
Anton merasa lega karena akhirnya Yara telah resmi bercerai dengan Juna. Selesai sudah salah satu problem yang ada dalam hidupnya. Setidaknya, Juna sudah terdepak dari hidupnya dan Yara.
Anton juga merasa yakin jika Sky dapat menjaga Yara. Semoga pria itu benar-benar dapat berjodoh dengan adiknya sebab ia dapat melihat binar cinta dimata keduanya.
Sekarang, tinggal mengurusi problem dirinya sendiri. Masalah yang sesungguhnya. Kehamilan Shanum sudah menginjak usia 8 bulan. Sejak ia mengusir wanita yang masih berstatus istrinya itu empat bulan yang lalu, sejak itu pula Anton tidak pernah bertemu dan bertatap wajah lagi dengan Shanum.
Jangan tanyakan perasaanya sekarang terhadap wanita itu. Ia sudah mati rasa sejak mengetahui Shanum mengkhianatinya dengan Juna. Ia tidak yakin bisa jatuh cinta lagi. Ia juga tidak berpikir untuk mencari seorang wanita demi menggantikan posisi Shanum dalam hidupnya.
Bagi seorang Anton, yang terpenting saat ini adalah Shanum dapat segera melahirkan dan ia bisa menceraikan wanita itu secara agama dan negara. Setelah itu ia akan tenang, kalau perlu ia akan datang menyaksikan pernikahan Shanum dengan Juna, yah... barangkali mereka mau menggelar pesta dan mengundangnya.
"Kak, aku pergi kerja ya...."
Anton menatap Yara. Sudah empat bulan ini Yara menjadi asisten rumah tangga di perumahan yang letaknya tak begitu jauh dari kediamannya. Tapi, entah kenapa setiap melihat Yara berangkat dan pulang kerja, perasaan bersalah menghantuinya.
"Dek, kenapa masih terus kerja, sih? Mas bisa kok biayain hidup kamu."
Yara menggeleng sambil tersenyum kecil. "Gak, Mas. Yara gak mau nyusahin mas terus. Dikasi tumpangan gratis aja udah untung."
"Ini kan rumah mas mu dek..."
"Ya iya, rumah mas. Bukan rumah Yara."
Kenapa sekarang adik kecilnya ini sudah pintar sekali mendebatnya? Ia tidak habis pikir dimana dan siapa yang mengajari Yara berdebat hingga ia selalu kalah dan berujung mengalah.
"Mas anterin ya dek."
"Gak usah lah, Mas. Lagian mas kan mau buka bengkel sebentar lagi."
"Jadi kamu naik apa? Jangan bilang dianterin sama Sky."
Yara tertawa. "Enggak, Mas. Jam segini Sky juga udah mau berangkat kerja ke kantornya dan itu gak searah."
"Ya siapa tau aja dia mau jemput kamu dulu. Namanya juga lagi bucin." Anton tergelak dengan kalimatnya sendiri.
"Ah, mas ini... mana mungkin."
Sesaat setelah Yara mengucapkan kalimat itu, suara klakson mobil terdengar di pekarangan rumah. Benar saja seperti dugaannya, pria bucin itu sudah datang menjemput sang adik.
"Apa mas bilang, jangankan beda arah, beda negara pun pasti dia bela-belain jemput kamu. Dasar bucin."
Yara menyengir, mungkin malu karena tebakan Anton benar adanya. Tak lama wanita itu menyalami tangan sang kakak dengan takzim dan berpamitan untuk pergi.
Anton tidak habis pikir, kenapa Yara masih diperbolehkan oleh Sky untuk bekerja menjadi ART sampai saat ini. Ah, apa mungkin Sky juga kalah berdebat dengan wanita itu?
Sesaat setelah Yara keluar, ia ikut menyusul dan melihat Sky yang bersiap menyalaminya untuk berpamitan.
__ADS_1
"Ingat pesan mas. Jangan buat yang enggak-enggak, kalian udah dewasa."
"Ya gimana, mas. Habisnya nunggu waktu dari mas Anton kelamaan. Masa harus tahun depan."
Oh rupanya bocah tengil ini sudah berani menjawab ucapannya sekarang? Mentang-mentang ia sudah memberikan restu pada mereka.
"Jadi maksudnya ini apa?" Anton melipat tangan di dada. Seketika itu juga Sky memasang cengiran yang menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Pamit ya, Mas," kata Sky jelas-jelas menghindari Anton.
Akhirnya Anton hanya bisa mengibas-ngibaskan tangannya. Ia percaya mereka berdua tidak akan melakukan hal diluar batas. Lagipula ada hal yang lebih penting yaitu bersiap membuka bengkelnya sekarang.
"Mas, bengkelnya udah buka belum?"
Seseorang memanggilnya saat Anton baru saja ingin membuka pintu bengkel. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita yang wajahnya tidak asing baginya.
Tapi, Anton segan menyapanya, takut salah orang, pikirnya. Akhirnya Anton hanya fokus melihat motor matic yang didorong oleh wanita itu.
"Motornya mogok nih, Mas. Tolong dibenerin, ya."
Anton mengangguk dan mendekati motor matic wanita itu untuk membantunya naik ke teras bengkelnya. Bersamaan dengan itu sepertinya sang wanita juga mengenali wajahnya yang mungkin.... pasaran.
"Mas ganteng, kakaknya Yara, kan?"
"Iya, Mbak Irna, kan?" ujar Anton ramah.
"Wis, udah dibilangin jangan panggil Mbak-Mbak. Aku sama Yara selisih 2 tahunan aja lho mas," ujar Irna polos.
Anton kembali terkekeh. Ia menurunkan standar motor Irna dan mulai melihat-lihat kondisinya bak seorang dokter yang sedang memeriksa pasien.
"Mogoknya dari mana tadi?" tanya Anton pada Irna yang sudah duduk di kursi panjang yang tersedia didepan bengkel.
"Tuh, dari ujung jalan situ tadi. Pas banget liat ada plang bengkel, rupanya bengkel ini punya Mas ganteng," goda Irna membuat Anton kembali mengulumm senyum.
"Kalau ditinggal disini dulu, bisa? Karena kalau ditungguin takutnya kelamaan," saran Anton.
Irna mengipas-ngipaskan tangan kearah wajahnya sendiri. Ia lelah habis mendorong motor sampai ke bengkel Anton. "Boleh, lagian aku juga mau kerja, Mas," ujarnya ngos-ngosan.
Melihat wanita itu yang sepertinya sangat lelah, Anton jadi tak tega. Ia masuk ke dalam bengkel dan mengambil air mineral dalam kemasan yang masih tersegel.
"Minum dulu, Ir..." katanya memberikan botol air itu pada Irna.
Irna tersenyum kecil, ia senang Anton sudah memanggilnya dengan panggilan yang cukup akrab seperti itu.
"Makasih ya, mas ganteng."
__ADS_1
Lagi-lagi anton terkekeh. Selalu begitu setiap Irna memujinya. Bukan apa-apa, kata pujian yang keluar dari bibir Irna itu terdengar bukan sedang menggombalinya tetapi seperti sedang berkata jujur penuh kepolosan.
Irna sudah menghabiskan airnya hampir setengah botol. Ia kembali menatap Anton yang mulai mempreteli motornya yang sempat mogok.
"Untung kenal sama yang punya bengkel, kalo gak, aku gak berani ninggalin motorku disini," gumamnya.
Wanita itu lanjut berdiri. Kemudian memanggil Anton kembali.
"Mas, motornya aku titip ya. Ntar kalau udah siap aku ambil kesini lagi."
Anton mengangguk. "Jadi kamu kerjanya naik apa?" tanyanya.
"Kenapa, mas? khawatir ya?" Irna mesem-mesem seperti kerasukan jin pasar. Padahal Anton bertanya dengan nada biasa bukan khawatir seperti yang dia katakan.
"Haha, bukan, kalau mau pesan ojek online biar aku pesankan."
"Idih, perhatian banget sih suami orang," celetuk Irna cengengesan.
Mendengar ucapan Irna, Anton jadi tersenyum masam, tapi melihat wajah Irna yang memasang raut jenaka membuat Anton akhirnya benar-benar tertawa.
"Jadi, mau dipesenin ojek online apa enggak nih?"
"Di pesenin satu yang kayak Mas, boleh gak?" ujar Irna dengan mata yang dikedip-kedipkan, sepertinya kali ini Irna mulai serius menggombalinya atau hanya berkelakar saja? Entahlah. Yang jelas, wanita ini cepat sekali akrab dan Anton jadi tau jika Irna benar-benar perempuan yang apa adanya dan blak-blakan.
"Hahaha ... ya udah, aku pesenin dulu ya."
"Beneran, mas?" tanya Irna yang kini wajahnya berubah serius.
"Iya beneran."
"Wah beneran ada lagi yang kayak Mas makanya mau dipesenin buat aku?"
Anton menggeleng. "Aku pesenin ojek online, bukan pesenin yang kayak dipikiran kamu itu," katanya masih terkekeh.
Entah kenapa kedatangan Irna dengan sikapnya yang menggelikan membuat mood Anton membaik, padahal tadi dia memikirkan Shanum dan hatinya tengah murung, sekarang justru perasaannya berubah drastis menjadi geli dan lucu.
Bersambung ....
****
Jangan lupa dukung karya ku🙏
baca sampai end yaa...
aku ada rencana buat sequel dari novel ini. Mungkin rilis di akhir bulan ini juga. Cerita tentang anak-anaknya sky dan Yara. tapi nanti ya. mau tau lebih lanjut? makanya baca terus dan berikan dukungan❤️❤️❤️❤️
__ADS_1