EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
118. Gugup dan Deg-degan


__ADS_3

Sejak mengasuh Baby Elara, Nadine merasa hidupnya lebih berwarna. Dia dapat merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Hingga tidak terasa bayi itu sudah berusia satu bulan.


Baby Elara teras tumbuh dengan cepatnya, Nadine senang sekali masih diberi kesempatan mengasuh sang bayi. Dia melupakan kisah kelam rumah tangganya. Bahkan, dia juga sampai melupakan jika sampai detik ini surat perceraian yang dia inginkan dari Lucky--tidak kunjung diterimanya.


"Nad? Udah belum?"


Terdengar suara pekikan Anton, pria itu sepertinya sudah menunggu. Rencananya hari ini Nadine akan ikut mendampingi Anton membawa Baby Elara imunisasi di Rumah Sakit.


"Iya, sebentar, ya, Mas."


Nadine menggendong Baby Elara dengan gendongan khusus bayi kemudian keluar dan mengunci pintu rumah.


"Kamu aja yang nyetir mobilnya, ya, Mas."


Nadine menyerahkan kunci mobilnya pada Anton dan pria itu pun menerimanya. Bukan Nadine tak mau menaiki motor Anton, akan tetapi dengan membawa Elara bepergian dia lebih merasa aman jika menggunakan mobil.


"Maaf ya, ngerepotin kamu terus," ujar Anton begitu mereka sama-sama sudah duduk didalam kabin mobil.


"Gak apa-apa, Mas. Elara kan anak aku juga." Nadine menatap Elara yang tenang dalam gendongannya. "Ya kan, sayang? Elara anak bunda, kan?" ucapnya kemudian.


Anton mengernyit, sejak kapan Nadine menyatakan bahwa dia adalah 'bunda' bagi Elara. Perasaan, dulu wanita itu membiasakan diri dengan panggilan 'tante' kenapa sekarang berubah?


Sadar dengan keheranan Anton, Nadine memasang cengiran.


"Maaf ya, Mas. Aku ngebiasain Elara manggil aku bunda sekarang. Kamu marah gak, Mas?"


Anton menyalakan mesin mobil. "G-gak," jawabnya gugup.


"Hehehe aku terlalu banyak permintaan ya, Mas?" kata Nadine menyadari sikapnya sendiri.


"Gak, Nad. Asal jangan minta aku nikahi aja setelah ini," gumam Anton gusar.


"Apa, mas?" tanya Nadine yang tidak dapat mendengar jelas apa yang tadi Anton gumamkan.


"Gak. Gak ada," jawab pria itu dan mobil pun mulai bergerak perlahan meninggalkan hunian Anton.


Sesampainya di Rumah Sakit, mereka harus menunggu giliran untuk membawa Baby Elara imunisasi.


"Irna?" Rupanya mereka tak sengaja bertemu dengan Irna disana. Wanita itu sedang membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahunan.


"Eh mas ganteng...." sahut Irna. "Ngapain, Mas?" tanyanya. Irna lantas melihat Nadine yang juga datang bersama Anton. Dia merasa mengenal wanita ini namun tidak yakin.


"Hai, Ir..." Rupanya Nadine yang lebih dulu menyapa.


"Bu Nadine, kan? Yang dulu jadi majikannya Yara?"


Nadine mengangguk. Dia ingat jika beberapa waktu lalu Anton dan Irna tampak akrab bahkan mengira Irna adalah pacar baru Anton, hal itu pula yang membuatnya cukup kecewa tapi pada akhirnya Nadine melupakan masalah itu sejenak dan baru mengingatnya lagi sekarang akibat pertemuan ini.


"Bu Nadine kok bisa disini sama Mas ganteng? Ehm... maksudnya sama Mas Anton?" Irna menyelipkan rambut ke belakang telinganya sendiri.


"Iya, lagi bawa Elara imunisasi," jawab Nadine lugas.


Disanalah Irna sadar jika yang ada dalam gendongan Nadine adalah putri kecil Anton. Dia sedikit heran namun ingin menanyakan lebih lanjut timbul perasaan sungkan.


"Kamu ngapain kesini, Ir?" tanya Anton melirik Irna dan anak laki-laki kecil yang berdiri memeluk kaki wanita itu.

__ADS_1


"Ini, Mas. Lagi bawa Azka berobat," kata Irna merujuk pada putra semata wayangnya.


Anton berjongkok demi menyamakan tinggi tubuhnya dengan Azka. "Azka? Semoga cepat sembuh, ya..." katanya memberi semangat.


"Ma-makasih Om," ujar bocah kecil itu dengan raut malu-malunya.


"Anak kamu sakit apa, Ir?" Nadine ikut menimpali pembicaraan itu.


"Ehm, ini Azka sering ngeluh sesak, Bu."


"Udah periksa lebih lanjut belum?"


"Hari ini hasil pemeriksaannya keluar, makanya kita kesini, Mas."


Nadine dan Anton memasang wajah prihatin atas berita yang Irna sampaikan.


"Semoga anak kamu cepat pulih lagi, ya. Dan gak ada penyakit yang serius." Anton mengelus kepala Azka dengan lembut dan akrab.


Melihat itu, kembali menimbulkan rasa aneh dihati Nadine. Kekagumannya pada Anton bertambah lagi. Anton bukan cuma baik pada dirinya, melainkan pada orang lain termasuk anak Irna. Tapi, apa mungkin ini karena Anton memiliki hubungan dengan Irna? Pemikiran Nadine kembali pada hal itu.


"Iya, permisi Mas, Bu. Saya sama Azka ke sana dulu ya untuk ambil hasil tes nya.",


Anton dan Nadine mengangguk sembari menatapi kepergian Irna yang kini menggendong putranya.


"Mbak Irna itu perempuan yang kuat ya, Mas," celetuk Nadine tiba-tiba.


"Kuat gimana?" tanya Anton.


"Iya, aku denger dia membesarkan anaknya sendirian. Udah ditinggal lama sama suaminya. Aku salut sama wanita yang bisa seperti itu."


"Kalau kamu sendiri, emang kamu bukan wanita yang kuat?" tanya Anton pada Nadine.


Ya, mungkin ini adalah kesempatan bagi Anton untuk bicara dengan Nadine dari hati ke hati. Bagaimana tidak, saran dari Yara itu belum juga dia realisasikan sampai sekarang. Anton merasa tidak ada momen atau waktu yang pas untuk membicarakannya dengan sang wanita.


"Aku?" Nadine menunjuk dirinya sendiri. "Aku gak sekuat itu, Mas. Aku ini wanita cengeng. Hehehe."


Meski Nadine menyahut pertanyaan Anton dengan sedikit candaan, tapi Anton dapat menyadari jika ucapan Nadine itu adalah sebuah kejujuran.


Percakapan itu terhenti kala giliran Baby Elara untuk ber-imunisasi sudah tiba.


Melihat sang bayi yang disuntik, mereka berdua yang sama-sama meringis seolah merasakan sakitnya.


Usai kegiatan itu, Anton kembali mengemudikan mobil untuk pulang.


"Mas?"


"Ya?"


"Kamu sama Mbak Irna pacaran ya?"


Anton tersedak salivanya sendiri akibat pertanyaan Nadine. Syukurnya Nadine langsung sigap memberikan air mineral botol untuk pria itu.


"Maaf ya, Mas. Aku cuma penasaran aja, kalian kelihatan akrab."


Anton akhirnya mengulumm senyum. "Aku sama Irna itu cuma kenal sepintas aja, kebetulan dia temennya Yara dan waktu itu rumah kontrakan Yara pas disebelah rumahnya Irna."

__ADS_1


"Ah, aku pikir kalian pacaran, Mas. Maaf ya."


"Aku bahkan baru tau dari kamu hari ini kalau Irna itu single parent."


"Masak?"


"Iya, karena emang gak pernah ngebahas hal pribadi dan gak mau tau juga."


Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi, entah kenapa ada perasaan lega dalam hati mengetahui hal ini. Ah, kenapa? Dia sampai menyunggingkan senyum karena jawaban Anton yang terkesan cuek mengenai Irna.


"Ya, Irna itu orangnya kocak, jadi kalau dekat sama dia obrolannya terasa lucu aja, gak garing," akui Anton terus terang.


Mendengar itu, wajah Nadine jadi cemberut lagi. Ia membuang pandangan ke luar jendela mobil.


"Kalau aku, gimana, Mas?"


"Kamu?"


"Iya, kalau dekat mbak Irna kan kamu merasa lucu dan gak garing. Kalau dekat aku gimana?"


Anton menahan geli akibat pertanyaan wanita ini.


"Mau jawaban jujur atau bohong?"


"Ya jujur lah, Mas," desak Nadine. "Atau kalau dekat aku kamu ngerasa risih ya, Mas?" tebaknya.


"Ya kalau risih... harus akui memang iya sih," kata Anton.


"Tuh, kan..." Lagi-lagi Nadine mencebik. Anton pun tertawa renyah melihatnya.


"Terus jujurnya apa, Mas? Kalau dekat aku-- kamu ngerasain apa?"


"Kalau dekat kamu aku ngerasa... aneh," tukas Anton akhirnya.


"Aneh?" Nadine malah membeo, perkataan Anton terkesan ambigu dan membingungkan.


Apa yang membuat Anton merasa aneh jika dekat dengannya? Pikir Nadine.


Anton tak lagi berkata apapun sampai mobil mereka tiba didepan rumah. Sesudah memindahkan Baby Elara ke kamar, Nadine keluar dan mendapati Anton yang sepertinya ingin bicara sesuatu pada dia.


"Mas?"


"Nad?"


"Kenapa, Mas?"


"Nad, sejujurnya dekat dengan kamu aku jadi gugup dan deg-degan, Nad!" ujar Anton seperti ingin menjelaskan perkataannya yang ambigu saat di mobil tadi.


Setelah mengucapkan itu, Anton pun pergi dari hadapan Nadine, membuat wanita itu melongo dengan berbagai macam pertanyaan dikepalanya.


Bersambung ....


Makasih buat support nya yah gaes... Sampai jumpa sama update-an othor besok yaaa❤️❤️❤️


Ah iya, yang belum tekan like di bab sebelumnya, klik dulu jempolnya disana ya, jangan dilewatin dan baru like di bab akhir. Sering banget deh kelewatan like gitu... huhuhu 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2