EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
22. Istri orang


__ADS_3

Juna memperhatikan halte disisi jalanan-- dimana biasanya Shanum sedang menunggunya untuk menjemput.


Setelah melihat dan mendapati sosok wanita yang dicarinya, perlahan Juna melambatkan laju mobil disisi jalan.


"Yang?" panggil pria itu.


Wanita yang merasa terpanggil itu langsung menoleh dan berjalan pelan demi menghampiri mobil kekasihnya.


"Lama banget, sih!" keluh Shanum sambil mengerucutkan bibirnya.


"Biasalah, Yara pake acara mau ikut!"


"Dih, ngapain?"


"Ya, dia bilang mau tau usaha konveksi yang sedang aku jalanin."


Shanum tersenyum miring, "Buat apa? Usahanya aja gak pernah ada," ujarnya sembari memasuki mobil Juna dan menutup pintunya.


Juna mengendikkan bahu, kemudian kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Selang beberapa saat, akhirnya perjalanan itu membawa mereka pada sebuah kawasan perumahan yang cukup elite.


"Kamu buat alasan apa lagi sama Mas Anton hari ini?"


"Aku bilang mau ke salon."


"Terus dia izinin?"


"Ya iyalah. Masa ke salon gak boleh."


"Maksud aku, dia percaya aja, gitu?"


"Mas Anton gak mungkin curiga. Dia selalu percaya sama aku. Aku bilang .... ini keinginan jabang bayi, ngidam pengen nyalon."


Juna terkekeh pelan, disusul suara kekehan Shanum yang berbaur menjadi satu.


"Kamu jago banget bohongnya, Yang!" kelakar Juna.


"Kan, kamu yang ngajarin."


"Kok aku? Kamu tuh yang sering bohongin Mas Anton."


"Dih, kamu juga sering bohongin Yara."


Keduanya terkekeh kembali karena perbuatan yang sama-sama sering mereka lakukan didepan pasangan sah masing-masing.


"Eh, tapi kamu keterlaluan banget, tau! Masa bilang sama Yara mau buka usaha segala. Kalau Yara tau kamu malah nabung untuk beliin rumah buat aku, gimana dong?"


Juna menggeleng samar. "Gak mungkin, lah!" tukasnya yakin.


Mobil mereka mulai berhenti didepan sebuah rumah bermodel minimalis modern. Itu adalah rumah yang baru Juna beli beberapa hari sebelum berangkat ke Bali. Hal itu pulalah, yang membuatnya menguras hampir keseluruhan uang tabungannya.


Nyaris kehabisan uang untuk melunasi rumah baru, Juna yang terdesak akhirnya meminta set perhiasan Yara yang kebetulan harganya memang cukup lumayan dan itu bisa membantu untuk membeli beberapa perlengkapan rumah barunya bersama Shanum.


"Ini rumahnya, Yang?" Shanum mendongak menatap bangunan dua lantai tersebut. Takjub, rumah ini 3 kali lipat lebih besar dari rumahnya bersama Anton.


"Iya, gimana? Seneng enggak?" tanya Juna.


Shanum mengangguk berulang, kemudian beringsut ke sisi Juna dan mendekap erat pria yang memiliki postur tubuh tinggi tersebut.

__ADS_1


"Makasih, ya, Yang! Baik banget, deh!" ujar Shanum riang.


Sebenarnya, Juna ingin menunjukkan rumah ini pada Shanum saat Yara pergi ke Bali. Tapi, mendengar Yara akan ke Bali, Shanum langsung heboh ingin ikut liburan juga, terpaksa Juna pun jadi ikut ke Bali dan menunda menunjukkan rumah barunya pada Shanum.


Waktu itu, awalnya Juna ingin pergi bersama Shanum saja tanpa sepengetahuan Yara, tapi ia takut jika melakukan itu justru bisa membuat pertemuan tak sengaja dengan Yara nantinya. Mengingat Yara yang juga akan ke Bali. Melarang Yara pergi pun percuma, ia tak akan ada alasan untuk cuti nantinya.


Jadi, lebih baik dari awal Juna mengikuti Yara, ia bisa mengajukan cuti dan juga ia menjadi tahu jadwal kepergian teman-teman istrinya-- untuk menghindari pertemuan tak disengaja.


Saat jadwal mereka ke pantai, Juna ke Ubud bersama Shanum. Saat mereka ke Ubud, Juna malah pergi ke Pantai yang jaraknya jauh dari villa--- tempat Yara menginap waktu itu. Alhasil, tak ada yang melihat ia bersama Shanum di Bali termasuk Yara sekalipun.


"Ayo masuk, Yang." Shanum menarik pelan lengan Juna dengan gayanya yang manja.


Juna mengiyakan, ia memberikan kunci rumahnya pada Shanum dan dengan senang hati wanita itu membuka rumah yang dihadiahkan Juna untuknya.


"Sofanya baru aku beli kemarin." Juna berujar saat mereka baru memasuki ruang tamu. "Suka enggak?" tanyanya kemudian.


"Suka, Yang. Selera kamu oke juga."


"Iya lah, makanya aku suka kamu. Kamu kan selera aku yang oke...." ujarnya sembari mencubit pipi Shanum dengan gemas.


Shanum tertawa dengan pipi yang bersemu merah mendengar pujian kekasihnya.


"Kalau ada yang kurang sama rumahnya, kamu bilang aja, nanti kita perbaiki."


"Beneran, Yang?"


"Iya, mana yang gak cocok sama kamu biar kita renovasi ulang, karena aku beli rumah ini udah setengah jadi, takutnya kamu gak suka sama desainnya."


Shanum pun berkeliling rumah untuk melihat-lihat desain bangunan serta interior yang sudah terpasang didalamnya.


"Yang, kalau kitchen set nya kita ubah warna gimana?"


"Hmm, emang warna itu gak bagus, ya?" Juna merujuk pada susunan lemari dapur yang tampak berwarna pastel tersebut.


"Oke deh, ntar aku hubungi pihak interior, biar desain ulang sekalian dipasangin parkit lantai."


"Makasih banyak ya, Yang."


Mereka pun melanjutkan kegiatan wisata rumah baru itu untuk meneliti bagian-bagian yang sudah cocok dan mana yang terasa masih kurang baik.


"Sekarang kita ke lantai dua, yuk!" ajak Juna. Shanum mengangguk dan mengikuti kemana pria itu membawanya.


"Ini kamar kita, Sayang..." Juna merangkul Shanum, melingkarkan tangannya disepanjang bahu wanita itu.


"Gak sabar pengen tinggal disini berdua sama kamu," celetuk Shanum.


Juna langsung memutar tubuh wanita itu, menatapnya dalam. Tak lama ia membawa Shanum kedalam rengkuhannya dan berakhir di atas ran jang yang ada di kamar tersebut.


****


Sementara itu, saat ini Sky sedang sibuk bersama rekan-rekannya yang akan menangani sebuah proyek.


Pekerjaan Sky yang seorang arsitek--secara sederhana dapat disebut sebagai desainer pembangunan yang memegang inti perencanaan sebuah proyek.


Jika diterjemahkan secara teknis, pekerjaan seorang sepertinya adalah mendesain rumah, bangunan, tata kota, tower, gedung bertingkat, komplek perumahan, termasuk juga perkantoran.


Bahkan terkadang, mereka juga menangani proyek-proyek infrastruktur seperti jembatan, stasiun, terminal dan stasiun bawah tanah. Semua itu tak luput dari lingkup pekerjaan Sky.


Terkadang ia juga harus membuat desain khusus, bukan hanya rancangan bangunan yang harus kokoh dan penuh perhitungan, tapi juga bagi bangunan-bangunan yang mengutamakan desain penampilan dan tampak luar yang membuat decak kagum bagi yang melihatnya.

__ADS_1


Sky bersama beberapa rekannya yang juga sarjana arsitek--membuat sebuah firma jasa pelayanan arsitek atau kantor pribadi untuk mereka sendiri.


Biasanya, karena mereka membuka jasa konsultan arsitek secara mandiri, klien yang membutuhkan akan datang dan meminta arsitek mengerjakan sebuah desain.


Nantinya, Sky akan bekerjasama dengan sarjana teknik sipil untuk mewujudkan desainnya. Arsitek akan mendesain dan insinyur akan mengeksekusi rancangannya.



"Proyek pembangunan Stasiun KRL hampir kelar. Next job, kita nunggu cetak biru desain utama pembangunan taman kota, ya, Pak."


Sky tidak terlalu fokus pada ucapan Beno--rekan kerjanya sesama Arsitek.


"Pak Sky?" panggil Beno.


"Eh, ya?" Sky tersadar dari lamunannya. Saat ini ia memang sedang berada di lapangan untuk meninjau lokasi sebuah proyek. Tanpa sengaja, ia malah melihat seorang wanita yang tampak seperti sosok Yara. Sepertinya ia terlalu banyak memikirkan wanita itu, hingga membuatnya tidak fokus bekerja.


Beno menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sky. "Blue print, Pak. Master file untuk taman kota. Kapan kira-kira itu bisa saya dapatkan?" tanyanya menahan sabar.


"Oh, taman kota, ya? Ehm... secepatnya."


Beno tersenyum tipis. "Kau kenapa, Sekai? Aku perhatikan, kau gak fokus udah seminggu ini." Akhirnya Beno berbicara non-formal, sebab merasa janggal dengan sikap sahabatnya dari masa kuliah itu.


"Namaku Sky, bukan Sekai, Man." Sky terkekeh kecil, selalu saja mengingatkan Beno mengenai hal ini.


"Sama aja itu." Beno ikut terkekeh. Ia menepuk-nepuk punggung lebar milik Sky. "Kenapa? Masalah cewek? Makanya kau nikah, biar gak galau galau terus."


"Maunya," jawab Sky acuh tak acuh.


Mereka berdua berjalan menuju sebuah tempat duduk yang disediakan disana.


"Ya udah, kenapa gak langsung di resmikan aja? Tinggal kau undang aku, makan daging aku, kan enak...." canda Beno.


Sky menyunggingkan senyum tipis mendengar kelakaran sahabatnya.


"Masalahnya, gak segampang itu, Ben."


"Apanya yang sulit? Kau udah sukses. Banyak duit. Tampan pula. Jangan banyak milih lah."


"Justru karena aku udah gak bisa memilih lagi, Ben. Makanya semua jadi sulit."


"Maksudmu?"


"Kau nikah sama istrimu karena apa, Ben?"


"Ya karena cinta, lah. Kau tau kan, aku sama Jennifer udah pacaran dari masa kuliah."


Sky mengangguk-anggukkan kepalanya, Beno dan Jennifer memang sudah lama bersama, bahkan karena cinta, wanita bule itu rela meninggalkan negaranya untuk mengikuti jejak Beno dan menetap di Indonesia sampai saat ini.


"Kau gak lagi suka sama cowok, kan?" tanya Beno kemudian. Disaat yang sama Sky menyorot sahabatnya itu dengan tatapan tajam.


"Hahah, bercanda, Bro. Kau bilang semuanya sulit, pikiranku pun jadi kemana-mana karena ucapanmu yang ambigu itu."


Sky menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, menggeleng sejenak kemudian menghela nafas panjang.


"Aku masih straight, Ben. Gak bisa milih lagi karena pilihanku udah jatuh sama satu perempuan."


"Jadi, masalahnya dimana?"


"Masalahnya... Ayara itu istri orang," lirih Sky, membuat Beno melongo mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung ...


******


__ADS_2