
Anton dengan telaten menjaga tiga orang anak di kamar putrinya. Satu dari tiga anak itu adalah anak kandungnya, Elara dan dua yang lain adalah anak dari Yara, yakni Aura dan Cean.
Elara bermain boneka Barbie dan mengajarkan Aura untuk mengikutinya. Sedangkan Cean, dia menggambar menggunakan crayon meski gambar itu berbentuk absurd.
Anton menarik sudut bibirnya menjadi segaris tipis, dia tertarik pada Cean yang tampak lebih dewasa ketimbang yang lain. "Cean, kalau udah besar mau jadi kayak Papa, ya?" tanyanya.
"Iya, Pade. Cean suka gambal-gambal."
"Memang sekarang Cean lagi gambar apa ini?" tanya Anton kemudian.
"Nih, lagi gambal mobil."
"Tapi, papa Cean kan gak gambar mobil, dia sukanya gambar gedung."
"Iya, Cean gak bisa gambal gedung. Cean maunya gambal mobil kiyen, ntar bisa dinaikin."
Anton mengacak gemas rambut lurus milik Cean. Bocah kecil itu memang selalu menyenangkan, dia pintar dan jika diajak bercerita selalu nyambung karena memiliki kecerdasan yang bisa dikatakan diatas rata-rata.
Anton beralih pada Elara dan Aura yang tengah bermain boneka Barbie, mereka berceloteh seolah boneka yang sedang dimainkan itu sedang berbicara.
"Nama bonekanya siapa, El?"
"Barbie, Ayah."
"Kalau yang itu?" Anton menunjuk boneka Barbie yang lain.
"Itu, Barbie juga..."
"Kok namanya sama?"
"Memang sama, keduanya sama-sama Barbie." Elara menyahut tegas, tidak mau ada protes dari sang ayah atas jawabannya kali ini.
"No! Ini Aula, ini Kak Elala..." timpal Aura yang menyebutkan kedua boneka itu dengan nama mereka berdua.
"Bukan, ini namanya boneka Barbie, lho." Elara tak mau kalah.
"Iya, iya, ini boneka Barbie-nya Elara, dan ini boneka Barbie-nya Aura. Oke?" Anton langsung menyahut sebelum terjadi perang dunia ketiga.
"Yayayah ..."
Anton menoleh ke dekat kasur, disana ada Liora dengan wajah mengantuknya. Bocah satu setengah tahun itu memang baru saja bisa berceloteh, belum jelas kosa katanya tapi jika memanggil Anton dan Nadine sudah dapat dipahami sebab dia sudah pandai berkata 'yayayah dan dadada' yang berarti Ayah dan Bunda.
"Oh, sayang ayah udah bangun?" Buru-buru Anton bangkit dan menghampiri putri kecilnya. Liora mungkin terbangun karena dia tidur di kamar yang juga sudah ada tiga bocah yang tengah bermain didalamnya.
"Yayayah. Neka ... neka ..." Liora meminta boneka yang dipegang Aura, merasa itu adalah miliknya yang biasa dia mainkan bersama Elara.
__ADS_1
Anton menggaruk pelipis sekilas. Jika mainan yang di pegang Aura diambil dan diberikan pada Liora, maka akan terjadi perang dunia keempat, pikirnya.
"Lio, Sayang, ini main boneka yang ini aja," kata Anton memberi pengertian, dia memberikan bocah itu boneka Teddy bear yang mungkin akan mengalihkan Liora dari boneka Barbie yang dipegang Aura.
Bocah kecil itu malah menggeleng, terlihat sangat menggemaskan tetapi membuat Anton jadi berpikir keras untuk kembali mengalihkannya.
Liora mendekat pada Aura dan tanpa meminta persetujuan siapapun, bocah itu segera merangsek lalu merampas Boneka Barbie yang dia rasa adalah kepunyaannya.
"Mama!!!" Aura menjerit karena merasa mainannya sudah direbut secara paksa.
...~~~...
"Gimana, Mas?" Nadine terkekeh melihat Anton kewalahan menjaga empat orang anak. Dia mengelus pelan punggung tangan suaminya.
"Lebih baik aku kerja seharian deh daripada ngurus anak-anak," kata Anton menyerah sembari berlagak mengangkat tangan. "Kalau cuma beberapa jam, bolehlah... tapi kalau seharian, aku nyerah, sayang," lanjutnya menyengir.
Nadine terkikik-kikik geli dengan gerutuan suaminya. Dia pasrah saat Anton merangkulnya yang saat ini terduduk di sofa sembari menonton talk show malam.
Aura dan Cean sudah dijemput oleh kedua orangtuanya beberapa jam lalu. Elara dan Liora juga sudah tertidur kembali malam ini. Sekarang saatnya mereka saling bercerita mengenai hal-hal kecil yang semakin merekatkan hubungan keduanya.
"Kadang aku gak habis pikir, ibu rumah tangga itu bisa kuat ya, seharian dirumah, ngurus anak, belum lagi kalau anaknya rewel. Hmm, hebat banget dan masih bisa sabar."
Nadine tersenyum dalam posisinya, dia senang Anton menghargai pekerjaan ibu rumah tangga yang sering dianggap sepele.
"Muji-muji jangan ada maunya ya, Mas." Nadine mengadah pada Anton dan menatap manik mata pria itu dengan tatapan menyelidik.
"Hehe, kamu tau aja, Sayang." Anton menyengir diakhir kalimat. "Mau aku pijitin kakinya gak, Yang?" sambungnya.
Nadine mana bisa menolak iming-iming suaminya yang mengatakan mau memijatnya. Untuk ukuran ibu hamil, jelas saja dia memang merasakan pegal-pegal di bagian punggung dan kaki. Meski dia tau itu akan berujung pada hal lain, tapi Nadine memang tidak bisa menolak permintaan Anton.
"Let's go!" Anton begitu bersemangat seperti akan menebus kupon undian berhadiah saja.
Mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Anton mengangkat Nadine ala bridal style, membuat wanita itu menjerit tertahan.
Plak. Nadine menepuk pundak suaminya sebagai bentuk protes.
"Aku udah berat, Mas."
"Gak, kamu gak pernah berat," katanya sambil mengecup bibir Nadine sekilas.
"Tapi aku kan lagi gendut sekarang."
"Tapi gak berat, sayaaangg ..."
Meletakkan istrinya dengan sangat perlahan ke atas ranjang lalu mulai mengambil olive oil dari atas nakas.
__ADS_1
"Ayo lurusin kakinya," titah Anton dan tentu saja Nadine menurut.
Anton mulai membalurkan minyak zaitun ke sekujur kaki istrinya yang mulai nampak membengkak.
"Jelek ya kaki aku," kata Nadine cemberut.
"Ini kaki paling sek si," desis Anton sambil mengerling nakal.
"Hisss, bisa aja kamu, Mas." Nadine tersenyum malu, wajahnya memerah.
Mulai merasakan pijatan lembut suaminya.
"Capek banget, ya, Sayang? Yang ini pasti sakit," tebak Anton sembari memijat bagian tungkai kaki Nadine.
"Ah, iya, Mas. Tau aja kamu. Udah kayak tukang urut profesional aja," kata Nadine meringis namun kemudian terkikik.
"Tau lah, dulu aku hampir jadi tukang urut, Sayang. Beruntung kamu karena aku malah jadi tukang urut pribadi kamu dan cuma kamu yang bisa ngerasain pijatan aku."
"Hahah, pede banget sih kamu, Mas."
Nadine terkesiap saat tangan Anton mulai semakin naik dan kini memijat area yang tidak semestinya.
"Mas!"
Anton tersenyum me sum dan Nadine memutar bola matanya.
"Tau gak, aku kangen banget sama kamu."
"Halah," kata Nadine sudah tau akan kemana arah pembicaraan ini. "tuntasin dulu pijatannya ya Mas baru lanjut ngegombal," paparnya.
Anton mengulumm senyum, dia tau bahwa pijatannya di kaki sang istri baru saja beberapa menit, tapi dia sudah tidak bisa menahan godaan dari tubuh istrinya, padahal Nadine hanya berselonjor dan tidak melakukan apa-apa, nyatanya dia sudah tergoda. Nadine tampak seperti hidangan yang menggiurkan apalagi saat hamil seperti sekarang ini.
"Mas!"
Sekali lagi Nadine terkesiap karena tangan nakal Anton. Pria itu memangkas jarak dan mulai menghadiahi bibir istrinya dengan kecupan-kecupan ringan.
Saat hendak menuju ke tahap inti, rupanya terdengar suara tangisan Liora.
"Yah, gagal deh..." Anton menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Jika sudah Liora menangis tengah malam, maka bocah itu tidak akan mau ditinggalkan sampai pagi menjelang, bahkan dia mau dalam dekapan Nadine semalaman. Anton harus pasrah menjadi posisi yang terakhir jika sudah menyangkut anak-anaknya.
"Maaf, ya, Mas. Aku lihat Liora dulu." Nadine memasang senyum sungkan pada suaminya.
Vote Senin? Mana? Hehehe dukungannya atuh๐๐๐
__ADS_1