal aku tinggal, gak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Ya gak apa-apa. Dua hari doang, kan?"
Sky mengambil jemariku dan mengecupnya berulang-ulang. "Maafin aku ya, harus ninggalin kamu sebentar. Pokonya, dua hari disana aku langsung balik, kalaupun sehari udah selesai aku langsung pulang saat itu juga."
__ADS_1
Bersambung ...