
Jika saja bisa, Sky ingin protes pada Yara atas pekerjaan yang saat ini wanita itu lakukan. Tapi, mau bagaimana, ia bukan sesiapa bagi sang wanita.
Kelak, jika Sky sudah menjadi bagian dari hidup Yara, ia tidak akan mau melihat Yara mengelap jendela seperti saat ini. Ia akan meminta orang lain melakukannya atau jika Yara menolak, maka ia yang akan turun tangan sendiri untuk mengerjakannya.
"Sekai, Sekai.... masih pagi udah datang ke rumahku. Ini hari Minggu, aku mau ajak Abel sama Jennifer jalan-jalan."
"Ya udah, pergi aja sana. Aku disini gak akan ganggu," usir Sky yang pandangannya masih mengarah pada wanita yang mengelap jendela diseberang sana.
"Sebenarnya aku heran, kenapa sekarang kau sering kali ke rumahku?" tanya Beno sambil mengurut dagu.
"Jadi, gak boleh?" Sky akhirnya mengalihkan tatapan demi bisa melihat wajah Beno.
"Bukan gitu, kalau kau mau dekatin Michelle seharusnya yang kau datangi itu Apartmennya, bukan rumahku."
"Yang bilang aku mau deketin Michelle, siapa?"
"Jadi, kau mau deketin siapa? Kenapa sering ke rumahku? Jangan bilang kau mau deketin Jennifer." Beno melotot membuat Sky terkekeh geli karena wajah sang kawan tidak seram sama sekali justru tampak lucu.
"Aku gak doyan nikung kawan, Ben! Gak ada dalam kamus hidupku itu," ucap Sky masih tergelak.
"Ya, tapi kau bilang kan suka sama istri orang... udah ku kasi tau dari jauh-jauh hari kan, asal itu bukan istriku sih fine fine aja."
"Hahaha.... tenanglah, dia bukan Jennifer."
Sky kembali menatapi ke arah seberang sana. Bersamaan dengan itu Beno jadi ikut melihat kemana arah pandangan mata seorang Sky Lazuardi.
"Hmm, kau tertarik sama tetanggaku, ya? Yang di rumah seberang itu?" tanya Beno kemudian.
"Udahlah, kau bilang mau pergi kan? Ya udah sana. Aku tetap disini gak masalah, kan?"
"Ya, tapi kau jawab dulu. Benar yang kau taksir itu yang punya rumah di sebrang?"
"Bukan yang punya rumah."
"Lah, terus?"
"Tuh, yang lagi lap kaca jendela."
Seketika mulut Beno terkatup rapat. Suasana menjadi senyap. Ia kembali memperhatikan wanita yang Sky maksud.
"Cantik sih, emang... tapi kau yakin?"
"Jangan memuji dia, Ben! Itu punyaku!"
Beno berdecak lidah. "Baru juga ku puji sedikit. Terserah kau lah!" katanya malas.
Beno pun hanya bisa garuk-garuk kepala. Sejak kapan selera Sky jadi seperti ini? Tapi, ia memang tidak pernah tau bagaimana selera wanita seorang Sky, sangking lamanya tidak melihat pemuda itu bersama seorang wanita.
Dan sekarang apa? Sky memang pernah mengaku bahwa dia menyukai istri orang, tapi sekarang malah wanita itu adalah ART di rumah seberang? Apa Sky tidak waras?
__ADS_1
"Ah, cinta emang buta, ya..." gumam Beno sebelum benar-benar berlalu.
Seperginya Beno bersama keluarganya, tinggal Sky yang menjadi penghuni di rumah itu. Ia keluar gerbang saat melihat Yara yang mulai menyapu halaman rumah Nadine.
"Ayara .... sttts... sttss," panggilnya.
Yara menoleh, dan mendapati Sky diluar gerbang rumah Nadine.
"Kamu? Ngapain?" Jelas saja Yara keheranan, masalahnya ini masih sangat pagi untuk seseorang bertamu. Memang Nadine sedang tidak di rumah, dia sudah berangkat ke Singapore malam tadi. Tapi menerima Sky dirumah Nadine tetap saja tidak mungkin dilakukan oleh seorang Ayara Yasmin.
"Gimana kemarin?"
Rupanya Sky penasaran bagaimana akhir pertemuan Yara dengan Keluarga Juna kemarin.
"Udah selesai."
"Selesai gimana?"
"Selesai, sesuai keinginan kamu," kata Yara.
Wajah Sky langsung semringah. "Beneran?" tanyanya tampak antusias.
Yara mengangguk pelan. Disaat bersamaan Sky pun melonjak kegirangan.
Jika saja tidak ada pagar rumah Nadine yang menjadi pembatas diantara mereka, pastilah Sky sudah mengangkat tubuh Yara tinggi-tinggi sangking senangnya.
"Udah, ah, aku banyak kerjaan. Kamu pulang sana!" kata Yara yang mengusir pemuda itu secara terang-terangan.
"Gak enak dilihat tetangga lain, Sky. Ntar aku dikira kerja sambil pacaran lagi," kata Yara serius.
Sebuah senyum tengil tersemat diujung bibir Sky. "Emang kita pacaran?" tanyanya membuat mata Yara membola.
Yara menggaruk lehernya sekilas. "Ng--ya, enggak sih!"
"Ya udah, berarti gak apa-apa dong!"
"Cuma kan gak enak."
"Makanya di enakin aja, lagian aku cuma diluar ini gak masuk."
"Sky, masih pagi jangan ajak aku debat..."
Pemuda itu tertawa pelan. "Oke, jam berapa kamu pulang?" tanyanya kemudian.
"Sore, kayak kemarin."
"Ya udah, nanti sore aku jemput, oke?"
Yara menggeleng keras. "Jangan, aku dijemput Mas Anton," ujarnya.
__ADS_1
Sky menatap Yara seolah menanyakan 'kenapa?'
"Mas Anton gak ngizinin aku ngontrak, sekarang aku tinggal dirumahnya. Aku juga gak diizinin ketemu kamu sebelum surat perceraian resmi keluar."
"Tapi, Ra..."
"Kalau kamu ada waktu, nanti mas Anton mau ketemu kamu."
Sky mengangguk. "Ya, aku bakal temuin Mas Anton nanti. Tapi, sampai kapan kita gak boleh ketemu, Ra? Kamu tau kan, aku gak akan bisa..." lirihnya.
"Sky, sebenarnya, Mas Anton pernah bilang kalau dia gak bakal restuin hubungan aku sama pria yang menjadi orang ketiga diantara aku dan Mas Juna."
Sky menundukkan wajah. Jelas saja, ia memang orang ketiga yang dimaksudkan oleh Yara.
"Jadi, kalau mas Anton bilang kita gak usah ketemu dulu sebelum aku resmi bercerai, kita harus turuti dan hargai keputusan itu... karena aku gak mau dia kembali ke keputusan awal. Kamu ngerti, kan?"
Sky mengangguk. Entah kenapa kepalanya mendadak pusing, ternyata semuanya tidak semudah bayangannya, ia kira setelah Juna menalak Yara maka ia akan bebas berhubungan dan dekat dengan wanita itu, nyatanya tidak demikian, ia masih harus diuji oleh waktu sampai status Yara benar-benar sudah jelas.
"Ya udah, untuk sementara kita gak usah ketemu dulu ya."
"Berapa lama?"
"Aku gak tau pasti. Mungkin sekitar tiga atau empat bulan."
Sky terbelalak. "Ra, itu... lama," protesnya.
"Tapi memang gitu aturannya, Sky. Kalau kira-kira kamu gak sanggup nunggu aku sampai beberapa bulan ke depan... aku juga gak akan maksa kamu."
"Gak gitu, Sayang..." Wajah Sky tampak mengembun. "Aku udah janji bakal nunggu kamu, kan? Jadi, aku pasti nunggu," ujarnya.
"Ya udah, kalau gitu. Sekarang kamu balik, aku mau lanjut kerja lagi."
Sky pun mengangguk dengan berat hati. Jangan tanyakan perasaannya saat ini sebab ada senang dan sedih yang bercampur menjadi satu.
"Aku pulang ya."
"Hmm, hati-hati," sahut Yara.
Sky berbalik dan Yara memandangi punggung bidang pria itu yang mulai menjauh. Dalam hati Yara mendoakan yang terbaik untuk Sky. Tidak dipungkiri jika Yara pun menaruh harapan besar pada pria itu. Semoga Sky benar-benar menunggunya seperti yang sudah Sky janjikan.
Saat Yara ingin berbalik masuk, Sky menoleh untuk melihat pada wanita itu. Sky berharap Yara tetap menjadi wanita yang sama dengan rasa yang sama pula--saat nanti statusnya berganti menjadi single kembali.
"Ra, jangankan empat bulan. Bahkan selama 11 tahun ini, aku sudah menunggu kamu. Aku pasti bisa lebih sabar meskipun aku tau itu sulit. Aku mau membuktikan kata-kata kamu bahwa buah dari kesabaran rasanya akan sangat manis," batin Sky.
Bersambung ....
****
Jangan bosen untuk tetap dukung novel ini yah. Bab udah 60-an tapi popularitas enggak nambah-nambah🤭 nasib jadi author kurang famous✌️😆
__ADS_1
Makasih yang udah tetap ngikutin baca kisah Sky-Yara sampai bab ini. Hanya berharap besar sama Readers setia biar tetap bisa baca sampai kisah mereka ending.❤️❤️❤️❤️❤️ Karena kalau ngarepin Readers baru untuk datang dan mampir kesini sepertinya sangat sulit😀