
Setelah selesai dengan urusan jajan, Yara undur diri dari hadapan Juna dengan senyuman kecil--senyuman yang bagi Yara hanya sebuah sunggingan biasa untuk seseorang yang ia kenali-- tetapi bagi Sky itu terlihat sangat berlebihan.
"Kenapa sih, pake acara senyum-senyum gitu?" Sky memprotes tindakan Yara.
Yara hanya merespon perkataan suaminya dengan tawa geli. Dia tau Sky cemburu pada Juna.
"Senyuman kamu itu cuma buat aku, Sayang. Jangan gitu lagi lah. Kalau dia baper gimana?"
Yara menggelengkan kepalanya. "Suami lebaynya aku... mulai deh," ujarnya masih merasa lucu.
Lantas, Yara menggenggam jemari Sky lebih erat lagi hingga mereka berjalan bergandengan menuju mobil yang tadi di parkir secara sembarangan.
"Abis ini aku pasti bayar tilang, nih," kata Sky menggerutu.
"Ya udah, sih. Aku gak nyuruh kamu ikut turun tadi. Aku nyuruh kamu parkir di pelataran Rumah Sakit, kan?"
Sky berdecak lidah, kalau tadi dia tak ikut turun menemani Yara jajan cilok, pasti dia akan sangat menyesal karena disana justru Yara bertemu dengan mantan suaminya.
"Gak apa-apa aku bayar tilang, daripada biarin kamu jajan sendirian terus ketemu mantan," gumam Sky pelan.
Yara menoleh pada sang suami yang mulai melajukan mobil dan memasuki area Rumah Sakit tujuan mereka, ia tak habis pikir secemburu itu Sky pada Juna. Ah, tidak, sepertinya pada semua pria juga. Hmm ...
Sementara disana, Juna merasa penasaran perihal apa yang membuat Yara dan Sky mendatangi Rumah Sakit hari ini. Apa Yara sakit? Juna pun mengikuti keduanya secara diam-diam.
Saat melihat Yara dan Sky memasuki poli kandungan, disana Juna merasa sangat heran sekaligus terkejut.
"Yara hamil atau mereka mau konsultasi kesuburan, ya?" batin Juna bertanya-tanya.
Juna ingin mengetahui hal ini, tentu saja, dan jika Yara hamil, bagaimana?
"Gak mungkin Yara hamil. Dua tahun kebersamaan kami, dia gak menunjukkan adanya tanda-tanda kehamilan," batin Juna berkata-kata.
Juna belum tau akan seperti apa dirinya jika Yara benar-benar hamil, lalu pria itu pun memutuskan untuk menunggu sampai Sky dan Yara keluar dari poli kandungan.
...~~~...
Sky dan Yara keluar dari poli kandungan dengan wajah cerah.
Mendengar dan melihat lewat layar USG-- bahwa bayi-bayi mereka tumbuh dengan baik di dalam rahim Yara-- membuat keduanya amat sangat lega.
"Aku seneng banget sayang, anak-anak kita berkembang dengan baik dalam kandungan kamu."
Yara mengangguki perkataan suaminya, ia pun sama, berbagi kehidupan dengan dua bayi lain dalam satu tubuh yang sama--rasanya luar biasa takjub.
"Kamu jangan capek-capek makanya, kalau aku bilang gak usah masak, ya gak usah, biar Bi Sri aja yang masak."
"Iya, Sayangkuuuu ..."
Sky mengeratkan genggaman jemari mereka sembari berjalan dan berbincang ringan, tanpa mereka sadari ada Juna yang sempat mendengar percakapan itu-- demi mendapat sebuah jawaban atas rasa penasarannya.
"Jadi, Yara beneran hamil?" Juna mengurut pelipisnya sendiri. Dia terduduk lemas di kursi tunggu yang ada disana sembari memperhatikan punggung Yara dan Sky yang mulai menjauh meninggalkan area Rumah Sakit.
__ADS_1
Ada rasa sakit yang tidak bisa diutarakan. Kenapa saat bersamanya Yara tak kunjung hamil? Lalu, saat Shanum mengandung--yang dia kira itu adalah darah dagingnya--ternyata juga bukan anaknya.
Apa Juna perlu menyangsikan kemampuan dirinya sendiri? Ataukah hal ini akan membawanya sampai pada tahap memeriksakan kesuburan?
"Juna, kamu kemana aja, sih? Mama nyariin kamu dari tadi."
Juna mendapati sang Mama yang sudah berada didekatnya.
"Maaf, ma."
Bu Laksmi keheranan saat melihat raut wajah Juna yang lain daripada biasanya. Juna terlihat sedih?
"Kamu kenapa?"
"Gak ada, Ma. Mama udah selesai periksa? Kalau udah kita langsung pulang aja ya, ma."
Bu Laksmi semakin aneh pada tingkah Juna, putranya itu terlihat tidak bersemangat.
Juna sendiri sedang memikirkan tentang kesehatan dirinya, mungkin memang ada yang salah pada dirinya. Hingga mereka tiba di rumah, pria itu semakin merenung.
"Nih, surat buat kamu...." Bu Laksmi yang tadi sudah membiarkan Juna masuk ke kamar, kini mendatangi Juna dan menyerahkan beberapa lembar surat.
Juna melihat sekilas, dia sudah tau surat apa yang diberikan sang Mama. Itu adalah surat yang sudah sering ia terima yakni surat tagihan kartu kreditnya.
"Jual ajalah rumah kamu itu, kalau nyatanya cuma buat nambahin hutang..." Bu Laksmi menggerutu sambil lalu, namun ucapannya cukup terdengar jelas ditelinga Juna.
Kembali pria itu mengurut dahi. Seandainya dulu dia tak menuruti keinginan Shanum, seandainya juga dia tak mengkhianati Yara, apa mungkin sekarang ia bermasalah seperti ini? Terutama pada perasaannya sendiri? Ia tidak tertarik lagi untuk membina rumah tangga.
Juna sadar sekarang, bahwa dia yang tidak pernah bersyukur, dia pula yang sudah menyia-nyiakan wanita sebaik mantan istrinya. Bahkan Yara tidak pernah komplain dengan uang bulanan pemberiannya. Kenapa ia harus membalas Yara dengan pengkhianatan?
Apalagi setelah Juna tau jika sekarang Yara tengah hamil. Dulu dia yang selalu berpikiran bahwa Yara tak bisa memberikan keturunan untuknya. Tapi sekarang apa?
Kalaupun dulu Yara bisa hamil, belum tentu Juna tetap setia.
Sebab selalu ada alasan untuk seorang pria berselingkuh. Dia seakan mencari kesalahan dari pasangannya untuk pembenaran tindakan yang telah dia lakukan.
"Maafin aku, Ra. Harusnya dulu aku gak berpikiran jelek tentang kamu. Harusnya juga aku menerima kamu sebagaimana kamu yang udah nerima aku dari awal pernikahan kita."
Kini, penyesalan rasanya tidak berguna. Nyatanya Juna memang iri pada posisi Sky yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang ayah dari anak yang dilahirkan oleh Yara.
Miris. Sangat miris. Tapi ini bukan apa-apa ketimbang perasan sakit yang dia torehkan dulu--dalam kehidupan Yara.
"Kamu baik dan kamu berhak bahagia, Ra. Mungkin memang ikatan jodoh kita gak lama. Aku berharap kamu selalu bahagia dengan pilihan kamu sekarang," batin Juna kembali meratapi.
...~~~...
Anton berusaha untuk tidak mengharapkan kehadiran Nadine lagi hari ini. Pasalnya, bukan hanya karena kehadiran Lucky di Indonesia, tetapi juga karena ungkapan rasa yang sempat wanita itu utarakan padanya kemarin.
Anton tau, dia tidak layak bagi seorang Nadine. Kualitas, kuantitas bahkan kapasitas dirinya tidak akan sesuai dengan wanita kelas atas seperti wanita itu.
Lagipula, jika dibandingkan dengan Lucky--ia sudah jelas kalah telak sebelum beradu. Apa sih, yang Anton miliki untuk membuat Nadine tetap memilihnya ketimbang Lucky?
__ADS_1
Perbandingan Anton dengan Lucky sangat amat berbanding terbalik. Bagai siang dan malam yang sulit untuk disejajarkan. Anton sadar diri hingga merasa rendah diri bahkan sebelum dia mengulik rasa yang juga timbul dihati sendiri.
Tok tok tok...
Tok Tok Tok...
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu rumah Anton diketuk dari luar. Dia tau ini bukanlah Nadine sebab suara ketukan itu terdengar sangat mendesak dan juga terlalu keras.
Anton menelisik jendela dan mendapati tiga orang berbadan besar yang berdiri didepan rumahnya.
Siapa mereka? batin Anton bertanya. Ia melirik ke arah kamar dimana Elara sudah tertidur disana. Ia bukan takut menghadapi tiga pria ini, tapi ia takut kehadiran mereka justru akan membangunkan putrinya.
Bukan sekali ketukan itu terdengar, tapi bertubi-tubi, bahkan seakan ingin meruntuhkan rumah sederhana milik Anton. Tak ayal, pria itu akhirnya membukakan pintu untuk bertanya apa niat ketiganya.
"Kalian siapa?" tanya Anton dengan nada dingin.
Ketiga pria itu langsung melempar pandang bergantian. Sadar jika yang ada didepan mereka adalah targetnya, salah satu dari mereka pun menganggukkan kepala sebagai kode.
Bugh!
Sebuah tonjokan tanpa basa-basi-- melayang dan mendarat tepat di rahang Anton. Membuat pria itu bergeming dari posisinya dan tentu terkejut sebab tak menyangka ini akan terjadi.
Tunggu ... Anton merasa tak pernah terlibat perkelahian, dia juga tak merasa mempunyai hutang hingga harus berurusan dengan debt collector.
Anton tentu tak terima diserang tanpa ada kesalahan. Dia membalas ketiganya dengan perlawanan yang tak pernah diduga.
Pria berbadan tambun dan besar tersungkur karena kemampuan bela diri yang Anton miliki.
"Sial!" Salah satu dari mereka bertiga mengumpat karena ditinju Anton secara bertubi-tubi.
Perkelahian yang tak seimbang itupun tak dapat terelakkan, semua terjadi begitu saja.
Fandi yang sedang berada di Kios Bengkel Anton yang terletak tak jauh dari kediaman pria itu pun, langsung keluar dari sana dan ikut membantu menyerang orang-orang yang tidak jelas asalnya itu.
"Kenapa kalian memukul saya?" bentak Anton emosi.
Pria besar yang sudah babak belur itu menggelengkan kepala. "Kita cuma disuruh aja, dibayar..."
"Siapa yang membayar kalian?" Fandi ikut menimpali. Dia mencengkram kerah baju salah satu pria itu.
Bersamaan dengan itu, suara tangis Baby Elara mulai terdengar nyaring dari dalam kamar, membuat Anton serba salah tapi dia juga ingin tau siapa yang mengutus ketiganya untuk menghajarnya hari ini.
"Kau urus mereka, Fan. Aku lihat Elara dulu." Mau tak mau Anton harus menunda rasa ingin tahunya sebab ia tak bisa mengabaikan tangisan putrinya.
Bersambung ...
Kirimin kopi kesini dong🥰🥰🥰🥰🥰
Gimana menurut kalian guys???
__ADS_1