
"Darimana Yara dapat uang buat beli jam tangan itu, ya?" gumam Juna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Saat Yara memasuki kamar mereka, Juna menatapnya dengan pandangan sayu.
"Ra, aku mau bicara sama kamu," ujarnya lembut.
"Bicara apa?" tanggap Yara cuek.
"Sini..." Juna menepuk sisi kosong disampingnya, ia berniat menanyakan Yara secara baik-baik.
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja, Mas. Dari sini aku juga bisa denger, kok."
Juna menghela nafas panjang. "Kamu kenapa sih, Ra? Dua hari ini aku perhatiin kamu beda."
Yara diam tak menyahut, ia larut dalam pemikirannya sendiri yang kesal dengan ulah Juna yang sudah tega mengkhianatinya padahal ia tidak pernah protes apapun dan berapapun yang Juna berikan padanya selama pernikahan mereka.
"Kalau kamu marah, kamu bilang dong, salah aku dimana."
Yara tetap tak menyahut, dia mendiamkan Juna.
"Kalau kamu diam, aku mana tau letak kesalahanku dimana." Juna mencoba pengertian, mungkin Yara sedang dalam mood yang tidak baik, pikirnya.
"Kamu bohongin aku soal usaha konveksi itu, kan, mas?" tuding Yara langsung ke pointnya.
Juna tak menyangka Yara yang diam tiba-tiba langsung menuduhnya dan tuduhan itu tepat pada sasaran.
"Ng-enggaklah, Ra. Usaha itu emang ada. Udah mau dibuka juga, kan aku udah bilang bakal dibuka dua Minggu lagi."
Yara tersenyum miris. "Yaudah, kalo memang kamu gak mau jujur. Padahal, aku udah kasi kamu kesempatan buat jujur masalah itu, Mas."
Juna menelan ludahnya dengan sulit. Sepertinya ia salah menjawab Yara, nampaknya istrinya ini memang telah mengetahui sesuatu mengenai usaha bohongannya itu.
"Gini deh, Ra. Kenapa kamu tiba-tiba anggap aku bohong soal usaha itu?"
"Ya karena kamu memang bohong, Mas."
"Darimana kamu menyimpulkan begitu?" Juna berdecak lidah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Udahlah, Mas. Kamu tuh malesin, tau gak!" Yara mengambil selimutnya kemudian beranjak keluar kamar.
"Eh, mau kemana? Gak jadi tidur?" tanya Juna keheranan.
"Aku tidur di kamar sebelah."
Yara langsung pergi tanpa mau mendengar ujaran Juna selanjutnya. Mana Sudi Yara berbagi ran jang lagi dengan pria itu.
Kalau ternyata Juna jajan dengan banyak wanita terus mendapatkan penyakit, bisa-bisa Yara juga yang menderita karena ketularan, pikirnya.
Tapi diluar hal itupun, ia sudah tak mau jika Juna berniat menyentuhnya.
Melihat Yara keluar kamar, Juna langsung ambil langkah lebar demi mengejarnya.
__ADS_1
"Mau kamu sekarang apa, hah?" tanya Juna dengan wajah merah padam. Dia menangkap tangan Yara yang hampir memasuki kamar sebelah.
Yara balas menatap Juna dengan tampang yang juga penuh emosi.
"Lepas!" katanya menepiskan tangan pria itu. Tapi Juna malah semakin mencengkram lengannya.
"Kamu kenapa? Kenapa harus pindah kamar?" tanya pria itu emosional.
"Kamu mau tau kenapa, Mas? Yakin kamu mau tau?" tantang Yara.
Juna diam tapi sorot matanya penuh kemarahan dan tidak ada keteduhan lagi saat menatap istri yang berani menantangnya itu.
"Iya, bilang!" senggak Juna meninggikan suara.
"Karena aku udah tau semua kebohongan kamu. Aku udah tau kalau selama ini kamu khianatin aku!"
Deg...
Deg...
Jantung Juna rasanya telah lompat dari rongganya, mendengar ucapan Yara yang telah menyinggung tentang perselingkuhannya.
"Aku mau pisah dari kamu, Mas!" kata Yara tegas, membuat Juna semakin terbelalak saja.
Juna membeku, tak satupun kata bisa lolos dari tenggorokannya. Jantungnya berpacu kencang sama hal nya dengan lidahnya yang mendadak kelu tak mampu membela diri. Secara perlahan, dia melepas cengkraman tangannya di lengan Yara.
"Udah tau kan alasannya. Jadi, secepatnya kamu urus perpisahan kita, Mas." Yara berlalu dari hadapan Juna kemudian menutup pintu dengan keras.
Ternyata, permintaan pisah dari Yara justru seperti boomerang untuk Juna. Padahal, saat Shanum memintanya untuk bercerai dari Yara, dia mengiyakan, tapi ketika Yara telah benar-benar meminta berpisah, kenapa rasanya ia tak rela.
"Arkhhh!!!" Juna menendang udara. Tangannya terkepal erat dan nafasnya tersengal, ia memegangi dadanya yang mendadak terasa nyeri.
"Kenapa aku yang sakit hati denger Yara minta pisah?" batin Juna. Tidak, ia tidak boleh kehilangan Yara. Apapun yang terjadi ia tidak mau berpisah dari Yara. Ia tidak akan melepaskan Yara begitu saja.
"Ra!!!" Juna menggedor pintu kamar yang Yara tempati.
"Yara!!" Kembali pria itu memanggil sebab Yara tidak menanggapi.
"Ra, aku minta maaf, Ra... aku tau aku salah. Kita bicara dulu, Ra. Buka pintunya...." Juna berusaha membujuk Yara.
Sekarang selain berharap Yara menarik kata-katanya lagi, Juna juga berharap Yara belum mengetahui siapa yang menjadi selingkuhannya. Sebab, jika Yara sampai tahu kalau wanita itu adalah Shanum, urusan Juna bukan hanya dengan Yara, melainkan dengan Anton juga.
"Ra, aku mau bicara, buka dulu pintunya, Sayang...."
...~~~~...
"Ra, aku mau bicara, buka dulu pintunya, Sayang...."
Tentu saja Yara mendengar segala ucapan Juna dari luar kamar, tetapi mendengar Juna memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' seketika itu juga Yara mau meninju wajahnya.
Yara bangkit dari tempat tidur, membuka pintu dan kembali menatap pada suaminya yang memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Kamu gak bener-bener serius mau pisah sama aku kan, Ra?"
Yara mendengkus sambil melipat tangan di dada.
"Aku gak bakal ceraikan kamu, Sayang. Aku cinta sama kamu, Ra. Cuma kamu yang paling memahami aku...." bujuknya. Kali ini Juna tak sepenuhnya bohong, Yara memang paling mengerti dirinya dan setelah ia pikir-pikir, ia tak akan bisa tanpa istrinya itu.
"Kamu gak boleh nuduh aku tanpa bukti, Ra."
"Kalau kamu mau bukti aku ada buktinya kok, Mas."
Glek....
Juna menelan salivanya berat. Rupanya Yara sudah mempersiapkan untuk hal ini.
"Aku nunggu kamu sadar, ngaku, ternyata susah ya, mas. Udah jelas-jelas salah masih juga kamu mau ngeles," kata Yara kemudian.
Kalau memang Yara memiliki bukti itu, mau tak mau Juna memang harus mengakui kesalahannya.
"Maafin aku, Ra. Aku salah, aku khilaf!"
Tiba-tiba saja Juna berlutut didepan Yara membuat sang wanita terperangah tak percaya. Pasalnya, Yara memang tak pernah melihat Juna sampai bersikap seperti ini sampai menurunkan harga dirinya.
"Jangan gini, Mas!" pinta Yara.
"Aku akan terus gini sampai kamu maafin aku!"
"Aku gak akan maafin kamu, Mas. Kalau memang kamu mau gitu terus, yaudah!" Yara kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Juna terkejut melihat Yara sampai tega seperti ini padanya. Ia pikir Yara akan iba melihatnya berlutut, nyatanya Yara malah membiarkannya. Sia-sia usahanya untuk mengusik nurani sang istri, nyatanya Yara tak percaya lagi.
"Ra, aku minta maaf, Sayang. Aku cuma main-main. Aku cinta sama kamu, Ra!" Juna menggedor-gedor kamar lagi.
"Makan aja cinta kamu, Mas. Aku udah kenyang," sahut Yara dari dalam kamar.
Juna mendengkus. Apapun dan bagaimanapun, ia tak akan membiarkan Yara lepas dari dirinya.
Dalam keadaan itu, Juna malah membandingkan antara Yara dengan Shanum.
Yara wanita mandiri. Tidak manja. Attitude baik. Berpendidikan meski dia tidak pernah bekerja. Yara wanita yang mengerti keadaan. Tidak pernah menuntut lebih. Selalu mendukung meskipun ia selalu menyakitinya.
Sementara Shanum, justru kebalikannya. Shanum manja, bahkan memasak saja tidak bisa. Selalu menuntut lebih dan lebih. Kelebihan Shanum hanyalah sedang hamil anaknya. Tapi, apa benar anak itu adalah anaknya?
Seketika itu juga Juna meragu. Ia menjalin hubungan dengan Shanum yang adalah istri Anton, apa yang dikandung Shanum benar dari benihnya?
"Aku belum bisa ninggalin Shanum, Ra. Aku juga butuh dia. Dia sedang hamil meskipun aku belum tau itu anak aku atau bukan. Tapi, dia hamil setelah kami berhubungan. Kalau kamu.... apa kamu bisa mengandung anakku? Sudah hampir dua tahun menikah, kamu belum juga hamil, Ra..." batin Juna dilema.
Juna menjadi semakin bimbang. Dia ingin memilih Yara setelah menyadari jika ia salah. Tetapi, jika Yara memang tak bisa memberinya keturunan, bagaimana? Belum lagi jika memang yang dikandung Shanum adalah anaknya.
Bersambung ....
*****
__ADS_1
Udah ya, aku udah triple up hari ini. Tinggalkan komentar klean yang lucu-lucu guys, itu kayak hiburan tersendiri buat othor❤️❤️🙏🙏🙏🙏