
Anton mengelus-elus rambut istrinya yang masih tertidur nyenyak disisinya. Jujur saja, ia merasa sangat bahagia sekaligus bersalah. Itu semua karena ia sudah tau Nadine lelah, tapi tetap saja nekat mewujudkan malam p@nas mereka kemarin. Sehingga, dia benar-benar membiarkan wanita itu lelap tanpa mau mengganggunya meski kini waktu sudah tidak bisa dikatakan pagi lagi--sebab sudah menunjukkan pukul 9 waktu setempat.
Anton ingin beranjak, paling tidak dia ingin tampak sudah rapi ketika nanti Nadine bangun. Sayangnya, kepala wanita itu menind1h lengannya seolah itu adalah bantal yang paling empuk. Hal itu pula yang menyebabkan Anton tidak bisa bergerak kemanapun karena dia takut sedikit pergerakannya dapat mengganggu kenyamanan sang istri.
"Nghh ..." Nadine menggeliat, disaat yang sama Anton pura-pura memejamkan mata kembali. Rupanya wanita itu benar-benar terbangun setelah mengerjap-ngerjap sesaat.
Nadine sontak menoleh pada wajah pria yang terpejam disisinya. Wanita dengan surai lurus itu kini mematut senyum. Sekelebat kejadian semalam terlintas dikepalanya dan menyebabkannya merona seketika.
Anton tau jika saat ini Nadine tengah menatapi wajahnya, kendati ia masih terpejam tapi ia dapat merasakan mengenai hal itu.
Melanjutkan akting tidurnya-- Anton pun menggeliat pelan demi totalitas untuk melengkapi kepura-puraannya.
"Selamat pagi, Mas." Nadine menyambut Anton dengan ucapan lembutnya.
"Pagi, Sayang ..." sahut Anton sambil menguap singkat. Pria itu mendekatkan bibir pada puncak kepala Nadine dan mengecupnya disana. Masih tercium aroma shampo yang tadi malam dia lumuri di rambut hitam itu. Hmm, harum ...
"Kayaknya kita kesiangan bangun, Mas."
"Emang jam berapa sekarang?" Anton pura-pura tak tau. Dia tak mau Nadine malu jika tau sebenarnya dia yang lebih duluan bangun hari ini.
"Jam 9 lewat."
"Ya ampun. Ini pasti karena kita kemalaman tidur."
Nadine tertawa pelan. "Bukan kemalaman, Mas. Tapi kepagian tidur jadi bangunnya kesiangan."
Anton ikut terkekeh sembari menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.
Untuk pertama kali, Anton melihat wajah bangun tidur milik Nadine dan ternyata wanita itu masih saja cantik dalam keadaan apapun, apalagi jika ...
"Mas?"
"Ya?"
"Hari ini kita kemana?"
"Kamu gak sabar mau jalan-jalan keliling Thailand, ya?"
"Hmm, iya, Mas. Hehehe. Emang kamu enggak?"
Anton mengendikkan bahu. "Enggak terlalu. Aku lebih tertarik dan berminat di kamar aja sama kamu," ucapnya disertai kerlingan mata.
Blush ...
Sudah dapat ditebak jika wajah wanitanya langsung memerah seketika itu juga. Anton jadi gemas sendiri.
"Mau aku mandiin lagi, gak?"
"Ih, kamu ini, Mas!" Nadine menatap tak percaya pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"Lho, kenapa? Ada yang salah?"
"Me sum dan ca bul." Nadine mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya sendiri, entah kenapa.
Anton tertawa, tentu karena ucapan istrinya. "Mesumnya dimana, Sayang? c@bulnya juga dimana? Kan, mandiin istri sendiri. Istri senang, aku juga senang. Selesai."
Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya akibat pernyataan Anton yang tidak difilter. Benar, kan? Pria ini sekarang semakin menjadi-jadi saja. Ternyata Anton benar-benar mau membuktikan kenakalannya setelah mereka menikah. Bukankah pria itu pernah mengatakan mau menunjukkan hal itu? Dan lihat, dia mewujudkannya bahkan hanya dari kata-kata saja.
"Mas, kita sarapan dulu, ya. Aku laper banget."
"Jadi gak mandi dulu?"
"Mandi, tapi mandinya masing-masing. Oke?"
"Lama, sayang. Kalau barengan pasti lebih cepat selesai."
Benar-benar pria ini. Mana ada cepat selesai, yang ada mereka bisa menunda sarapan dan justru makan di waktu sore, pikir Nadine.
"Enggak, enggak. Sekarang kamu mandi duluan. Abis itu aku yang mandi. Ya?" Nadine beranjak dari ranjang mereka dan mencarikan handuk untuk Anton. Dia menyerahkan itu pada pria yang memasang wajah merengut seperti anak kecil yang tidak mendapatkan jajanan yang diincarnya.
"Ayo, mas! Keburu siang."
"Iya, deh." Anton bergerak dengan malas-malasan. Malah kini dengan bibir yang dicebikkan.
Nadine terkekeh, kemudian memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang. Dalam posisi itu, dia memiringkan kepala agar bisa melihat raut wajah suaminya.
Anton mengulumm senyum. Dia mengelus sepanjang tangan istrinya dengan pergerakan yang sangat lembut.
"Mas?"
"Hmm?" Anton menoleh, dia kira Nadine berubah pikiran dan mau mengulang momen mandi berdua mereka, lagi.
"Sikat giginya jangan ketinggalan lagi, ya," kata Nadine disertai kekehan kecil. Jelas Anton tau jika wanita itu sedang menyindir kelakuannya semalam.
"Iya, udah aku tinggal di wastafel kamar mandi, kok," sahut Anton sambil lalu. Ah, trik-nya sudah diketahui Nadine dan tak jadi dia wujudkan untuk kedua kalinya.
...~~~...
Tepat pukul 10 siang, mereka berdua keluar dari hotel dan mencari sarapan yang jelas kesiangan. Sebenarnya Nadine ingin menunda makannya, tapi perutnya yang keroncongan tidak bisa diajak berkompromi. Apalagi Nadine perlu banyak asupan energi untuk meladeni kenakalan dan trik-trik dari suaminya.
Mereka pun tiba di sebuah Restoran Halal yang ditunjukkan oleh Aroon.
Saat makan disana, Nadine makan dengan tidak begitu lahap karena makanan itu tidak sesuai dengan seleranya.
"Kamu gak selera makan?" tanya Anton yang melihat Nadine uring-uringan.
Wanita itu mengangguk. "Enak makanan indo, Mas," katanya sambil terkikik.
"Mau gimana lagi, tapi kamu tetap harus makan, ya?" pinta Anton penuh pengertian.
__ADS_1
"Iya, Sayang." Nadine mengelus punggung tangan Anton dengan lembut dan mereka saling melempar senyuman.
Disela-sela kegiatan itu, Nadine mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Yara di Indonesia. Dia mau melihat dan berbicara pada Elara disana.
"Hallo, mbak? Gimana disana?" tanggap Yara dari seberang panggilannya.
"Hallo, Ra. Ya disini enak. Makasih ya hadiahnya. Bilang sama Sky juga."
"Siap, Mbak. Mas Anton mana?"
Nadine langsung mengarahkan ponsel ke wajah Anton agar Yara dapat melihat sang kakak.
"Mas? Gimana? Lancar?" tanya Yara kepada Anton.
"Banget..." jawab Anton ambigu. Dia mengacungkan jempol ke kamera dengan seringaian penuh arti membuat Yara terbahak dari seberang sana.
Nadine kembali menatap layar ponselnya dan masih mendapati Yara yang tertawa-tawa tak jelas.
"Elara mana, Ra?"
"Oh, tenang aja, Mbak. Elara aman kok. Dia udah makan, udah minum susu sekarang dia lagi bobok nih."
Yara terlihat berjalan sekejap, kemudian mengarahkan pada wajah lelap Elara yang ada didalam box bayi.
Nadine memandangi wajah Elara dengan perasaan rindu. Dia tidak sanggup berlama-lama berpisah dengan bayinya itu.
"Dia gak rewel kan, Ra?"
"Kalo soal itu, jangan ditanya, Mbak. Selalu cari bundanya. Cuma ya kita alihkan sama hal lain, kasi mainan yang buat dia tertarik."
"Kalian pasti repot."
"Jangan dipikirin, Mbak. Elara juga tanggung jawab kita, kok. Mbak sama Mas nikmatin aja waktu tiga hari disana. Oke?"
Setelah berbincang ringan mengenai Elara dan jadwal jalan-jalan mereka selama di Thailand kepada Yara. Anton dan Nadine kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk berkeliling di Negeri Gajah putih itu.
"Kita kemana, Roon?" tanya Anton pada Aroon.
Pemuda itu memberikan selembaran jadwal yang akan mereka lakukan hari ini. Mana yang membuat Anton dan Nadine tertarik, maka dia akan mengantar mereka kesana lebih dulu.
"Kita ke White Temple aja dulu. Gimana menurut kamu, Sayang?" tanya Nadine.
Anton setuju dengan keputusan istrinya. Mereka bersiap untuk mengunjungi kuil-kuil megah yang ada di negara tersebut.
White Temple adalah salah satu kuil yang sangat populer di kalangan turis. Bangunan ini sangat menarik perhatian banyak orang, karena penggunaan potongan kaca diplester (bahan bangunan berfungsi untuk dekorasi dinding), yang membuat kuil ini tampak berkilau di bawah terik matahari.
Anton dan Nadine menikmati sesi jalan-jalan mereka disana dan tak lupa berswafoto sebagai pasangan pengantin baru.
Mereka juga bepergian menuju Silver Temple dan Blue Temple yakni termasuk dalam bagian kuil-kuil megah lainnya yang juga berada disana.
__ADS_1
Selamat jalan-jalan ya, kalian🥰
Bersambung ...