
"Ayara? Kenapa kamu blokir nomor aku?"
Yara menghela nafas dalam. Ternyata nomor yang mengiriminya pesan adalah Sky. Tadi ia ingin mengabaikan pesan itu, tetapi ia takut nomor itu adalah milik seorang yang mengenalnya dan ada keperluan dengannya.
Ternyata dugaannya tidak salah, pengirim pesan itu memang seseorang yang mengenalnya, tapi itu adalah Sky. Bagaimana ini?
"Jadi ini kamu," jawab Yara berusaha sedatar mungkin dan tak menunjukkan reaksi terkejut.
Walau bagaimanapun, Yara ingin menyelesaikan semuanya dengan Sky sebelum Juna mengetahui hubungan mereka yang ambigu. Terutama Yara ingin mengembalikan jam tangan pemberian Sky yang Yara yakini harganya tidaklah murah.
"Kenapa kamu blokir aku, Ra? Jawab...." Suara pria itu terdengar bergetar.
Tidak, Yara tak boleh iba pada Sky. Kali ini ia harus bersikap tegas dan lebih tega.
"Aku mau ketemu kamu, Sky," putus Yara. Ia berniat mengembalikan jam tangan itu.
"Beneran? Kamu serius?" Sekarang suara Sky berubah semangat, berbeda dengan yang sebelumnya.
"Iya, kapan kamu bisa?" tanya Yara.
"Kalau kamu mau, sekarang juga boleh."
"Gak bisa kalau sekarang, udah kesorean banget. Mas Juna juga udah di rumah."
"Iya, iya. Kapan kamu bisa? Aku jemput kamu."
"Gak usah, Sky. Kita langsung ketemu di Story' Cafe aja."
"Oke, besok, jam 4. Gimana?"
"Oke." Yara langsung memutus panggilan itu.
Sejujurnya Yara merasa bersalah, suara Sky diseberang panggilan tadi terdengar sangat antusias dan penuh harapan kepadanya. Tapi, sekali lagi Yara meyakinkan diri jika dia harus tegas pada pemuda itu.
...~...
Sesuai dengan janjinya, Yara mendatangi Story' Cafe saat waktu menunjukkan hampir pukul 4 sore. Suasana disana tidak begitu ramai karena ini bukan weekend dan bukan pada jam makan siang.
Seorang pelayan menyambut kedatangan Yara.
"Sudah pesan tempat, Bu?" tanya pelayan itu sopan kepada Yara.
"Kurang tau, tapi boleh tolong di cek aja, Mbak... apa ada pesanan tempat atas nama Bapak Sky Lazuardi?"
Sang pelayan tersenyum kemudian mengangguk, dia mengantarkan Yara pada sebuah ruangan yang ada di cafe itu.
"Bapak Lazuardi memesan sebuah privat room, silahkan masuk, Bu..."
Ternyata dugaan Yara tak salah, Sky benar-benar sudah menyiapkan sebuah tempat khusus untuk pertemuan mereka hari ini.
"Beliau sudah menunggu di dalam, Bu," ucap pelayan itu menyadarkan Yara dari lamunan singkatnya.
Yara mengangguk, ia melangkah masuk kedalam privat room. Ruangan itu Memang jauh lebih nyaman, ada kaca pemisah yang membuat percakapan mereka nantinya tidak akan didengar oleh tamu lainnya yang juga berkunjung disana.
Saat Yara masuk, pandangannya langsung bertemu dengan pemilik netra hitam pekat tersebut.
Benar, Sky lebih dulu tiba dan menunggunya.
"Duduk, Ra."
Yara mengangguk canggung, meski ini bukan pertemuan pertamanya dengan Sky, tetapi rasa semacam itu selalu hadir apabila ia harus terlibat dengan sosok yang sama lagi.
"Mau makan apa?"
"Aku udah makan tadi. Aku cuma mau ngomong aja sama kamu."
"Ra, kita jarang banget seperti ini, bahkan gak pernah lagi, kan? Makan dulu ya. Aku udah pesan makanan buat kita."
Akhirnya Yara menyetujui juga saran dari Sky itu, kendati jika ia melakukan sesi makan bersama dengan sang pria, justru akan memperlama waktu pertemuan mereka.
Tak perlu menunggu lama, sesaat setelah Yara duduk, aneka makanan yang dibawakan oleh pelayan langsung berduyun-duyun datang dan tersaji dihadapan mereka berdua.
Kepiting saus tiram. Udang asam manis. Cumi goreng tepung dan lobster ekstra pedas kini ada dihadapan keduanya.
"Kamu pesan makanan sebanyak ini buat kita?" tanya Yara cukup terkejut.
Sky mengangguk dengan senyum yang dikulumm.
"Kamu suka seafood, kan?"
__ADS_1
"Ya, tapi gak sebanyak ini, Sky."
Sky tak mengindahkan segala bentuk protes dari Yara. Sebab baginya, yang terpenting adalah Yara mau menemuinya dan ia hanya berusaha agar pertemuan itu menjadi lebih lama.
Memesan seafood salah satu caranya, selain itu adalah makanan kesukaan Yara, proses untuk menandaskan makanan itu juga terbilang lama dan hal itulah yang secara tak langsung dapat menahan keberadaan Yara disisinya.
Sky gegas mengambil alat pengupas kulit kepiting.
Sementara Yara sendiri, ia tidak bisa menolak sajian yang menggoda ini, makanan semacam ini sudah sangat jarang ia konsumsi, mengingat Juna selalu membatasinya bahkan dalam hal berbelanja.
"Ayo dimakan, Ayara..."
Sky meletakkan daging kepiting yang sudah terkupas ke dalam piring Yara.
Yara tertegun, jujur saja hal seperti ini membuatnya terharu. Tidak ada yang pernah memahaminya sebaik yang Sky lakukan. Sky tahu ia selalu kesulitan dalam hal ini sehingga berinisiatif melakukannya tanpa Yara minta.
Tuhan, kenapa pria ini harus sangat sempurna dimatanya? Kenapa Sky juga selalu memahami tanpa diminta?
Sekali lagi Yara berperang dengan penolakan batinnya yang sesungguhnya tak mau terlepas dari belenggu bernama Sky.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Sky. Ia melihat tatapan dimata Yara yang berpendar--seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Hah?" Yara langsung menggelengkan kepalanya. "Gak ada, gak apa-apa," sanggahnya.
"Yaudah, makan dong. Aku udah kupasin kepitingnya. Apa perlu aku kunyahin juga biar kamu tinggal menelannya aja," kelakar Sky membuat Yara mengulumm senyum pada akhirnya.
Tidak ada lagi yang bersuara diantara mereka. Yara makan dengan senyap, begitupun Sky yang melakukan hal serupa tetapi tentu dalam benak pria itu sedang menerka-nerka hal apa yang ingin Yara bicarakan sampai mengajaknya bertemu seperti saat ini.
Jika boleh jujur, sebenarnya feeling Sky tidak baik sekarang, tetapi ia memilih untuk menikmati saja kebersamaan singkat ini bersama Yara.
"Aku udah kenyang banget, Sky."
"Ya udah, kalau gak sanggup habisin biar nanti minta dibungkusin buat bawa pulang aja," saran Sky.
"Gak usah," kata Yara mengibaskan tangannya dihadapan Sky.
Sky hanya tersenyum tipis melihat penolakan Yara.
"Sebenarnya, ada yang mau aku bicarain sama kamu..." ucap Yara kemudian.
"Tentang?"
"Ini, aku kembalikan..."
Sky terdiam. Ia tahu Yara bukanlah wanita materialistis dan berjiwa sosialita yang senang ia berikan barang-barang branded atau mewah seperti ini. Tapi, Sky memberikan itu karena merasa seorang Yara layak untuk mendapatkannya. Yara begitu berharga baginya. Apa itu salah?
"Kamu gak suka sama hadiah dari aku?"
Yara menggeleng. "Bukan itu, Sky."
"Lalu?" Sky membuang pandangan ke arah lain.
"Aku gak bisa nerima ini. Jam tangan ini pasti mahal. Lagipula, aku takut Mas Juna ngeliat nanti."
Tenggorokan Sky rasanya tercekat, seperti ada sebuah duri yang juga menusuknya dari dalam. Penolakan Yara menyebabkannya sakit.
"Aku kasih kamu hadiah itu karena ada alasannya, Ayara."
"Apa?"
"Kamu lebih berharga dari benda apapun bahkan dari jam tangan yang kamu bilang mahal itu. Dan alasan lainnya aku ngasih hadiah ke kamu karena kemarin tanggal 6 Agustus."
"Sky?" Yara tak habis pikir dengan ujaran Sky. "Jadi alasan kamu---"
"Iya, Ra. Itu tanggal jadian kita, kan?"
Yara menggeleng keras. Bagaimana mungkin seorang Sky masih saja mengingat tanggal awal mula mereka berpacaran dulu, sebelas tahun yang lalu?
"Kamu udah kembalikan kalung sama dress yang pernah aku kasi, sekarang kamu juga mau balikin jam tangannya? Jangan kejam begini sama aku, Ra...." lirih Sky kemudian.
Yara sampai tak bisa berkata-kata lagi didepan Sky. Belum lagi ia menyatakan inti dari pertemuan mereka hari ini, tapi Sky sudah mengatakan bahwa ia kejam.
Yara menelan salivanya dengan berat. Kenapa sulit sekali ia melepaskan Sky? Pria ini begitu tulus. Apakah Yara benar-benar rela melukainya? Dan jika suatu saat Sky bersama wanita lain akankah Yara bisa menerimanya?
"Kamu pernah denger gak, kalau cinta itu gak harus memiliki, Sky...."
"Ayara..."
"Untuk itu, aku mau semua tentang kita berakhir disini. Kamu gak usah kasih aku apapun lagi. Baik itu barang ataupun hati kamu. Kamu juga gak perlu mengingat tanggal serta momen yang pernah terjadi diantara kita. Bisa?"
__ADS_1
"Kamu ngomong apa, Ra? Tentu aja aku gak bisa. Aku gak bisa, Ayara!"
"Ini pertemuan terakhir kita ya, setelah ini kita jangan berhubungan lagi."
"Kenapa? Apa aku buat salah sama kamu?"
"Bukan itu, tapi--
"Tapi apa, Ra?" potong Sky.
"Bukan kamu yang berbuat salah tetapi kita. Kita udah ngelakuin kesalahan, Sky. Dan aku, gak mau ngelanjutin kesalahan itu terus."
Sky membeku. Jangan tanyakan perasannya saat ini sebab kenyataan yang baru saja Yara ucapkan jauh lebih menyakitkan ketimbang perpisahan mereka 11 tahun yang lalu.
"Aku harap kamu ngerti, Sky. Jangan berusaha lagi."
Hancurlah sudah harapan Sky mendengar penuturan wanita yang dicintainya itu. Ia sudah berusaha menerima keadaan. Ia juga akan menerima apapun kondisi Yara saat ini, tetapi jika Yara tak mau melanjutkan, tak mungkin ia bisa menjalani seorang diri.
Sky pikir, setelah ucapan cinta yang Yara ucapkan tempo hari, ia akan menjalani hari yang lebih baik bersama Ayara-nya lagi. Nyatanya, Yara malah memilih untuk menyudahi semua ini bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Apakah etis, jika sekarang Sky ingin mendoakan agar ada suatu hal yang terjadi dalam rumah tangga Yara, hingga membuat wanita itu kembali kepadanya?
"Ra?"
Langkah Yara yang hampir mencapai pintu kaca itu terhenti, ia pun menoleh sekilas pada Sky. Jangan tanyakan perasannya saat ini sebab ia pun menahan sekuat tenaga agar tidak menangis dihadapan sang pria.
"Aku antar pulang."
"Gak usah," tolak Yara dengan suara bergetar.
"Terakhir. Ini yang terakhir, Ra..."
Wanita itu akhirnya mengangguk.
Selama perjalanan, hanya ada keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.
Yara selalu memandang keluar jendela meskipun Sky sesekali melirik kearahnya.
"Mas Juna?" celetuk Yara tiba-tiba.
Sky langsung menoleh ke arah pandangan mata Yara, namun sepertinya itu sudah terlewati karena Sky yang terus mengemudi.
"Berhenti, Sky!"
"Kenapa?"
"Tolong berhenti. Aku mau kesana." Yara menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tujuan mereka. "Kayaknya tadi aku ngelihat Mas Juna ada disana tadi," lanjutnya.
"Dimana? Aku gak lihat."
Yara berdecak. "Didepan hotel Argaduta yang barusan kita lewati," terangnya.
"Yaudah, kita putar balik aja biar bisa mastiin itu Juna atau bukan."
Yara pun mengangguk setuju.
"Mungkin Juna lagi ada urusan disana, kenapa mau kamu susulin?"
"Urusan apa di hotel?"
"Ketemu klien, mungkin...."
"Mas Juna itu bukan bos atau tim marketing yang biasa ketemu klien di hotel, Sky. Dia kerjanya di kantor aja memantau dan memeriksa kerjaan orang lain."
"Loh, jadi kamu mikirnya ngapain Juna di hotel?"
"Ya, gak tau. Makanya mau aku susulin."
Sky mengangguk. Kemudian mulai melambatkan laju mobil.
Yara langsung membuka pintu mobil begitu melihat sebuah mobil milik sang suami yang terparkir mantap di pelataran Hotel tersebut.
"Ra? Mau kemana?" tanya Sky agak kaget melihat Yara akan menuruni mobil begitu saja.
"Kamu pulang aja! Ini urusan aku, Sky!"
Sky menyugar rambutnya ketika Yara benar-benar meninggalkan mobilnya dan berlari masuk ke dalam area hotel Argaduta.
Bersambung ....
__ADS_1
******