
Resign-nya Yara dari rumahnya, membuat Nadine harus mengurusi rumah sendirian. Ia sudah mencoba menghubungi jasa penyaluran ART tapi belum menemukan yang cocok. Ia juga menanyakan pada ART di rumah sebelah, barangkali ada kenalan lagi yang bisa bekerja di rumahnya, tapi sampai saat ini Nadine belum bisa mendapatkan pengganti Yara.
Kesendiriannya dirumah itu, terkadang membuatnya jenuh dan bosan. Malah ia sering mengerjakan pekerjaan rumah akhir-akhir ini untuk sekedar melepas kepenatan.
Mengurusi butik dan Bridal sudah membuatnya tak bersemangat, terlebih mengingat itu adalah usaha yang diberikan Lucky sebagai hadiah kepadanya.
Ah, rasanya Nadine ingin kembali ke rumah orangtuanya saja. Mengatakan bahwa ia tidak sanggup lagi menjalani rumah tangganya. Akan tetapi, ia takut orangtuanya jatuh sakit bila mendengar kepahitan hidupnya. Sampai saat ini, orangtuanya memang belum tahu mengenai dirinya yang dimadu.
Sebenarnya Nadine bisa ikhlas mengenai hal ini, sebab sejak awal ia memang mengizinkan Lucky untuk menikah lagi. Nadine juga sudah tau apa konsekuensi dari pernikahan seperti itu. Tapi, yang membuatnya murung akhir-akhir ini adalah kebohongan Lucky dan Firda yang ternyata sudah mengkhianatinya--jauh sebelum ia menyetujui pernikahan keduanya.
Nadine merasa dibohongi. Ia merasa bo doh sampai ke urat nadi. Merasa terlalu naif dan ternyata ia tidak sanggup lagi menjalani--jika hati suaminya sudah terbagi sejak lama.
Apalagi sejak Firda hamil. Ia seperti istri yang tak dianggap. Ia diabaikan, hingga perasaan tak dibutuhkan muncul dalam diri seorang Nadine.
Sering ia merasa tidak berguna, apalagi ia didiagnosa tidak dapat mengandung. Ia merasa sangat tidak beruntung.
Pikiran-pikiran kotor selalu terbentuk dalam dirinya sendiri, sampai ia merangkai sebuah pemikiran mengenai butik dan bridal yang dihadiahkan Lucky kepadanya untuk dia urus.
Kenapa suaminya memberinya hadiah semacam itu dan letaknya justru di Indonesia? Kenapa tidak memberikannya bisnis yang ada di Singapore saja?
Meski alasan Lucky waktu itu adalah supaya Nadine bisa dekat dengan orangtuanya, nyatanya letak bridal dan butik tidak satu kota dengan kediaman orangtuanya.
Dan kini Nadine sudah mendapatkan jawaban yang sesungguhnya, Lucky sengaja memberinya hadiah berupa usaha semacam ini agar dia memiliki tanggung jawab di Indonesia hingga sering pergi meninggalkan Lucky di Singapore. Karena apa? Ya, karena Lucky mau memiliki quality time bersama Firda sejak mereka menjalin hubungan diam-diam di belakang Nadine.
Damned! Benar-benar breng sek! Dan Nadine baru menyadarinya sekarang? Apalagi namanya jika tidak bo doh? Ya, Nadine menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu polos mengenai masalah ini.
Ponsel Nadine bergetar, itu adalah panggilan dari bengkel mobil. Ya, sejak kejadian kemarin malam, Nadine memutuskan memasukkan mobilnya ke Bengkel. Ia takut mobilnya mengulah lagi sewaktu-waktu-- seperti malam itu.
"Hallo...."
"Mbak, mobilnya udah bisa di ambil. Udah selesai di servis."
"Oh, oke. Sebentar lagi saya kesana ya, Pak. Terima kasih ya."
Nadine buru-buru menyelesaikan sesi mengikat rambutnya yang sebelumnya diselingi dengan lamunan panjang.
Hhh ... helaan nafas berat terdengar, lagi-lagi Nadine merasa sangat lelah. Kapan ia bahagia? Pikirnya.
Setelah selesai dengan dirinya, Nadine keluar dari rumah dan menunggu sebuah taksi online yang telah di pesannya.
__ADS_1
Drttt drttt drttt ....
Sekali lagi ponsel Nadine bergetar, kali ini panggilan itu adalah dari Lucky, suaminya. Hah, mau apa dia? Batin Nadine.
Tapi, mau bagaimanapun Nadine bersikap, Lucky tetaplah masih berstatus sebagai suaminya.
"Ya, Mas?" Mencoba menerima panggilan itu dengan lapang dada serta menahan kesabaran diri.
"Nadine, sampai kapan kamu di Indonesia? Apa tidak ada keinginan untuk kembali ke rumah?"
Apa katanya? Rumah? Apa rumah mereka di Singapore masihlah rumah untuk pulang bagi Nadine?
"Kerjaan aku disini masih banyak, Mas. Aku belum bisa balik kesana. Maaf."
"Jangan membohongi aku, Nadine. Kerjaan apa yang kamu maksud? Aku menelepon Syifa di butik, aku juga menanyakan pada Tari di Bridal. Tapi mereka bilang kamu bahkan sudah tidak kesana seminggu ini."
Sekali lagi Nadine menarik nafas panjang, ia tau Lucky masih berusaha menjaga hubungan mereka agar baik-baik saja.
"Apapun alasan kamu dan apapun yang kamu lakukan disana, aku harap kamu tidak lupa untuk kembali pulang. Kamu masih ingat jika kamu punya suami, kan?"
"Mas, aku merasa tidak dibutuhkan lagi. Apa aku tetap harus kembali kesana? Apa kamu masih ingin aku disamping kamu?" Akhirnya Nadine meluapkan segala perasaannya meski ia masih menahan dongkol di hati.
Apa? Apa Nadine tidak salah dengar sekarang? Nadine pikir Lucky akan mengatakan bahwa dia harus disamping pria itu--karena dia masihlah istrinya, nyatanya semua ini hanya karena Firda? Dan lagi, karena membutuhkan banyak bantuan? Benar-benar tidak terduga. Nadine sampai speechless dan kehilangan kata.
"Mas, apa kehamilan Firda juga harus menjadi urusanku? Apa aku yang harus membantunya? Aku bukan pembantunya!" Begitulah batin dalam diri Nadine memberontak, tapi kalimat itu hanya tertahan di kerongkongan, sebab Nadine tak bisa mengutarakannya pada Lucky.
"Mas, taksi aku udah datang. Aku mau ambil mobil di bengkel. Bye." Nadine berucap sambil menahan tangisnya yang sangat ingin meledak.
"Ya, hati-hati kamu. Ingat ya, aku tunggu kepulangan kamu. Pulanglah dalam waktu dekat."
Nadine tak menyahut, ia memutus panggilan sebelah pihak. Mencoba berpegangan pada pilar rumah, sebab ia merasa dunianya sedang terbalik sekarang.
Jangan tanyakan sakit hatinya. Ini sangat sakit, apalagi jauh didalam hatinya ia masih sangat mencintai Lucky.
Nadine melangkah perlahan menuju taksi yang akhirnya benar-benar tiba.
Sampai di dalam taksi, wanita itu akhirnya mengeluarkan airmata yang sejak tadi ia tahan agar tak tumpah.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa aku gak kuat dengan cobaan yang Engkau berikan kali ini?" Sekali lagi Nadine membatin, tak mempedulikan sopir taksi yang meliriknya penuh tanya dari kaca spion tengah. Terserah, ia tak peduli dengan tanggapan orang lain.
__ADS_1
Tiba di Bengkel, Nadine mengurus segala pembayaran mengenai servis mobil. Ia lega akhirnya mobilnya sudah dalam keadaan baik.
Semoga tidak mogok lagi, pikir Nadine.
Nadine melangkah lambat, sambil memasukkan nota pembayaran ke dalam tasnya, namun kegiatan itu terhenti kala ia tak sengaja bersitatap dengan sosok pria yang tak asing dimatanya.
"Dia..." Nadine bergumam. Ia masih menatap sosok pria yang kini juga menatap ke arahnya.
Tanpa sadar, Nadine melangkah mendekat pada posisi pria itu.
"Kamu...." Mereka sama-sama menunjuk satu sama lain, seakan baru saja menemukan seseorang yang sepertinya sempat berselisih temu.
"Ya, aku yang waktu itu Mas tolong, pas hujan dan mobilnya mogok."
Pria itu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, ya, saya ingat sama mbak."
Nadine ikut tersenyum simpul. "Makasih ya, buat pertolongan Mas malam itu. Mobilnya udah aku servis juga sih, takut-takut mogok lagi," jelas Nadine dengan akrab.
"Oh, iya, itu bagus. Kemarin saya lupa pesan, seharusnya memang dibawa ke bengkel saja."
"Mas ngapain disini? Servis mobil juga atau----"
"Bukan, kebetulan lagi mengunjungi teman aja di bengkel sini."
"Oh..." Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama, ia teringat sesuatu, sebelum lupa lagi, ada baiknya ia menanyakannya.
"Saya Nadine, kalau Mas-nya?" Nadine mengulurkan tangan demi memperkenalkan diri dengan pria yang sempat menolongnya ini.
Pria itu tersenyum hangat, menyambut uluran tangan Nadine hingga sepasang tangan itu berjabat sempurna.
"Anton ...."
Bersambung ...
*****
Jejak jangan lupa gaes🙏 Eh, iya, makasih ya buat yang udah kirim Vote Senin kemarin🙏🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1