
Sejak melihat Cean selalu mempermainkan gadis-gadis, Aura yang sudah tidak tertarik soal perasaan semakin menutup diri untuk hal yang namanya berpacaran. Dia merasa prihatin terhadap para gadis yang menjadi korban patah hati yang diakibatkan Cean. Oleh karena itulah, Aura semakin dingin saja dan tidak ada niat untuk menjadi korban juga dari pemuda-pemuda yang berniat mendekatinya.
Aura lebih memilih fokus belajar, tidak menggubris semua mata lelaki yang tertarik kepadanya.
Beberapa kali Aura didekati oleh teman sekelasnya namun gadis itu seakan mati rasa dan urung membuka hatinya. Dia lebih senang hidup dengan dirinya sendiri dan sesekali menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya untuk liburan.
Aura merasa hidupnya sudah lengkap tanpa harus ada seseorang yang berstatus sebagai 'pacar' atau lainnya. Dia hanya menjalin pertemanan dan tidak mau lebih dari itu.
Pernah suatu ketika, Aura dihadapkan dengan cowok yang nekat mendekatinya. Pada saat itu, Aura mengikuti les musik mandiri diluar ranah sekolah. Dan cowok yang menyukainya ini adalah seniornya dalam tempat belajar itu.
Sandy. Itulah nama cowok itu. Beberapa kali Sandy mendekati Aura dan tentu saja Aura menghindarinya. Aura bukan tidak tau jika Sandy tertarik padanya melebihi seorang teman biasa, sehingga gadis itu lantas menjaga jarak dari Sandy.
Sampai pada akhirnya, karena merasa tertolak, pemuda itu merasa tersinggung. Entah apa yang membuatnya begitu menginginkan Aura hingga membuat Aura semakin takut padanya.
Menurut Aura, Sandy bukan menyukainya dalam tahap yang wajar. Pemuda itu lebih kepada terobsesi padanya.
"Kenapa kamu terus menolak aku, Ra? Aku kurang apa?"
Aura menggeleng pelan, jujur saja dia takut menghadapi Sandy sebab ini bukan yang pertama kali Sandy mengutarakan rasa dan dia menolaknya. Aura merasa takut karena Sandy seakan bertindak mengintimidasinya.
Saat itu, Sandy bahkan sengaja menunggu semua kelas sudah senyap dan membawa Aura ke gudang belakang gedung kesenian tempat mereka les musik. Aura menjadi semakin ketakutan. Dia takut Sandy akan melukainya atau justru melecehkannya.
Pada saat itu, Aura sudah berada di jenjang akhir sekolah menengah atas, sementara Sandy adalah mahasiswa fakultas teknik semester 3, itulah yang Aura ketahui tentangnya.
"Kamu mau apa, San? Aku mau pulang." Aura menahan suaranya agar terdengar biasa saja, dia takut Sandy menyadari ketakutannya dari getaran suara yang dia ucapkan.
Sandy menyeringai, dia menatap Aura dari ujung kepala sampai kaki. Disitulah Aura bergidik dan semakin merinding ketakutan, Sandy seakan tengah me-ne-lan-ja-ngi-nya secara tidak langsung padahal tubuh Aura masih menggunakan pakaian lengkap.
Aura mundur dengan teratur. Jika dia menjerit sekarang, semua akan percuma karena di jam ini semua kelas sudah kosong dan terkunci. Andai saja tadi dia tidak ke toilet lebih dulu. Andai juga dia menerima tawaran Nina untuk menemaninya, semuanya tidak akan jadi begini karena keadaannya yang seorang diri membuat Sandy dengan mudah mendorongnya masuk ke gudang belakang.
"Sandy, aku mohon jangan aneh-aneh. Aku mau segera pulang."
"Kamu udah punya pacar, Ra? Kenapa kamu selalu nolak aku?"
Dan benar saja, Sandy tak menggubris perkataan Aura sebab dia telah larut dalam obsesinya pada gadis itu.
"Menjauh dari aku!" kata Aura histeris saat Sandy melangkah maju mendekatinya.
__ADS_1
Aura tak dapat mundur lagi, dia terpojok ke dinding dengan tubuh yang gemetar.
"Harusnya aku gak perlu pakai cara seperti ini untuk mendekati kamu, Ra. Salah sendiri kamu menolak aku!"
Sandy berderap dengan cepat, dan sepersekian detik berikutnya dia menarik keras kemeja yang Aura kenakan, hingga menyebabkan kancing baju Aura terlepas dan berhamburan di lantai.
"Sandy!!!" pekik Aura. Gadis itu sangat takut, keringat sudah membasahi dari pelipisnya dan tubuhnya berguncang dengan sangat hebat.
"Please, jangan berbuat hal yang bakal membuat kamu menyesal," kata Aura mewanti-wanti cowok itu.
Sandy dengan senyuman smirk-nya, tentu tidak mengindahkan lagi peringatan yang Aura berikan. Baginya, saat ini Aura harus menjadi miliknya meski itu harus melalui jalur pemaksaan kehendak.
"Tolong!!!" Aura berteriak dan Sandy kembali menyeringai licik.
"Teriak aja, Ra! Coba, aku mau lihat siapa yang bakal nolong kamu disini!" ujarnya pongah dan jumawa.
"Tolong... Siapapun, tolongin aku!"
"Aura, Aura, siapa sih yang bakal ada di tempat ini di jam yang hampir Maghrib kayak gini? Hantu?" Sandy mencibir perbuatan Aura yang dirasanya hanya sia-sia saja.
Sandy kemudian melirik pada Aura yang berusaha menutupi tubuh bagian depannya sebab kemeja gadis itu sudah tidak terkancing sepenuhnya. Dia menatap Aura dengan tatapan paling menjijikkan.
"Coba teriak lagi sekarang, aku mau denger suara teriakan kamu itu." Sandy membelai sisi wajah Aura yang sudah basah oleh airmata bercampur keringat dinginnya.
"Dalam kondisi tertekan dan ketakutan seperti ini kamu beribu kali lebih cantik, Aura," desisnya lagi ditelinga gadis itu.
Aura tergugu, dia sangat takut, dia tak bisa melawan sebab dia tak berkutik-- karena jika dia bergerak sedikit saja itu justru bisa membuat Sandy dapat melihat pada bagian tubuhnya yang sudah terbuka.
"Kamu gila, Sandy!" balas Aura menyahut ucapan pemuda itu.
Sandy tertawa sumbang. "Iya, dan ini karena kamu. Kamu tau gak, aku gak akan buat kamu terluka. Aku janji, Sayang."
Aura mengadahkan wajah, dia meludahi wajah Sandy saat itu juga. Mendengar panggilan sayang darinya membuat Aura sangat jijik.
"Kurang ajar!" marah Sandy sembari mengelap wajahnya yang lengket karena ulah Aura. Kemudian dia terkekeh lagi. "Tapi aku suka kamu yang berani melawan kayak gini, permainan kita bakal menyenangkan. Kamu sangat menantang," katanya.
Aura berdoa dalam hatinya, dia tidak mau dirusak oleh lelaki seperti Sandy. Dia berjanji pada dirinya sendiri, apabila dia bisa lepas dari Sandy hari ini tanpa membuatnya kehilangan kehormatan, maka dia akan mempertaruhkan hidupnya untuk kebahagiaan orang lain. Dia bersedia melakukan itu asal hidupnya tidak berakhir ditangan si breng sek Sandy.
__ADS_1
Sandy masih mengelus-elus wajah basah Aura dengan lembut. Posisi Aura yang masih berjongkok dilantai membuatnya punya pemikiran licik untuk memulai permainannya.
Tak lama, pemuda itu mulai meloloskan celana jeans yang dia kenakan. Berdiri dihadapan Aura dan dengan bangga menunjukkan tanda keperkasaannya yang masih terbungkus kain segitiga. Aura spontan membuang muka, dia menggeram dalam hati, bertekad akan membuat Sandy menyesal membuatnya dalam posisi ini.
"Ayo! Lihat aku sekarang! Kita mulai permainannya dari sini. Kamu pasti akan menyukainya," kata Sandy kemudian.
Aura semakin terisak. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.
Sandy menarik rambut panjang Aura, membuat wanita itu tersentak karena merasakan sakit. Aura menutup matanya kala melihat Sandy sudah tidak mengenakan bawahan apapun lagi.
"Kalau kamu gak tau gimana caranya, biar aku ajari!" Sandy menjambak rambut Aura hingga kepala gadis itu mendongak. Tapi Aura tetap memejamkan matanya rapat-rapat.
"Sekarang kamu jerit lagi, coba! Biar aku tutup mulutmu itu dengan punyaku!" kata Sandy dengan seringaian me sum.
Aura membatin lagi dalam dirinya. Demi apapun dia tidak pernah menyangka penolakannya pada Sandy akan berakhir dengan hal semacam ini.
Brak!!
Bersamaan dengan itu, suara pintu terbuka dari luar. Sepertinya seseorang disana mendobraknya. Sandy melotot dengan mata terbelalak ke arah ambang pintu. Sementara Aura, perlahan menjauh saat Sandy lengah. Aura dapat melihat seseorang disana--yang berhasil membuka pintu gudang itu.
"Ngapain lo disini?" Pemuda pembuka pintu itu menanyai Sandy sembari melirik ke arah Aura sekilas. Dia juga melihat Sandy yang sudah tanpa bawahan, tapi tampangnya datar-datar saja.
"Lo yang ngapain kesini? Ganggu aja lo!" Sandy berdecak. Tapi dari perkataannya, sepertinya Sandy mengenal siapa cowok yabg ada di ambang pintu itu.
"Pake celana Lo! Ken-cing tuh di toilet, bukan di gudang! Kebiasaan lo!"
"Siapa juga yang mau ken-cing! Gue mau--" Disanalah Sandy mencari-cari keberadaan Aura namun gadis itu sudah tidak ada lagi, entah kapan dia keluar dari ruangan itu.
"Sial! Lo bener-bener ganggu gue!" Sandy buru-buru memakai celananya lagi, dia berniat mengejar dan mencari dimana Aura sekarang. Dia tak akan membiarkan Aura lolos darinya hari ini.
"Eits ... lo mau kemana?"
"Berisik! Udah gue bilang, lo ganggu gue. Aura jadi kabur gara-gara lo. Lo lihat gak cewek disini tadi? Kemana dia?"
Cowok itu hanya mengendikkan bahu seolah tak tau menahu mengenai ucapan Sandy. Dia sebenarnya berlagak bo doh dan tak tau apa-apa, padahal tadi jelas-jelas dia melihat sang gadis pergi dari ruangan itu dengan cara mengendap-endap.
...****...
__ADS_1
Sambung gak nih?