
Yara dan Sky tiba di sebuah tempat Praktek Dokter Obgyn kenalan sang Mama. Mereka akan memeriksakan mengenai kesuburan. Bukan hanya Yara, tetapi Sky juga akan melakukan tes yang sama.
Dokter itu tersenyum ke arah keduanya. Senyumnya tampak penuh arti. Membuat Sky mengernyit tak mengerti.
"Tes itu tidak perlu dilanjutkan, Bapak dan Ibu akan segera menjadi orangtua. Dari hasil cek dan USG --kehamilan ibu Ayara sudah menginjak usia 1 bulan."
Mendengar soal kehamilannya tentu saja membuat Yara dan Sky senang, tapi mereka tetap merasa ini sangat janggal.
Jujur saja, Yara sedikit syok mengenai hal ini. Apalagi Sky. Bukan hanya karena kehamilannya, tapi juga karena usia kandungan itu sendiri.
"Tapi saya baru menikah dengan istri saya selama 12 hari, Dokter. Bagaimana bisa istri saya hamil 1 bulan?"
Dokter Metha tersenyum lagi. Tampaknya sang dokter mengetahui kegamangan hati pasangan suami istri dihadapannya.
"Bapak, Ibu ... sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendapati pasangan yang bingung mengenai hal ini. Jadi, disini saya jelaskan secara singkat saja ya."
"... Usia kehamilan bukan terhitung sejak dibuahi, tetapi dari segi kedokteran, usia kandungan itu dihitung dari hari terakhir siklus menstruasi ibu Ayara. Sampai disini saya yakin ibu dan bapak memahaminya."
Yara menghela nafas lega, ternyata dia saja yang belum mengetahui tata cara menghitung kehamilan. Entahlah, menurut dokter patokan kehamilan itu adalah dari hari terakhir haid. Begitu kira-kira.
Sky sendiri, dia juga minim pengetahuan tentang ini. Ia bahkan baru mengetahuinya disini.
"Untuk hal ini, jangan sampai Bapak Sky mengira jika Ibu Yara sempat melakukan hal yang tidak baik sebelum kalian menikah. Karena seperti yang saya katakan di awal tadi, kejadian semacam ini memang sering terjadi karena perhitungan dokter memang seperti itu yaitu dari siklus terakhir." Dokter Metha berkelakar pada Sky sambil menekankan kalimat terakhirnya.
Sky sendiri memang tidak punya pemikiran macam-macam, dia tau Yara hanya berhubungan dengannya saja. Bahkan sebelum mereka menikah secara dadakan waktu itu, Yara juga selalu bersamanya.
Selain itu, Sky memang punya kepercayaan yang besar terhadap istrinya jadi sejak awal dia hanya kaget kenapa kandungan Yara bisa dinyatakan berusia 1 bulan, bukan karena pikirannya yang sudah mengira yang tidak-tidak terhadap sang istri.
"Nah, satu lagi infonya," kata Dokter Metha sembari menatap Sky dan Yara bergantian dengan senyumnya yang merekah.
"Info apa lagi, Dok?" Yara merasa gugup, dia takut sesuatu terjadi pada usia kehamilan yang sangat dia nantikan ini.
"Dari hasil USG..." Sang Dokter menunjukkan print USG milik Yara sebab saat perut Yara diperiksa tadi, dokter itu sepertinya sengaja tidak menjelaskan secara rinci. "Disini ada dua titik, Pak, Bu. Yang artinya ibu Yara tengah mengandung bayi kembar."
Hah? Pupil mata Yara langsung membesar. Yara spontan memeluk leher Sky saat itu juga. Speechless, tentu saja. Jika dia tidak membungkam bibirnya dengan telapak tangannya sendiri, dapat dipastikan-- jika Yara akan menjerit girang saat itu juga.
Sky sedikit terhuyung karena respon Yara yang diluar prediksinya. Tapi untungnya dia bisa sigap untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Jadi, istri saya beneran hamil, Dok?" Sejak tadi bungkam, akhirnya Sky kembali bersuara.
"Iya, Pak. Selamat ya, Pak Sky dan Ibu Ayara." Dokter Metha ikut tertular euforia kesenangan dari kedua insan dihadapannya.
"Iya, Dokter. Terima kasih infonya," kata Yara yang sekarang menitikkan airmata bahagia.
"Dok?"
__ADS_1
"Ya?" Dokter Metha menatap Sky yang kembali memanggilnya.
"Istri saya hamil dan anaknya kembar, kan? Saya gak salah mendengar, kan?"
Sang Dokter menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pak. Semua yang bapak dengar dari saya itu sebuah fakta. Ibu Ayara memang tengah hamil baby twins saat ini. Sekali lagi selamat, saya juga jadi ikut senang karena hal ini, Bu Indri bakal punya cucu, pasti beliau akan senang sekali..."
Dokter Metha memang adik tingkat Mama Sky ketika berkuliah dulu. Mereka berbeda jurusan, tapi saling mengenal karena sebuah asosiasi perhimpunan mahasiswa dalam kampus yang sama.
"Terima kasih, Dokter." Sky menyalami tangan Dokter yang ramah itu.
"Iya, sama-sama Pak, Ibu." Sang Dokter sangat profesional meski umurnya jauh diatas Sky dan Yara.
"Dijaga kandungannya, banyak makan makanan yang bergizi. Dan Bapak selaku suaminya juga harus turut andil menjaga kandungan ibu Ayara. Jangan sampai lengah dan jangan buat istrinya lelah, ya, Pak."
"Ba-baik, Dok." Sky menjawab gugup sebab ia tau arti dari balik kalimat sang dokter.
Dalam perjalanan, Yara sampai lelah terkekeh karena sikap Sky yang terus menerus menciumi punggung tangannya. Kegiatan itu hanya berhenti sesekali, disaat Sky mau menarik tuas persneling mobil.
"Udah ah, lama-lama tangan aku kaku, kalau kamu serbu dengan ciuman bertubi-tubi gitu."
"Aku seneng banget, Sayang. Kamu gak tau sih..."
"Ya tau, kan aku juga ngerasain seneng yang sama kayak kamu. Lebih seneng malah..."
"Gak lah, aku yang paling seneng." Sky tak mau kalah.
"Tapi gimana sama acara resepsi kita bulan depan ya, Sayang?"
"Ya mudah-mudahan aja gak ada halangan."
"Bukan itu, aku takut kamu kelelahan nanti. Jamuan makan dan menyambut tamu itu gak sebentar lho."
Yara tersenyum simpul, belum apa-apa Sky sudah mengkhawatirkan keadaannya.
"Kita jalani aja sebisanya. Ntar kalau aku capek aku gak mesti ikuti acaranya sampai selesai kan?"
"Iya, sayang. Lagian resepsi itu kan cuma pesta sekalian mengumumkan pernikahan kita, yang paling penting semua orang itu tau dan kamu gak perlu memaksakan untuk tetap mengikuti acara sampai tuntas. Karena paling utama buat aku sekarang itu cuma kamu sama bayi kita yang harus sehat terus."
Yara mengelus punggung tangan suaminya. "Makasih, ya, kamu pengertian banget, aku jadi makin sayang sama kamu," tuturnya menggombal.
Sky tertawa pelan. "Harus dong! Aku harus perhatiin kamu, karena aku gak mau istriku diperhatiin sama pria lain nanti," tukasnya.
"Dih, apaan sih kamu? Mana mungkin."
"Kok gak mungkin, namanya istriku cantik, apalagi udah hamil pasti makin cantik lagi."
__ADS_1
"Gombal aja terus, istrinya mau dikenyangin pakai gombal ya, Pak?"
Lagi-lagi Sky terkekeh. Perjalanan menuju pulang itu terasa sangat singkat karena candaan dari keduanya.
Begitu mereka tiba di rumah, Indri sudah tampak menunggu keduanya. Seolah bersiap ingin tahu apa yang terjadi dengan pemeriksaan anak dan menantunya hari ini.
"Gimana, Sky?" Indri tidak mau terlalu banyak berharap. Intinya, Sky dan Yara baru saja menikah jadi mereka masih punya banyak waktu dan jika salah satu dari mereka tidak subur maka masih bisa mencari cara untuk mengobatinya.
"Maaf ya, Ma," Sky tertunduk lesu. Sementara Yara melotot sebab tak menyangka jika Sky akan berlaku demikian.
"Lho? Kenapa? Jadi, bakalan lama, ya?"
"Mungkin sekitar 9 bulan lagi, Ma." Sky kembali menyahuti perkataan sang Mama dengan tampang lesu.
Yara memutar bola matanya, suaminya ini kadang memang senang sekali mengerjai orang lain. Tapi masalahnya ini adalah mamanya sendiri, Yara jadi tak tega pada mertuanya karena keusilan tingkah Sky itu.
"Ma, jadi---"
"Mama tunggu aja 8 sampai 9 bulan ke depan. Cucu mama bakal lahir langsung 2," ujar Sky memotong perkataan Yara. Dia bahkan mengacungkan jari yang menunjukkan makna yang berarti 2 sebagai pendukung perkataannya.
"Ah, kamu bisanya jawab asal doang. Kemarin bilang 3, ini bilang 2. Nanti kalau mama tagih, baru deh bilang kalau kamu cuma asal jawab," omel Indri sambil mencebikkan bibir.
"Kali ini aku gak bohong, Ma. Tanya aja sama Yara. Delapan bulan dari sekarang, cucu mama bakal launching langsung 2 orang. Nah, mama siapin deh nama buat mereka nanti."
Mata Indri langsung membola, dia tak percaya dengan Sky lagi. Dia tidak mau dipermainkan putranya sendiri. Lantas, Indri menatap Yara seolah ingin mendengar jawaban dari mulut menantunya.
"Iya, Ma. Cucu mama bakal langsung dua. Maaf ya, Ma... gak sesuai sama omongan Sky waktu itu yang bilangnya mau ngasih tiga."
"Kamu serius, Ra?"
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
"Cucu mama udah ada di perut kamu berarti?"
"Iya, Ma. Dan infonya Yara hamil bayi kembar."
"Ya ampun, mama seneng banget...." Indri sampai menaikkan kedua tangannya ke atas, seperti suporter bola yang baru saja melihat aksi pencetakan gol.
"Anak mama memang the best. Good job, Boy!" Indri dan Sky ber-high-five ria. Saling adu tinjuan dengan keakraban yang mereka punya.
Sementara Yara sendiri ikut tersenyum senang karena kabar ini akhirnya bisa membuatnya lega sekaligus membuat mertuanya bahagia.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Dukung karya aku terus ya. Next akan nyusul 2 bab lagi. Kalau kalian suka dengan part ini silahkan klik jempol. Tinggalkan komentarnya juga, guys🙏🙏🙏🙏
...~~~...