
Juna baru saja memutus panggilan telepon dari Shanum, wanita itu sempat mengadu perihal dirinya yang ketahuan oleh Anton karena tidak pulang semalaman.
Hal ini semakin membuat pikiran Juna semrawut, belum lagi memikirkan perubahan sikap Yara yang sempat melawannya pagi tadi.
"Kenapa sih para wanita ini bikin aku ribet, gak Shanum, gak Yara, sama aja," gerutu Juna sembari berdecak lidah sekilas.
Merasa malas pulang ke rumah setelah keluar dari tempat kerjanya, Juna memutuskan untuk bertolak ke Decorindo Architecture sebab masih ada urusan mengenai renovasi bagian kamar di rumah barunya.
Sampai disana, tanpa sengaja justru ia bertemu dengan Sky yang juga menyapanya.
Sepertinya Sky sudah percaya jika ia tengah merenovasi rumah baru untuk hadiah buat Yara, sehingga Juna tak perlu repot meyakinkan pria itu lagi.
Lagipula, Juna yakin jika Sky dan Yara tidaklah dekat dan berteman akrab. Mereka hanya sesekali bertemu jika ada acara dari alumni SMA--seperti ketika Sky mengantarkan Yara pulang saat acara ulang tahun Rina tempo hari, pikirnya.
Setelah berkonsultasi sebentar dengan desainer rumah, Juna memutuskan untuk mendatangi kediaman barunya daripada pulang ke rumah kontrakannya.
"Mau ketemu Shanum belum bisa karena dia masih takut dicurigai Mas Anton. Mau pulang ke kontrakan juga males karena ngelihat Yara yang udah berani membangkang."
Juna menggaruk pelipisnya sekilas sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Kalau aja Shanum bisa ketemu aku, udah aku jemput dia sekarang." Lagi-lagi Juna bermonolog. Punya dua wanita dalam hidupnya tapi malah merasa sepi, seperti tidak punya tujuan.
Tak lama, sampailah Juna di rumah barunya yang terletak disalah satu perumahan.
Sedikit banyak, Juna bangga, akhirnya ia bisa membeli rumah yang cukup besar ini dengan uang dan jerih payahnya sendiri.
"Kalau nanti anak-anak aku udah besar, pasti senang tinggal disini. Ah, Shanum... lama banget kamu lahirannya." Pria itu tersenyum simpul, kemudian mulai membuka pintu rumah dengan sebuah kunci.
Sampai didalam, Juna melihat-lihat hasil kerja para tukang yang sudah merenovasi rumah.
"Bener kata Shanum, dikasi desain begini jadi lebih estetik dan keren."
Setelah puas memandangi semua itu, Juna duduk didepan tv. Lagi-lagi ia mengingat tingkah Yara saat melawannya dengan berani pagi tadi.
"Apa Yara curiga, ya? Kalau dipikir-pikir, aku gak pernah ninggalin jejak apapun yang buat dia curiga. Selama ini juga dia terima-terima aja aku kasi uang sejuta sebulan."
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, udahlah, mungkin Yara lagi dapet jadi bawaannya emosi gitu," katanya kemudian.
Sementara itu dilain sisi, Sky dan Beno juga tiba di kawasan perumahan dimana rumah baru Juna berada.
"Blok C nomor 37-B. Yang itu bukan, Ben?" tanya Sky merujuk pada sebuah rumah yang tampak senyap.
"Iya, yang itu kayaknya," sahut Beno mengiyakan.
"Coba kau datangi, Ben..."
Beno tidak fokus pada ucapan Sky karena dia sibuk dengan pizza yang dimakannya. Sebelumnya mereka memang sempat ke warung pizza dan membelinya sebagai bahan untuk melengkapi penyelidikan mereka ini.
"Ben!"
"Huh? Apa Sekai?"
"Haiss, makan aja yang dibanyakin. Itu pizza dibeli buat misi penyelidikan. Katanya mau jadi detektif!"
Beno nyengir. "Ntar ya, habisin satu ini dulu," katanya kemudian.
Sky pun menghela nafas panjang. Tak lama, Beno turun dari mobil milik Sky sambil membawa sekotak pizza. Tak lupa pria itu juga mengenakan jaket dan topi hitam dikepalanya.
__ADS_1
Beno bukan menekan bel di rumah baru milik Juna, tetapi malah menekan bel di rumah yang berada tepat disebelahnya.
"Maaf, siapa dan ada perlu apa?" Seorang Asisten Rumah Tangga menanyakan Beno dari balik pagar.
"Saya mau antar pesanan makanan atas nama Bapak Juna."
"Oh, Bapak Juna bukan yang ini rumahnya. Tapi yang disebelah."
"Yang bener, Mbak? Katanya rumahnya yang ini... Blok C nomor 37-B," ujar Beno ngotot.
"Bukan, yang disebelah baru 37-B. Ini 37-C, Mas."
Akting Beno cukup lumayan dari pandangan mata Sky yang memantaunya didalam mobil.
"Jadi rumah Pak Juna yang disebelah ya, Mbak?"
"Iya, betul."
"Pak Juna suaminya Ibu Ayara, kan?"
Asisten rumah tangga itu mengernyit kemudian menggeleng. "Bukan, Mas. Kalau yang disebelah nama istrinya Shanum. Kalau Bapak Juna yang mas maksud saya gak kenal..." terangnya.
"Tapi ini pesanannya begitu, Mbak. Atas nama Bapak Juna atau Ibu Ayara."
"Coba deh ditanya aja ke sebelah, Mas. Setahu saya istrinya yang sebelah Shanum bukan Ayara."
"Oh, gitu ya, makasih ya mbak. Aduh... saya salah alamat ini. Gimana ya," gerutu Beno yang berlagak menjadi kurir pengantar makanan itu.
"Coba ditanya dulu, Mas coba ke sebelah. Nah, itu mobilnya ada, berarti Pak Juna lagi ada dirumah itu."
"Gitu ya, Mbak? Saya takut rugi kalau pesanannya gak diambil dan nyasar gini. Ditelepon juga gak bisa," akting Beno dengan wajah menyedihkan.
"Gitu ya, Mbak. Okelah, makasih banyak ya, Mbak."
Melihat ART itu kembali masuk, secepat kilat Beno kembali kedalam mobil Sky.
"Kau salah alamat, Sekai!" gerutu pria itu langsung mengomeli Sky.
"Apanya yang salah alamat?"
"Itu bukan rumah Juna yang kau cari."
"Wulan kasi alamat ini ke aku," kata Sky yakin.
"Orang kata pembantu yang disebelah rumah itu, nama istrinya bukan Ayara. Memang yang punya rumah nomor 37-B itu Juna, tapi Juna ini nama istrinya Shanum."
"Shanum?" ulang Sky sambil mengernyit.
"Iya, udahlah, pizza nya biar ku makan aja."
Sky pun berpikir cepat sambil mengetuk-ngetukkan jari di setir mobilnya.
Beno baru saja mau melahap pizza lagi, tetapi Sky kembali bersuara.
"Nanti aku belikan kau pizza, sekalian untuk Jenifer juga boleh. Tapi, datang lagi ke rumah itu. Kali ini benar-benar ke rumah nomor 37-B."
"Sebenarnya maksud dan tujuan dari permainan detektif ini apa? Aku kok jadi ngerasa gak enak hati, ya."
__ADS_1
"Udahlah, kau gak perlu tau. Intinya, kau tolongin aja kawanmu ini, Ben..."
"Dan bayarannya hanya pizza?" tanya Beno mengangkat kotak pizza dihadapannya.
"Jadi apa maumu, Ben?"
Beno tersenyum smirk tanda penuh maksud. "Bolu Meranti yang dari Medan itu ya, Sky..."
"Astaga, Ben. Gak sekalian aja kau minta yang jauh dari kampung istrimu di Australia sana?"
"Hahaha..." Beno terbahak sambil kembali menuruni mobil.
Beno pun akhirnya kembali berlarian menuju rumah Juna.
"Permisi...."
Beberapa kali memanggil, akhirnya Juna keluar dari dalam rumahnya. Disaat yang sama, Sky yang juga memantau dari dalam mobilnya pun terkejut karena ternyata itu benar-benar Juna yang ia kenal alias suami Yara.
Sebenarnya, jika tadi Sky tidak mendengar nama Shanum disebut, dia tak akan merasa terkejut seperti ini, sebab ia sudah mengira jika itu memang rumah Juna, kan?
Tetapi, karena ART rumah sebelah sempat mengatakan bahwa istri dari Juna sang pemilik rumah itu bernama Shanum, disinilah Sky jadi bertanya-tanya.
Siapa Shanum?
"Siapa, ya?" Juna menanyai Beno.
"Saya pengantar makanan, Pak."
"Oh, saya gak pesan makanan."
"Tapi alamatnya benar disini, Pak," kata Beno.
"Memangnya yang pesan atas nama siapa?"
"Shanum, Pak," ujar Beno random.
Mendengar nama Shanum, Juna menipiskan bibir.
"Oh iya, berarti itu memang benar untuk saya, Mas."
"Oke, Pak." Beno menyerahkan sekotak pizza itu untuk Juna.
"Istrinya romantis sekali ngirimin makanan buat suaminya, mungkin niat buat kejutan ya, Pak," kelakar Beno berbasa-basi.
"Iya, istri saya kadang suka begitu," kata Juna menanggapi.
Beno pun berlalu, setelah sebelumnya undur diri dari hadapan Juna.
"Apa ku bilang, nama istrinya Shanum. Buktinya, saat ku bilang pizza itu dari Shanum baru dia mau nerima. Kenapa kau kira nama istrinya Ayara? Aneh-aneh aja kau, Sekai." Beno mengoceh sambil membuka topi dan jaketnya di dalam mobil Sky.
Sky hanya diam tak menyahut, ia tengah berpikir dan mencoba mencerna semua ini. Lagi-lagi dipikirannya hanya ada satu pertanyaan.
Siapa Shanum?
Apa ini artinya rumah itu dibeli Juna memang bukan untuk Yara, melainkan untuk Shanum?
Bersambung ....
__ADS_1
****
Nanti aku up lagi ya... berikan dukungan dan tinggalkan komentar ya bestie❤️