EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
87. Takut Hilang


__ADS_3

"Sayang?" Tangan Sky meraba sisi sampingnya, dimana seharusnya Yara tertidur disebelahnya.


Sky terlonjak saat menyadari tidak ada siapapun disisinya. Tidak, tidak, sepertinya ini ada yang salah. Jangan bilang kalau yang semalam itu hanya mimpi?


Ini sama sekali tidak lucu. Ia sudah menikahi Yara dan yang terjadi kemarin benar-benar nyata. Ia bahkan masih dapat merasakan kehangatannya. Dan itu bukanlah mimpi. Sekali lagi, itu BUKAN MIMPI. TITIK.


"Sayang?" Mata Sky kembali menyapu seluruh ruang kamar, mencari keberadaan Yara dengan panik. Syukurnya ada sebuah bukti akurat yang terletak di atas meja kerjanya. Itu adalah blus merah jambu milik Yara yang sempat ia robek kemarin.


Sky menghela nafas lega. Paginya di awali dengan kepanikan luar biasa. Sky bangkit dan mencari Yara di kamar mandi tapi tak ada.


Menguap sejenak dan memutuskan keluar dari kamar pribadinya.


Nyatanya, ia menemukan sang istri tengah sibuk memasak di dapur pagi ini.


"Sky? Belum mandi kok udah turun?" Indri yang menegur Sky, membuat Yara yang sedang sibuk mengaduk makanan didepan wajan akhirnya menoleh untuk mendapati wajah bangun tidur milik suaminya.


"Ah, aku cuma cari Yara, ma."


Yara tersenyum di posisinya, namun ia tak mau menimpali pembicaraan Sky dengan sang Mama.


"Istrimu disini kok, bantuin Bi Sri masak. Udah mama larang enggak mau."


"Gak apa-apa, Ma." Akhirnya Yara menyahut, namun tetap fokus pada masakannya.


"Mungkin Den Sky takut istrinya hilang, Nya." Bi Sri sang ART-- malah ikut menimpali pembicaraan itu dengan candaannya.


Indri terkekeh. "Ya iya, pasti dia pikir istrinya kabur," ujarnya setuju dengan candaan Bi Sri.


"Ya, kan, Sky?" Kali ini Indri kembali menatap sang putra, seolah menanyakan jawabannya.


Sky hanya bisa meringis sambil menggaruk kepala bagian belakang dengan raut canggung. "Ya udah, aku mandi dulu, Ma," katanya langsung menghindar.


Selepas kepergian Sky, tiga wanita beda generasi itu terkekeh karena sudah mendapati tingkah absurd Sky sepagi ini.


"Bi, ini udah siap. Tolong bantu pindahin ke piring, boleh? Aku mau nyiapin baju kerja Sky."


"Enggeh, Non."


Bi Sri langsung mengambil alih masakan yang telah diselesaikan oleh Yara itu.


"Aku ke atas dulu ya, ma."


"Iya, abis itu sarapan sama-sama, ya."


Yara mengangguk kemudian kembali naik ke lantai atas untuk menyiapkan keperluan Sky yang hendak bekerja di Senin pagi.


Yara masuk ke kamar, mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Ah, tandanya Sky masih dengan kegiatan itu. Gegas ia memilah-milah baju yang kiranya cocok untuk dikenakan suaminya hari ini.


Sebuah kemeja berwarna navi dengan celana bahan hitam sudah Yara siapkan, tak lupa ia menarik sebuah ikat pinggang yang tergantung di sisi lemari. Menyiapkan itu diatas tempat tidur untuk memudahkan suaminya.


"Apa lagi, ya?" Yara bermonolog. "Ah, iya, dalam@n," katanya.


Yara mencari benda itu di dalam laci dan menemukannya. Memegang benda paling pribadi milik Sky membuatnya sedikit bersemu merah, akan tetapi buru-buru ia membuang rasa malu, mulai sekarang ia harus membiasakan. Benar, begitu?


Saat Yara hendak berbalik dan sudah menyelesaikan tugasnya itu, sepasang tangan tiba-tiba melingkari sisi tubuhnya. Itu adalah Sky yang memeluknya dari belakang.


"Sky," kata Yara mencoba protes dengan tindakan pria itu.


"Kenapa?"


"Pakaian dulu, ini udah aku siapin bajunya, hmm?"


Sky malah makin mendekap Yara dengan erat.

__ADS_1


"Mau gini terus? Ntar terlambat kerja lho!"


"5 menit." Sky meletakkan dagunya di pundak Yara, kemudian memejamkan matanya disana. "Biarin kayak gini 5 menit lagi," imbuhnya.


Yara menghela nafas dan membiarkan Sky berada dalam posisi itu, ia juga menikmati dekap hangat suaminya dan tersenyum dengan keadaan ini.


"Cukup, Sky. Udah 5 menit." Yara mencoba meregangkan kedua tangan Sky yang masih setia memeluknya.


"Kamu tau gak, kenapa tadi aku langsung turun ke bawah padahal belum mandi?"


"Kenapa? Karena cari aku?"


Sky mengangguk. "Yang di bilang mama tadi bener sih, aku takut kamu hilang. Lebih tepatnya, diawal bangun tadi aku pikir semua yang terjadi sama kita semalam cuma mimpi." Sky mencebikkan bibir untuk menunjukkan kesedihannya, tingkahnya sudah seperti anak kecil yang sedang mengadukan sesuatu pada Yara.


Tangan Yara terulur dan mengusap pipi Sky dengan lembut.


"Kita emang udah menikah. Semuanya bukan mimpi. Udah, wajahnya jangan di tekuk gitu, ya. Cep cep cep...." Yara pun sengaja bersikap lebay, dengan niat menenangkan Sky, padahal ia ingin sekali tertawa sampai terbahak-bahak sekarang.


Mendengar itu senyuman Sky langsung tersungging, wajahnya kembali ceria. "Hummm.... sayang banget sama kamu," lagak Sky dan kembali memeluk Yara.


Ah sudahlah, Yara tidak dapat menahan tawanya lagi sekarang. Ia benar-benar terpingkal di dalam pelukan Sky.


"Ketawa aja terus!"


"Hahah, abisnya kamu tuh manjanya ngalah-ngalahin aku!" kata Yara.


"Mau gimana lagi, selama ini udah gak pernah dimanjain lagi sama kamu. Pokoknya sekarang aku menuntut pembalasan. Aku mau balas dendam. Setiap hari mau dimanja."


Duh, jika sudah begini Yara mau bilang apa, pikirnya.


"Kelakuan, Sky .... kayak anak TK."


"Biarin. Namanya juga--"


"Bucin," potong Yara yang kini membuat Sky ikut terkekeh.


Sky berdecak mendengar ucapan sang istri.


"Ngapain di dapur? Itu urusan Bi Sri, kamu gak usah ngurusin gituan."


"Aku cuma mau masakin sarapan buat suami aku. Apa salah?"


Sky terdiam. Tapi pendengarannya sempat menangkap ucapan Yara yang mengatakan suami.


"Coba bilang sekali lagi," kata pria itu.


"Bilang apa?"


"Yang tadi, mau masakin suami."


Wajah Yara langsung memerah. "Ya, kan bener... aku mau masakin kamu."


"Kamu siapa?"


"Ya kamu. Sky."


"Sky siapa? Siapanya kamu?"


"Ish, apaan sih?" Yara jadi salah tingkah, padahal Sky hanya berniat menggodanya saja.


"Ya, aku siapanya kamu? Aku kan cuma mau mastiin aja. Udah diakui atau belum," paparnya.


"Kamu ya suami aku. Hari ini aku masak sarapan buat kamu, suamikuuuuu.... apanya lagi yang gak diakui? Apa perlu aku buat pengumuman nanti?"

__ADS_1


Sky mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ish, udah ah, pakaian sekarang." Yara iseng dan menarik handuk Sky sebelum benar-benar berlalu dari kamar itu. Setelahnya, Yara langsung ngacir untuk menghindar karena sudah melakukan tindakan yang memalukan.


Sky tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Awas aja kamu!" gumamnya disertai senyum tengil.


Pagi itu, mereka sarapan bersama-sama hingga Yara mengantarkan kepergian Sky untuk bekerja.


"Ini gak bener nih," kata Sky sebelum beranjak pergi.


"Apanya yang gak bener?" Yara melongo.


"Harusnya aku cuti panjang karena baru menikah. Aku gak tega ninggalin istri cantikku..."


"Heleh, gak tega ninggalin istri atau kamu nya aja yang maunya mepetin Yara terus," celetuk Indri menggoda putranya.


Yara dan Sky sama-sama tertawa mendengar itu.


"Tapi emang seharusnya aku ambil cuti, kan, Ma?"


Indri mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, masa pengantin baru udah kerja. Ntar pas pulang istrinya hilang, gimana?" canda Indri, sepertinya sekarang ia punya jurus baru untuk mengganggu putranya.


"Mama apa sih...." gerutu Sky.


Indri mengendikkan bahu, kemudian meninggalkan Sky dan Yara berdua didepan teras.


"Ya udah, hari ini aku kerja dulu, ntar aku urus cuti secepatnya biar kita bisa lanjutin rutinitas baru kita."


"Ya terserah kamu aja sih. Aku gak masalah kok."


"Yakin?"


Yara mengangguk dengan yakinnya.


"Ntar aku tinggal kerja bakal kangen, lho!"


"Gak juga tuh," ledek Yara.


"Kamu kok gitu, sih? Awas kamu nanti," kata Sky sembari melihat arloji di tangan kirinya. "Ya udah, aku berangkat kerja ya, sayang. Kamu baik-baik dirumah."


"Iya, kamu juga hati-hati pergi kerjanya."


"Siap, Bos."


Yara sampai terkikik geli mendengar Sky memanggilnya Bos. Bagaimana tidak, itu berarti posisi Yara saat ini lebih tinggi daripada seorang Sky Lazuardi? Iyakah? Tentu iya, Sky sepertinya sangat takut ia marah.


"Pas aku pulang nanti, kamu harus tetap ada di rumah, ya."


"Astaga Sky, emang aku mau kemana? Ya aku dirumah, lah."


Sky terkekeh lagi, ia mengacak gemas rambut Yara. "Bye, love you." Kemudian mengecup pipi Yara, kiri dan kanan.


"Hmm, love you, husband."


Wah, Sky senang sekali mendengar jawaban Yara kali ini. Tidak jutek, malah sangat manis. Ingin berlama-lama tapi waktu sudah sangat tidak memungkinkan.


"Aku kerja, ya." Sky melangkah mundur sambil masih menatapi wajah istrinya.


"Iya, dah..." Yara melambai-lambaikan jemarinya.


Pria itu ikut melambaikan tangan, lalu berbalik dan memasuki kabin mobilnya. Dengan rasa yang berat hati, mau tak mau ia harus meninggalkan Yara untuk bekerja hari ini.


Bersambung ....

__ADS_1


****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, gaes. Abis ini aku bakal up 1 bab lagi untuk hari ini. Stay tune❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2