EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
28. Nekat


__ADS_3

Sky baru saja akan keluar dari kantornya saat tanpa sengaja melihat sesosok pria yang terlihat familiar baginya. Sepertinya pria itu memang sengaja datang bertandang untuk berkonsultasi pada salah seorang rekannya di bidang interior.


Saat Sky ingin menghampirinya, rupanya pria itu sudah keluar dan berderap ke arah yang berlawanan.


"Wulan?"


Wanita bernama Wulan itu pun menoleh pada Sky. "Ya, Pak?" jawabnya.


"Yang tadi itu, klien baru?"


"Oh, iya, Pak. Beliau mau sedikit merenovasi rumah barunya."


Sky mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ehm, kalau boleh tau, ada apa ya, pak?" Wulan cukup heran, biasanya Sky tidak pernah menanyakan mengenai klien yang ditangani orang lain. Pria itu lebih sering terfokus dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


"Gak apa-apa, beliau seperti teman saya tapi saya takut salah menyapa orang tadi. Namanya Juna, bukan?"


"Ah, iya, Pak. Beliau memang Bapak Arjuna. Mungkin beliau memang teman yang bapak maksud."


Sky menipiskan bibir. "Oke, makasih, Wulan," katanya.


"Sama-sama, Pak." Wanita itu mengangguk hormat sebab Sky adalah salah satu arsitek senior yang mumpuni dan disegani di kalangan mereka, pria itu juga petinggi sekaligus pendiri kantor konsultan desain tersebut.


"Oh iya, boleh tau alamat rumah baru Juna? Karena lain waktu saya sekalian ingin berkunjung kesana."


"Boleh, Pak." Mana mungkin Wulan menolak permintaan pria ber-alis tebal itu. "Saya akan kirimkan alamatnya ke email, Bapak," sambungnya.


"Oke. Thanks, ya, Lan."


Wulan kembali mengangguk dan membiarkan Sky berlalu dari hadapannya.


Sampai di mobilnya, Sky tersenyum penuh ironi.


"Jadi, dia benar-benar membelikan Ayara rumah baru?" gumam Sky. Ia kira rumah baru Juna yang akan didesain ulang adalah rumah untuk Yara, mengingat ucapan Juna tempo hari yang mengatakan padanya bahwa pria itu berniat membeli sebuah rumah.


"Ayara, aku kok udah kangen kamu?" Kembali pria itu bermonolog, akibat kejadian malam itu ia semakin sulit berkonsentrasi sekarang, Yara selalu menguasai pikirannya.


Tapi, mengingat Juna yang sudah membelikan Yara sebuah rumah baru, hatinya kembali memanas. Cemburu? Tentu saja.


"Sekai...."


Sky sudah tahu siapa yang memanggilnya dengan nada seperti itu. Beno terlihat mengetuk jendela mobilnya.


"Apa?" Sky menurunkan kaca mobil, tak jadi menyalakan mesinnya.


"Nebeng, ya. Mobilku di bengkel."


"Yaudah, ayo!"


Beno langsung mengitari mobil dan duduk di kabin penumpang yang berada tepat di sebelah Sky.


"Gimana masalahmu, udah kelar?" tanya Beno melirik Sky sekilas.


"Kelar gimana?"


"Yahh.... udah bisa dapetin istri orang, belum?"


Sky terkekeh. Ia ingat saat Beno mencibirnya waktu itu, ia justru membela diri dengan mengatakan bahwa istri orang lebih menantang.

__ADS_1


"Belom, butuh lebih banyak perjuangan," kata Sky realistis.


Beno ikut terbahak. "Makan tuh yang lebih menantang," katanya kembali mencibir.


Sky mengendikkan bahu cuek. "Why not?" ujarnya acuh tak acuh.


Beno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Tapi, ia juga tak mau terlalu jauh mencampuri urusan Sky.


Jika pilihan sahabatnya memanglah istri orang seperti yang Sky katakan, Beno hanya bisa menasehati, selebihnya semua pilihan itu tentulah kembali pada diri Sky sendiri.


"Suaminya juga baru belikan rumah."


Beno kembali terbahak. Ucapan sky barusan terdengar seperti berkeluh kesah.


"Kau kalah jauh kalau gitu!" cibir Beno kemudian.


Sky pun menghela nafas panjang. Ia menyugar rambutnya sembari tetap fokus mengemudi.


"Belum apa-apa kau udah kayak gini, Sekai. Jangan sampe gila aja kau, ya! Hahaha...." Suara tawa Beno pun memenuhi seluruh penjuru mobil Sky.


Sky hanya menatap sang sahabat sambil sesekali ikut terkekeh karena kelakarannya itu.


...~~~~...


Setelah mengonsultasikan perihal rumah barunya pada pihak jasa interior, Juna memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.


Tidak ada pertemuan dengan Shanum malam ini, mengingat Anton sudah kembali dari luar kota. Suami Shanum sekaligus kakak kandung Yara itu, memang terkadang akan keluar kota untuk hal pekerjaannya. Anton kadang pergi untuk mengambil atau mengantarkan motor orang lain yang kebetulan selesai diservis di bengkelnya.


Beberapa pelanggan yang mempercayai jasa bengkel Anton, terkadang tidak mau berpaling ke bengkel yang lain. Mereka bahkan rela membayar lebih agar Anton mau memperbaiki motornya. Belum lagi, kadang Anton ke luar Kota untuk mengambil mesin atau sparepart motor yang tidak bisa dikirim karena suatu kendala.


Hal itu membuat Juna dan Shanum sering ambil kesempatan. Seperti kemarin, mereka menginap dan menghabiskan waktu bersama di rumah yang baru Juna beli waktu itu.


"Kamu udah pulang, Mas?" Yara menyambut Juna dan membawakan tas kerja pria itu. Kendati perasannya tidak bisa mencintai Juna tetapi ia tetaplah seorang istri bagi pria itu.


"Iya, hari ini aku enggak lembur." Juna meraih gelas diatas meja dan meminum isinya.


"Kamu mau makan, Mas? Tadi aku udah masak."


"Boleh, aku mau mandi dulu ya." Juna beranjak dan memasuki kamar utama.


Yara pun menyiapkan makanan untuk sang suami.


Saat Juna kembali, Yara tengah menghidangkan makanan di meja makan.


"Ra?"


"Iya, Mas?"


"Kamu punya janji sama aku yang belum ditepati waktu di Bali."


"Hah? Janji apa, Mas?" Yara mencoba mengingat-ingat.


"Waktu itu, kamu janji bakal ngelayanin aku sepulang dari dinner terakhir kita di Bali. Tapi mana? Sampe sekarang kamu lupa, kan?"


Terkadang Juna juga bingung dengan dirinya sendiri, ia mengakui bahwa ia mencintai Shanum, tetapi ia juga tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak mencintai Yara. Ia tidak bisa meninggalkan kedua wanita itu. Andai ia bisa, ia mau keduanya.


Apalagi jika sudah melihat Yara berdandan cantik, Juna selalu mengingat saat pertama kali ia memiliki rasa pada wanita yang kini berada disampingnya. Untuk itulah ia masih menginginkan Yara, meski Yara tidak se-handal Shanum dalam urusan ran jang, tetapi Yara seperti memiliki hal tersendiri yang membuatnya sulit untuk meninggalkan.


Intinya, ia masih menginginkan Yara meski kadang ia juga menyadari jika sikapnya sering keterlaluan pada wanita itu.

__ADS_1


Mendengar kalimat Juna, Yara pun menghela nafas panjang.


"Mas, waktu pulang dinner tempo hari kan kamu mabuk. Terus, sepulang dari Bali juga kamu lembur terus. Tadi malam kamu bahkan gak pulang. Apa itu salah aku juga?" tanyanya.


"Ya udah, kalau gitu, habis ini aja, ya?"


Jika bisa, rasanya Yara ingin sekali menolak. Tetapi, ia takut Juna semakin marah. Bagaimanapun, sekarang ia hidup bersama dengan pria yang berstatus suaminya itu.


"Emang kamu gak capek, Mas?"


"Gak..."


"Ya udah kalo gitu." Yara memaksakan untuk tersenyum.


Juna kembali fokus pada makanannya dan menandaskan itu sampai tidak bersisa.


Baru saja Yara ingin membereskan sisa makanan mereka kala pintu rumahnya diketuk dari luar.


"Ada tamu, Mas..."


Juna menghela nafas panjang, kegiatan yang harusnya ia lakukan bersama Yara, sepertinya harus kembali tertunda karena kedatangan tamu.


"Ya udah, aku lihat dulu siapa yang datang." Juna berharap seseorang itu bukanlah orang yang akan berkunjung lama ke kediamannya.


Saat melihat yang berdiri di balik pintu. Juna justru tertegun beberapa saat.


"Pak Sky? Ada apa kesini?" tanya pria itu sedikit terkejut. Tapi kemudian ia berujar ramah. "Ayo, silahkan masuk, Pak," katanya mempersilahkan.


Sky masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Demi apapun ini adalah hal ternekat yang ia lakukan sepanjang sejarah hidupnya.


Mengapeli istri orang disaat suaminya juga tengah berada di rumah.


"Apa Pak Juna sedang sibuk?" tanyanya mengawali pembicaraan.


"Ah, gak juga, Pak."


"Maaf mengganggu waktunya ya, Pak. Kedatangan saya kesini untuk mengembalikan ponsel Ayara yang tertinggal di mobil saya."


Juna mengernyit keheranan. "Kok bisa ponselnya Yara tertinggal di mobil, Bapak?" tanyanya.


Sky dengan gaya tenangnya justru menyeringai tipis. "Kebetulan setelah acara Rina semalam, saya mengantarkan Ayara dan yang lainnya, pulang. Memangnya bapak tidak melihat mobil saya memasuki pekarangan rumah ini semalam?" tukasnya tidak sepenuhnya berdusta.


Mana mungkin Juna melihat hal itu sementara dia saja tak pulang kemarin.


Sky juga baru menyadari jika ponsel Yara tertinggal di dashboard mobilnya dalam keadaan non-aktif. Ia memutuskan mengantarkan benda itu sekarang, sekaligus curi-curi kesempatan melihat Yara, mumpung mempunyai alasan yang tepat.


"Siapa yang datang, Mas?" Yara berderap pelan, keluar dari kamarnya. Namun, langkahnya seketika terhenti akibat terkejut mendapati sosok pria yang tampak duduk berhadapan dengan suaminya.


"Sky..." gumam Yara lirih. Yara mendadak pening. Semakin nekat saja dia, pikirnya.


"Ehm, Ra. Pak Sky mau mengantarkan ponsel kamu. Semalam kamu dianterin Pak Sky, ya? Gimana sih, kok ponsel kamu bisa ketinggalan di mobil Pak Sky?" tanya Juna pada Yara yang membeku ditempat.


Yara pun menoleh sekilas pada Sky, pria itu justru terlihat mengulumm senyum ditempatnya, padahal Yara sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, ia harus jawab apa didepan Juna sekarang?


"Jadi, Sky juga udah bilang ke mas Juna kalau semalam dia nganterin aku pulang? Kenapa Sky harus senekat ini?" batin Yara merutuk Sky habis-habisan.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2