EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
27. Saat Berpisah


__ADS_3

"Apa kita harus pisah? Aku gak mau kita pisah, kita bisa terus sama-sama, Ayara. Banyak hubungan yang tetap dijalani meskipun harus dari jarak jauh."


Sky menatap sendu pada Yara, ia tidak mau Yara memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama satu tahun ini.


"Kalau kita terus sama-sama, ntar kamu gak fokus kuliah. Aku gak mau ganggu konsentrasi kamu, Sky." Yara berusaha meyakinkan pria berkulit putih tersebut. Kendati dalam hati, ia pun merasa sangat berat dengan keputusan ini.


"Iya, sih. Ntar aku malah mikirin kamu terus. Harusnya gambar gedung malah gambar wajah kamu," canda Sky, membuat Yara akhirnya tertawa padahal sebelumnya ia ingin sekali menangis saat melepas kepergian Sky hari ini.


Yara sangat menyayangi Sky. Begitupula dengan Sky yang amat mencintai gadis itu. Mereka sudah melewati banyak hal bersama-sama. Cinta remaja yang penuh dengan tantangan dan masa yang terasa berapi-api.


Sky pemuda yang humoris, ia sering menghibur Yara, menjadi pelengkap kisah manis dalam hidup gadis itu.


Sementara Yara adalah gadis periang. Bahkan senyumnya bisa membuat Sky luluh meski terkadang ia dalam keadaan emosi yang meluap-luap khas pemuda seumurannya.


"Ya udah, hari ini kita pisah, tapi suatu saat nanti kita harus kembali bersama. Apapun alasannya, aku gak bakal ngizinin kamu pergi dari aku, saat nanti aku kembali."


Yara tersenyum lembut, akhirnya Sky menyetujui keputusannya untuk berpisah. Kendati ucapan lelaki itu sekarang mengisyaratkan bahwa saat ini mereka hanya berpisah untuk sementara.


"Iya, kita bakal sama-sama lagi nanti."


"Janji?" Sky mengacungkan jari kelingkingnya didepan Yara.


"Janji," sambut Yara sembari menautkan jari kelingking mereka berdua.


"Kamu harus nunggu aku, Ra."


"Kamu juga gak boleh berpaling meskipun nanti banyak cewek bule yang lebih cantik di tempat tinggal kamu yang baru."


Sky terkekeh. Ia mengacak rambut Yara sampai bibir gadis itu cemberut beberapa senti kedepan.


"Lucu banget sih kamu," kata Sky sembari mencubit ujung bibir Yara yang mengerucut. "Aku kan udah janji, Ra. Ucapan aku bisa dipegang kok. Kamu gak bakal nyesel udah naruh kepercayaan disini." Pemuda itu mengambil tangan Yara dan mengarahkan itu ke dada bidangnya.


"Aku sayang kamu, Sky."


"Aku lebih sayang kamu." Sky mengelus pipi Yara sekilas.


Tak lama, pria itu melirik ke kiri dan ke kanan seolah memastikan keadaan sekitar.


Cup.


Rupanya Sky mau mendaratkan kecupan singkat di dahi Yara. "Ingat janji kita, ya!" ujarnya.


Yara mengangguk dengan wajah yang merona.


Pada akhirnya, di hari yang sama mereka pun sepakat untuk berpisah secara baik-baik.


Meredam semua rasa yang terasa menyesakkan jiwa karena sebuah perpisahan yang entah sampai kapan akan kembali bersua.


Bukan hanya karena jarak yang membuat mereka memilih berpisah, tetapi juga karena aktivitas baru yang nantinya akan semakin menyibukkan diri mereka masing-masing.


Yara harus berusaha kuat melepas kepergian Sky, begitupun Sky bertekad untuk tidak lemah saat meninggalkan Yara demi meraih cita-citanya.


Di awal kepergian Sky, mereka masih menjalin komunikasi, tetapi lambat laun karena suatu insiden yang membuat ponsel Yara hilang, ia pun jadi kehilangan kontak Sky.

__ADS_1


Karena nomor Sky adalah nomor baru dengan kode luar negeri, Yara tidak sempat menghafalnya. Disitulah awal mula hubungan keduanya merenggang.


Yara tidak lagi bisa berinteraksi dengan Sky, meskipun itu lewat sosial media, karena Sky juga tidak pernah lagi menggunakan medsos-nya. Entah apa alasannya, mungkin pemuda itu memang ingin fokus berkuliah.


Lambat laun, Yara merasa rendah diri. Ia merasa terabaikan begitu saja. Dalam pikirannya mungkin Sky telah melupakan dia.


Ya, pada masa itu mereka masihlah remaja labil yang belum bisa konsekuen atas segala tindak-tanduk dan perbuatan. Apalagi sebuah janji yang bisa saja didustakan oleh bibir yang manis.


Pada akhirnya, selepas Yara lulus dari sebuah Universitas, ia justru diminta untuk langsung menikah oleh mendiang Ayahnya.


Pak Hilman--Ayah Yara, sudah sakit-sakitan, menderita penyakit komplikasi yang membuatnya khawatir jika nantinya Yara akan hidup seorang diri. Bagaimanapun, Anton juga sudah berkeluarga, tidak mungkin Yara terus bersama sang kakak nantinya.


Karena keinginan Ayahnya, dengan berat hati Yara harus menerima perjodohan itu. Arjuna Bachtiar yang akan menjadi calonnya.


Waktu itu, Yara sangat dilema. Apa ia harus tetap menunggu Sky kembali? Sementara menikah dengan Juna adalah permintaan terakhir sang Ayah. Jika ternyata Sky kembali, namun dengan perasaan yang tidak sama lagi, maka Yara akan menyesal karena tidak menuruti permintaan ayahnya.


Setelah berperang dengan perasaannya yang berkecamuk, dengan sangat terpaksa akhirnya Yara lebih memilih untuk menuruti keinginan sang Ayah.


Kendati perasaannya masih sama seperti dulu dan hanya tertuju untuk satu orang lelaki saja, tetapi penantian yang tiada ujung itu, belumlah tentu sesuai dengan harapannya.


Di hari pernikahannya yang dilaksanakan di sebuah Rumah Sakit Swasta, dimana disana ayahnya juga sedang dirawat. Akhirnya Yara pun sah menjadi istri Juna.


Tidak ada pesta mewah atau semacamnya karena tepat beberapa menit setelah Yara resmi menikah, Ayahnya pun berpulang untuk selamanya.


Momen itu tidak bisa Yara lupakan seumur hidupnya. Hari pernikahannya adalah hari yang sama dengan hari meninggalnya sang Ayah.


Hingga waktu berlalu begitu cepat, mengantarkannya pada momen reuni yang menjadi titik balik pertemuan kembali antara ia dan Sky.


Sekarang, sosok lelaki yang sudah berubah menjadi pria matang dan dewasa itu kembali mengusik hidup Yara. Menuntut jawabannya, menagih janji yang pernah ia utarakan di Bandara 11 tahun yang lalu-- sebelum melepas kepergian Sky ke Australia.


"Kalau kamu mau lupain janji itu, itu urusan kamu, gak masalah buat aku. Tapi aku kembali datang ke sini, buat nepatin janji aku sendiri."


"... sekalipun kamu udah melupakannya, tapi aku selalu ingat. Jadi, aku mau ingatin kamu lagi, bahwa aku pernah bilang, apapun alasannya, aku gak bakal ngizinin kamu pergi dari aku, saat nanti aku kembali."


"Dan sekarang, aku udah kembali, Ayara!"


"Bisakah kita kembali bersama?"


...*****...


"Sky?"


Yara terbangun dari tidurnya, rupanya ia memimpikan kilas balik cerita hidupnya bersama Sky. Ini pasti karena apa yang terjadi antara ia dan Sky semalam. Pria itu sampai terbawa kedalam mimpinya.


Yara mengusap wajahnya sendiri. Tapi, mendadak ia teringat sesuatu. Ia mera ba sisi tempat tidur, ia takut Juna sempat mendengar jika tadi ia menyebutkan nama Sky didalam tidurnya. Namun, tangannya tak merasakan apapun.


"Mas Juna kok gak ada?" gumam Yara akhirnya. Ia sudah sepenuhnya sadar dari tidur.


Entah kenapa ia bersyukur Juna tak ada disisinya. Berarti tidak mungkin pria itu dapat mendengar jika tadi ia sempat memanggil-manggil nama Sky saat tidur.


Yara menelisik ke dalam kamar mandi, rupanya sang suami benar-benar tidak terlihat disana.


"Mas Juna beneran gak pulang?" Yara menggelengkan kepalanya, kemudian memutuskan untuk langsung mandi.

__ADS_1


Setelah kejadian yang sempat terjadi antara ia dan Sky malam tadi, Yara langsung memutuskan untuk pulang saat itu juga. Sky mengantarkannya tanpa banyak bicara, entahlah... mungkin Sky kecewa dengannya karena ia menghentikan aktivitas panas yang sempat terjadi diantara mereka.


"Aku gak boleh ngelakuin hal itu lagi sama Sky. Aduh, aku harus gimana sekarang..." batin Yara merasa serba salah.


Baru saja ia selesai mandi, suara klakson mobil terdengar didepan rumahnya.


"Pasti Mas Juna baru pulang," batin Yara. Ia ingin marah pada suaminya, tapi mendadak ia juga mengingat kelakuan dirinya dengan Sky semalam.


Yara merasa tak patut memarahi Juna, karena ia lebih parah daripada sang suami.


"Mas? Kok baru pulang?" tanya Yara saat membukakan pintu untuk Juna.


"Iya, aku capek banget..." Bukannya menjawab, Juna malah terdengar mengeluh.


Yara mengikuti jejak Juna dibelakang tubuh sang pria. "Gak mungkin kamu lembur sampe pagi, kan, Mas?" selidik Yara.


"Iya, lemburnya emang sampe jam 10 malam. Tapi abis itu aku ke tempat usaha konveksi itu lho, kan aku udah bilang sama kamu, aku mau bersih-bersih sebelum usahanya dibuka."


"Jadi kamu nginep disana?"


"Iyalah."


Yara mengangguk walau hatinya merasa ada kejanggalan. Tapi hati kecilnya tetap merasa bersalah pada Juna.


"Mas Juna lelah dan capek demi aku, aku malah khianati dia sama Sky," batin Yara mendadak trenyuh. Bagaimanapun, Juna kerja keras untuk membangun rumah mereka, kan?


Yara membuatkan Juna secangkir teh dan menyajikannya ke kamar agar Juna bisa meminumnya.


"Mas? Ini aku buatin teh."


"Makasih ya, Ra."


Yara melihat suaminya sudah kembali bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Kamu gak libur aja, Mas?"


"Apa? Libur? Gak mungkin lah, Ra. Kemarin kan baru ambil cuti waktu ke Bali. Masak sekarang mau libur lagi."


"Tapi nanti kamu kecapekan, Mas. Jangan terlalu di porsir kerjanya."


Juna menatap Yara lama, ia senang Yara seperhatian ini padanya. Sementara Yara, ia melakukan itu karena merasa bersalah pada sang suami.


"Tadi malam, gimana pestanya, Ra?"


"Hah?" Yara mendadak gugup, tak mungkin dia mengatakan pada Juna bahwa ia tidak mengikuti pesta itu sampai selesai.


"Ehmm... lancar aja, Mas. Acaranya sukses," ujar Yara salah tingkah.


Bersambung ....


*****


Jangan lupa Tap Love di halaman awal novel ini ya. Love nya seperti yang othor kasi tanda panah. Tekan love sampai berubah jadi warna biru, supaya tiap update novel ini kamu dapat notifikasinya🙏🙏🙏🙏 pastikan udah berubah jadi biru ya love nya. makasih guys❤️

__ADS_1



__ADS_2